My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 9


__ADS_3

[Author POV ]


"Cepat sekali tidurnya." Ucap seorang pria dengan wajah yang menampakkan senyuman yang amat sangat hangat.


Rambut hitam yang tidak panjang namun juga tidak pendek. Wajah yang terus berekspresi lembut, senyuman yang di ulas terlihat sangat hangat dan menenangkan.


Kulit putih yang tampak bak sebuah air jernih. Namun, di luar dugaan tubuhnya terlihat tidak kecil seperti anak rumahan, malah sebaliknya.


Terlihat seperti orang yang giat bekerja. Tubuh yang terlihat begitu gagah dan berotot, meski tersembunyi di balik kain yang di sulap menjadi pakaian kimono pria berwarna biru langit tanpa motif.


"Waah~ Annie barusan senang lagi. Ini kedua kalinya ketika Dia melihat orang baru." Takjub kagum gadis bernama A-03.


"Senang?" Tanya pria lembut itu.


"Benar!" Balasnya dengan semangat.


"Biasanya Dia berekspresi dan perasaan yang selalu datar nan dingin. Tapi saat Dia melihat kalian berdua.. Dia merasa hangat dan senang."


"Apa lagi dengan Anda. Saat melihat Anda perasaannya bercampur. Rindu, senang, bahagia dan sedih." Lanjutnya kembali sambil melihat ke arah Furai.


"Sedih?" Tanya Furai.


"Aku tak tahu bagaimana jelasnya, karena hanya Annie sendiri yang tahu. Aku hanya dapat mendeskripsikan singkat perasaan orang lain, bahkan meski deskripsi singkat, sangat sulit untuk melatihnya." Jawabnya.


"Lupakan tentang basa-basi ini. Ke mana arah topik utama Kita yang Kalian tanyakan. Ah~ Benar juga. Pasti Kalian lupa, kan?" Ucap dan tanya A-06 dengan nada menginterogasi.


Terlihat sekumpulan manusia itu hanya mengalihkan tatapan mereka ke arah lain dengan mensunyikan diri.


Hanya suara gedebak-gedebuk dan ocehan dari bawahan Annie dengan A-02 sebagai wasitnya.


"Apa-apaan itu?" Tanya A-06 datar.


"Dan Kalian bertiga diam kenapa! Kalau ingin bertengkar cari tempat lain! Hmph!" Serunya ke arah kedua petinju atau mungkin juga pedebat yang berwasit itu.


"Lupakan saja Dia. Jadi, kegiatan apa saja yang mereka buat?" Tanya Mitsuka.


"Kalau itu...mm..." Ucap A-08 sambil memikirkan kata yang tepat, sangat keras mungkin.

__ADS_1


"Jadwal yang mereka berikan sangat padat dan mengerikan untuk seumur Kami." A-01 berkata guna melanjutkan perkataan yang tertunda itu.


"Setiap hari, yang kami lakukan awal sebelum menerima semua kesakitan adalah menyelesaikan ujian. Setelah itu, Kami melakukan latihan tembak, latihan pedang, menyerap mana, latihan tanding, dan masih banyak lagi."


"Jadwal yang di lakukan seminggu sekali, tidak ada. Semuanya di lakukan setiap hari." Lanjutnya. "Oh, dan jangan lupakan tata Krama yang seolah di ulang-ulang." Lanjutnya lagi.


(Hmm.. ulang, ya? Apakah kalian di beri kisi-kisi ketika ulang-nya?)


"Tapi.. melakukan semua kegiatan itu pasti bisa sampai gelap, kan?" Tanya Zui.


"Benar. Sehingga waktu tidur Kami sangat sedikit. Seperti melakukan pekerjaan lembur namun dalam arti kasar. Bagaikan kuda saja." Jawab A-06. Tumben sekali.. pintar.


"Bahkan! Tidak di upah pula!" Keluh A-08 dengan pipi mengembung bak sedang merajuk.


"Tentu saja, bodoh! Kita ini bak sedang kerja paksa! Bukan kerja terpaksa!" Kali ini A-06, dan jawaban 'Ah! benar juga' dari A-08 dengan nada khasnya.


Pertengkaran yang mungkin bisa di sebut kecil pun tidak dapat di hindari. Dalam ruangan tersebut hanya ada teriakan kesal dari satu orang, dan perdebatan dua orang dengan satu wasitnya.


...****************...


Pagi menjelang dengan matahari setinggi tombak. Kehangatan matahari terasa begitu melekat di kulit.


