
Jam demi jam berlalu. Saat ini matahari nampak sedang ingin menutup diri dari dunia ketika sudah waktunya bergilir.
Coba saja ada camera di sini. Pasti sudah ku foto pemandangan indah ini.
Aku sedang dikejar-kejar oleh kucing besar. Karena itu Aku bisa melihat matahari terbenam meski sudah berada diujung tanduk mataharinya.
Alasan dan kenyataan tak sinkron? Nggak kok. Sinkron. Soalnya Aku memanjat pohon yang terlihat besar dan tinggi, yang saat ini sedang kududuki salah satu dahannya.
Hah~
Meski begitu setidaknya diriku yang menemui bahaya langsung waras seketika, seolah sudah terkena ilahi dari kemewahan hati sang pahlawan wanita.
Ternyata dikejar-kejar dan hampir menemui ajal itu benar-benar bikin jantung makin mendekati penyakitnya.
Meski begitu setidaknya Aku sudah mempunyai kesempatan untuk menyerang makhluk ini.
Gila gak tuh! Monster dengan tingkat yang lebih tinggi dari kata rendah sedang memburuku. Memang pantas hati Mama cukup was-was dengan hal ini.
Aku jadi benar-benar memikirkan yang lain. Apakah ajal mereka sudah lewat atau baru datang? Aduh, kenapa Aku jadi seperti phsycopat saja.
Sudah cukup lama membuat kucing itu tak melihatku. Tapi dia malah menetap di bawah pohon ini.
Ck
Payah sekali
Ditungguin Akunya. Tidak ada pilihan lain. Coba bunuh— atau mungkin serang(?) saja dulu.
Mencari posisi yang pas
Kusiapkan diri
(Menuju ajal//plak)
Jongkok gaya khas Shinobi di atas atap, sambil memegang ujung gagang katananya. Melompat ke bawah kemudian, sambil bersiap melafalkan nama jurus buatan sendiri.
(Gak sekalian syahadat? Mungkin aja nanti langsung matikan//bugh)
Dari ketinggian yang cukup mengerikan jika asal menjatuhkan diri, kupersiapkan teknik pedangku. Kali ini tak seperti waktu itu, Aku menggunakan pedang mata satu yang sesungguhnya.
Well, bagi kalian yang memang tahu, bisa langsung sebut katana.
Perlahan tapi pasti, karena angin yang bertolak saat Aku menjatuhkan diri. Aku mengeluarkan katanaku, namun tak seutuhnya.
Sebagian saja. Semakin lama, angin yang menolakku semakin mengecil. Artinya juga Aku semakin mendekati ujungnya dan si meow ini.
Sedikit lagi..
Sedikit lagi..
Yak!
Kali ini benar-benar kukeluarkan seutuhnya katana yang masih berada di sarungnya, lalu kutebas sekitaran leher si kucing besar ini.
__ADS_1
"Third Butterfly Night: Laugher"
Sesampai pada leher kucing besar ini, kata 'tebas' berubah menjadi 'kebas'. Rasanya benar-benar seperti sedang berbicara 'ekspektasi tak selalu sesuai realita'.
Aku bukan seperti seorang master pedang. Mana mungkin langsung bisa membunuh monster ini. Tak punya tenaga tentunya.
'Gawat. Mati beneran kali ini'
Si meow manis yang marah itu, menggeram sangat besar. Matanya menyala. Seolah terbiasa, Aku entah mengapa tak terhipnotis.
Genggaman pada katanaku semakin erat. Bersiap menangkis apa yang yang dilakukan si kucing besar ini.
Aduh.. panggilannya selalu berganti-ganti
Tangan kanannya yang seharusnya dilihat dengan tatapan gemas, kini menjadi waspada.
Hendak membunuh orang, sesuatu memberhentikan tangan yang menggemaskan nan mengerikan itu. Bukan melalui fisik, tapi suara.
"Kak!! Kak!!"
Gagak yang terus mengikutiku ini bersuara.
Akhirnya dia bersuara, kukira dia bisu.
"Berakhir! Berakhir! Semua peserta harap menuju ke tempat tujuan terakhir dari tahap pertama!"
"Kami yang akan memandu kalian! Pergilah ke arah bulan!"
"Ayo! Ayo!"
Seolah menegurku, si gagak bersuara mengajak. Aku dengan jalan- ralat. Dengan berlari kulewati pohon-pohon yang rindang itu. Semakin lama semakin banyak peserta lain yang kulihat.
Kebanyakan dari mereka sepertinya terluka parah, yang mengharuskan mereka untuk tidak berlari di atas dahan-dahan pohon atau kata yang lebih tepat terbang sepertiku.
Tapi akan lebih enak dibaca jika kutulis peringanan tubuh.
Kaak! Kak! Kaak!
