My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 32


__ADS_3

Goho~


Beberapa jiwa yang menaiki kuda terlihat hampir lepas landas lewat kepala. Itu Annie dan kawan-kawan. Syukur-syukur jiwa mereka hanya bertamasya kecil.


"Omong-omong, kemana saja Kalian hingga tiga hari menghilang?" Tanya Edward.


"Tiga?" Gyndenki yang sudah sadar kembali bertanya balik.


"Iya."


"Kami hanya beberapa jam disana. Kenapa bisa tiga hari?"


"Huh? Kenapa Kau bertanya padaku?" Deathglare dari Edward cukup membuat Annie dan yang lain menyatu bersama jiwa mereka.


"Aku kakakmu, kenapa Kau malah jahat padaku?" Pundung Gyndenki ngeri.


"Kalau begitu turun dari kudamu dan biarkan adikmu ini yang naik." Dua kali. Gyndenki hampir terkena mental karena deathglare dari adiknya. Tapi bukan berarti Dia akan menurutinya, "tidak!"


"Aku menghitungnya. Kalau tidak salah-" Vanessa dengan lembut membalas, namun malah terpotong oleh dua makhluk beradab.


""6 jam 59 menit."" Elgar dan Kushida.


""Huh?""


""59 detik.""


""Jangan mengikutiku!"" Dan inilah awal dari pertengkaran Duo Genius.


"Seharusnya Kita satu detik lebih lama di sana." Arthur dan Yhansen baru saja mengatakan hal tidak berguna.


"Benar." Vanessa... jangan ikutan.


"Tiga hari ya..." hmm... "aneh...?"


Arthur tiba-tiba berekspresi serius.


"Ada apa ini?!"


"Kenapa Arthur terlihat sedang berpikir keras?"


"Dunia akan kiamat! Selamatkan diri Kalian!"


Waw! Tanggapan impresif dari para siswa peserta kemah. Sepertinya di akademi Arthur cukup terkenal tentang sesuatu yang lumayan, 'something'?


"Kenapa kita tidak apa-apa ya? Padahal kita tidak makan selama hampir tiga hari." Kesal. Semua orang kesal dengan lanjutan dari Arthur. Sungguh pertanyaan tidak berguna.


"Turunkan Dia! Lalu bakar!"


Tiba-tiba Annie berdiri di atas kudanya sambil mengacungkan senjatanya kedepan.


"Ooohh!" Teriak yang lain menuju ke Arthur.


Sungguh penurut.


Arthur yang terkena keroyokan dari siswa-siswa, tidak dapat mengelak dan berhasil diturunkan. Yang kini kudanya dinaiki oleh Kasuki.


Sial. Padahal baru saja siswa-siswa itu ingin menaiki kudanya. Tapi tidak apa. Karena akses memperbolehkan untuk membakar Arthur sudah cukup membahagiakan.


"Kalian ini darimana hingga tiga hari dibilang tujuh jam?" Furai bertanya dengan ketegasan meski nadanya begitu lembut.


"""Dungeon!""" Serempak mereka.


"Ohuk! Uhuk uhuk!" Menoleh, terlihat Kasuki yang sedang memakan sesuatu tersedak, hingga mengeluarkan batuk pertama yang aneh.


Yuri yang memegang minuman segera membantunya.


"Ada apa dendanya?" Tanya Yhansen.


"Denda?" Gilda bertanya balik sambil memiringkan kepalanya.


"Typo. Maksudnya, 'dengannya'."


"Oi, Yhansen. Kau baik-baik sajakan?" Edward yang sejatinya sering sekelas dengannya bertanya khawatir. Tapi tidak tatapannya. Tatapannya seolah berkata, 'Kau masih waraskan?'.


Sial. Memang tidak ada yang waras di sini.


Lihat. Bahkan karakter tambahan di sekeliling mereka saja tertawa karena kesengklekan Yhansen, meski baru saja membuat Arthur lari-lari akibat dikejar bola-bola api.


Haruskah kita tambahkan genre horror?


Annie terdiam melihat mereka. Dia merasa, sedikit egois jika hanya mereka yang menaiki kuda.


Edward, Yuri, dan Kouji.


Mereka salah satu pemeran dari asli isi novel ini. Tapi kenapa mereka berjalan? Ah. Kouji tidak termasuk, tapi Dia mengenalnya, jadi masukkan saja.


Lalu, bagaimana dengan pemeran tambahan?


