My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 23


__ADS_3

Di suatu pagi yang cerah terdapat seekor kelinci yang sedang makan pagi. Dengan wajah santai dan bahagia Dia memakan buah yang jatuh di bawah.


Hingga tanpa disadarinya, terdapat seekor singa besar sedang mengintainya. Menatap dengan penuh nafsu.


Air liurnya tumpah, dan cakarnya menggeram gemas. Seolah hal di depannya sangatlah menjadi sebuah santapan empuk.


Tanpa suara, Dia berjalan maju tanpa disadari. Tubuhnya yang sudah tidak di dalam semak-semak melompat mengarah pada si kelinci malang itu.


"Roooaaa—"


Buugh!!


"Awas awas awas!!!" Teriak anak laki-laki yang secara sengaja menendang bagian wajah si singa.


Rambut biru navy dengan manik berwarna biru dongker. Wajahnya menampilkan senyuman ceria dan bangga, karena berhasil melakukan headshot pada si singa.


"Wah! Tendangan bagus!" Puji anak lainnya berambut hitam kemerah-merahan tua.


"Yhan! Art! Jangan melakukan hal mengejutkan seperti itu!" Teriak gadis dengan rambut berwarna hijau toska.


"Oh. Kushida, lihat. Tangkapan bagus bukan." Tanya anak yang menendang itu pada gadis berambut hijau toska.


"Itu bagus. Bagaimana cara Kau membunuhnya hingga tidak mengalami luka separah ini?" Tanya Raanse yang tiba-tiba berada di sebelah mayat singa itu.


"Apa? Tidak mungkin itu mati hanya dengan sekali tendang. Ya, kan, *usagi-chan?" Tanya Vanessa yang memegang kelinci kecil tadi.


(*kelinci)


"Di sini." Suara serak-serak basah tapi gak maskulin terdengar.


Mereka serentak melihat ke arah salah satu pohon di sana, karena suara itu berasal dari sana. Ternyata itu adalah suara si kucing. Dia kini berada di pangkuan Annie.


Annie melambaikan tangannya pada yang lain. Ekspresi yang ditunjukkannya datar saat ini.


Di samping kanannya terdapat sebuah batu merah delima melayang..? Tidak. Itu terikat oleh sesuatu yang transparan. Namun ada sedikit noda merah kental di beberapa bagian.


"Eh? Langsung dicabut oleh malaikat mautnya." Kejut Resh yang telah tiba setelah Vanessa tadi.


Juga, beberapa orang lainnya setelah Resh.


Aduh, udah lama banget pas Resh muncul. Ada yang kangen gak? Itu lagi, Raan sama Reen.


"Mari berburu lagi. Ada beberapa disana, seekor disana, dan tujuh kesini. Ayo, go go go." Annie bertitah seraya menginfokan.


"Sejak kapan Kau yang memimpin?!" Kesal Gyndenki bersama Elgartara karena sedari tadi Annie terus menyuruh sana-sini saja.


"Oh yah? Kalian tidak setuju? Kalau begitu cari sendiri saja sana." Annie mengancam secara halus.


Tak menjawab bukan karena tak bisa. Tapi, tahu pada akhirnya akan kalah pada mulut keras kepala gadis itu.

__ADS_1


"Kalian juga tidak terlalu berguna. Hanya butuh menarik benang ini, beres." Lanjut Annie lempeng.


"Ganti haluan. Kita buru monster kecil itu." Agaknya kekesalan muncul, sehingga membuat Elgartara bertitah.


"Roger." Ucap Arthur dan Yhansen dengan semangat.


Akhirnya, Annie benar-benar diserang oleh teman-temannya itu. Hingga menimbulkan suara dentuman antara tanah dan sihir.


Orang-orang dari perkemahan hanya terkejut dan tak ingin mengetahui lebih lanjut akan suara mengerikan itu.


Di sisi para kubu kesal dan Annie, mereka menghancurkan apapun itu yang menjadi pijakkan oleh Annie. Bahkan, para singa yang mengarah ke arah mereka tidak jadi datang.


Meski ada beberapa yang terkena karena Annie berposisi dekat dengan singa-singa itu.


Annie hanya menghindar, meski sesekali menangkis. Tanpa disadari, kini, setiap sihir yang mengenai tempat yang Annie pijak, membentuk suatu pola bulatan.


Annie berpijak tinggi pada benang yang Ia layangkan di langit.


"Sudah, sudah. Kita lanjutkan dengan ekspedisi disini. Kelihatannya, rencana dadakan(?)ku begitu sempurna." Annie berdengus senyum.


Dia menekan agar teman-temannya itu untuk diam dan mengikuti keinginannya. Mereka tak dapat bergerak dan hanya mengikuti keinginan Annie yang berniat membawa mereka ke atas juga.


"Waaah! Apa ini?!" Semangat 45 terbentuk dari teriakkan Gilda. Dia menatap semangat pada hasil retakan yang mereka buat.


Itu dungeon!


