My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 4


__ADS_3

Terlihat gadis kecil dengan busana putih berhias dengan bercak berwarna merahnya darah yang begitu melekat dan basah.


Begitu pun dengan anak-anak yang lainnya di sana, keadaan mereka begitu mengenaskan.


"Ini belum waktunya untuk tidur, hanya tinggal sedikit lagi yang perlu di lakukan." Ucap pria bertopeng itu dengan nada membujuk.


Jam demi jam dilalui, menit demi menit dilalui, detik demi detik pun terlalui, bahkan teriakan demi teriakan, luka demi luka, dan sayatan demi sayatan.


Semua hal mengerikan itu di lakukan oleh satu orang. Entah sebutan apa yang cocok untuk dirinya, Psychopath.


Tidak! Pria itu lebih dari itu. Dia sangat mengerikan tidak memandang siapa orang yang di siksanya, berapa umurnya, latar belakang, kekayaan, kekuatan, dia tidak memperdulikan hal itu.


Dirinya hanya melakukan apa yang ingin di lakukannya tanpa pandang bulu.


Setiap suara yang di hasilkan sangat mengerikan. Suara kulit yang tersayat, teriakan kesakitan, suara tangisan, semua yang terdengar terlihat di nikmati oleh pria tersebut.


Pria itu melakukannya tanpa memperdulikan sekitarnya.


Seorang pria yang tergesa-gesa menerobos masuk dengan nafasnya yang tak teratur.


Tiba-tiba Buummm!!!


Dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Bukan hanya sekali tetapi berkali-kali, entah apa yang terjadi, namun pastinya itu bukan lah sesuatu yang ringan.


Ah! Dentuman ini bukan ulah Annie ya. Soalnya dia saat ini sedang di kekang dan di siksa oleh pria bertopeng itu.


Bruk!


Seorang pria yang tergesa-gesa menerobos masuk dengan nafasnya yang tak teratur. Membuat semua orang yang di dalam menilik ke arahnya.


Ia terlihat berkeringat dan sedikit(?) terlihat darinya noda merah.


"Tu-tuan!!"


"Apa yang Kau lakukan? Aku sedang bekerja, kenapa Kau malah mengganggu ku. Ada apa?"


Dan yah. Apakah kau itu tuli? Tidak bisa kah Kau mendengarnya? Suara dentuman keras itu? Berkali-kali pula. Masih bertanya ada apa pada bawahan mu?


"Ta-tapi markas kita di-" Ucapnya namun terputus karena tiba-tiba dia terjatuh dengan panah api menembus dirinya. Api itu membakar tubuh pria itu. Tidak lama hal itu terjadi, dan tinggal tersisa hanya


"Lucifer, Rafael." Bisik Annie pelan. Tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri.


"Hancurkan." Lanjutnya dengan suara yang dapat di dengar oleh setiap orang. Suaranya tidak kuat juga tidak lemah.


"?! Apa-" Kejut pria bertopeng itu.


"Baik!!"


Dengan segera semua hal yang mengekang anak-anak itu segera terlepas, membuat mereka bisa dengan segera melarikan diri.


Dua buah titik asap hitam kecil yang membesar terlihat di belakang Annie sambil membentuk dua makhluk berbeda ras.


Kedua makhluk tersebut segera membuat pria bertopeng itu terdesak mundur karena terpojok.


Bagaimana tidak, mereka menyerang secara tiba-tiba apa lagi dengan kekuatan yang tidak bisa di bilang biasa.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Dua lawan satu. Terlebih kekuatan mereka berdua itu cukup kuat dan tidak bisa di remehkan.


Terlebih lagi, mereka berdua dan pria bertopeng itu sendiri. Juga, terlebih sekali lagi, pria bertopeng itu belum siap dan serangan mereka begitu mendadak.


Lucifer ialah Iblis dengan satu tanduk Iblis berwarna merah tua di kepala bagian kanannya, rambut dan iris mata berwarna merah darah cerah, kulit putih dengan wajah yang bisa di bilang cukup tampan.


Di sisi lain, Rafael adalah malaikat yang berada di dimensi lain sebelumnya, dengan rambut dan kulit yang putih, iris mata berwarna emas dan wajah yang memiliki fitur kalangan orang tampan.


Entah kenapa mereka berdua bisa berada di dimensi buatan, padahal kekuatan mereka sangat lah kuat. Tidak kuat juga sih, tapi setidaknya lumayan lah.


"Ayo!" Ajak Annie sambil berlari menuju pintu keluar dan di balas dengan sebuah anggukkan masing-masing dari mereka.


"Jangan harap?!" Teriak pria bertopeng itu sambil melontarkan serangan api yang dahsyat.


"Kyaaaa!!"


Tiba-tiba dinding transparan menghalangi serangan tersebut sehingga mereka masih baik-baik saja, mungkin-mungkin jika mereka terkenanya akan menjadi bubur merah yang menjijikkan.


Atau setidaknya bubur daging panggang yang terlihat begitu lumer. Karena mereka manusia, jadi kemungkinan akan tercium bau yang agak sedap. Ups! Saya kelepasan!


Dan yang ternyata kekuatan tersebut berasal dari kekuatan cahaya Rafael.


Pelarian tersebut tidak terhenti di situ, mereka terus melanjutkannya sambil di iringi oleh Lucifer dan Rafael agar mereka bisa sampai pada sekelompok pasukan yang menyerang mereka.


Sementara itu pria bertopeng tersebut mengejar mereka bersembilan.