Lupakan. Dia saja tidak kenal mereka, mau membantu mereka? Padahal cuma pemeran tambahan. Kalau Dia jalan kaki, enak saja, mana mau dirinya capek-capek berjalan hanya untuk pemeran tambahan.


Tapi omong-omong, seharusnya sudah sampai situkan? Yosh! Sudah ditentukan!


"Eii, Enki."


Mengernyit, "namaku, Gyndenki. So, What?"


Idih! Sok yes dianya.


"Rasanya, Kau kakak yang buruk, ya..?"


"Huh?" tunggu! "Apa katamu?!"


Apa-apaan mantan putra mahkota ini? Apa telinganya tidak dengar? Pikir Annie. "Kau kakak yang buruk."


"Aku mendengarnya! Tapi apa maksudmu?!"


"Xii~ buruk! Buruk! Buruk!" Gumamnya penuh makna.


"Memang tunanganku!" Seru Edward bangga. "Sekarang turun dan enyahlah." Masih lebih parah, Edward menekan kakaknya.


"Apa yang Anda katakan, Tuan? Maksudku, duduk berdua. Kebetulan Kamu lebih pendek."Cetus Annie sambil melirik-lirik kakak-beradik itu, dengan tatapan yang sedikit 'ekhem!'.


Tunggu, Apa?


"Bukankah pemandangannya akan jadi lebih baik?"


Gila. Gadis itu, Annie, pasti gila. Apa-apaan pemikiran lugasnya itu?!

__ADS_1


"Seperti ini," ctak. Annie menjentik jari dan membuat sesuatu dalam sekejap.


Edward dipangku ala bridal style. Oleh... kakaknya sendiri.


'What the-?!'


"Kan, lebih baik." Annie tersenyum ringan. Lalu dirinya menoleh ke arah Elgar —mengabaikan setiap kalimat sumpah serapah dari kakak beradik itu, juga keributan dari untuk memperbaiki posisi mereka.


Tapi tak apa disumpah serapahi, karena posisi mereka terlihat susah diperbaiki.


Dasar. Pasti Boy Lovers ini.


"Elgar, kenapa tidak bawa Yuri sekalian? Kan dia adikmu?" Meski beda Ibu.


"Huh?"


Loh? Kenapa yang ter-'huh' bukan cuma Elgar?


Bahkan Gyndenki dan Edward yang tadi ribut-ribut sambil mesem-mesem jadi diam dan melupakan posisi aneh mereka.


Eh? "Umurku berapa?" Kenapa tiba-tiba...?!


"Sepuluh."


Oh...


Run!


"I'm flying dutchman!" Seru Annie sambil terbang ke angkasa, berusaha kabur dari seribu satu juta pertanyaan.


"Tunggu, Annie! Jelaskan pada Ibu!" Panggil Gilda.


Dia lupa, seharusnya pengungkapan bahwa Yuri adalah keturunan keluarga Louis yang hilang itu saat umurnya dan Yuri sebelas tahun.


Bisa-bisanya dia lupa umur. Ini gawat, spoiler kehidupan lebih buruk dari spoiler cerita yang Kalian baca.


Kalau ditanya dia tahu darimana, sangat tidak lucu jika mesti menjawab, 'mengecheat dengan gaya' sambil memasang wajah sombong berkacamata hitam.


Sudah pernah mati sekali terus hidup lagi, terus lagi masuk dunia ini yang disebut, 'Novel'. Juga tidak mungkin dia jawab seperti itu!


Tapi belum sempat lebih menjauh, ada sebuah meongan bersamaan dengan sesuatu yang menariknya hingga jatuh ke bawah.


Boom


Tiing


"Eh?" Sesuatu terjadi dan Annie melihat sekeliling.


Hitam putih.


Seolah waktu berhenti, dia berdiri kembali mencoba memastikan.


Berhenti. Waktunya berhenti. Orang-orang tidak bergerak bahkan bernapaspun tidak.


Sebuah suara mengalihkan perhatiannya, "Manusia. Hati-hati dengan tindakanmu."


Tajam. Kucing yang biasanya terlihat konyol, kini menatapnya dengan tatapan memperingati.


'Aku tahu...'


Lamunnya menatap si kucing.


Teriakan yang memanggil namanya terdengar. Dia menoleh, terlihat Gyndenki dan Edward yang mencoba tidak jatuh dengan menjaga posisi mereka.


Dia kembali ke beberapa saat lalu.


Tapi, sejak kapan?


