My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 25


__ADS_3

Nampak perlahan sebuah tumpukan bebatuan bergerak-gerak. Seolah mengartikan seseorang sedang menggerakkannya.


Lama-kelamaan bebatuan itu benar-benar terlempar dari kumpulannya. Nampak terdapat sebuah kaki dengan celana hitam panjangnya lengkap bersama sepatu hitam, terjulur keluar.


Kaki tersebut masuk kembali sebelum akhirnya sesosok remaja tampan memunculkan kepala hingga bagian dadanya.


"Si*l!" Umpat remaja yang perlahan muncul itu.


Itu adalah Gyndenki.


Dia memasang wajah yang di tekuk. Pakaiannya tertanggal sedikit berdebu, terlebih seragam hitamnya itu menampilkan benar-benar apa yang menempel pada pakaiannya.


Gyndenki kini sudah berhasil keluar dari runtuhan bebatuan itu.


Kini dari bekas lubang yang tercipta dari tendangan Gyndenki muncul sosok lainnya. Dengan awal seekor burung gagak dan kucing jutek keluar.


"Jangan marah-marah begitu, meow~ Yang penting Kita semua selamat dan tidak terluka." Ucap si kucing yang mulai menjilati bulunya.


Teman-temannya yang lain perlahan keluar. Mereka semua tidak dalam keadaan terluka barang lecet sedikit pun. Hanya pakaian mereka saja menanggalkan debu-debu halus.


"Sabarkan dirimu. Untung-untung Dia memberi kita pelindung yang cukup sehingga tidak terluka." Ucap Reen menenangkan.


"Aku setuju saja dengan perasaan Enki. Tapi, tadi entah bagaimana, ada rasa 'gawat' oleh seseorang." Ucap Vanessa tanpa ekspresi, walau wajahnya tersenyum lembut.


"Kau takut itu dari Annie karena Dia tidak sempat membuat pelindung untuk dirinya sendiri?" Tanya Rafael yang sedang membersihkan pakaiannya.


Siiingg


Suara pergesakan kecil antara sesuatu seperti mata pisau terdengar. Bersamaan dengan itu bebatuan yang berada di belakang Elgartara nampak memiliki sebuah benang tipis mengkilap yang mengikat batu-batu di sana.


Bruuaaaggh


Batu-batu itu mulai meledak(?) bersamaan dengan debu dan bebatuan kerikil yang terjatuh-jatuh di dekat mereka.


"Gyaaahh!" Teriak Elgartara dan si kucing terkejut


"Si*lan! Aku barusan saja membersihkan bulu-buluku! Ini jadi kotor lagi kan!" Kesal si kucing akan akibat dari debu-debu yang melayang itu.


"Benar. Tadi Aku tidak sempat membuat pelindung untuk diriku sendiri." Sebuah suara datar terdengar dari arah bebatuan yang tiba-tiba nampak meledak tersebut.


Perlahan, asap debu ini menghilang membuat pandangan semua orang kembali jelas, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas untuk memastikan suara dari siapakah itu.


"Annie?!" Teriak semua orang yang terkejut akan penampakan di hadapan mereka.


Pakaiannya memang tidak ada rusak sedikit pun, namun bagian dari tubuhnya yang seperti itu.


Luka di mana-mana, dengan darah yang mengucur lancar meski tak deras. Pakaian hitamnya tidak meresap warna merah itu.


Namun jika di pelik lebih detail, terdapat beberapa bagian yang basah berwarna agak kemerah-merahan pada baju hitam milik Annie.


Kenapa ngomongin baju?

__ADS_1


Lupakan.


"Kau kenapa, meow?" Tanya si kucing sambil mendekat.


"Ternyata benar Kau itu kucing bod*h."


"Siapa yang baru saja Kau panggil bod*h manusia rendahan!" Seru si kucing kesal.


"[Selfheal]" Seketika cahaya hijau memenuhi tubuh Annie. Itu adalah Annie yang menggunakan sihir cahaya-nya.


'Baju ini lengket sekali.' Ucap Annie dalam hati.


Sihir air melayang tanpa aba-aba di sekitar Annie. Bentuk memanjang seperti ular itu perlahan mengelilingi dirinya, menempel tepat pada bajunya agar dapat membersihkan setiap darah yang menempel.


Sihir api pun dilakukannya dengan bentuk dan unsur yang sama agar dapat menghilangkan basah yang terserap oleh baju itu.


"Jadi, sekarang Kita bagaimana?" Tanya Elgartara datar.


"Lanjutlah!" Ucap Reen dan Lucifer semangat.


Annie mencoba mengedarkan mana-nya ke sekitar dengan luas jangkauan masing-masing 100 meter ke setiap sisi secara persegi ke sekitar.


Setelah beberapa saat Annie menatap bingung pada bagian belakangnya.


'Tidak ada apa-apa.. kan?'


