
[Furai POV]
Setelah hal yang di sebut sebagai percobaan membunuh itu, para 'penyusup' yang bisa di sebut seperti itu, mengalami kegagalan akan misi utama mereka.
Aku tidak tahu apa dan siapa yang mereka tuju. Yang pasti, saat ini harus kulaporkan lebih dahulu ke Tuan. Agar bisa terselesaikannya masalah ini.
Interogasi bukan harus selalu Aku, jadi itu bisa di serahkan ke yang lain. Annie sedang di sana, dan cukup sulit bagiku membiarkannya di sana tanpa di awasi.
Meski Si kembar dan Resh, juga teman-temannya ada, itu tidak bisa memastikan bahwa Annie akan bisa di tenangkan.
Sebagai Ketua Aku khawatir nasib yang lainnya.
(Emaknya aja gak percaya :v)
Dan Annie itu gadisku yang paling sulit untuk di tangani. Dia memang sering menuruti perintah orang tuanya ini. Tapi ketika Dia masa mode mengamuk, akan sulit baginya menahan diri.
Mungkin Dia punya masalah dengan amarahnya.
Tapi, tidak juga.
Karena Dia mudah marah hanya pada beberapa hal. Sebagai Ibu, untungnya Aku masih bisa menyelematkan Rin, agar Dia bisa menyabarkan (menjaga) sikapnya.
Terlebih hal yang paling mengkhawatirkan adalah motto mengerikannya itu. Tapi itu juga kedengaran sebuah motto yang sangat bagus.
Hais.. sudahlah.
"Ketua!" Teriak seseorang yang membuatku menoleh.
Perempuan dengan seragam yang sama seperti Kami, namun hanya terbedakan dengan dirinya yang memakai penutup wajah dan celana dari seragam Kami sebagai pengganti roknya.
Itu Kasuki.
Seorang prajurit yang berada tepat di bawahku, dua tingkat. Lebih kuat dari para pilar yang lain. Yang sangat di sayangkan.
Dia tidak pernah secara langsung mengatakan alasan kenapa tidak ingin naik ke tingkat lebih tinggi lagi.
Jika di pastikan. Dia akan berada pada tingkat kedua, atau bersanding denganku. Menjadi seorang 'Ketua' dari para prajurit lain juga.
Mungkin Dia akan sangat coock jika bertempat di bidang kesehatan. Dia akan menjadi yang bertitle 'sangat hebat'.
Terlebih, seperti kataku sebelumnya. Para pilar lain saja kalah melawannya, meski itu di suruh tanding 3 lawan 1. Mereka masih tetap akan kalah
Haha, mereka benar-benar lucu jika di suruh melawan perempuan cantik satu ini.
"Ada apa?" Aku berusaha untuk setenang mungkin. Karena ingatan lucu tentang perempuan ini dan pilar lainnya benar-benar lucu.
"Ah. Anu, Ketua." Dia terasa sedikit gugup. Haruskah Aku yang memulai?
"Hmm..??" Sedikit memiringkan kepala dengan mempertahankan senyumanku.
"Bi-bisakah Saya ikut Anda?" Dia mulai mengatakan tujuannya dengan malu-malu.
Perempuan ini pasti ingin melihat Annie lagi. Apakah Annie yang sifatnya, umm.. tidak feminim itu segitu manis dan imut di matanya. Atau Dia belum tahu itu? Lupakanlah.
"Tentu! Annie mungkin akan senang melihatmu. Terlebih Kau pernah mengatakan akan menjadi orang yang mengadopsinya ketika Len dan Rin lahir." Godaku padanya.
"Ugh- Anda masih mengingat ejekan Saya Ketua..." Ucapnya dengan mata yang menyipit. Tidak di sangka hal itu malah membuatnya sering Kami ejek.
"Hehehe~ Bercanda, bercanda~" Kekehku. "Kalau begitu, ayo. Annie mungkin akan senang melihatmu."
"Baik!" Riangnya.
...****************...
Setelah perjalanan yang cukup menguras mana ini, akhirnya Kami bisa sampai ke perkemahan anak-anak itu. Tentu bersama Kasuki.
