
Menjadi pura-pura bodoh susah juga ya. Seperti terhadap barang-barang yang kemarin. Meja elektrik, headset, pen dan cincin ruang yang baru-baru ini kupegang.
Terlebih berpura-puranya ke barang modern yang Aku sendiri membuatnya. Sang pembuat berusaha memasang wajah bodoh gays. Puji ya nanti~
Namun, tak apalah. Hitung-hitung jadi calon artis.
Lagian juga, itu sudah beberapa hari yang lalu. Jadi tidak perlu di pikirkan.
By the way, Aku ingin sedikit memberikan informasi. Cincin ruang ini, adalah penelitian ter-epic-ku. Sebuah cincin ruang biasa yang sedikit ku modifikasi.
Pada bagian luar cincin bisa berbentuk sesuai kepribadian orang itu sendiri atau keinginan dari sang pemilik.
Seperti punyaku, saat memakainya memberi tahuku bahwa Aku dari dulu bukanlah orang yang suka hal-hal yang berlebihan.
Terlebih cincin yang hiasannya berjibun tak karuan lagi, seperti yang sering di jual di sana —pasar—.
Tapi meskipun begitu, kita harus hargai orang yang membuatnya. Kasihan kan, mungkin bagi si pen-desainnya itu aestetik.
'Begitu sempurna!' Gitu lho.
Mari lanjut ke kenyataan mengerikanku.
Si gemoy yang unch unch Kawai ini sedang tertidur pulas. Kyaaa! Begitu menggemaskan! Coba saja dia seperti ini terus, sudah lama Dia menjadi raja bagiku.
Besok cari kucing betina ah~
Kalau tidak, hibrida saja. Yang Kawai tentunya~
Baiklah! Readers! Jangan lupa untuk ingatan Aku. Supaya hidupku tidak bosan-bosan amat meski sudah mendengar cercaan dari kucing-kucing yang lucu nanti.
Karena yang di omonginnya cuma meong-meong doang. Meski sebenarnya mereka sedang mencerca-cercaku, tapi Aku tidak tahu saja apa yang mereka katakan.
Hush!
Tidak boleh su'udzon! Itu tidak baik readers!
Tapi jika melihat keadaan Kami sekarang. Latar tempat untuk si kucing tidur tidak sesuai.
Kenapa?
__ADS_1
karena..
..masa' bobo cantiknya di ruang makan! Di saat orang-orang lagi pada makan! Tidak lucu tahu! Seimut apa pun Dia itu tidak sopan dan tidak termaafkan! (Bagiku)
Tapi sudahlah. Ketimbang sebuah ocehan tidak jelasnya membuatku hilang akal, lebih baik seperti ini.
Kami makan dengan cukup lebih damai hari ini (bagiku). Karena si kucing tidak ikut menyela setiap perkataan yang ingin kukatakan.
Heran sekali Aku dengan makhluk satu ini. Sedikit-sedikit tidak setuju, kita sedang tidak melakukan pemilihan capres dan cawapres, atau pun debat tentang UU baru yang ingin di realisasikan ke publik dari MPR atau salah satunya. Tapi Dia sewot sekali.
Mama dan Papa kebanyakan berbicara tentang ekonomi dan distribusi di wilayah Kami. Mereka rasanya seperti tidak pernah istirahat.
Haruskah Aku menawarkan diri?
Ya. Sepertinya harus. Kedua Kakakku itu pasti setuju juga. Istirahat dan refreansi-kan diri itu cukup penting.
"Hah~" Ayo cari perhatian!
Suara helaanku sengajaku besarkan agar terdengar oleh orang sekitar. Namanya cari perhatian —bukan manja—, harus sesuatu yang mengkhawatirkan dong.
Aku dapat melihat manik Mama yang saat ini di depanku menyadari helaan napasku. Dia tersenyum.
"Aku hanya berpikir liburan itu menyenangkan." Ucapku dengan tangan kiri yang menopang dagu, dan tangan kanan memain-mainkan makananku yang entah kenapa akhir-akhir ini tidak nafsu untukku makan.
Kok curhat?
"Benarkah? My dear, Kamu ingin liburan kemana? Kita akan cari waktu yang tepat nanti." Papa mencoba bertanya. Manis juga panggilannya, biasanya itu untuk Mama saja. Entah kenapa memikirkannya jadi kesal.
