My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 15


__ADS_3

"Ada apa ini?" Sebuah suara berintonasi dingin membuat semua orang menoleh.


"Oh. Halo narsis-kun~" Si kucing meledek.


"Hah! Apa katamu kucing si*lan!" Ucapnya(?) sambil mengerang marah.


"Uuh~ Aku takut sekali~" Ejek si kucing dari balik tubuh Annie.


Memang selama ini kucing itu selalu mengejek sang empu yang di ejek, dengan kata-kata seperti itu. Sang empu yang di ejek selalu berusaha membuat si kucing jera. Namun selalu di lindungi oleh Annie.


Bagaimana pun juga, si kucing tetap salah satu teman dekatnya Annie. Ya, Author sih yang buat mereka jadi kayak teman dekat. Dan merasa harus saling melindungi.


Walau kebanyakan si kucing yang di lindungi. Annie mah, usaha sendiri semua. Si kucing jadi penonton diam, terkadang jadi pengomentar.


"Kucing si*lan!" Dia mengeram marah.


"Sudah, sudah." Lerai Annie yang risih. "Selamat malam, yang muli- selamat malam, Tuan Edward." Sapa Annie. Kini Annie sudah berdiri sambil sedikit mengangkat roknya menggunakan tangan kanan yang kosong. Karena tangan kirinya sedang menggendong si kucing.


Dia segera menggantikan panggilannya untuk orang yang berlabel 'narsis' itu dari si kucing.


Benar, itu adalah Edward, Edward Clover. Putra mahkota kerajaan Clover, dan juga tunangan Annie.


Namun sekarang, sebagai salah satu Siswa akademi Kainigose. Dia sudah tidak bisa di panggil gelarnya sebagai putra mahkota. Karena itulah Annie langsung mengganti panggilan itu.


Ia tahu itu, karena Dia, lah, yang mencetuskan saran itu saat di ajak sang Mama dkk, untuk ikut berdiskusi. Hanya sekedar membantu sedikit.


Niat mereka mungkin-mungkin si Annie bisa belajar, eh malah mereka yang belajar. Ck ck ck, realita gak bisa nerima ekspektasi memang ya.


Dalam akademi ini, semua orang sederajat tak terbedakan oleh peringkat dan pangkat dari kebangsawanan mereka.


Setiap siswa di beri dan mendapatkan sebuah atau setiap pangkat dan panggilan dari akademi itu sendiri.


Itulah posisi Kalian ketika memasuki akademi ini. Ini sudah tersepakati dan tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan para pemerintah sudah menyetujuinya.


Sebenarnya pemerintah hanya menyetujui pembangunannya, untuk masalah peraturan itu tanggung jawab dan hak dari yang membangun.


“Nona Annabella, bagaimana bisa Anda di sini?” Tanya Edward tegas.


“Kami di mana ya terserah Kami. Kenapa Kamu yang malah cerewet? Nyonya saja bahkan sudah mengizinkan.” Si kucing berbicara. Nampak tak senang jika putra mahkota itu terlalu sibuk akan masalah itu.


“Kucing ini!” Edward menggeram lagi. Alisnya bersatu dengan sedikit cela.

__ADS_1


Sangking geramnya, Ia sampai ingin mengambil si kucing dari gendongan Annie.


"Anda tak bisa marah padanya Tuan. Karena Dia hanya seekor hewan kecil yang primitif. Jadi wajar jika Dia bertindak tanpa pikir panjang." Annie membela dengan sedikit menarik lebih dalam si kucing, dan mundur beberapa langkah.


"Ugh-" Dia nampak menatap kesal."Beruntung kali ini Kau kucing manja. Jika sudah ada celah akan kubuat Kau hanya tinggal kenangan."


"Waw! Menakutkan! Sangat butuh perlindungan!" Si kucing bernada mengejek.


Hal itu semakin membuat Edward geram. Setiap bertemu dengan kucing ini, pasti rasa kesal selalu mengelilinginya.


Tak terkecuali Annie. Baginya, gadis itu sangatlah seperti rumor pada umumnya dalam sebuah novel yang menceritakan 'seorang penjahat'.


Egois dan manja, mengingat setiap hal yang di inginkannya terkabul. Orang tua yang tak (bisa) menolak keinginan itu tanpa peragumenan yang mengerikan.


Terlebih, setiap keinginannya itu terkabul, bukan hanya beberapa kali. Berkali-kali!


Itulah yang membuatnya tak menyukai.


Namun, hal yang terlihat di luar tak selalu sama dengan yang di dalam. Tapi, sebuah pandangan awal akan sedikit sulit untuk mempercayai pandangan setelahnya.