Di perkemahan, Kami langsung di sambut dengan sebuah pelindung transparan dari mana. Aku mengenalnya. Ini mana milik Annie.
"Apa ini?" Tanya Kasuki sambil menoel pelindung itu. Getaran terjadi, seperti sedang mengganggu sebuah air jernih yang tenang.
"Pelindung dari mana."
"Apa itu?" Tanyanya bingung. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman penuh arti, namun berusaha selembut mungkin.
"Oh. Sesuai namanya, kah?" Aku mengangguk.
Kami berada pada dalam pelindung. Jadi tidak butuh berusaha untuk masuk ke dalam lagi.
Beberapa anggota yang di tunjuk menjadi seorang guru menghampiri Kami. Tidak ada yang mencurigakan atau aneh.
Hanya sebuah pesan dari Annie dan teman-temannya yang sedang bertugas.
Annie yang di beri tugas katanya. Yang lain hanya ikut-ikut saja. Mungkin karena itulah Annie menambahkan pelindung di sini selagi Dia pergi.
Baru beberapa jam lalu mereka pergi, jadi tidak bisa di pastikan itu hal yang aneh dan mencurigakan.
Para siswa dan anggota yang melakukan perkemahan ini semuanya adalah siswa yang harus mengulang dalam melakukan perkemahan. Kecuali siswa dan anggota yang pertama kali.
Untuk teman-teman Annie, mereka mengatakan mengambil tugas dalam mengawasi anak-anak yang lain.
Selama berjalan menuju tenda utama, Aku mengawasi diam-diam setiap siswa dan anggota yang melakukan perkemahan ini.
Mereka semua melakukan hal yang tidak mengurangi poin mereka. Dan Aku bisa cukup tenang jika mereka semua tidak harus mengulang lagi tahun depan.
"Wah~ Mereka cukup kompak daripada tahun kemarin. Saat Saya bertugas." Tutur Kasuki yang mengarahkanku untuk menatapnya.
"Coba saja tahun ini Aku ikut. Pasti akan bahagia sekali rasanya melihat mereka kompak dan tidak terlalu merepotkanku." Gumamnya kecil namun masih bisa terdengar.
"Hahaha. Mungkin Kamu harus ikut tahun depan. Tapi, sepertinya akan lebih merepotkan. Karena tahun pertama semua." Ejekku padanya.
__ADS_1
Dia mendengus kesal.
Begitu terbuka. Hingga tidak terlihat perasaan ingin menyembunyikan rasa takutnya padaku melihat pangkat Kami.
Namun itu tidak cukup untuk menyinggungku. Aku hanya mengkekeh geli akan sikap lucunya, dan kembali menoleh ke arah lain.
"Sayang sekali~ Annie tidak ada. Dia tidak bisa menyambutmu di sini~" Aku menjeda, melihat ekspresinya.
"Padahal Kalian cukup dekat kelihatannya~ Apakah Kamu menggunakan sesuatu untuk menarik perhatiannya?" Tanyaku asal, sekedar basa-basi.
"Saya pernah berkata akan mengadopsinya saat Anda ketahuan memiliki lagi, yang dimana ketika itu Annie masih satu tahun. Mungkin Dia mengingatnya, sehingga Aku yang paling di sayang~" Nadanya terdengar mengejek.
Aku terkekeh. Itu menggelikan, karena itu benar. Annie cukup dekat dengan perempuan cantik ini. Denganku.. entahlah. Tapi setidaknya Aku tahu Dia masih menyayangiku. Haha
Kami berbincang-bincang selama berjalan menuju tenda utama. Namun, dalam setengah perjalanan Kami berpisah. Kasuki melihat anak didiknya tahun lalu yang Dia awasi.
Kasuki duluan tentunya yang menyapa, sedangkan anak itu tersentak kaget. Mungkin masih malu dengan hal yang dalam bahasa Annie dan teman-temannya katakan. Umm.. apa ya namanya?
Ba-bare? Oh!
Benar!
Bar-bar!
