My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 10


__ADS_3

"Tunggu! Apa!"


"Hah? Kenapa Kau terkejut? Bukan kah bagus Kau akan pulang?" Timpal A-06 dengan nada bingung yang sedikit aneh.


"Tentu saja! Tapi!" Balasnya lantang dengan raut sok serius. Secara perlahan Dia menunduk wajahnya hingga menggelap.


"Itu berarti Aku dan Annie.. tidak akan bertemu lagi." Lirihnya terdengar hampir terisak dan gemetar.


"Bukan. Lebih tepatnya Kita semua, tidak akan bermain bersama lagi." Lanjutnya kembali, terdengar benar-benar terisak dan gemetar.


Seketika aura negatif terpancar dari sekumpulan anak kecil tersebut. Mereka menunduk dan sebagian menangis kecil.


Ups! Ralat. Ada kecuali-nya, yaitu A-01 dengan wajah datarnya, A-02 dengan wajah pecicilannya, dan A-06 dengan wajah mm.. kesal mungkin.


Wajah mereka tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan, tetap sesuai ciri khas mereka.


"Bo~doh. Memangnya otak mu itu sekecil apa huh? Untuk apa Kau menjadi salah satu anggota keluarga bangsawan?"


"Bahkan hampir dari Kita semua yang berkumpul di sini berasal dari negara yang sama. Jika ingin, saling mengunjungi bukan lah hal yang tak lazim." Jelas A-06, masih sama, dengan raut wajah kesal.


"Jika pun Kita ingin bertemu kembali, meski hanya rakyat biasa, juga bisa. Untuk apa ada sebuah 'tempat', jika Kau masih memiliki sikap bodoh itu. Titik pertemuan bukan lah hal yang sulit di tentukan. Buka peta, diskusi, tunjuk, tentukan." Kali ini A-02 ikut menjelaskan.


Yah, wajahnya tidak berubah-ubah amat, tetap wajah orang yang suka pecicilan.


"Oh~ Seperti itu. Tunggu. Kau tahu kalau Dia bangsawan dari mana?" Tanya A-01.


"Tentu saja, karena Aku dan Annie pernah tidak sengaja melihat berkas tentang biodata Kita saat itu. Aku hanya melihat yang lantai akhir kecuali punya A-01."


"Aku sibuk dengan berkas-berkas tentang ras-ras, elemen cahaya, elemen kegelapan, elemen tingkat lanjut, senjata sihir, obat-obatan, dan berbagai hal yang bisa berhubungan dengan 'senjata hidup'."


"Aku hanya melihat sepintas saja, tidak terlalu mendalaminya. Saat itu Annie juga membaca tentang berkas penelitian yang berhubungan dengan 'senjata hidup' itu."


"Dan juga Annie, Dia terlihat cukup fokus pada dokumen tentang biodata Kita semua, dari lantai pertama hingga akhir."


"Meski Aku juga membacanya tapi saat ingin membaca biodata tentang mu A-01, Annie mengajak ku untuk segera kembali." Jelasnya panjang dan lebar sambil memakan makanan yang ada di depannya.

__ADS_1


"Tunggu lagi. Kenapa Kau yang menjawab seolah mengerti? Dan kenapa Aku mau repot-repot menjawab pertanyaan mu?" Tanyanya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah A-01. Namun hanya di jawab dengan endikkan bahu dari yang di tunjuk.


"06? Apa maksud mu dengan 'senjata hidup'?" Tanya A-02. Kali ini santai. Tumben? Mungkin karena Dia lagi makan. Walau mukanya selalu seperti anak yang pecicilan.


"Ke mana otak kecil mu yang selalu di bangga-banggakan itu? Tentu saja maksudnya adalah Kita." Namun hanya di jawab dengan raut wajah bertanya.


"Kau ini benar-benar bodoh, ya? Apa Kau lupa secepat itu tentang alasan kenapa Kita di beri berbagai 'praktek' yang manusiawi itu?" Tanyanya dengan penekanan pada kata 'manusiawi'.


Lagi-lagi hanya isyarat bertanya lah yang di perlihatkan. Nampak sebentar, A-06 menghela nafas pelan, namun mengartikan ia malas.


"Kita di buat bak barang jasa yang bisa di perjual-belikan. Seperti pembunuh bayaran namun dalam arti yang lebih mengerikan."


"Kita di buat untuk ketika terjadi pertempuran atau semacamnya, seperti perebutan wilayah kekuasaan."


