
Tempat yang terlihat begitu penuh dengan cairan berwarna merah yang masih baru dan segar. Juga, terlihat sebuah kalender yang beberapa angkanya telah si coret.
Mereka, para gadis itu, terlihat memiliki mata kosong, yang di mana dari tiga gadis yang ada, hanya satu yang memiliki luka-luka, yang sangat amat parah.
Sedangkan dua yang lainnya hanya memiliki beberapa luka luar yang tidak terlalu dalam. Yang memperlihatkan secara jelas bahwa mereka hanya ingin bermain-main pada gadis dengan luka yang penuh.
Mereka melakukan berbagai macam kejadian yang tidak enak di pandang sampai sang gadis tersebut tidak memiliki ekspresi dan bahkan ia terlihat seperti sudah terbiasa dengan siksaan tersebut.
Waktu terus berjalan hingga tiba-tiba terlihat seseorang masuk lalu berteria. Para penyiksa tersebut terlihat sedikit panik, dengan wajah seolah tak ingin berhenti dan geram marah, dia menusuk salah satu dari dua gadis yang lainnya. Bukan tanpa alasan, hal itu di lakukan setelah gadis tersebut mengatakan sesuatu.
Pemandangan yang membuat sesuatu kosong di hati benar-benar terlihat di depan mata sang gadis bersenandung tersebut.
Untuk lebih dari satu kali, atau 'lagi'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat gadis kecil yang sering kita panggil sebagai 'Annie', membuka mata secara perlahan. Ia menatap sekitar dengan bingung selama beberapa saat, hingga akhirnya, Ia mengingat apa yang telah terjadi di sebelumnya.
Ruangan yang masih sama seperti sebelumnya, dan hanya di bedakan dengan para anak kecil yang juga tertidur sama sepertinya tadi.
'Sepertinya tidak ada yang bisa ku lakukan.' Pikir gadis kecil tersebut.
__ADS_1
Merasa ada sesuatu yang terdengar sangking sunyinya tempat tersebut, Annie langsung berpura-pura tidur kembali.
Bukan lah suara seperti ada yang akan masuk, yang membuatnya melakukan hal itu. Tetapi, karena ada suara yang lebih aneh lagi. Dan suara tersebut terdengar seperti sesuatu yang besar dan berat sedang bergerak.
Terdengar seperti suara mesin yang bergerak, jika itu dari pendengaran Annie kita, yang berasal dari bumi modern.
Anak-anak lain yang mendengar hal tersebut tidak dapat untuk tidak terkejut dengan wajah kebingungan, mereka pun saling melempar pertanyaan tentang apa yang terjadi, namun tidak ada yang bisa menjawabnya.
Setelah beberapa saat, bunyi tersebut membuat suara yang lain, tak kalah besar dan berat. Karena tiba-tiba saja kursi yang mengekang mereka seperti sedang turun ke bawah.
Melihat akan hal itu semua anak-anak yang ada di sana tidak bisa untuk tidak terkejut dengan apa yang terjadi.
Dengan wajah mereka yang merasa panik dan bingung yang menampilkan seolah
'Apakah benda ini berbahaya?'
Setelah kursi tersebut berhenti bergerak, yang mereka lihat adalah ruangan putih bersih yang tidak terlihat di mana kah letak pintu keluar-masuknya.
Setelah beberapa saat mengamati, tiba-tiba seorang pria, dengan topeng yang bergambar sebuah senyuman yang amat sangat lebar dan dengan mata sipit yang tidak memperlihatkan sedikit pun bola matanya. Hal itu mampu membuat anak-anak yang lainnya bergidik ngeri, kecuali Annie.
Pria tersebut, dengan suara yang berbenturan dengan topengnya itu, terdengar sedang berbicara.
Annie yang mendengar orang tersebut meminta untuk di panggil dengan embel-embel '-sama' merasa tidak senang.
"Cih."
"Oh yah~ Nona, kenapa kamu berdecih?" Tanya pria bertopeng tersebut dengan nada bertanya seolah-olah tidak tahu.
Mendengar ucapan sok dari pria tersebut, Annie merasa semakin tidak menyukainya. Ia merasa pria tersebut tahu pasti akan hal apa penyebab dirinya berdecih, dan intuisinya itu jarang salah. Pria ini.. terlalu banyak basa-basi.