Namun tak sampai di situ, dirinya mencoba kembali. Namun tak secara horizontal melainkan vertikal ke bawah.


Beberapa menit Annie memejamkan matanya, namun tidak kunjung terbuka. Itu cukup membuat semua orang bingung, namun lebih memilih diam.


"Kita coba saja buat lubang secara vertikal. Tepat di bawah Kita ada sesuatu seperti bunker." Annie menatap tepat pada bawah kakinya.


"Yakin? Jika Kita mendapatkan bahaya Aku akan meminta Kita cepat naik kembali."


"Jika Kita mati sekarang Aku tidak mau. Aku masih belum mendapatkan jodohku." Tanya dan nyata Gyndenki datar.


Yang lain menatap datar dan tak peduli, namun hati mereka berkata 'orang ini mengesalkan'. Masih sempat-sempatnya Dia memikirkan jodohnya.


Padahal mereka mencoba bangga akan kalimat pertama yang terdengar bijak itu. Namun urung ketika mendengar alasan mengesalkan darinya.


"Aku mulai nih." Tangan Annie terangkat sempurna dan siap menumburkannya pada tanah di bawahnya.


"Tuu.. wa!" Buummm!


Tepat membentuk bulatan besar, tanah di bawah mereka menampilkan sebuah lorong lainnya. Tanpa pikir panjang Annie segera turun dan melakukan hal yang sama.


Buummm!


Buummm!


Buummm!

__ADS_1


Sudah lebih dari belasan kali Annie melakukan itu, terlebih Dia melakukannya tanpa jeda. Bahkan tak memberi waktu dari yang lain untuk menunggu turun.


Buummm


Lubang tak beraturan itu nampak tak menampilkan ujungnya lagi. Suara dari dentuman tadi pun sudah terdengar semakin memudar bahkan Annie sudah tidak dapat terjangkau oleh mata mereka.


Suara dentuman yang semakin pudar itu sudah tidak mengeluarkan suaranya. Namun setelah beberapa saat, debu-debu yang membentuk lautan itu masih belum kunjung menghilang.


"Annie?!" Teriak Kushida mengetes.


"Ya?!" Jawab Annie dari bawah yang sambil berteriak juga.


"Waw! Impresif! Dia menjawab panggilanmu. Semoga dunia masih belum akan kiamat." Ucap si kucing dengan nada yang sangat amat terkejut.


"Kiamat? Apa hubungannya dengan kiamat?" Tanya Vanessa.


"Tidak lupakan."


"Banyak bicara sekali." Ucap Gyndenki yang sudah duluan melompat ke bawah.


"Tung- hei!" Ucap Kushida yang super duper terkejut dan khawatir.


"Annie! Tangkap Kami ya!" Teriak Resh yang menyusul Gyndenki. Wajahnya nampak semangat.


"Kaak! Kaak!" Si gagak pun ikutan. "Duluan, meow~"


"He-hei!" Ucap Vanessa bingung.


"Ayolah turun saja!" Ucap Arthur sambil menarik tangan Vanessa. Vanessa diam saja dan menurut.


Namun hatinya tidak. Hatinya meracau antara bingung dan takut. Tapi karena sudah refleks di tarik doi— maksudnya Arthur.


Dia bingung dan memilih untuk menurut saja seperti yang sudah di narasi kan sebelumnya.


Mereka semua pada akhirnya hanya ikut melompat, meski beberapa wajah hanya pasrah untuk ikut-ikut saja.


"Cukup panjang juga ya." Ucap Resh tanpa berteriak.


"Ya." Balas Gyndenki santai.


"Hm? Apa itu?" Tanya Resh saat melihat sesuatu nampak menuju mereka namun bukan juga menuju, tapi terbentuk. Ya terbentuk.


Sebuah tanah nampak membuat bentuk tepat bulatan pada lubang yang sedang mereka turuni. Turuni dalam artian terjun bebas.


Kembali pada 'dinding'.


Terlihat betul. Yang awalnya lubang-lubang lebar tak beraturan yang cukup panjang ini mereka lewati, sesuatu seperti puzzle membentuk sebuah dinding dan meratakan lubang-lubang ini sesuai dengan bentuk lingkaran sebagai mana mestinya.


"Mungkin itu dari Annie. Dia kan orangnya simetris sekali. Jadi secara 'iseng', di ratakannya tataan tak beraturan lubang-lubang yang di buatnya." Ucap Gyndenki membetulkan.


"Sepertinya. Kita jadi seperti masuk ke dalam sumur saja." Basa-basi Resh. "Tapi.." Ada sedikit jeda pada katanya yang di tekan satu ini.

__ADS_1


"Oi! Annie! Berapa panjang lantai yang Kau buat?!"


"Entahlah." Ucap Annie bergumam kecil. Sudut bibirnya hanya berkedut canggung sendiri di lantai terbawah hasil hantamannya sendiri.


__ADS_2