
Hari demi hari berlalu. Dan dua bulan lagi Aku akan mencapai umur satu setengah tahun. Benar-benar melelahkan. Menunggu adalah sesuatu yang membuat semua orang menjadi tidak memiliki aturan lagi.
Dan Aku adalah salah satunya. Sekarang yang ku lakukan hanya lah berbaring, yang membuat ku menjadi kaum rebahan. Benar juga, mereka berdua sedang latihan pedang, kenapa tidak ku lihat saja mereka.
Hanna, Abel kemari lah. Aku bosan dan tidak bisa bangun. Aku sangat malas, gendong lah tuan kalian yang telah menjadi kaum rebahan ini.
Haiss~ Mereka sungguh keterlaluan. Membuat tuan kecil mereka yang sedang menjadi kaum rebahan ini untuk bangun, sangat keterlaluan.
Sudahlah, lebih baik Aku berjalan sendiri. Dasar. Jika Aku butuh mereka tidak ada, jika Aku tidak butuh selalu menempel bagaikan lem setan yang sifatnya kayak iblis.
Aku pun mulai menyusuri setiap sudut yang menjadi jalan ke arah lapangan mereka latihan.
Tunggu sebentar.. jika Aku ke sana mereka- ah! Maaf, maksud ku Kak Reen akan menggunakan sifat menjengkelkan miliknya.
Tapi jika Aku tidak ke sana maka harus ke mana?
Tidak mungkin Aku kembali ke kamar dan hanya rebahan, lalu tidur dan bangun, kemudian tidur lagi, dan bangun, setelah itu tidur lagi, dan bangun lagi.
Tapi sepertinya itu ide yang bagus. Tunggu, memangnya bisa bangun tidur bangun tidur seperti itu? Yang ada susah tidur lagi habis itu.
Menjadi panda Aku nanti malam. Hmm.. terus apa yang harus ku lakukan. Hah~ Mengganggu orang? Siapa yang bis ku ganggu? Yang ada Aku yang malah di ganggu.
Oohh!?
Benar juga, kenapa Aku tidak mengganggu Ayah saja. Kan jarang bisa ganggu dia, biasanya dia yang mengganggu. Sekali-sekali Aku lah yang menjadi pengganggunya.
Tapi dimana sekarang jalannya?
"Nona." Panggil seseorang yang membuyarkan lamunan ku dan hampir membuat ku ketemu si kucing gend- tidak, maksud ku Blackie lagi. Ku toleh ke arahnya saat ini.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini? Oh! Apakah Anda ingin melihat Tuan muda latihan?" Tanya sang pelayan itu namun Aku hanya menggelengkan kepala.
"Jadi, kemana Anda ingin pergi, Nona? Biar Saya antarkan." Tanya sang pelayan itu.
"Yah, Ayah" Ucap ku langsung tanpa pikir dua kali, Ia sepertinya nampak mengernyit sebentar. Sebelum akhirnya Ia meluruhkannya kembali.
Agaknya Dia mengerti. Kemudian, sang pelayan langsung mengajak ku ke tempat Ayah berada. Namun karena Aku malas, Aku meminta dia untuk menggendong ku.
Ngomong-ngomong kenapa Aku bisa dengan mudah menyebut kata 'Ayah' dan sulit menyebut kata 'Ibu'?
Hmm.. lupakan saja.
Setelah beberapa saat berjalan, kami telah sampai di tempat Ayah berada. Dan Aku sudah mencatat jalannya di otak ku. Agar ketika ingin mengganggunya tidak perlu meminta pelayan mengantarkan.
Tok tok tok
"Permisi, Tuan." Ucap sang pelayan yang di saut oleh Ayah dengan menyuruhnya masuk, sang pelayan tersebut langsung saja masuk ke dalam.
"Ada apa?" Tanya Ayah tanpa melihat kami, dan masih tetap fokus untuk menulis.
"Nona, ingin bertemu dengan Anda." Jawab sang pelayan, yang membuat ayah berhenti menulis dan melihat kami.
__ADS_1
"Baik, tinggalkan kami." Titahnya dan langsung melanjutkan menulisnya.
Sang pelayan langsung menduduki ku ke atas kursi atau mungkin sofa yang ada di sana. Lalu meninggalkan ku sendirian bersama tsun-tsun menjengkelkan ini.
Aku pun mulai memulai rencana ku karena merasa sudah saatnya menjadi seorang anak yang jahil.
Aku pun turun dari sofa tersebut dan berjalan ke arah Ayah. Melihat akan hal itu Ayah langsung melihat ku.
Aku yang merasa di lihat pun hanya mencoba naik untuk duduk di atas pangkuannya. Karena tahu Aku meminta di pangku dia pun mengangkat ku, untuk membantu ku naik.
Tiba-tiba Aku mengurungkan niat ku, karena merasa sedang tidak mood lagi. Jadi Aku hanya melihat apa yang di tulis Ayah. Dan tidak mengerti sama sekali.
Jika di ingat-ingat. Kenapa pelayan tadi tidak terkejut ketika melihat ku, seorang bayi berumur hampir satu setengah tahun ini, berjalan menyusuri koridor sendirian?