Ya. Itu yang bisa di deskripsikan dari kelakuannya. Tapi itu hal yang ceroboh yang cukup lucu. Dan tahun ini kelas miliknya menjadi mengulang. Tapi karena kelakuannya yang pekerja keras, Dia mengetuai kelompok kelasnya.
Lupakan.
Tapi, Aku masih bingung dengan kata-kata 'bar-bar' yang Annie dan teman-temannya katakan. Baru kali ini Aku mengetahui bahasa itu.
Umm.. tapi teman-teman Annie bilang mereka tahu itu dari Annie. Annie bilang, artinya itu adalah sikap yang sungguh luar dari 'normal'.
Lalu, sikap tidak 'normal' yang di maksudnya itu, artinya seperti tidak tenang, elegan, anggun atau semua hal yang sering di lakukan saat hal itu sedang atau perlu di seriuskan.
Tapi itu semua masih lebih baik dari orang yang bod*h akan sebuah permasalahan. Begitu cara mereka menjelaskan.
Semuanya terdengar sangat kasar. Yah, meski wajar jika mereka mengatakan secara kasar seperti itu. Annie terlihat begitu berpengaruh untuk mereka, jadi, mereka mungkin terpengaruhi oleh Annie.
Tapi, terserahlah.
Mungkin ini terdengar sedikit kasar, tapi, mungkinkah mereka harus segera di jauhkan dari Annie?
Hah~ Tapi, Aku juga tahu mereka anak-anak yang pintar. Sangat malahan. Pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
"Selamat datang kembali, Ketua." Sapa seseorang yang tak lain dan. tak bukan adalah Kouji. Dia menatap anak-anak yang mulai sedikit terbuka. Tapi padanya.
Mereka masih kaku jika dengan orang lain.
"Apa ada masalah? Aku sedikit memiliki permasalahan dengan sesuatu tadi, jadi baru hari iNi sampai kembali ke sini."
"Tidak ada apa pun." Jawabnya yang tanpa menoleh sedikit pun. Dia fokus dengan mainan yang Annie berikan. Rubik kalau tidak salah namanya.
"Surat?" Aku melihat ke arah meja yang ada di tenda itu.
Dan benar. Ada sepucuk surat putih polos dengan sebuah tali kecil agar dapat membentuk sebuah gulungan tanpa rusak.
Aku berjalan ke arah meja itu dan mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan meja itu. Tanganku menarik tali merah yang mengikat surat itu.
Aku sedikit bingung. Kenapa Dia repot-repot membuat surat dan menitipkannya dari pada menitip pesan pada Kouji atau siapa pun itu.
Gulungan kertas itu kubuka agar dapat melihat isi dari surat itu.
'Untuk, Ketua Furai.'
Oh~ Awalan yang bagus. Gadis itu ingat bahwa Aku sedang bertugas dan telah mengganti nama.
'Maaf atas kepergian Kami tanpa izin yang tidak sopan ini, Ketua. Saya Chou saat ini meminta izin secara tidak langsung untuk melakukan sebuah misi dan penyelidikan tak bertuan.'
Dia memulai langsung pada intinya. Memang dirinya sekali.
'Entah bagaimana, misi ini yang Saya sendiri pun tak tahu bagaimana jadinya, membuat sebagian dari anggota yang ikut bertugas melakukannya. Karena batas waktu yang Saya sendiri pun tidak tahu akan sampai kapan. Tolong jangan mencari Kami jika sampai saat perkemahan ini akan tiba saatnya.'
Kaboom!! Sebuah suara ledakan terdengar. Bersamaan dengan itu:
'Kami akan kembali secepatnya, mungkin Anda saat ini bisa mendengar sebuah ledakan yang terjadi karena misi Kami itu.'
Lalu berbagai kalimat lainnya yang cukup formal akan maksud dari ketidak hadirannya di sini. Bahkan Dia mengatakan beberapa anggota yang lain sudah mencegah mereka untuk ikut dengannya.
Semua isinya cukup panjang dengan sebuah pengakhiran sebuah surat pada umumnya.
