My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 22


__ADS_3

"Kau yakin? Karena keresahanmu itu akan menjadi bumerang bagiku. Kau tahu Vanessa bisa merasakan itu." Annie menyelis tajam pada Rafael.


"Tenang saja. Kau tahu jugakan, bahwa bukan hanya hatimu saja yang membeku. Tapi Kita semua sebelum keluar dari tempat itu."


"Baiklah. Kalau begitu, Lucifer. Mau mendengarkan juga tidak perlu sampai berusaha memasang telinga." Annie menatap kearah belakang Rafael.


"Karena sebentar lagi, ruangan ini akan kedap suara."


Tik


Annie menjentikkan jarinya anggun. Dia menatap datar tak menghiraukan keseriusan yang terpaut dari wajah kedua makhluk itu.


Sebuah pelindung dari mana tipis menyelimuti berbentuk kotak pada bagian dalam tenda.


"Sebenarnya..."


[Author POV end]


[Flashback on]


"Wah wah, apakah pedang itu tak terlalu berat untukmu?" Ejek si pria bertopeng gila itu.


"Tidak akan berat jika itu untuk membunuhmu." Ucapku datar.


"Sayangnya, Aku tidak ingin melukaimu." Dia tiba-tiba menghilang. "Sampai jumpa, Annie." Bisiknya dari belakangku.


"Aku akan menunggu di sana." Lagi, Dia berbisik ambigu.


Aku lantas menoleh ke belakang sambil menebaskan pedangnya secara horizontal.


"Ck."


Dia menghilang begitu saja lagi. Aku sungguh kesal.


Setelahnya Aku menunggu yang lain untuk menjemput anak-anak ini. Mereka tiba tak lama setelahnya.


Aku berlari atau lebih tepatnya melompat dari dahan satu ke dahan lain.


Aku membelokkan arah dari tempat tadi ke arah perkemahan. Tidak ada maksud tersembunyi, hanya berniat mengikuti alur yang diinginkannya.


Dia seolah sedang mengajakku menuju jebakannya. Walau belum pasti itu jebakan. Entah kenapa, Aku begitu percaya diri untuk mengikuti keinginannya.


Aku terus menerus mengarah pada sebuah mana yang begitu kukenal. Auranya entah mengapa seolah Aku terus bertemu dengannya.


Padahal yang lainnya juga sudah begitu seperti 'mengenal' pria itu.


Rasanya seperti nostalgia dari seseorang yang lama. Dan seseorang yang membuat ku deja vu. Tapi entahlah, Aku tak peduli. Mungkin saja itu salah satu sihirnya.


Hingga, sebuah siluet terang yang gelap terlihat. Itu adalah si X-bod*h itu. Dia berdiri seolah menunggu.


"Halo, Annie. Sudah kuduga Kau akan tetap datang."


"Apa?" Tanyaku langsung.


"Jangan dingin seperti itu, nanti tak akan ada yang mau denganmu." Lakarnya. "Seperti yang Kau pikirkan, Aku ingin sedikit berbincang-bincang denganmu. Sedikit tentang hal dulu dan sekarang."


"Jadi?" Aku bertanya singkat. "Kau ingin melakukan sebuah penjujuran?"


"Kau menyadarinya dengan cepat ya." Dia sok memuji. "Memang seperti Annie yang seharusnya."


"Langsung saja pada intinya." Aku mulai kesal. Aku merasa Dia sedang tersenyum.


"Anggap saja ini sebagai hadiah." Dia melemparkan sebuah bola kristal.


Aku mencoba mengecek dengan memutar-mutarkannya, apakah itu sebuah perekam atau malah bom?


Namun hasilnya nihil. Tidak ada apapun dari kristal itu. Tidak ada yang istimewa.


Sehingga Aku mengembalikannya karena benar-benar aneh. Dia hanya mengendik acuh saat menangkap bola itu.

__ADS_1


"Kau sedang galau ya? Ditolak gadis atau wanita yang Kau sukai, kah?" Aku menatap curiga pada maksud anehnya ini. "Jangan menjadikanku pelampiasan, pedofil."


