
Setelah beberapa hari— maksudnya beberapa(?) menit.
Akhirnya, beberapa makhluk pertama yang melompat terjun bebas duluan ini sampai pada lantai terujung yang telah Annie buat.
Tidak sampai beberapa sepuluh menit, yang tersisa dari yang lainnya segera menyusul untuk turun.
Mari dihitung kata 'beberapa'nya dah berapa.
Seperti jawaban Annie yang pernah ada. Annie memberi efek pada tekanan gravitasi agar tidak menjatuhkan teman-temannya ini saat mencapai tanah, dan membuat diri mereka menjadi bubur atau mirip telur kocok.
'Oh? Kesempatan dalam kesempitan, kah?' Pikir Annie ketika melihat apa yang ada di depannya.
Dia melihat Arthur menggendong Vanessa ala-ala tuan putri. Vanessa mungkin hanya menurut saja karena takut.
Dia memang berhati tuan putri sesungguhnya.
Tapi, jika mengingat sifat Vanessa sebagai gadis kuat, itu pasti karena ada iming-iming dari si Arthur sehingga Dia memilih untuk 'bergantung' seperti ini.
Namun Annie lebih memilih bodo amat kembali.
Dia merasa, hubungan asmara apakah selalu membuat gila? Rasanya Aku tidak sampai segila ini? Pikirnya tanpa ekspresi.
"Jadi, di mana tempatnya?" Tanya Kushida sambil melihat sekeliling.
"Di bawah." Jawab Annie sambil berjalan ke arah kanannya.
Mereka semua menelengkan kepala, pertanda sedang bingung dan mencoba mencerna maksud gadis di depan mereka.
"Kenapa tidak sekalian saja tadi di hancurkan juga? Kenapa Kau malah berdiam saja?" Tanya Resh.
"Aku menunggu Kalian dulu saja." Jawab Annie.
"Itu bukan alasan yang logis untuk orang sepertimu." Ucap Kushida.
Annie hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya, menandakan sebuah kebingungan. Namun jika di artikan adalah sebuah ketidak pedulian dari Annie. Dia berjalan dengan santai tanpa berpikir untuk mencoba menghilangkan rasa bingung dan penasaran yang lain.
"Kau ingin ke mana?" Tanya Yhansen sambil menatap bingung. "Menuju lantai bawah." Jawab Annie tanpa menoleh.
Kenapa tidak langsung saja membuat lubang seperti sebelumnya? Kenapa Dia sampai repot-repot untuk turun, namun dengan melawan makhluk penjaga terakhirnya?
Yang lain masih enggan bergerak. Namun Annie cukup tidak peduli, Dia masih berjalan hingga berhenti pada sebuah titik menuju dinding di sana. Jarak antara Annie dan teman-temannya tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter saja.
"Annie, kenapa Kau tidak langsung membuat saja lubang seperti sebelumnya?" Reen yang benar-benar sudah tidak mengerti pun langsung bertanya. Kalimatnya berbeda namun mengartikan hal yang sama seperti ucapan Resh sebelumnya.
"Ada penghalang. Jika di hancurkan, Kita akan terkena ilusi dari sihir kegelapan yang di tinggalkan di sini."
"Bagaimana Kau tahu?"
"Ada papan peringatannya tuh. Apakah tidak terlalu jelas di mata Kalian?" Kali ini Annie yang bertanya.
Dia menunjuk-nunjuk ke arah dinding yang di dekatinya, namun matanya melirik ke arah dinding yang di dekat mereka.
"Apa?" Serentak semua orang menoleh.
Dan yang benar saja!
Ternyata benar-benar ada!
"Apa? Serius?" Gilda menilik bingung pada sebuah tulisan di sana.
__ADS_1
"Dungeon ini sengaja di buat ya? Pantas saja monsternya lemah semua." Cerca Lucifer.
"Mungkin saja ini hanya jebakan. Bagaimana mungkin sengaja di buat oleh si pembuat dungeon." Tebak Yhansen. Tumben?
Maksudnya, berbicara santai dan menebak sesuatu yang ber-notebene 'tidak penting' ini.
"Itu sungguhan. Aku sudah memeriksanya menggunakan sihir kegelapanku. Dan terdapat kabut penghalang di sekitar Kita." Ucap Annie yang tiba-tiba berada di dekat mereka.
"Gyaaaahhh! Jangan mengejutkan seperti itu!" Teriak si Kucing.
"Si gagak biasa saja, bagaimana mungkin Kau kekanak-kanakan seperti itu." Si kucing mendecak kesal mendengar penuturan dari Annie.
Bletak!
"Aduh." Keluh Annie pelan.
"Aku juga terkejut tahu," Ucap Raan sebagai pelaku dari keluhan Annie. Dia menjitaknya.
"Ya maaf." Gumam Annie acuh.
"Jadi, apa Kita akan melawan bos terakhirnya?" Buka Vanessa yang hanya menyimak.
Semua orang saling menatap, mencari sebuah permusyawaratan dengan saling menatap. Mereka berbicara dengan telepati tanpa 'syarat'. Melalui kode mata.
Sok-sokan sekali mereka, bukan?
Kecuali Annie dan beberapa anak yang semangat akan perjalanan ini yang gak lucu kalau Author tulis satu-satu namanya, mereka mengangguk mantap.
"Ayo berangkat!"
"Aku suka tantangan!" Semangat dari Yhansen dan Arthur.