"Tidak ada."
"Benarkah?" Tanya pria tersebut, yang hanya di jawab dengan sebuah anggukan malas dari Annie.
Merasa basa-basi yang di berikannya kepada gadis kecil tersebut sudah cukup. Ia pun segera membuka suara, tentang hal yang membuat anak-anak tersebut kebingungan.
"Seperti kata ku sebelumnya, kalian akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti gadis kecil ini. Tapi bukan berarti aku akan melakukannya sekarang, tetapi jika kalian melakukan kesalahan." Jelas pria tersebut dengan nada yang sulit di mengerti.
__ADS_1
"Dan apa yang akan kalian lakukan jika kami melakukan keberhasilan, X?" Tanya Annie dengan nada kebingungannya, yang terlihat polos.
"Kalau itu.. yah tergantung, jika itu merupakan sebuah keberhasilan yang besar sesuai dengan apa yang kami butuhkan maka jawabannya adalah 'Ya'."
"Ck. Dasar iblis. Ketahuan sekali jika Kau sedang berbohong." Kecam Annie kesal, dalam hati.
"Lalu apa maksudmu dengan 'kata ku sebelumnya'?" Tanya seorang gadis kecil, yang bertanya tentang keadaan Annie sebelumnya. Terdapat nada ketakutan, namun suara sedikit kuat, sehingga hasilnya tanpa tergagap.
"Ah~ Kalau itu apa kalian lupa dengan ku?" Ucapnya sambil membuka topeng yang ia kenakan.
Itu adalah pria yang saat itu memukul Annie dengan sebuah kayu kecil, hingga kayu tersebut hancur dan membuat Annie terluka cukup parah.
Semua orang hanya memiliki ekspresi terkejut, tanpa berkata-kata tentang hal tersebut, kecuali Annie dan anak yang tenang sebelumnya.
Merasa sudah cukup untuk memperlihatkan kepada mereka apa yang seharusnya di lihat, ia pun mengenakan kembali topengnya.
"Dan~ Merasalah beruntung kalian, karena hanya beberapa orang yang tahu bagaimana rupa wajah ku." Ucapnya sambil melakukan sesuatu yang terlihat seperti.. entah lah, melakukan sesuatu yang sulit di definisasikan mungkin.
Tiba-tiba muncul sebuah meja berbentuk persegi panjang, yang berisi beberapa tumpukan kertas dan ramuan, serta sebuah kotak yang tidak besar namun juga tidak kecil.
"Baiklah semuanya mari kita mulai uji cobanya." Ucap pria tersebut dengan nada yang biasa, namun dapat terasa saat ini, Dia, sedang tersenyum senang.
Setiap orang yang berada di sana, dapat merasakannya. Bahwasanya, pria aneh yang berada di depan mereka, tidak lah bisa di katakan baik. Dia benar-benar berbahaya, sehingga memiliki raut wajah ketakutan dan waspada.
"Ah~ Maafkan aku. Karena terlalu senang sampai tidak bisa mengendalikan diri, dan bocor seperti tadi." Ucapnya sambil sedikit membungkuk ala etiket bangsawan.
"Dasar gila" Bisik Annie, dengan apa yang telah di lakukan oleh pria tersebut barusan.
"Anda mengatakan sesuatu lagi, Nona?" Ucapnya yang tiba-tiba berdiri tepat di depan Annie,dengan wajah yang sangat dekat dengannya.
"Uugh.. tolong jauhkan wajah mu itu. Jika tidak ingin di panggil pedofil." Ucap Annie dengan wajah yang seperti merengut(?).
"Ahaha.. maaf, aku hanya merasa suaramu sangat kecil, jadi tidak bisa mendengarnya." Ucapnya sambil memegang kepalanya.
"Baiklah~ Sebaiknya kita tidak perlu buang-buang waktu, oleh karena itu mari kita mulai uji cobanya." Ucap pria tersebut sambil menjentikkan jarinya, yang di mana secara seketika semua hal, yang mengekang tangan dan kaki mereka lepas.
________________________________________
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel ini.
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.