
Beberapa minggu setelah kejadian itu. Kak Resh mulai sering datang. Setidaknya, jika ku hitung-hitung, jadwal saat Dia datang ke sini sekisaran seminggu sekali.
Jujur Aku tidak peduli dengannya. Lalu, ada fakta yang lebih mengejutkan untuk ku. Yakni, sekarang Aku sudah mulai bisa merangkak. Mungkin karena pikiran ku yang sudah dewasa, Aku pun juga mulai sudah bisa duduk di saat yang bersamaan.
Selama mereka bertiga di sini kebosanan ku sedikit menghilang, itu hanya selama beberapa saat. Aku akui mereka hebat dalam menghilangkan kebosanan ku sementara ini.
Ketika mengingat hubungan dengan kakak-kakak ku di kehidupan sebelumnya. Aku selalu sibuk sendiri. Padahal kami memiliki pekerjaan yang sama dan pangkat yang sama, walau pun berbeda perusahaan. Tidak, lebih tepatnya Aku yang selalu mencoba menyibukkan diri dengan berbagai macam berkas dan aktivitas. Meski begitu itu ku lakukan untuk membuat perusahaan lebih besar dan maju.
Juga..
..karena, Aku takut saat datang akan rasa kehilangan mereka, jadi aku mencoba untuk menjauhkan diri. Setelah ku pikir-pikir sekarang, ternyata Aku telah salah mengambil jalan.
Seharusnya aku semakin dekat dengan mereka. Tapi Aku juga lupa kenapa Aku bisa berpikir untuk menjauh dari mereka dengan alasan seperti itu.
Hah~ Rasanya sedikit rindu.
Setidaknya kami pernah menghabiskan waktu bersama. Mungkin Aku juga harus dekat dengan orang-orang yang menjadi keluarga ku saat ini dan menyayangi mereka.
Ah! Sudah waktunya! Pasti mereka sedang ke sini, saat ini pasti Kak Reen sedang mencoba membuka jendela.
Klik
Lihatkan, apa yang ku katakan.
"Hei Annie, Aku datang untuk bermain dengan mu." Sapa Kak Reen saat melihat ku yang sedang bermain dengan mainan bayi ku.
Oh yah? Jarang sekali Kak Raan ikut masuk lewat jendela. Lebih tepatnya sih tumben. Hmm.. firasat ku mengatakan hal ini mencurigakan. Apakah mereka sedang kabur dari Ibu?
"Annie, selamat pagi." Sapa Kak Raan dengan santainya, melompat untuk melewati jendela kamar ku. Dan selamat pagi juga ku ucapkan. Dalam hati.
"Hei, Annie. Kami menumpang sebentar, ya? Soalnya saat ini kami sedang di kejar-kejar oleh seorang tutor. Begitu menyenangkan, haha." Ucap Kak Reen memberi sebuah alasan, yang membuat ku berpikir itu lah penyebab kenapa Kak Raan ikut-ikutan.
Kalian ini sungguh memang saudara kembar. Maaf telah pernah berpikir bahwa kalian itu bukan lah keluarga.
Tapi, yah, silahkan. Terserah kalian saja. Dengan bentuk menjadi makhluk seperti ini. Apa yang bisa ku katakan dan lakukan? Aku juga tidak peduli, pada akhirnya nanti kalian akan ke tahuan karena di temukan oleh Hanna.
"Apakah ia masih mengejar kita saat ini? Ku harap mereka tidak menemukan kita." Pertanyaan dan penyataan menjadi satu dari Kak Reen yang terlihat sedang bersembunyi. Dan Kak Raan juga tentu saja.
Mereka terus mencoba menarik perhatian ku saat ini. Aku tentu saja tidak peduli pada mereka, dengan terus memainkan permainan bayi ku ini.
"Annie, ayo bermain lah dengan kami." Kak Reen terus membujuk ku agar bermain bersama mereka.
__ADS_1
Haha, rasakan itu. Coba lah untuk terus menarik perhatian ku dengan apa yang sedang kalian lakukan. Aku tidak akan peduli.
Dan Aku saat ini bosan dengan permainannya, lalu memilih untuk tidur saja. Tidak tidak, lebih tepat mencoba menyerap mana. Akhir-akhir ini Aku mencoba menyerap mana.
Dan yang mengejutkan bagi ku adalah, bisa melakukannya sambil berguling seperti sedang tidur. Mungkin kah Aku yang baru tahu, atau memang itu hal yang lain dari dunia ini.
Aku juga sedikit menyukainya, karena kau seperti tidur tapi dalam keadaan masih tetap sadar.
"Ah! Annie tidur, apakah dia tak ingin bermain dengan kita?" Melihat akan hal itu Kak Reen memberi tahu kekecewaannya.
"Lebih tepatnya dengan mu, karena jika kau yang mengajaknya bermain Ia pasti selalu terlihat risih." Kak Raan langsung menimpali perkataan Kak Reen dengan sangat tepat.