...****************...


Sementara itu di tempat para penyerang


"Jangan lari!"


"Terus tembak!"


Berbagai macam teriakan terdengar, dapat di pastikan dari kata-kata yang mereka pilih bahwa para penyerang itulah yang memojokkan mereka.


Terlihat beberapa orang dan sang Ketua sama sekali belum bergerak dari tempat mereka.


Namun secara tiba-tiba mereka di kelilingi oleh orang-orang berjubah hitam. Mereka tampak sedang marah.


"Perintahkan bawahanmu untuk mundur, jika tidak jangan salahkan kami berbuat tidak manusiawi. Seperti yang kalian lakukan pada kami." Ucap salah seorang dari mereka.


"Mundur?" Balas sang Ketua dengan nada dinginnya.


"Jangan bercanda. Dalam Kata kamus Ku tidak ada kata mundur. Juga. Setelah pertumpahan darah ini kalian berkata mundur?" Lanjutnya sambil menarik pedangnya beserta sarungnya dari pinggang.


"Lalu, apa yang kalian maksud dengan 'manusiawi'? Bisa jelaskan pada ku. Ah~ Aku tahu. Jika manusiawi yang kalian maksud itu kejam dan sadis. Lalu Kalian itu apa?" Lanjutnya lagi sambil mengangkat pedangnya tegak di depannya namun tidak menyentuh tanah.


"Nama Ku Furai! Ketua divisi Pillar! Bersedia bertarung melawan kalian semua!" Ucapnya sambil menghentakkan pedangnya ke arah tanah dengan kuat hingga membuat angin di berhembus di sekelilingnya, dengan penuh wibawa, itu lah yang terlihat darinya.


"Maju lah!" Teriak Wanita itu sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melemparkannya ke sembarang arah.


Seketika orang-orang berjubah hitam tersebut marah dan menyerangnya secara bersamaan. Berbagai macam senjata yang berusaha menyerangnya namun berhasil di tangkis olehnya.


Tang!

__ADS_1


Bruughh!


Ting!


Mereka nampak kewalahan akibat serangan yang terus tertangkis dan tidak pernah mengenai wanita itu.


Merasa sudah gilirannya ia pun menebas semua orang yang barusan menyerangnya dengan elemen yang di milikinya.


Angin halus yang mematikan memadat mengikuti arus pedangnya yang mengalir, yang di mana kupu-kupu transparan menutupi angin itu.


Sambil mengikuti gerakan angin kupu-kupu transparan itu bergerak menuju ke para orang berjubah hitam tersebut.


Luka yang cukup dalam dan banyak mereka dapatkan. Karena luka tersebut sepertinya mereka sedikit kesulitan untuk bergerak. Dengan sedikit tertatih-tatih mereka berusaha menegakkan diri.


"Kau?!"


Mereka sangat marah dengan luka yang di berikan oleh wanita di depan mereka. Bagaimana mungkin hanya dirinya sendiri yang menyerang tapi membuat kemunduran sebesar ini.


Tidak bisa di biarkan, dengan segera salah satu dari mereka tampak mengangkat tangannya. Dan tampak sebuah cincin dengan permata kecil di tengahnya, bersinar sedikit seakan di berikan mana kemudian keluarlah sesuatu seperti posion ke masing-masing dari mereka.


Namun tiba-tiba seluruh posion yang berada di tangan mereka menghilang bahkan cincin yang ada di jari mereka pun menghilang. Wajah mereka terlihat kebingungan sambil melihat sekeliling.


"Kalian mencari ini~" Ucap Zui sambil memperlihatkan barang-barang yang di cari oleh mereka, semua benda tersebut melayang tepat di sekelilingnya.


"Ap-?! Bagaimana Kau- Kurang ajar?!" Ucapnya yang awalnya kebingungan kemudian marah karena kelakuannya.


"Mudah saja. Jika kau mempunyai sihir dan tahu cara menggunakannya maka bisa seperti inilah yang terjadi."


"Zui-kun, jangan menggoda mereka terus-terusan, kasihan mereka jadi ketakutan, kan. Dan hancurkan saja barang-barang mereka itu. Jika barang-barangnya tidak berguna." Ucap Mitsuka dengan nada kasihan miliknya.


"Mitsuka-san, Aku sekarang merasa kasihan pada mereka, karena ucapanmu."


"Eh, apakah ada yang salah dengan ucapan ku?"


"Tidak, lupakan."


"Kenapa kalian menyerang kami? Tidak ada apa pun yang bisa kalian dapatkan di sini." Ucap salah satu dari orang berjubah hitam itu.


"Bukankah kalian melakukan penelitian? Apanya yang tidak bisa di dapat?" Tanya sang Ketua.


"Kami hanya meneliti tentang monster saja."


"Benarkah? Jika iya, maka para bawahan ku yang sudah selesai di sana bisa membantu memeriksa yang ada di dalam sana." Ucap sang Ketua memprovokasi.


"Bunuh mereka semua." Lanjutnya dengan nada datar.


"Semuanya geledah lebih dalam lagi! Dan temukan semuanya!" Teriak Sang Ketua guna memberi perintah.


"Baik!!" Jawab semua orang.


"Baik~" Jawab Mitsuka dengan nada imut.


"Tentu saja!" Jawab Zui dengan senyumnya.


Sementara yang lainnya hanya diam tidak menjawab, namun mereka melakukan apa yang di perintahkan oleh Ketua mereka.

__ADS_1


__ADS_2