.
.
.
Sementara itu~
"Tunggu, kenapa Aku tak memikirkannya."
"Kenapa Nona berjalan sendiri tadi?"
"Uhm.. lebih baik, Aku berpura-pura tidak tahu dan memberi tahu Hanna." Ucap sang pelayan tersebut.
.
.
.
Ada dua tumpukan dan salah satu tumpukan itu sedikit, sedangkan yang lainnya ada sekitar dua kali tumpukan yang sedikit itu.
Hmm.. baiklah mari bermain tebak-tebakkan. Biar ku tebak, si tsun-tsun ini baru saja mengerjakannya. Jadi yang sudah selesai adalah bagian tumpukan kertas yang sedikit.
Oh~
Dia sudah selesai dengan kertas yang satu ini, mari kita lihat apakah benar atau tidak.
Setelah berpikir begitu tangannya berjalan ke arah tumpukan kertas yang banyak tersebut.
Melihat akan hal itu Aku tidak bisa untuk tidak sakit hati. Bagaimana mungkin tidak, melihat tebakan yang ku tebak salah. Dan itu untuk mengejek Ayah, meski di dalam hati.
Karena bosan Au pun menaruh dagu ke atas meja. Si tsun-tsun tua itu hanya melihat sekilas membuat ku sangat kesal, namun hanya bisa membuat di hati.
Setelah sekian puluh menit, akhirnya si tsun-tsun tua itu selesai dengan pekerjaan tumpuk-menumpuknya.
"Annie." Sebuah suara sedikit serak tiba-tiba memanggil ku, yang membuat ku menoleh ke arahnya. Ku buat sebuah wajah bertanya.
__ADS_1
"Apakah Kau bosan?" Bertanya, dia baru saja memberi pertanyaan yang sudah benar kepastiannya. Namun karena tidak bisa memberi tahu keluhan ini, Aku hanya menganggukinya.
"Ingin bermain keluar?" Sejenak ku lihat wajahnya. Setelahnya Aku langsung mengangguk kembali namun tetap tidak antusias karena mencurigakan.
Ia langsung menggendong ku dengan tangan kirinya. Kami berjalan menyusuri setiap jalan yang ada.
Awalnya ku pikir ia akan membawa ku ke kamar Ibu, yang saat melihat hal ini Aku sepertinya salah. Ternyata Dia membawa ku ke taman bunga milik Ibu.
Dia menurunkan ku di bawah salah satu pohon yang ada di sana. Dia terlihat sedang mengambil bunga-bunga yang ada di sana, sepertinya Dia ingin mencoba membuat mahkota bunga.
Karena melihat akan hal itu, Aku pun juga mengambil bunga-bunga di sana dan mulai merangkainya.
Setelah beberapa saat, kami di saat yang bersamaan selesai membuat mahkota bunga.
Namun Aku yang pertama kali memberikannya. Sedangkan Ayah dia masih memeriksa kerajinannya. Karena Ayah masih fokus pada karyanya, Aku langsung memasangkan milik ku ke kepalanya.
Astaga, kenapa dia bisa secantik ini? Entah kenapa Aku merasa, sebagai wanita harga diri ku menjadi turun.
"Hehe" Tawa ringan keluar dari bibirk u.
"Oh, terima kasih, Annie." Ucap tsun-tsun tua itu sambil mengacak-acak kepala ku dengan lembut.
Setelah melakukan hal itu, dia juga memasangkan kerajinan mahkota bunga buatannya ke kepala ku.
Tidak buruk, tapi juga buruk karena duo pengganggu sedang ke arah kami. Padahal sedang santai-santainya.
Kalian itu memang dasar perusak mood orang ya. Lihat Aku jadi malas kan gara-gara kalian berdua.
"Ah! Ayah!" Kejut Kak Reen yang menutup mulutnya yang sedang menganga setelah melihat sang Ayahnya itu.
"Ada apa?" Tanya Ayah secara acuh tak acuh.
"Ayah, Kau sangat cantik." Ucap Kak Raan dengan santainya, sambil mengacungkan kedua jempol, namun wajahnya tetap seperti biasa, agak datar gitu.
Dia kelihatannya tidak sedang mengejek. Wajahnya benar-benar polos saat mengatakan hal itu dengan terang-terangan.
"Untung, anak ku." Ucap ayah dengan wajah sehari-harinya.
"Pfft-" Kali ini Kak Reen yang seperti itu.
"Hey! Aku mendengarnya, anak nakal!" Ucap Ayah dengan kesal.
"Eh? Apa Aku salah bicara?" Ucap Kak Raan yang kebingungan sendiri dengan ucapannya. Namun tidak ada yang peduli.
Ah~ Mereka pasti bertengkar, ini pasti akan berlangsung lama. Tapi tidak apa lah, karena Aku menjadi tidak terlalu bosan.
Dan Kami berempat berada di sana hingga matahari ingin turun dan awan mulai berwarna jingga ke oranye-an.
...----------------...
Terimakasih telah membaca novel ini.
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.
Dan "Selamat Hari Sumpah Pemuda" semuanya 🇮🇩