Itulah yang ada di dalam diri setiap orang. Annie dan sekitar, selalu mencoba menghiraukan dengan memahami hal itu.


Mereka tak tahu, bahwasanya, Annie adalah anak yang sedikit introvert terhadap sekitar. Karena itulah teman-temannya yang lain selalu membuat jadwal akan pelepasan rindu mereka.


Walau begitu Annie sedikit demi sedikit terbuka dengan orang lain, mencoba menghiraukan rasa gelisah saat orang-orang menatap dan mencibirnya, rasa ketidak peduliannya membesar.


Baginya, Ia sudah bukan dirinya yang dulu. Perubahan lingkungan, terlebih dari sifat sang Mama yang selalu lembut. Membuatnya merasa untuk merubah phobia-nya itu, meski masih ringan.


"Ck! Nyonya Dinda tak mungkin akan mengizinkannya, Kalian pasti kabur." Edward berspekulasi.


"Ya sudah! Coba saja hubungi keluarga Lizabethen. Pasti langsung datang!" Si kucing berucap.


'Bukankah itu kedengaran seperti memang sedang kabur?' Pikir Annie. Tapi Dia segera tidak peduli.


"Kalian sungguhan kabur ya?" Tanya Arthur, namun kedua makhluk itu menggelengkan kepala bersama.


"Oh. Aku akan meminta si gagak untuk mengirim suratnya." Lanjutnya. Keduanya mengangguk, membuat si Arthur kembali menyipitkan mata.


"Terserah. Apakah Kalian tak ingin tidur? Bukankah pergantiannya 3 kali, dan ini seharusnya sudah waktunya." Terang Annie.


"Bagaimana Kau tahu?" Curiga Elgartara. "Aku yang beri tahu." Lucifer menjelaskan.

__ADS_1


"Oh. Baiklah."


"Terus Kau bagaimana? Biasanya." Tanya Elgartara lagi.


"Aku mengganti tidur dengan meditasi. Tapi Aku harus kembali ke kota Zamrud. Karena Kami berhenti di sana sebentar." Jelas Annie. Mereka pun segera bertukar sapa dengan Annie yang mulai melompat sekejap mundur ke arah hutan.


"Besok kujemput ya?!" Teriak Lucifer. Annie pun mengangguk.


Annie mengerti maksudnya. Karena setelah mengirim surat itu pasti salah satu anggota keluarga Lizabethen akan langsung datang.


Mengingat sifat anggota keluarganya sangatlah posesif padanya.


Bersama dengan si kucing dalam gendongan dan gagak yang terbang di sampingnya, mereka kembali ke kota Zamrud selama sementara.


'Entah mengapa Aku merasa kesal sekarang.' Pikir Annie sambil berdecih di dunia nyata-nya. Si kucing dan gagak hanya melihat sekilas lalu tidak peduli kembali.


...****************...


Pagi ini Annie sudah bersiap-siap dengan baju seragamnya. Dengan lapisan mana, di gantinya menjadi baju rakyat biasa yanh seperti semalam, namun beda motif.


"Annie!" Ucap Lucifer seperti janjinya semalam.


Penduduk yang melihatnya segera terkejut. Pasalnya, seorang anak kecil datang tiba-tiba seolah menggunakan sihir [Teleport].


Mereka juga tahu, sihir itu merupakan sihir yang cukup tinggi untuk seukuran anak-anak sepertinya.


"Tunggu sebentar." Annie segera mengeluarkan sebuah kertas dan pena dari cincin ruangnya. menulis menggunakan gerakan dari mana yang melapisi kedua benda itu.


Dia menulis dua buah surat dan menaruhnya pada kotak ruang kecil di punggungnya, menaruh dan mengetik tujuan dari surat. Salah satunya nampak terikat pada sebuah kantung.


"Tolong antarkan." Ucapnya pada gagak yang berdiri di punggung tangannya.


"Kaak!" Seolah membalas sang gagak besar, sebelum mengepak sayap untuk terbang.


Dalam Diam, Dia berpamitan pada orang-orang dari kota itu, dengan sebelumnya Dia memberikan kantung kepada kepala desa(?) di sana.


"Ayo." Annie pun mengangguk sebagai jawaban akan ajakan Lucifer.


Mereka pun berpindah tempat yang cukup familiar di mata Annie. Itu adalah perkemahan, perkemahan yang tadi malam.


Di sana terdapat seorang wanita dengan pakaian seragamnya yang lengkap.

__ADS_1


Itu Dinda. Mama Annie di dunia ini.


'Hah~ Ini membuatku sedikit kesal.' Ucapnya dalam hati.


__ADS_2