
Hari ini hari yang cukup mengejutkan. Pasalnya, Ibu terlihat sakit, dia merasa mual dan muntah-muntah tadi. Dan saat ini, kami sedang menunggu orang yang memeriksa Ibu.
Dia terlihat memakai baju seragam seperti punya Ibu. Namun dia memakai celana bukan rok. Dan lagi dia seorang wanita, dan sekali lagi untuk ketiga kalinya yang terlihat hanya lah bagian matanya.
Ia terlihat memakai sebuah penutup wajah yang menutupi bagian hidung dan mulutnya.
Cklek
Suara pintu yang terbuka, membuat kami semua menoleh ke arahnya. Sang pemeriksa tersebut menyuruh kami masuk.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Kak Raan dengan tenangnya. Namun bagi ku ia terlihat seperti sedang menyembunyikan kekhawatirannya.
"Sebelum itu.." Ucapnya namun di jeda olehnya dan berjalan ke arah ku.
Tiba-tiba dia mengangkat ku ke atas dan memeluk ku dengan membuat pipi kami saling bertumbur.
"Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun!"
"Mereka bilang Kau sangat menggemaskan! Dan ternyata mau lebih dari itu! Ya ampun!" Teriaknya dengan suara menggelegar.
"Lalu sekarang lihat lah apa yang orang tua mu lakukan. Mereka membuang mu dengan membuat anak lagi. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan?" Ucapnya dengan nada kasihan kepada ku tapi mengejek Ayah dan Ibu, sambil menatap mereka dengan datar.
Oh~
Jadi itu kenapa Ibu mual dan muntah-muntah.
Astaga, ck ck ck~
Saat ini Aku berada di dalam gendongan sang pemeriksa itu. Karena melihat wajah sang pemeriksa itu Aku pun ikut menatap mereka, dengan wajah datar yang seolah mengatakan
'Apa sih yang kalian lakukan'
""Tidak! Kami tidak melakukan apa pun!"" Ucap mereka berdua secara bersamaan saat melihat tatapan dari ku dan tentu saja dengan wajah yang memerah.
"Ck ck ck, kalian masih mengelak setelah tahu itu? Sungguh mengecewakan."
"Jika kalian memang tidak menginginkannya biar Aku saja yang urus." Ucapnya yang di dukung oleh pelukan ku kepadanya.
Ku peluk lehernya, membuat pipi kami saling bertubrukkan lagi. Ku lakukan itu sebagai pendukung dari kata-katanya.
Tentu saja Aku mendukungnya. Kalian tahu kan, umur ku saja baru mungkin sekitar kurang lebih satu tahun empat bulan. Dan mereka sudah membuat anak lagi? Apa lah daya ku nanti sebagai onee-san kecil mereka.
"Ya ampun, ternyata seperti itu. Kalian benar-benar jahat sekali." Ucap Kak Reen dengan nada sedihnya. Seolah dia mengerti dengan apa yang Kami bahas.
"Ka-kami bisa jelaskan." Ucap Ibu dengan gugupnya karena merasa malu, terbukti dari wajahnya yang memerah.
"Terserah lah. Yang pasti, selamat atas anaknya ya~" Sang pemeriksa mengucapkannya dengan nada mengejek. Membuat ke dua orang itu terdiam dan malu untuk berbicara.
Tapi, tidak apa lah. Karena di ceritanya juga sang penjahat wanita, Annabella, mempunyai dua adik.
Mereka pun berakhir saling mengejek, namun tidak membuat suasana runyam. Tapi membuat suasana bertambah lucu.
__ADS_1
Semua suasana itu berakh, ir ketika sang pemeriksa mengatakan Ia sudah harus kembali.
Setelah kejadian itu usai, Aku bermain-main di taman bunga membuat begitu banyak kerajinan bunga namun setelahnya ku buang.
Saat bosan dengan membuat kerajinan bunga, Aku mulai bermain-main dengan kupu-kupu. Aku bermain dan saat hari semakin siang, Aku berhenti dan mengajak Hanna ke kamar untuk tidur.
Abel saat ini sedang izin, karena salah satu anggota keluarganya sedang ada yang sakit.
Jadi saat ini hanya Hanna yang menemani ku, saat ini aku sudah berada di ranjangku dan bersiap tidur.
Sambil memeluk boneka teddy bear yang selalu menjadi teman tidur ku akhir-akhir ini. Setelah beberapa saat berlalu, saat menutup mata Aku sudah berada di alam mimpi.
...****************...
Saat bangun, ternyata sudah tiga jam Aku sudah tertidur. Merasa tidak bisa melakukan apa pun Aku pun mencari Hanna ke depan.