"Kau sendiri sudah bukan anak kecil." Dia berucap acuh sambil mengangkat kedua tangannya acuh.


"Lagian juga, Aku hanya ingin mengubah sudut pandangmu tentang diriku yang kejam ini." Dia memulai. Aku hanya diam, menunggu ucapannya.


Dia mendengus pelan. Agaknya kesal atau malas dengan ekspresiku yang tak sesuai dengan perasaan menunggu ini.


"Anak-anak yang kuculik—"


"'kusiksa'." Tekanku yang memotong ucapannya.


"Baik, baik."


"Yang kusiksa itu, secara tak keseluruhan merupakan anak-anak yang memang memiliki potensi, namun juga tersiksa. Mereka merasa ingin mati saja akan kemalangan hidupnya."


"Sama seperti batinmu, Annie."


Aku membelalak.


"Mereka anak-anak malang yang tersiksa oleh orang yang bisa kita sebut sebagai 'keluarga'." Seolah melucon, dua jarinya yang membentuk huruf 'V' digerakkan terbuka menutup.


"Meski berbeda denganmu yang karena kesalahanmu sendiri."


"Beberapa dari mereka kabur dan Kami menangkapnya. Itu semua karena mereka terus-menerus disiksa seperti perlakuan Kami."


"Jadi, jangan coba-coba memulangkan mereka." Aku hendak menyambar.


"Begini-begini juga Aku masih punya hati nurani karena pernah merasa sakit."


Aku menyelis kesal dan hendak menjauhkannya, karena secara tiba-tiba saja Dia berada di sampingku, membisikkan kalimat keduanya itu.


"Kau tidak ingin nasib mereka menjadi gila sama sepertimu dulu, kan? Annie?"


"Sungguh malang sekali, karena Kau mereka harus berkorban untuk dirimu. Itu semua karenamu. Kau tahu kan, jika saja lebih awal Kau tahu itu mereka akan masih ada, dan Kau juga akan masih berada disana. Bukan disini lagi."


Aku terpaku sebentar di sana. Entah kenapa ada yang mengganjal. Dia sungguh terasa seperti seseorang. Aku sebenarnya siapa?


[Flashback end]


[Author POV]


"Jadi seperti itu? Kau tidak mengurangi lagikan atau menambahkan ceritanya?" Lucifer benar-benar mencurigai Annie.


Annie hanya mengendik acuh. Kedua makhluk kembar beda ras itu merasa cukup yakin setelah Annie menunjukkan sikap acuh tak acuhannya itu.


"Baik Kami percaya padamu, Kuharap itu bukan sebuah kebohongan lagi. Kau itu benar-benar aneh dari awal. Sebenarnya, siapa Kau ini? Membuat deja vu saja." Rafael menimpali. Annie kembali mengendik acuh.


"Seorang insomnia sepertiku akan bagus jika tiba-tiba merasa ingin tidur. Kalian bisa pergi sekarang." Annie mengusir.


Kedua kembar beda ras itu hanya menuruti, mereka awalnya ingin bertanya lebih. Namun mengingat pernyataannya yang benar mereka memilih keluar.


Beberapa saat berlalu, tidak ada seorang pun yang datang kembali. Membuat si kucing bangun dan mulai menatap Annie datar.


"Jika padaku, Kau akan benar-benar jujur, kan?" Tanyanya.


Annie tersenyum sekilas yang menandakan sebuah senyum kepasrahan.


"Akan kuingatkan beberapa kalimat saja yang belum terjujurkan saja. Yang lain itu benar. Tidak akan dibuat sok-sokan flashback, Author capek merekayasa lagi yang sudah direkayasain."


"Pertama, Dia memanggilku dengan nama 'Annieliza' beberapa kali. Aku masih menyelidiki lewat spekulasi, namun sepertinya Aku tak akan bisa menemukan lewat logika, tapi lewat seorang dewa disini."