Suara burung yang melewati kami dari atas secara berkerumun. Membuat sebuah kesan yang cukup membuatku merinding.
Bagaimana tidak! Mereka semua pada malam hari, dengan warna hitam (pekat) terbang di atas kami. Bergerombol lagi!
Seperti habis perang saja.
Yah, walau kami memang baru saja melakukan perang mungkin.
Arah mereka terbang sama seperti kami.
Sebenarnya cukup lama Aku berlari-lari seperti ini. Bahkan bulan yang tadinya berada diderajat ke 45, sudah menjadi derajat ke 75. Tadi hampir membuatku sedikit agak bingung. Karena tempatnya semakin lama melengser ke atas.
Oh
Para gagak yang awalnya terbang tadi, kini sudah bertengger di atas dahan pohon. Mereka nampaknya sedang beristirahat. Mereka yang memiliki tujuan yang sama seperti kami sudah beristirahat. Artinya Aku telah sampai ditujuan akhir tahap diburu ini.
__ADS_1
Aku mulai menapak pada tanah. Berjalan santai karena sudah semakin dekat. Tidak ada seorang pun disini. Hanya Aku.
Apakah Aku yang pertama atau semuanya yang sudah menduluiku?
Tak lama sebuah sinar lain dari bulan menelusuri mataku. Sepertinya itu adalah sinar dari lampu penerangan tempat terakhir ujian itu.
Semakin mendekat, lalu mataku menangkap sebuah bangunan tradisional dengan berbagai hiasan sederhana namun indah di pandang.
Baru beberapa orang yang sudah sampai. Mereka kebanyakan terluka cukup parah, namun tak fatal seperti beberapa orang yang kulewati tadi.
Bingung harus apa, Aku hanya berdiri biasa di salah sebagian tempat kosong. Seperti biasa, sambil memegang ujung gagang katanaku.
Cukup lama menunggu akhirnya ada beberapa individu dan kelompok dari berbagai arah berdatangan kesini. Banyak sekali luka-lukanya.
Aku bagaimana? Tentu tidak terluka seperti mereka, baik parah atau pun hanya goresan. Karena [Healself] yang kugunakan.
Haruskah?
Sepertinya tidak perlu. Karena mereka pasti akan dibantu sembuhkan oleh pengawas ujiannya.
Suara kepakan sayap terdengar olehku. Gagak yang beberapa waktu lalu terus bersamaku seperti mendekatiku. Tentu kusiapkan sebuah tangan untuknya bertengger.
Aku cukup mudah membedakannya dari sekian banyaknya gagak. Mungkin karena Aku terus bersamanya beberapa hari ini
Dari sekian burung yang berkepak sayap tadi, hanya dia yang mengarah kepadaku. Yang lainnya bertengger di sekitaran bangunan itu. Entah itu diatap, didahan atau pun di lantai teras (apa ya namanya, Author lupa?) rumah itu.
"Kaak! Kaak! Semua peserta yang berhasil akan beristirahat disini! Untuk pemandu akan ada satu burung untuk satu orang!" Infonya pada semua orang. "Kalau begitu selamat malam dan selamat tidur!"
Seusai mengatakan itu, sebuah cahaya berwarna hijau zamrud dari bawah kakiku bersinar. Aku menutup mata karena iseng seperti ada sebuah kejutan setelahnya.
Merasa telah sampai kuberanikan diri membuka mata.
Saat membuka mata, kamar bergaya Jepang tertangkap mataku. Dengan futon yang terbentang dan meja kecil beserta bantalannya.
"Kaak! Selamat malam!" Aku hanya mengangguk sebagai respon.
Gagak itu tak menghilang dari hadapanku. Dia terbang ke sebuah tiang(?) atau apalah itu namanya, lalu bertengger disana. Sepertinya itu memang disiapkan.
Merasa bukan seekor burung hantu, Aku juga beranjak ke futon disana.
Tapi sebelum itu Aku menelusuri isi ruangan ini. Terdapat beberapa lemari kecil soalnya disini. Setelah kubuka hanya berisi peralatan rumah biasa.
Oh! Aku lupa bilang. Disini juga ada sebuah lemari yang berisi buku-buku. Buku-buku ini terlihat sangat rapi dan bersih.
Hmm~
Entahlah, yang pasti menelusuri ruangan sudah. Jadi langsung ganti baju dulu. Kubuka baju yang sedang melekat ditubuhku.
Sekarang Aku benar-benar telanjang, tapi sebelum mengenakan pakaian yang disiapkan oleh orang-orang dari ujian ini. Kubersihkan tubuhku dengan sihir air, air yang menggumpal membentuk seperti tali yang tebal.
Merasa sudah cukup kupakai pakaian itu. Setelahnya? Tidur dong.
Rasanya cukup melelahkan.
__ADS_1