Aku terkekeh geli.
Bukan hanya karena suratnya saja. Tapi juga karena suara ledakan itu masih ada dan secara beruntun. Para siswa dan anggota yang berada di luar nampak terdengar berteriak dan terkaget-kaget.
"Apakah itu sesuatu yang lucu, Ketua?" Tanya Kasuki yang baru saja datang. Dia bersama dengan Edward.
Yah~ Harus ada yang ingat ini.
Dia merupakan salah satu siswa terpintar di akademi. Juga seorang menantu masa depanku nanti. Hehe, sikapnya cukup baik bagiku. Meski Annie sering mengejeknya 'narsis' dengan nada kesal.
Entah apa yang sudah terjadi pada pertemuan mereka. Yang pasti, Annie terlihat begitu tidak menyukainya.
Aku sungguh merasa geli dengan sikap mereka yang seperti kekasih yang sedang bertengkar lucu.
"Ya. Karena sebuah kebetulan terjadi saat membaca surat ini." Ucapku yang masih dalam keadaan mengkekeh geli.
"Ada apa, Ed?" Tanyaku langsung pada anak laki-laki itu.
Dia mulai memberi hormat selayaknya seorang prajurit kepada pemimpinnya. Kalimatnya Dia rangkum dengan sedikit basa-basi kecil di awal.
__ADS_1
Lalu sebuah laporan darinya akan siswa yang memiliki sebuah penambahan dan pengurangan poin akan nilai mereka. Juga beberapa hal yang di bingungkannya.
Tidak ada keanehan dalam hatiku akan semua hal yang terjadi dan ada di sini.
...****************...
Sudah 2 hari berlalu. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa anak-anak itu sedang berada di dekat sini. Padahal kemarin jelas sekali suara ledakan itu masih berada di sekitar sini.
Meski, kemarin suara ledakan itu awal-awalnya sesekali, lalu tiba-tiba ledakannya begitu beruntun tanpa jeda. Awalnya Aku berpikir mereka sedang melawan musuh yang cukup kuat.
Mengingat kekuatan anak-anak itu sudah setara dengan orang-orang yang berumur beberapa tahun di atas mereka.
Tapi sekarang bahkan tidak ada sama sekali suara seperti sesuatu yang berhubungan.
Aku mencoba untuk tetap tenang dan masih tidak mempersalahkannya. Bahkan beberapa anak-anak yang cukup berpangkat di sini mencoba bersaran padaku untuk mencari mereka lebih dahulu.
Namun sesuai dengan kata-kata yang Annie pegang, Aku menolak saran itu. Dengan alasan mungkin mereka tidak sengaja bermain terlalu jauh dan membuat mereka harus kembali dengan waktu yang bisa di bilang cukup lama.
Itu terus kukatakan saat mereka bahkan terus melakukan pertanyaan yang sama. Namun Kasuki malah menakut-nakutiku. Tentu Aku cukup tersentak dan semakin takut.
Dia menyanggahnya dengan, 'bagaimana jika mereka tersesat?' atau 'mereka mungkin saat ini tersesat dan tidak sengaja bermain ke dalam sebuah dungeon'.
Meski ingin sekali melakukannya. Hati seorang ibu terhadap anaknya lebih dari ini.
Aku sebenarnya sangat amat teramat takut dan was-was. Namun meyakini Kasuki dan beberapa orang yang bertanya itu dengan tenang dan mengatakan apa yang Annie pegang dari suratnya.
...****************...
Hari berlalu dan merupakan hari ketiga anak-anak nakal itu pergi.
Apakah mereka berbohong tentang misi Annie itu? Karena mereka ingin melakukan sebuah party leveling karena tidak sengaja bertemu dengan yang namanya dungeon..??
Jika benar, maka apa yang Annie lakukan di surat itu memang memiliki maksud tersembunyi. Awalnya Aku memang tidak curiga, tapi setelah dua kali membaca pagi tadi itu benar-benar memiliki maksud tersembunyi.
...****************...
Baiklah. Ini sudah hari kelima dan mereka sama sekali belum kembali.