Si kucing membusungkan dada sombong. "Namun sayangnya, Aku memang benar-benar tidak tahu. Itu sepertinya akan kuminta yang lain untuk selidiki." Ucapnya masih dalam keadaan sombong.


"Jadi, yang mana saja Dia berkata seperti itu."


'Sama seperti batinmu, Annieliza.'


'Kau tidak ingin nasib mereka menjadi gila sama sepertimu dulu, kan? Annieliza?'

__ADS_1


"Lalu satu kata sebelum Dia pergi, 'Bye bye, Annieliza sayang.', itu merupakan kata-kata yang paling mengerikan." Annie bergidik ngeri. Begitu pun si kucing.


'Pedofil!' Satu sentakkan dalam pemikiran dan hati mereka.


"Lalu, satu lagi apa yang Kau bohongkan?" Annie menatap sekilas.


Dirinya berjalan ke arah pangkuan Annie. Mungkin bermaksud meminta dielus seperti kucing manja pada umumnya.


Tangan Annie mengeluarkan sebuah tempat kubus yang begitu mirip dengan rak terbang, namun setiap kubus berpisah, tak menempel lah istilahnya.


Salah satunya berisi sebuah bola kristal yang diberikan oleh pria bertopeng itu tadi.


"Dia mengatakan ini adalah exp mana untuk membantu menaikkan levelku. Setelah ku-cek, ternyata benar. Itu bukan sesuatu yang seperti kataku tadi, bom atau surat."


"Bagaimana Dia bisa mengumpulkan exp sebanyak ini dalam sebuah wadah?" Annie bertanya meski tahu tidak akan ada yang menjawab dengan tepat.


'"Anggap saja ini sebagai hadiah." Dia melemparkan sebuah bola kristal.


"Itu berisi exp untuk meningkatkan kekuatanmu agar tidak jatuh. Supaya Kau tidak lemah terus-terusan juga kan."


Aku mencoba mengecek dengan memutar-mutarkannya, apakah itu sebuah perekam atau malah bom?


Namun hasilnya nihil. Tidak ada apapun dari kristal itu. Tidak ada yang berbahaya seperti yang kupikirkan.


Jadi langsung saja kusimpan kedalam kubus penyimpanan dari penelitian terbaruku.


"Kau semakin pintar juga ya. Apa butuh elusan kepala sebagai tanda penyemangatan?" Tanyanya jahil.


"Kita saling bunuh sekarang juga Aku percaya diri." Kesalku padanya.'


Jelas Annie secara detail tentang kejadian sebenarnya.


"Aku ingin melakukan sesuatu besok. Kau mau ikut, dewa kucing kecil?" Annie tersenyum licik sambil menatap bola kristal di tangannya.


"Aku mengikut saja." Si kucing menengadahkan kepala pada kedua tangannya yang bertumpuk.


Dia kembali tidur. Sama seperti Annie yang tidur dalam posisi kepala bersandar ke arah samping sebuah meja rak tinggi hasil karyanya sendiri yang berisi beberapa peralatan tajam.


Disitu berisi beberapa tombak, pedang, busur beserta panahnya, dan beberapa pisau belati kecil.


Semua persiapan detail yang singkat. Benar-benar, detail sekali akan kewaspadaan mereka.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Wah! Astaga! Imut sekali! Mereka seperti kelelahan habis bermain!" Gemas salah satu gadis dari sekian gadis lain disana.


Mereka adalah gadis-gadis sebelumnya yang berada di tenda itu sebelum diusir halus oleh Rafael.


Mereka barusan saja masuk kembali ke tenda itu, saat sadar kedua makhluk kembar beda ras itu keluar.


Mereka berteriak kecil gemas.


Memang ya, yang namanya tubuh anak keci-piiipp tetap saja anak keci-piiipp. Terutama ketika anak kecil itu masih unch unch kawaii.


Hais~ Sayang sekali jiwanya sudah segede gaban—


Ups! Tidak boleh roasting!

__ADS_1


__ADS_2