Walau terkadang ada yang tidak mengenakannya.


Terlihat juga sekumpulan orang tak sama umur berkumpul sambil berbincang-bincang dengan santai dalam satu kumpulan.


Terlihat seperti belasan orang.


Mereka lah orang yang masih memiliki kesadaran setelah di perlakukan layaknya sebuah kayu lapuk usang yang tidak perlu di khawatirkan jika di rusak dengan sengaja.


Hanya mereka lah, beberapa belas anak-anak di bawah 10 tahun, yang masih sadar meski masih ada sedikit gejolak ketakutan dengan orang asing.


Tidak ada satu pun orang yang lebih tinggi umurnya di antara mereka. Yang paling tertua adalah anak-anak yang berumur 7 atau 8 tahunan.


Pembicaraan mereka hanya lah tentang apa saja perbedaan antara setiap lantai yang mereka tempati- ralat. Yang menyiksa mereka.


Tidak ada perbedaan perlakuan lebih dari beberapa dari setiap lantai yang mereka ceritakan.

__ADS_1


Mereka hanya di bedakan oleh penyiksa yang menyiksa mereka, lantai yang di gunakan, dan latihan yang di kurangi.


Semakin tinggi lantai maka semakin keras latihan mereka. Seperti lantai paling atas yang di dominasi oleh latihan panjang tanpa istirahat yang membuat tidur mereka hanya sekadarnya saja.


Terutama oleh anak-anak lantai atas. Mereka tidak bisa lagi di sebut anak kecil. Dengan sifat dan sikap yang mereka ambil selalu dewasa, jika itu adalah hal yang serius bagi mereka.


Bagaimana tidak? Dengan keketatan dari aktivitas mereka membuat pemikiran polos mereka menjadi rusak, dan pembelajaran yang sulit, tidak sesuai dengan seusia mereka.


Hampir membuat mereka rusak secara psikis jika mereka tidak mencoba berpikir kritis dengan membiasakan diri.


Berperilaku kejam dan kasar tanpa pandang bulu. Meraung kesakitan bukan lah hal yang tidak lumrah. Rasa sakit yang sangat menyengat dalam psikologi mereka.


Serta kegiatan-kegiatan mencekam lainnya sudah menjadi sebuah makanan sehari-hari untuk mereka.


Percakapan mereka terhenti sementara ketika beberapa orang dengan seragam khusus sebelumnya membawa beberapa belas piring dengan makanan di atasnya.


Ucapan terima kasih terdengar ketika makanan di taruh. Pembicaraan mereka kemudian di lanjutkan kembali saat orang-orang tersebut meninggalkan mereka.


"Sudah seminggu kita di sini. Apakah benar-benar tidak apa-apa jika kita hanya berdiam diri saja seperti ini? Jujur Aku merasa tidak nyaman." Keluh A-05 dengan nada ragunya.


"Kita merasakan hal yang sama.. tapi apa yang bisa di lakukan anak kecil seperti kita? Kita hanya akan menjadi beban." Cetus seorang anak laki-laki berwajah baru dengan wajah cemberut.


"Sudah, sudah. Lupakan saja hal itu. Kami sudah di berikan misi masing-masing sama rata. Sehingga semua yang perlu di kerjakan tidak ada lagi."


"Jika Kalian membantu pun pekerjaan apa yang bisa di lakukan lagi? Setiap tugas pasti ada yang menugasinya, lalu jika Kalian mengambil tugas tersebut tugas Kami sudah tidak akan sama lagi."


"Bisa-bisa Kami merasa itu tidak adil lalu mencibir satu sama lain. Bagaimana jika begitu?" Jelas seorang wanita yang juga berseragam khusus juga.


Mereka semua nampak nambah memanyunkan bibir lebih lagi, padahal tadi mereka saja sudah manyun memikirkannya.


"Baiklah~"


"Ngomong-ngomong, di mana Annie?" Tanya A-08 sambil memakan makanan yang ada di depannya.


"Annie? Mmm.. ah! Dia membantu Ketua Furai untuk mengembalikan Kalian ke keluarga Kalian. Dia bilang, Dia tahu identitas Kalian." Jawabnya sambil tersenyum, meskipun tertutup tapi dapat terlihat bahwa wajahnya sedang merautkan senyum.


"Oh~ Kami akan pulang." Ucap A-08 yang terlihat tidak peduli.

__ADS_1


"Tunggu! Apa!" Lanjutnya dengan wajah dan nada terkejut.


__ADS_2