"Tapi mereka malah terus bekerja, dan bekerja. Kesehatan batin itu butuh. Tapi mereka merasa itu nanti-nanti saja. Padahal ada orang lain yang bisa mengambil ahli hal-hal kepemerintahan wilayah ini. Hah~" Seolah tidak mendengarkan, Aku berkata seperti itu.
Ah!
Terkaku.
Mereka terkaku.
Sepertinya sadar jika yang kumaksud bukan untuk diriku. Wajah mereka seperti bingung. Mungkin menelaah siapa saja yang bisa di serahkan untuk tugas ini.
Pikiran awal mereka pasti untukku. Jangan menatapku sombong. Karena pasti di pikirkan mereka tentangku di coret miring.
__ADS_1
"Banyak orang tidak bisa melakukannya sayangku. Mungkin lain kali saja, ya?" Mama meyakinkan.
Rasanya kesal.
"Kepala pelayan memang bisa tapi tidak mungkin kita membebaninya hal yang cukup tidak ringan ini padanya. Mungkin-mungkin, Raan atau Reen dan Annie saja. Jika dengan Annie Saya percaya dia bisa. Bibi Dinda tidak perlu khawatir untuk hal ini." Rafael mencoba lebih meyakinkan.
"Meow~" Si kucing mendekatiku, Dia baru saja bangun tadi. Ada apa dengannya? Jangan-jangan!
"Tidak boleh. Kucing tidak boleh makan-makanan manusia. Makan saja makananmu. Hana tolong ambilkan." Ucapku sambil menghalanginya.
"Jahat sekali meow! Lagian Aku ini nyatanya bukan kucing kan!"
"Tubuh kucing tidak bisa menerima hal seperti ini, Kau itu sebenarnya harus lebih pintar lagi memikirkan ini." Dia cemberut akan perkataanku. Tumben mengalah? Dunia tidak akan kiamatkan?
"Annie? Umm.. tapi Dia tidak mungkinkan di beri beban seperti ini." Mama berpikir.
Aku ini sudah besar jiwa dan batin. Tubuhku memang anak kecil. Kepintaran di atas rata-rata adalah kelebihanku di dunia ini sebagai anak kecil.
"Bibi Dinda. Annie pernah membantu pria itu untuk mengerjakan setumpuk kertas yang beribu lembar dan kata setiap kalinya Dia memohon. Itu bukan hal yang sulit. Raan dan Reen ada, mereka bisa membantu sekalian belajar, kan? Kepala pelayan akan ikut kalian. Dia juga butuh namanya refreansi. Di sini ada si kucing yang berotak seperti manusia kelakuan hewankan. Mungkin Dia bisa membantu." Lucifer mau membantuku menjelaskan. Sepertinya kiamat lebih dekat kali ini.
"Kalian liburan titik. Tanpa koma. Aku akan siapkan tanggal dan perlengkapan Kalian. Kucing gendut, Aku merasa kenyang lagi. Kau makanlah saja." Ucapku.
"Eh? Katanya kucing tidak boleh makan-makanan manusia!" Teriaknya.
"Maksudku, jika Kau lapar lihati saja hingga kenyang, bayangkan Kau sedang memakannya. Mama, tiga hari lagi Kalian berangkat." Ucapku sembari meninggalkan ruangan.
Dan tanpa sadar, Aku sangat senang akan hal ini, hingga tersenyum.
Aku memanggil beberapa pelayan untuk menyiapkan apa saja yang di butuhkan Mama dan Papa untuk liburan nanti. Tentu saja menyuruh mereka menyiapkannya saat hari kedua.
Sementara itu meminta beberapa pendapat untuk Mama dan Papa serta beberapa orang yang ikut dengan mereka, akan tempat bagus yang di kunjungi. Dan ekonomi apa saja yang di perlukan.
Setiap saran dari penjelasan mereka sangat bagus. Mungkin mereka akan di liburkan dalam waktu yang cukup lama.
Karena Aku tidak bisa menentukan salah satu atau dua dari yang di rekomendasikan. Namun tidak apalah. Kita buat saja mereka seperti keliling dunia dengan melakukan tur perjalanan.
Sepertinya, selain melakukan misi akan job-ku, Aku memiliki pekerjaan lain. Mari kita tingkatkan lagi wilayah ini.
Dalam satu Bulan!
__ADS_1