"Hah? Kau mengatakan sesuatu? Aku tidak mendengarnya." Ucap Kak Reen yang terlihat sok tidak peduli, dengan nada di kata-katanya yang termasuk sedang kesal.
Cklek
Mendengar suara pintu tersebut mereka langsung dengan cepatnya menghilang dari hadapan ku.
Karena tahu pasti Hanna yang masuk Aku menghentikan aktivitas ku yang tadi dan langsung melihat ke arah Hanna.
Yang membuat ku heran adalah, bagaimana mereka berdua bisa segesit itu. Baru beberapa detik yang lalu mereka di sini. Sekarang mereka seinci dari batang hidungnya pun tak terlihat.
Yah, meski begitu, Aku tahu mereka bersembunyi di mana.
"Nona, Anda terlihat bosan. Apakah Anda ingin berjalan-jalan sebentar di luar?" Tanya Hanna yang sedang berjalan kearah ku.
"Baa~" Jawab ku dengan bahasa elien. Karena belum bisa berbicara layaknya manusia pada umumnya. Tentu saja dengan bumbu-bumbu bernada gembira.
"Hm? Aneh, apakah ada yang masuk ke sini? Jendelanya terbuka. Eh?"
Hanna bergumam dengan merasakan ke janggalan di sekitarnya saat ini, tentu saja Aku mendengar gumamannya karena Aku sedang di gendongannya.
Oh~ Hanna, apakah kau ingin memergoki mereka? Jika iya, maka lakukan lah Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati.
Saat ini Hanna sedang berjalan ke arah lemari. Tentu saja itu lemari untuk baju-baju bayi ku. Namun bagi ku itu lemari besar yang terlalu besar untuk baju-baju bayi ku.
Oh, dan tentu saja lagi. Mereka, si kembar, sedang bersembunyi di sana. Aku heran kenapa mereka bisa bersembunyi di balik lemari ku, maksud ku dalam waktu sesingkat itu. Cukup jauh jika ku lihat-lihat.
Cklek
Pintu bersuara membuat Hanna memperhentikan aksi memergokinya dan berbalik melihat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Hanna, Nyonya sedang menunggu mu di taman. Ia meminta mu membawa Nona muda juga." Ucap seorang pelayan, yang ku tahu dia sering membantu Hanna saat sedang mengasuh ku.
Dan kau mengganggu aksi memergoki kami tahu.
"Ah, baik, tunggu sebentar." Kata Hanna yang melanjutkan aksinya itu.
Hanna langsung membuka lemari baju bayi ku dengan tangan kirinya yang sedang bebas. Karena dia hanya bisa menggunakan satu tangan dia membukanya satu-satu.
Dan alhasil, terpampang lah kedua wajah yang kami semua kenal di sini. Sedangkan, si kembar hanya bisa diam membeku.
"Kalian.. sedang apa.. di sini?" Hanna dengan canggungnya bertanya kepada si kembar, seperti ingin menegaskan kembali akan sesuatu.
"Kami bisa jelaskan." Mereka berbicara secara bersamaan, yang membuat hal yang ingin ditegaskan telah tepat sasaran.
"Abel, bantu Aku membawa mereka juga." Ucap Hanna yang terlihat tersenyum lembut, namun mengerikan bagi yang tertuju.
"Eh, kemana?" Tanya pelayan tersebut yang bernama Abel jika tidak salah ingat.
"Ke taman, bukan kah Nyonya ada di sana? Kemungkinan besar juga tutor mereka ada di sana. Sedang mendesahkan keluh kesah." Ucap Hanna sambil menarik Kak Raan.
"Ah, baiklah." Ucap Abel yang langsung membawa Kak Reen.
Dan kelanjutannya pasti semua tahu. Di taman itu lah mereka di ceramahi habis-habisan oleh Ibu, sedangkan Aku jangan di tanya.
Saat ini Aku bersama Hanna dan Abel sedang bermain-main. Selama mereka di ceramahi, Aku dapat mendengar perintah Ibu tentang menghabiskan waktu di kamar untuk hanya belajar.
Bagi ku hal itu biasa saja. Karena membaca adalah salah satu hobi ku. Meski berjam-jam lamanya, Aku masih bisa bertahan. Tapi entah dengan tubuh ini.
Mungkin itu karena Aku sudah terbiasa dari kecil sudah terbiasa dan suka membaca. Yah.. untuk mereka berdua pasti hal yang menyulitkan.
Sedikit lucu, tapi bermain di luar sangat menyenangkan. Hanya perlu menunggu waktu sampai Aku sudah bisa berjalan dengan kedua kaki ku sendiri saja.
Maka akan semakin menyenangkan lagi, tanpa perlu merepotkan Hanna dan yang lainnya lagi.
Tapi! Aku tak tahu kapan hari itu tiba. sungguh menyedihkan~
...----------------...
Terimakasih karena sudah membaca novel ini.
Karena ini novel pertamaku maaf jika ada kesalahan
__ADS_1