Besok Kami akan berkemas dan lusa Kami mulai melakukan perjalan pulang ke akademi. Apakah mereka sedang berbahagia diri atau bersengsara diri?
Jika di jujurkan, Aku merasa sangat kesal sekarang. Anak-anak nakal itu jika terus di biarkan akan selalu membuat masalah. (note: 'melunjak'-lah istilahnya)
Aku tidak perlu khawatir saat ini. Karena kehidupan mereka di tentukan oleh redup-hilangnya pelindung mana yang Annie ciptakan.
Tidak ada sama sekali tanda-tanda akan menghilangnya kehidupan anak gadisku yang satu itu.
"Ketua~" Rengek Kasuki yang saat ini sedang frustasi akan permainan rubik yang tidak selesai-selesai Ia mainkan.
"Ayolah~ Annie sudah tidak ada lima hari ini. Apakah Kau tidak merasa khawatir? Itu anak gadismu yang pernah hilang. Ingin hilang lagi?" Tanyanya yang sedari lima hari ini terus merengek seperti itu.
"Tunggu saja. Jika perlu, Kamu lihati sajaterus pekindung mana-nya. Jika redup atau hilang segera laporkan padaku, lalu siapkan pasukan. Kita akan mencari mereka setelahnya." Ucapku acuh.
"Oh. Kenapa bisa seperti itu?" Tanyanya yang ku balas senyum penuh arti.
Aku berjalan mendekatinya dan mulai mengambil permainan rubik dari tangan Kouji tanpa basa-basi. Dia sempat tersentak sebentar sebelum akhirnya Dia hanya tersenyum kecut.
"Sudah sana." Usirku sambil mulai duduk di kursi lain.
"Ish!" Desis mereka berdua kesal.
Untung akrab.
Coba saja tidak. Bisa menghilang mereka dari daftar nama terpangkat di klan Kainigose.
Namun lupakan itu. Lebih baik Aku mencoba untuk menyelesaikan permainan rubik ini. Mereka kelihatannya sangat kesulitan, meski aturannya sederhana. Hanya perlu menyatukan sembilan kotak kecil yang memiliki enam warna ini.
Dalam aura sekitarku terasa sebuah mana yang sedang memasuki tenda ini. Sudut mataku memperlihatkan seorang gadis pirang cantik dengan rambut bergelombangnya.
Itu adalah Yuri. Anak cantik dan baik yang kemarin teman-teman Annie tolong.
"Selamat siang, Nyonya." Sapanya manis dan agak malu-malu canggung. Dia mungkin belum terbiasa denganku. Aku membalas sapaannya juga.
"A-anu.." Ragunya.
"Ya? Ada apa? Katakan saja." Dia melirik sekitar dengan gelisah.
"Se-sebenarnya, Saya merasakan sebuah keanehan pada pelindung putih yang mengelilingi Kita. Seperti agak redup sesaat. Tidak, itu terlihat seperti menghilang, benar-benar menghilang. Lalu kembali lagi seperti semula."
Aku mengernyit.
"Apa maksudmu?" Aku berusaha tenang. Menyingkirkan segala prasangka buruk yang tiba-tiba memenuhi kepalaku.
"Saya merasa, ini perlu di waspadai." Aku mengernyit.
"Mu-mungkin ini terdengar lancang. Tapi.."
"..Sa-Saya mendengarkan percakapan Nyonya dan Nona juga Tuan tadi tanpa sengaja. Jadi.. Saya merasa..ini..perlu di beritahukan..." Lanjutnya dengan tingkah gugup.
Aku sungguh ingin membelalak atau apa pun itu. Tapi, Aku masih mencoba untuk tenang.
Sebelum akhirnya Kasuki menyibak tenda dengan buru-buru dengan kalimatnya yang membuatku cukup untuk langsung benar-benar membelalak.
"Pe-pelindungnya! Hah hah hah!"
"Tenanglah. Katakan secara perlahan. Tarik napasmu." Saranku padanya.
"Pelindungnya menghilang!"
[Furai POV end]
__ADS_1