Kekuatan yang disebut sebagai 'Dewa' oleh mereka, benar-benar membuat Annie hampir saja berteriak gila. Entah untuk rasa takut atau perasaan 'waw, amazing~ kupikir Aku akan mati'.


Dia bahkan tidak sadar kapan kucing itu melakukan suatu tindakan, hingga dirinya bisa dalam sekejap di dalam dua 'ruang'.


"Lady Annabella." Baru selesai meredakan tawanya, panggilan manis dari Yuri membuatnya refleks menoleh. Tersenyum dengan cahaya sejuta watt, Annie menjawab, "hm?"


Singkat, padat, dan jelas.


"Jejak hitam-hitam seperti gas ditubuh Anda dan yang lainnya. Apakah itu... elemen kegelapan?"


Tersentak.


Yang lain terkejut menatap ke raut bingung Yuri. Gadis yang tampak ramah dan baik ini, melihat mana gelap dari tubuh Annie dan teman-temannya.


"Menarik." Annie melawan penglihatan setiap orang dengan senyum yang bertolak belakang dari senyum manisnya tadi.


"Apanya yang menarik? Kenapa Kamu menutupi wajahmu?" Arthur penasaran. Gadis itu kadang, sering melakukan hal mengerikan.


"Maksudku," menormalkan ekspresi, "Lady Yuri bisa melihat mana gelap, berarti level Anda sudah sangat tinggi." Annie menjeda sejenak, "padahal Aku sudah mencoba menutupi setidaknya sangat tipis yang hanya terlihat."


"Kamu, pasti sudah bekerja keras ya."


"..."


"Ya?" Sedikit tersenyum. Yuri berusaha memutar ulang kalimat terakhir Annie.


"'Kamu pasti sudah bekerja keras ya', itu katanya." Tidak! Ternyata dia tidak salah dengar! Bahkan Furai yang selangkah lebih jauh mendengarnya.


"Y-y-y-y-y-y-y-yaaaaa!!!!"


"Apa?!" Annie bertanya dengan terkejut karena Yuri berteriak dengan wajah merah. "Kamu demam?!" Inti sekali pertanyaannya.


"Mayday! Mayday! Seseorang pingsan karena dipuji!" Lempeng Elgar meneriaki paramedis.


"Enak ya... Aku juga ingin." Gyndenki menangis sedih sambil berusaha memperbaiki posisinya dengan adiknya.


"Gyndenki, Kamu ini kenapa?" Adik yang tidak berakhlak sekali ya kamu. Meski cuma berbeda 2 hari.


"Ingin dipuji juga. Di puk puk begitu, terus 'Kamu hebat'. Begitu..." hampir saja Penulis membuat Edward jadi tukang puk puk kala tahu, Gyndenki ekhem ekhem.


"Berilah kesabaran padaku..." doa Edward sambil mengelus dadanya.


Sudah lama beberapa jam berlalu sejak Annie dengan lugas menjawab pertanyaan Yuri. Mereka sudah sampai juga sejak itu dan langsung kembali ke asrama mereka.


Libur 2 hari cukup untuk mereka.


"Yuri. Aku akan mengantarmu pulang." Tak ada jawaban. "Yuri? Kamu melamun?"


"Ya." Dia berjalan dengan ekspresi kosong yang lelah. Sambil bergumam, "kupikir Aku hampir menggila sebentar,"

__ADS_1


"Lady Yuri, mari bertemu lagi saat Saya menyiapkan pesta teh."


Vanessa yang berbeda setahun dengan Yuri menawari.


Tak ada jawaban, cukup lama. Vanessa sedikit berkeringat kecil melihatnya melamun. "Ya."


Akhirnya dijawab. "Ehehehe, Lady Yuri..."


"Edward. Antar Lady Yuri, Aku mau tidur sebentar." Sebagai kakak, Gyndenki mencoba membabui adiknya.


"Karena itu Aku mengajaknya tadi..." Edward lelah dengan semua ini. "Tunggu! Kemana Kamu ingin pergi?!"


Edward menarik kerah sang kakak yang lebih tinggi, "itu! Kerjakan dulu itu!" Tunjuknya ke arah setumpuk tugas fisik.


"Yuri." Itu pada saat itu.


"Y-y-ya, Lady Annabella?"


"Haha, saat ini Aku bukan seorang bangsawan, jangan sungkan untuk saling memanggil dengan akrab."


"Baik."