Akhirnya mereka sadar, kenapa sedari awal Annie hanya menghindar dengan berputar-putar saja.


"Mau berjelajah?" Tanya Annie pada mereka.


"Apa mau membawa Yuri? Mungkin saja Dia juga mau." Tanya si kucing pada mereka.


Annie menggeleng.


"Aku merasa di dalam sana berbahaya. Jadi tidak mungkin Kita membuat sebuah aset berharga menghilang begitu saja." Lempeng Annie sambil turun menuju ke arah tengah segel di sana.


Sebuah lingkaran yang cukup besar, atau sangat besar dengan bentuk dari mantra segel yang mungkin kuno. Lalu dibagian tengah terdapat sebuah lingkaran yang lebih kecil.


Terdapat sebuah tulisan yang lebih kecil di sana. Annie menatap datar pada lingkaran yang dihampirinya.


Mereka terperangah akan maksud 'jelek' dari perkataan Annie.


"Kau barusan menyebut seorang manusia sebagai benda? Astaga, Aku tak tahu Kau sekejam itu." Vanessa berkata datar. Tak terdapat ekspresi apapun dari ucapannya.


"Kalian tahu sendiri kan, bahwa Aku sudah mulai setiap makhluk hidup itu hanya sebuah aset yang mungkin dibutuhkan." Annie mengeluarkan sihir anginnya untuk menghilangkan debu.


"Juga, Kalian tahukan karena siapa? Oh! Jangan lupa. Pembelajaran itu sudah benar-benar melekat pada ideologiku ." Annie berbicara tanpa beban sedikitpun.


"Bagaimana cara membukanya? Aku masih belum belajar segel-segel atau apalah itu, semacam ini." Tanya Annie.

__ADS_1


"Entah. Jika tidak salah, Kau harus memberi mana atau sihir salah satu elemenmu untuk membuka segel seperti ini." Arthur berpenjelasan.


"Baik. Kucoba dulu." Annie menunduk dan mengalirkan mana-nya sedikit pada bagian tengah segel.


Annie berdiri karena tidak sedikitpun terjadi sesuatu. Dia menatap datar pada segel itu.


"Tidak berguna, sudah kucoba beberapa detik namun tidak ada yang bisa."


"Kau baru mencobanya sebentar. Dan sudah menyerah. Aku heran, dari mana sifat itu berasal? Orang tua dan keluargamu cukup baik-baik saja." Resh berkata santai.


"Kau itu juga keluarganya, jangan lupa darah itu." Raan berterang ilahi pada Resh. Memberi tahukan akan darah sama yang mengalir di tubuh mereka.


"Aku tak pernah menganggap sejak melihat semenyebalkannya Dia." Aku Reen yang santai.


"Jadi, bagaimana cara Kita membukanya? Aku sudah tidak sabar untuk itu." Kushida berkata semangat. Wow! Tumben?


Tunggu. Kok langsung percaya saja ucapan Annie? Kan, baru beberapa detik tadi.


"Jika tidak bisa menggunakan cara lama seperti ini. Maka akan Kita coba cara kuno." Ucap Annie.


"Hah? Apa bedanya cara lama dan cara kuno?" Tanya Kushida polos.


"Oh! Aku tahu! Aku tahu!" Teriak Yhansen. "Biarkan Aku saja yang melakukannya! Karena cuma Aku yang bisa!" Bangganya, atau lebih tepatnya sok bangganya.


Dia berjalan santai menuju ke arah lingkaran itu. Tangannya menaruh pada sebuah celah kecil. Diusahakannya untuk dapat menarik celah kecil itu.


"Bukan. Bukan itu maksudku. Apa yang Kau lakukan?" Annie menatap aneh.


"Tapi seperti ini." Ucap Annie sambil berkacak pinggang dan menekan sebuah button di bawah kakinya.


Dia berwajah acuh tak acuh akan terperangahan dari ekspresi teman-temannya.


"Wuaah!" Teriak Yhansen yang terjungkal akibat lingkaran itu perlahan naik dengan sekitarnya bergerak membuka.


Meski tak seutuhnya, tetapi itu membuat sebuah ruangan(?) besar naik dengan panjang dan tinggi tiga kali tinggi pria dewasa.


Mereka terperangah takjub.


Di dalamnya, terdapat lorong gelap dengan tangga yang menurun seperti gravitasi bumi.


Annie berdiri di depan pintu(?) atau mungkin gerbang(?) itu. Tangannya berkacak pinggang. Hingga perlahan sebuah mana putih terlihat.


Sebuah mana yang melapisi dirinya mengganti pakaian biasanya dengan seragam hitam mirip seperti yang dipakai teman-temannya itu.


Di balut haori indah dengan perpaduan warna antara hitam dan ungu tua, juga putih dan krim. Motifnya hampir sama dengan milik sang Ibu namun lebih tipis.


Senyum kelicikan tertera di bibir Annie. "Ayo. Aku sudah tidak sabar melihat isinya."


"Kaak! Kaak!"

__ADS_1


"Hehe~"


__ADS_2