
Cklek
Krieeet
Bunyi pintu yang terbuka membuat ku menjadi sedikit kik-kuk. Serasa seperti seorang kekasih yang ingin di perkenalkan kepada calon mertuanya. Haha
(Padahal Author-nya sendiri belum pernah pacaran. Jangankan pacaran, deket sama temen cowok aja gak pernah. Sok-sokan di bikin 'bak-bakan'-nya. :v) Lupakan! Kembali ke cerita!!
Kosong.
Tidak ada satu orang pun di sana untuk menyambut kepulangan Mama dan Aku. Aku tidak terkejut akan hal itu. Karena Aku lah yang membuat kejadian seperti ini.
Saat itu, Mama baru saja selesai membuat surat tentang pengabaran pulangnya Kami.
Karena mengingat suatu hal, Aku pun meminta kertasnya sebentar untuk penambah kecantikan, dengan sebuah tulisan: "Jangan buat penyambutan tidak berguna!!"
Tentu saja setelahnya ku berikan kembali kepada Mama.
Seperti itu lah. Tapi Aku benar, kan? Dan ini lah hasilnya. Aku dan Mama biasa saja. Tapi tidak dengan duo ras gila dan si kucing gendut itu.
Mereka terus mengoceh tak jelas tentang pelayanan di rumah ini. Aku merasa sedikit risih dengan mereka. Jadi ku coba sedikit membentak mereka.
"Diam." Tegur ku sambil melirik ke arah mereka, tentu saja dengan bumbu-bumbu sedikit aura gelap.
Ciut.
Mereka langsung diam setelah ku begitukan. Bagus lah, setidaknya Perjalanan semakin menyaman.
Lagian, kenapa mereka yang komplain, kan Mama dan Aku yang seharusnya begitu jika Aku tidak menulis kata-kata seperti sebelumnya.
Kami semua berjalan mengikuti Mama sebagai orang paling di depan. Aku tak tahu ia sedang mengarah ke mana, Aku hanya mengikutinya.
Meski Aku pernah tinggal di sini selama dua tahun, tapi itu ketika Aku adalah bentuk sebuah makhluk hidup kecil.
Tidak bisa berjalan ke mana-mana tanpa pengawasan, juga, meski dalam sedang tak di awasi, ke mana Aku bisa pergi?
Yang ada tersesat di jalan, tak dapat bertanya.
Setiap koridor Kami lewati dengan santai. Nuansa yang sangat kental. Sedikit deja vu ketika Aku berjalan di koridor rumah ini.
Mana Aku lagi mengingat kejadian masa lalu lagi.
"Sebenarnya Kita ingin ke mana?" Rafael mulai membuka suara di keheningan yang sedang ku nikmati.
Dasar perusak suasana!
"Ruang Makan. Karena Aku sudah memberi tahu mereka kalau Kita akan pulang saat waktunya makan malam, jika saat petang Kami masih belum juga pulang." Jelas Mama.
Sedangkan Kami yang mendengarnya hanya ber-'oh' ria, kecuali Aku, Aku melakukannya di dalam hati.
__ADS_1
Tidak sampai di situ. Pembicaraan yang ku kiranya akan berhenti ternyata di lanjutkan kembali, dengan Rafael dan Lucifer sebagai biang keroknya.
Tapi meski begitu Aku menyimak saja pembicaraan mereka. Tidak terasa waktu yang Kami nikmati ini telah sampai pada waktunya.
"Kita sampai."
Di depan Kami terdapat sepasang pintu dengan ukiran indah. Aku dulu pernah menjadi penyuka seni, seperti lagu, nada-nada, ukiran, melukis, lukisan, dan semacamnya.
Tapi, setelah Aku mengusainya, Aku beranjak ke arah panah kebosanan.
Ketika Aku mendapatkan sebuah hobi atau sesuatu yang di suka, lama-kelamaan akan berubah menjadi salah satu keahlian, sehingga daftar hobi dan sesuatu yang ku sukai selalu di kosongkan.
Tapi, Kita kembali ke kejadian nyata.
Tangan Mama, mulai menggapai gagang pintu. Namun, Aku segera merasa tersentak akan sesuatu.
"Mama, tunggu."
"Ada apa, Annie?" Tanya Mama heran.
"Mama lupa tata kramanya."
"Tata krama?" Heran Mama sekali lagi.
Mama benar-benar melupakannya. Namun, seperti itu lah sifat manusia. Jadi Aku bisa untuk memaklumi yang ini.
