My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 13


__ADS_3

Sepertinya Aku salah dengar.


Dan yap, Aku memang tak fokus saat itu.


Hari ini lah baru Kami kembali ke pada keluarga masing-masing.


Selama dua hari terakhir, kami hanya di sibukkan dengan surat-surat yang akan di kirim dan orang-orang yang akan mengirimkannya. Serta sarana dan prasarana-nya(?).


Ah! Sepertinya kali ini Aku yang salah bicara.


Maksud ku adalah 'mereka'.


Hanya 'mereka'.


Jangan tanya siapa.


Karena tentu saja, sekali lagi maksud ku adalah anak-anak kecil itu.


Ups-!


Aku lupa umur!


Maklum, karena Aku lupa 'dunia sebelumnya hanya di dunia sebelumnya'. Sedangkan dunia ini memiliki semua yang ada memang di dunia ini.


*Bingung? Sama Saya juga selaku Author yang mengetik. Haha


Ok, balik lagi ke cerita*.


Lalu sekali lagi ku ucapkan. Maksud ku Adalah Anak-anak yang lainnya. Karena Aku, masih memiliki beberapa urusan di sini.


Aku juga sudah menyelesaikan tak-tik kecil ku. Surat mini dengan tulisan sesuai ukuran anak-anak yang baru belajar atau semacamnya.


Rasa keinginan berterima kasih dengan baik dan benar, membuat hati orang dewasa kemungkinan besar akan luluh.


Dan juga karena anak-anak itu berasal dari kerajaannya sendiri, sebagai rakyat, dan ia rajanya.


Lalu.


Kata-kata yang pasti terlihat seperti kata-kata anak-anak.


Juga!


Tulisan ku pasti akan di terima.


Karena seperti cakar ayam yang sedang mengais mencoba membentuk tulisan. Ku buat sedikit jelek, jadi pasti mereka masih bisa membacanya.


Itu adalah tulisan bagus punya ku yang sedikit di lebih-lebihkan.


Terakhir. Dalam meng-copy tulisan adalah keahlian ku.


Pasti Kalian mengerti maksud ku.


Sedikit cerita saja.


Dulu aku terlalu iseng mencoba meniru tulisan orang lain, karena tidak ada yang bisa di kerjakan.


Belajar? Aku sudah bosan, semua hal yang ada sudah ku pelajari.

__ADS_1


Bermain? Dengan siapa? Aku terlalu introvert, tidak ada yang sering ku ajak mau pun di ajak berbicara.


Tidur? Aku tak semalas itu.


Juga. Sekali tidur siang walau pun hanya beberapa jam. Malamnya, Aku malah seperti seekor burung hantu yang terus berdiam diri.


Yang membedakan Aku dengannya —burung hantu itu— ialah keluhan tak berguna dalam hati.


Baca-baca cerita? Komik? Novel?


Puih-


Bak sebuah UUD yang terbentang luas se-Nusantara, dan harus di taati pelaksanaannya. Di rumah ku, Aku, hal itu di larang, kecuali teman ku yang me-rekomendasi kan.


Mereka percaya ke tiga teman ku itu tak akan aneh-aneh.


Kenyataannya? Ya. Mereka sebenarnya aneh. Karena itu Aku mengatakan jarang berbicara secara mengajak mau pun di ajak.


Maklum. Anak orang kaya, inget kan cerita bab 1? Tapi lupakan masa lalu dan narasi yang tak penting itu/ini.


Sebenarnya di ajak bicara sering, tapi hanya tiga teman ku itu saja, ku ladeni? Salah. Abaikan.


Baiklah


Lanjut ke kenyataan.


Mereka sangat hebat, hanya dua hari langsung mendapat balasan. Tentu saja, itu karena mereka mengirim orang dari klan ini langsung dan meminta jawaban langsung.


Apakah mereka sadar jika Aku memasukkan sebuah surat kecil di sana? Semoga saja tidak.


Lalu, Aku mengingat satu hal, bahwa sebelum klan kecil ini menjadi berita besar yang di ketahui banyak khalayak.


Sedangkan, jika di kalangan masyarakat atas itu adalah, para petinggi kerajaan. Tidak semua, hanya yang paling dekat dengan para raja-raja.


Mereka juga segan terhadap klan ini. Sepertinya klan ini kecil karena akses yang tahu dan cara masuknya hanya beberapa orang yang tahu.