Annie berjalan duluan di ikuti oleh anak-anak lainnya yang sangat bersemangat akan petualangan ini. Mereka semua pasrah dan memilih ikut dari pada menyesal.
Kini sudah sekitar beberapa belas menit mereka berjalan, juga terkadang sedikit berlari. Mereka merasa sedikit bosan tatkala hanya lorong gelap biasa yang sedang mereka lewati. Tidak ada 'istimewa' sama sekali bagi mereka.
Tidak ada jebakan, tidak ada halangan, tidak ada monster, tidak ada hal menegangkan. Pokoknya tidak ada yang menarik bagi mereka. Jalan santai dan menenangkan.
"Berapa lama lagi Kita akan sampai?!" Keluh si kucing.
"Kaak! Kaak!" Seru si gagak.
Kasian amat ya si gagak, gak pernah dapet peran kayak si kucing. 'Kaak! Kaak!' terus aja dia.
"Akan ada tangga si depan. Lalu.." Annie menerawang untuk mengikuti jejak 'Kiyosi'-sensei.
"Ada hewan cantik untuk babak terakhir." Lanjutnya tersenyum.
Mereka sedikit tertegun akan maksud senyuman itu. Sebuah firasat buruk datang. Tak terkecuali anak-anak yang awalnya semangat tadi.
"Itu tangganya." Tunjuk Annie pada sebuah perbelokan di depan mereka.
Segera yang lain menyusul Annie ketika Dia mulai mempercepat langkahnya. Annie dengan gencar tersenyum ambigu sambil sedikit berlari saat menuruni tangga itu.
"Tenang saja. Aku merasakan sebuah intensitas mana tinggi dari ruangan di bawah Kita." Hibur Annie masih dalam keadaan ambigunya.
"Jelaskan lebih." Susul Kushida semangat.
"Hehe" Seringaian kecil muncul. "Beberapa barang atau mungkin sesuatu seperti makhluk sedang terbelenggu. Ada mana kegelapan menerangi tempat ini sedari awal. Namun yang ini lebih tinggi." Terangnya.
__ADS_1
"Bagus. Aku memulai sebuah firasat menyenangkan kali ini." Ucap Rafael tersenyum miring.
Mereka sudah menuruni cukup banyak tangga. Tangan Annie menghalangi menyamping, memberi sebuah kode merakyat untuk berhenti.
Mereka tentu langsung berhenti. Annie berjalan mendekat pada bagian pinggir sesuatu mirip gerbang namun tanpa pintu. Annie mengisyaratkan untuk mencoba melihat juga.
"Ap-?!"
"Waw! Apakah itu phyton zaman ini?" Tanya Annie antusias.
"Itu monster apa? Besar sekali. Aku belum pernah melihatnya." Ucap Vanessa.
Semua menatap takjub dan waspada. Sekaligus perasaan antusias memenuhi pikiran mereka.
Bagaimana tidak?
Melihat seekor monster ular berukuran amat sangat besar sedang tidur dan membentuk lingkaran agar tubuhnya tidak terlalu memakan banyak tempat pada ruangan itu.
Pada bagian badannya, memiliki sisik mengkilap berwarna hijau tua. Lalu, terdapat tanduk kecil di kepalanya. Taring yang nampak berbisa mencuat keluar di antara sela mulutnya. Mata terpejamnya seolah memiliki tatapan tajam. Terbukti pada bulu matanya yang sedikit miring ke dalam.
"Apa Aku boleh menyerangnya?" Arthur mulai mengada-ngada.
"Jangan bod*h! Kita tidak tahu monster berbahaya apa ini!"
"Aku.. ingin mengambil bisanya. Jadi tidak perlu banyak pikir." Annie berucap dan mulai berjalan mendekat ke arah si ular. Yang lain menatap tak percaya dan sangat terbelalak.
Bagaimana bisa gadis itu lebih berpikir pada racun ular itu tertimbang nyawanya yang hanya satu itu? Apa Dia ingin cepat mati?!
Annie memang tidak takut mati. Kan ada Dewa kucing disampingnya. Dia juga dah pernah mati, jadi gakpapa kan yelah.
"Oi! Tungg-" Sedikit tertegun. " Astaga. Tamatlah sudah cerita Kita ini." Ucap Raan seraya menepuk jidatnya.
"Woah! Dia bangun!" Antusias Yhansen.
Benar. Ular yang di sebut Annie sebagai 'phyton' itu perlahan bangun ketika Annie membuat sekumpulan asap hitam pada pedang kecilnya. Asap hitam itu berasal dari sihir kegelapan miliknya. Mungkin hal itu juga yang membuat si 'phyton' bangun karena merasakan sebuah mana padat.
Si 'phyton' membangkitkan diri dari masa tidurnya. Dia merasa sebuah keterancaman dari mana 'kecil' Annie. Juga, dari mana milik beberapa anak yang ikut maju. Wajah mereka semangat sekali, seperti sedang melihat mainan baru yang akan menyenangkan.
"Benar-benar akan tamat cerita ini. Aku pastikan itu." Hela Resh bersama dengan beberapa anak 'waras' lainnya.
"Ssssaaaahhhhh!" Desis kuat si 'phyton' yang Author tidak tahu bagaimana cara menuliskannya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Oke semuanya, sepertinya cerita Author akan sampai di sini saja mengenai 'Annie' yang di tokoh utamakan.
Sekian
__ADS_1
Mari bersiap untuk melemparkan bunga yang melambangkan kebahagiaan untuknya.
Sayonara~