Dengan bentuk menggenggam, namun siku-siku jari tengah ku lah yang seolah mengetuk pintu. Melihat itu Mama pun mengerti.
Tok tok tok
"Hanya itu saja Kau permasalahkan!" Kesal kucing gendut itu.
Lagian juga biarin sih.
Harga diri menentukan segalanya di dunia ini. Kenapa dia yang akan di maklumi semua kegiatannya sebagai kucing imut malah sewot.
Aku pun membiarkan sewotannya itu dengan melengos ke arah lain. Dapat terasakan bahwa urat-urat di kepalanya sedang membentuk simpang empat.
Dapat ku lihat dari sudut mata ku kucing gendut itu mulai berdiri dan berjalan masuk ke arah pintu yang sudah terbuka, dengan gaya khas kucing.
Dia seenak jidat berjalan mendahului Mama, lalu dapat juga terlihat dari celah antara Mama dan Lucifer, karena Aku dan Rafael yang memegang tangan ku berada di belakang Mereka berdua.
Dia duduk di atas meja. Sungguh menyesal Aku mengajaknya pulang ikut dengan ku. Serasa rumah sendiri dianya.
Dasar binatang memang!
Mereka yang di dalam juga sepertinya memaklumi kucing gendut itu karena dia hanyalah hewan berbulu yang gila.
"Kami pulang, selamat malam semuanya." Sapa Mama.
__ADS_1
Mereka yang di dalam hanya menjawab sapaan Mama, tanpa memperdulikan maksud dari kata-kata yang di keluarkan Mama.
Mungkin karena mereka sedang fokus memakan makan malam mereka masing-masing.
"Kalian semua bisa pergi." Ujar Mama lembut, namun mengartikan sebuah titah bagi mereka.
Semua pelayan yang keluar nampak tidak melihat ku, karena berbeda jalur. Jadi Aku tidak bisa melihat reaksi mereka.
Setelah semuanya selesai keluar dari ruangan itu, Kami yang berjalan masuk. Aku sedikit tegang tadi, tapi saat semua pelayan keluar rasa kaku itu menghilang, lenyap seketika.
Masih dalam keadaan santai Aku melihat kucing yang berada di atas meja itu, seketika luruh rasa biasa ku menjadi rasa kesal.
"Mama, siapa Mereka?" Tanya seorang bocah laki-laki agak dingin. Terdengar dari nada yang di gunakannya sepertinya itu adalah Kak Raan.
"Lalu, kejutan apa yang Kau maksud?" Tanya lagi seseorang, kali initerdengar seperti suara Kak Reen.
"Lebih baik Kita duduk dulu. Ayo duduk." Ajak Mama pada duo ras gila itu.
Mereka berdua kemudian duduk. Tidak dengan ku yang kesal melihat kucing aneh yang tidak sopan itu. Aku pun menuju ke hadapannya.
"Apa? Jangan menatap ku seperti itu." Ucapnya santai sambil menjilati bulu-bulunya itu.
"Jangan seenaknya." Tarik ku padanya hingga membuatnya berada di gendongan ku.
"Tidak! Hentikan Meow!" Teriaknya parno. Dasar kucing, cuma ingin di turunkan dianya malah meronta gara-gara parno.
"Jangan parno." Seketika dia pun berhenti meronta. Malu mungkin.
Setelah berhasil mendapatkannya, Aku duduk di samping Mama. Sementara, kucing gendut ini ku taruh di atas meja bagian depan ku.
"Hmph!" Desahnya sinis pada ku. Tapi kemudiannya melanjutkan menjilati bulunya.
"Woaah! Kucingnya bicara!" Girang Kak Reen, mungkin.
Entah lah Aku lupa. Wajahnya memiliki banyak perubahan. Atau.. Aku saja yang lupa? Baiklah, lupakan. Aku tidak ingin malu terlalu banyak di sini.
Ada apa?
Kenapa sendoknya Kau jatuhkan? Ada yang salah? Apakah Papa merasa begitu terkejut melihat seekor kucing berbicara? Tapi Kak Reen girang-girang saja tuh.
Lalu Kak Raan dia nampak membeku.
Ada apa dengan Kalian? Aku jadi agak gelagapan ini.
"Lalu mata ku melihat sesosok mirip Annie!" Teriak girang Kak Reen lagi.
Ok. Di sini Kau harusnya sadar, bahwa Aku memang Annie, bukan makhluk jadi-jadian seperti di sudut ruangan ini.
"An..nie?" Bata Papa.
__ADS_1