"Nona Annie. Apa Kau tidak ingin duduk dan bersantai saja? Kau sudah bekerja keras. Lagi pula ini bukanlah pekerjaan mu, ini pekerjaan kami." Saran seorang wanita yang menutup setengah wajahnya.


Familiar?


Aku seperti pernah bertemu dengannya.


Pernahkah Kami bertemu?


Sepertinya iya.


Lagi pula.. apa maksudnya dengan 'bekerja keras'?


Apakah semua yang di maksudnya adalah merangkum dan menulis surat?


Hanya melakukan itu di sebut 'bekerja keras'?


Sungguh?


Ah! I mean, itu adalah sebuah lelucon yang garing.


Tapi yah.. setidaknya itu karena ia khawatir pada ku.

__ADS_1


"Tapi yah.. dulu Anda masih lah anak dua tahun dengan semua kemurnian yang polos." Ia mulai berujar. Cukup manis juga. Dan—


'Hmm..??'


"Padahal Saya juga bersama Anda. Tapi, karena Saya yang terlalu lemah, Saya tidak menyadari keberadaan Anda yang bak di telan bumi. Kemurnian yang polos itu berubah menjadi kedewasaan yang kosong." Lirihnya.


'Kelihatannya Kami memang pernah bertemu ya?'


"Jika saja Aku bertemu dengan pria yang di maksud itu, akan ku pastikan Dia berada di neraka." Geramnya dengan menggenggam erat tangan kirinya di depan wajahnya.


'Biar ku ingat-ingat..'


"Jika Dia lebih kuat dari mu?" Timpal Naguro yang ternyata ia menyimak kami sedari tadi, dan nadanya terdengar mengejek.


"Satu pukulan dengan kekuatan penuh saja cukup." Yakinnya dengan mata berapi-api.


"Semoga setelahnya nyawa mu masih melekat di raga." Ujar seorang pria berbadan besar, tidak, sepertinya ia berdoa.


Sekali lagi ku ucapkan, badannya hanya besar, tidak gendut atau pun gemuk. Seperti.. berotot! Ya! Berotot!


Atau memang berotot? Lupakan. Itu tidak penting.


Akhirnya ledekan sinis terdengar dari Naguro, yang di mana wanita itu membalasnya juga. Pertengkaran kecil pun tidak terhindar, yang di mana masing-masing pihak tak ada yang mau mengalah.


Aku hanya diam memperhatikan mereka tanpa bersuara. Karena berbicara tidak penting itu menurut ku selalu tak berguna. Baik itu hanya sepatah kata.


Jadi lebih baik ku perhatikan saja mereka. Sekilas. Tidak lama.


Dan, oh~ Aku ingat!


Dia wanita yang menggunakan penutup wajah, sehingga hanya matanya yang terlihat.


Lalu, Dia yang ada di saat memeriksa Mama yang sedang mengandung.


Juga, Dia yang datang ke perkumpulan kecil untuk merayakan ulang tahun ku.


Serta, Dia juga yang membantu Mama melahirkan si ke dua kembar.


Entah kenapa Aku sedikit tidak enak melupakannya padahal Dia banyak membantu Aku dan Mama. Lalu dengan yang lainnya ingat di luar kepala, sedangkan Dia Aku melupakannya.


Tapi hanya sedikit saja rasa tidak enaknya. Sisanya? Aku cukup tidak peduli dan biasa saja.


Sedikit mengherankan bukan? Awalnya Aku memanggil Mama dengan sebutan Ibu (sekitar dua tahun lalu).


Dua tahun kemudiannya Aku memanggil Mama dengan sebutan 'Mama'. Entah lah Aku juga lupa kenapa.


Juga. Apakah Kalian juga penasaran kenapa mereka membiarkan ku membantu pekerjaan orang-orang dewasa ini?


Sekali lagi. Entah lah~


Aku juga tidak tahu..??


Mungkin karena sifat dan kelakuan ku seperti di kehidupan sebelumnya. Dewasa? Tidak ke kanak-kanakan? Jarang bicara? Pengamat sekitar yang pendiam?


Lupakan Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Lebih baik melakukan tugas terakhir ku. Yang tak tertulis dan tak perlu di tulis.


Namun, mungkin akan menjengkelkan?

__ADS_1


Whatever. Aku hanya perlu berharap ini berjalan tanpa perlu waktu yang lama dan tidak ada hal yang menggelikan atau menjengkelkan dari ku.


Mari berharap seperti itu.


__ADS_2