"Mereka yang berusaha untuk memenangkannya pasti akan memikirkan cara hebat untuk menang tidak peduli dengan anggaran yang di keluarkan."


"Contohnya, Kita. Lantai yang berada di bawah dua lantai terakhir tidak termasuk. Hanya Kita ber delapan lah yang menjadi senjata itu. Senjata yang mereka buat itu kini telah selesai, hanya tinggal pemasaran yang menunggu."


"Sebenarnya, lantai di bawah dua lantai terakhir termasuk ke pembuatan senjata hidup ini. Tapi, mereka masih memerlukan sebuah uji coba. Dan sekali lagi itu adalah Kita ber delapan."


"Mereka menguji coba Kita ber delapan karena jika Kita adalah 'produk gagal' maka mereka tidak akan mengulangi kesalahan pada calon 'produk' barunya."


"Semua yang berada di bawah dua lantai terakhir merupakan 'produk' setengah jadi, tapi ada juga beberapa yang merupakan 'produk' jadi, tapi hampir."


"Tapi, karena Kita sudah ke buru di selamatkan oleh orang-orang dari klan Kainigose, mereka hanya butuh sedikit polesan lagi dan akan menjadi 'produk jadi'."


"Dan karena itu juga, meski mereka sudah kehilangan psikis yang waras, mereka masih di buat menjadi 'produk'. Yang di butuhkan oleh 'produk' mereka bukan lah psikis yang bagus."


"Jika psikis mereka itu sudah tidak bagus dan memiliki ketakutan pada mereka, itu lah yang mereka inginkan. Tidak akan ada pemberontakan, sehingga mereka bisa leluasa."


"Masih banyak yang bisa ku jelaskan. Tapi, jika ku lakukan itu, makanan Kalian bisa menghilang secara tiba-tiba." Jelas dan imbau A-06.


Semua yang mendengarnya langsung terkesiap. Dengan mata yang lincah dan teliti memeriksa piring mereka.


Tanpa aba-aba semua makanan yang ada di depan mereka entah hilang ke mana, hanya menyisakan sebuah piring dengan noda makanan.

__ADS_1


"Ah. Maaf, maksudnya makanan kalian sudah hilang secara tiba-tiba." Ucapnya setelah menghabiskan makanan yang ada di depannya.


"Ah! Aku baru saja ingin memakannya!" Teriak A-08 sambil menunjuk ke arah piring kosong yang ada di depan A-06.


"Oh~ Pelakunya sudah menyerahkan diri."


"Apa? Kenapa Kalian semua menatap ku seperti itu?" Tanyanya dengan wajah tak berdosa.


Akhirnya pertengkaran sepihak yang berisi ceramahan tentang rasa kesal dan lapar mereka pun terucap, bak hujan gerimis hangat.


Yah.. bisa di bayangkan bagaimana rasa hangat airnya.


(Kok jijik sendiri ya?)


...****************...


Sementara itu, di tempat lain


Terlihat beberapa orang dewasa dan seorang gadis kecil sedang duduk bersimpuh di atas sebuah bantal dengan meja di hadapan mereka.


Buug


Terdengar suara tumpukan kertas mendarat di atas meja.


"Hachiuu"


"Hati-hati, Ketua Furai, Nona Annie. Berkas-berkas ini kelihatannya sudah lama, jadi mungkin agak berdebu." Imbau Mitsuka.


"Lebih baik serahkan saja ini kepada Naguro. Dia tidak melakukan apa-apa dari tadi."


Naguro yang dalam posisi bungkuk dengan kepala yang menengadah di tangannya, di mana Dia sedari tadi hanya bermain bersama ularnya pun terkesiap.


Dengan sigap Dia menegapkan tubuhnya, masih dalam keadaan duduk.


'Aneh. Perasaan ku tumpukan kertas ini masih baru. Beberapa bulan lalu Aku dan 06 membukanya. Tidak ada tanda-tanda tidak tersentuh selama beberapa dekade. Apakah ada yang membicarakan Kami?' Pikir Annie sambil ber-sweatdrop.

__ADS_1


Kini gadis kecil itu tengah memilah-milah tumpukan kertas yang lain, begitu pun Ketua Furai. Karena tumpukan kertas yang sebelumnya telah di ambil alih oleh Naguro.


'Ah~ Nasib ku sial sekali. Tumpukan kertas sebanyak ini kapan selesainya.' Lirih Naguro dalam hati terhadap tumpukan kertas di hadapannya.


__ADS_2