Namun, Aku tidak dapat melihatnya di mana pun. Lalu Aku pun berencana untuk pergi ke ruangan Ayah.
Aku terus berjalan sendirian hingga sampai di salah satu pintu yang ada di sana. Lalu, sebuah masalah lah yang ku punyai sekarang.
Aku terlalu pendek atau terlalu kecil? Bisa-bisanya tidak sampai ke gagang pintunya, harus kah Aku mengetuk pintunya?
Baiklah kita ketuk saja pintunya.
Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tunggu tunggu.
Bagaimana kalau ayah hanya bilang 'masuk' saja? kan Aku yang bakal susah nanti. Tidak mungkin kan, Aku bilang 'ini Aku' atau semacamnya.
Kan gak lucu gitu lho jadinya.
Tunggu, bukan kah ini hal yang bagus untuk menjadi anak nakal sementara. Mengerjai Ayah, akan menjadi pengalaman yang bagus untuk melamar kerja di masa depan nanti.
Baiklah kita mulai..
Tok tok tok
"Masuk" Titah Ayah dari dalam.
Beberapa saat Aku terdiam setelah mendengar titah tersebut, Aku mulai mengetok pintu tersebut sekali lagi.
Tok tok tok
"Masuk" Dalam hal pertitahan yang tak terbantahkan kini, terbantahkan oleh diri ku.
Beberapa saat setelahnya ku buat menjadi sunyi, sehingga Aku dapat membuat si tsun-tsun tua itu kesal.
Tok tok tok
"..."
Oh~ Kali ini dia tidak menjawab, mungkin kah Dia mulai kesal?~ Jika iya maka bagus lah, kita mulai membuat suara gaduh untuknya seorang.
__ADS_1
Setelah ini kau harus berterima kasih pada ku untuk waktu ku yang sangat berharga.
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok-
"Ah! Berisik! Siapa ya-" Ucap Ayah sambil membuka pintu guna melihat siapa yang mengganggu waktunya.
"Apa? Tidak ada orang? Pasti ini ulah anak-a-" Ucap Ayah sambil menoleh ke arah sampingnya, yang di mana penglihatan itu sampai pada diri ku.
"-nak nakal itu." Kau masih ingat untuk melanjutkannya, Ayah?
"Ah?!" Ucap ku yang terkejut melihat Ayah yang sedang melihat diri ku, dengan tangan yang terlihat seperti sedang atau ingin mengetuk pintu ini.
Dengan perlahan Aku menurunkan tangan ku dan berbalik seolah tidak terjadi apa pun.
"Tunggu sebentar anak nakal. Kita perlu bicara sebentar." Ucap Ayah yang sambil menarik atau mungkin mengangkat ku seperti menggendong seekor anak kucing.
"Hehe" Tawa ringan ku seolah sesuatu yang terjadi itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi itu nyata kok, menyenangkan, sangat sangat menyenangkan, bagi ku.
"Dasar anak nakal. Masih kecil seperti ini sudah jahil pada Ayah sendiri. Siapa yang mengajari mu, hah?"
"Ayah" Ucap ku dengan nada imut yang ku miliki, guna untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Anak nakal, apa maksud mu ayah mu ini yang mengajari mu, hah?" Pertanyaan itu membuat ku mengangguk dengan sangat antusias.
"Kapan Ak- tunggu, kenapa Aku menanyakan pertanyaan seperti ini pada seorang bayi? Sepertinya Aku mulai gila." Ucap Ayah.
Dan sekali lagi Aku mengangguk dengan antusias guna menjawab pertanyaannya.
"Tidak, kau sebenarnya tidak mengerti, kan?" Tanyanya guna berbasa-basi.
Dan kali ini Aku juga mmenjawab tapi bukan mengangguk namun menggelengkan kepala.
"Entah kenapa, Aku merasa Kau benar-benar mengerti." Ucap Ayah sedikit lirih dan Aku menganggukinya.
"Tidak, Kau tidak mengerti." Dan sekali lagi menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Ah sudahlah." Ucapnya sambil membawa ku masuk ke ruangannya.
Dia mulai kembali mengerjakan kembali tugas-tugasnya sambil memangku ku dan itu benar-benar mengekang ku. Aku tidak bisa bergerak bebas dia terus memegangi ku ketika ingin turun.
Dan semenjak hari itu Aku mulai mengganggunya dengan mengetuk ruangannya seperti tadi. Tidak setiap hari hanya saat senggang saja, sehingga ia tidak terbiasa dan terus kesal.
Tunggu.
Bukankah setiap harinya Aku senggang? Kenapa Aku mengatakan '...saat senggang saja,...'
Terserahlah~
...----------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.
Dan "Selamat Hari Sumpah Pemuda" semuanya 🇮🇩