"Omong-omong, Aku ingin bertanya sesuatu,"


"Apa Kamu mau masuk ke akademi Kainigose?"


"Permisi? Maksud Saya, tentu saja Saya mau!"


"Kamu tahu? Ada cara yang mudah untuk bisa masuk tanpa lewat jalur tes. Yaitu, rekomendasi."


Annie berekspresi tabah sambil berimajinasi bagaimana Yuri akan menanggapinya.


"Jadi-"


Sesuatu datang dengan memotong Annie.


"Jadi, Yuri! Ayo lawan Aku! Kamu pasti kuat! Mumpung ada Nyonya Furai disini!"


"Hei! Jangan gila! Kembali kesini!" Misuh Kushida pada Arthur.


Annie jengah. Jadi dia menendang Arthur dengan ekspresi tabah dalam menangani sesuatu.


Yuri yang hanya bisa tersenyum canggung melihatnya, dalam sekejap mata menoleh kembali ke Annie dengan ekspresi bertanya.


"Maksudnya, Nyonya Furai adalah penanggungjawab akademi. Jika Kamu bisa mendapatkan rekomendasi darinya, maka Kamu bisa masuk tanpa tes."


"Apa Kamu juga bisa Annabella? Maksudnya, rekomendasi..." Yuri merasa dia lupa sesuatu sebentar, memberi kesan nada ragu-ragu.


"Bisa, karena Aku dan Pak tu- maksudku, penatua 2 orang yang menjadi penanggungjawab akademi juga."


"Eh?"


"Eeh?"


Siswa-siswa akademi yang mendengarnya saling ter-'huh?' karena sedikit bingung dengan maksud kalimat gadis kecil itu.


""Annie!!!!"" Teriakan dari dua makhluk yang terkenal keberadabannya mendekati Annie.


""Pa maksud?!""


"Apanya?!" Gas Annie balik sambil mengelus-elus dadanya.


"Aku tidak tahu Kau penanggungjawab juga?! Sial! Kau berlangkah-langkah didepanku!" Elgar berteriak frustasi.


"Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik agar bisa menjadi itu. Kamu... Kamu... Kamu!" Kushida juga.


'Karena Aku yang merekomendasikan untuk membuat akademi ini...'


Awalnya Annie ingin mengucapkannya keras-keras, namun urung karena tidak ingin ini bertambah lagi.


"Sa-Saya..." Yuri menjeda kalimatnya sambil menunduk dengan hawa muram sehingga tidak menampilkan matanya.


"Apa yang harus Saya lakukan agar bisa mendapatkannya?!"


'Wow!' Seorang Yuri berteriak antusias, tapi dia suka itu. "Tampilkan kehebatanmu yang bisa berguna untuk bertempur."


"Saya bisa melakukan penyembuhan secara area! Apa itu cukup?!" Namun dirinya tersentak dan memerah, "ma-maaf, Saya terlalu bersemangat..."


'Area?'


Annie terdiam sejenak.


Itu sulit. Bahkan bagi Annie yang bisa segalanya dalam aspek sihir cahaya seranganpun merasa [Area Heal] itu sulit.


Itu membuatnya penasaran untuk berapa levelnya sekarang. Apa itu lewat dari 100?


Jika itu selevel dengannya, artinya itu jenius.


Secara harfiah, level entah bagaimana tidak berlaku disini. Seolah itu hanya penampilan.


Seolah mana adalah tingkatan sebenarnya.


Dan exp sebenarnya hanya penyokong?


Entahlah, yang pasti ini menarik.


"Tentu! Kalau begitu, bagaimana jika Anda mencobanya sekarang."


Sekejap, semua orang melepaskan sesuatu.


Mereka seharusnya tanggap untuk tahu, ada yang salah disini.


...----------------...


[A/N]


Saya mau curhat.


Kemarin pas ke rumah sakit, Saya ngeliat alat yang bisa nimbang sekaligus ngukur berat badan. Saya ukurlah itu tinggi badan.


Dengan bahagia membayangkan tingginya dari 154 nambah tinggi.


Tapi pas diukur kok malah 147! Pengen teriak... astaga


.


Sekian dari Saya yang kembali menghilang lebih dari sebulan, mana nge-stuck ide pula.

__ADS_1


Btw, maklumin yang ini ya, karena kemarin hpnya rusak.


Gimana? Kalian bosen sama cerita pertama Saya yang awalnya mau nyoba-nyoba nuangin ide dan konsep?


__ADS_2