My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 16


__ADS_3

"Ketua! Selamat pagi!" Sapa Lucifer yang melihat Furai sedang berbicara pada Elgartara.


"Kalau begitu saya permisi." Ucap Elgartara sambil berjalan mendekati para anggota dan siswa yang lain.


"Lucifer, selamat pagi." Balas Furai sambil tersenyum lembut. Lalu Dia menoleh ke arah Annie.


Annie menunduk kecil dengan tangan kanan yang berada pada perut, lalu tangan kirinya melakukan pada bagian belakang.


Furai membalas dengan anggukan kecil. Setelahnya, Furai berbalik menghadap para anggota dan siswa, memberi perintah.


"Semuanya, Kita akan mulai melaksanakan misi dan praktik. Harap bersiap." Ucap Furai. Semua menjawab, lalu membubarkan diri ke arah tenda-tenda yang ada di sana.


Untuk bersiap-siap, ganti seragam maksudnya. Karena, melihat dari yang mereka kenakan, agak sedikit santai.


...****************...


Semua siswa dan anggota berbaris rapi. Annie dan si kucing, serta beberapa orang yang lebih tua darinya, berdiri di belakang Furai.


Furai mulai menuturkan isi dari praktik yang di lakukan. Praktik yang tak ada bedanya dengan pelatihan militer itu, mereka lakukan untuk menjadi lebih kuat dan berpengalaman.


Seperti berlatih pedang atau sihir. Mereka berlatih sesuai dengan job yang mereka pilih.


Kecuali, Annie. Anggota yang berdiri di belakang Furai menjadi pelatih dari kelompok yang di buat oleh Furai langsung.


Semua bubar sesuai kelompok. Sedangkan untuk Annie Ia hanya melihat dengan tangan yang bersandar pada benang horizontal yang Dia. Saat ini Dia sedang duduk di sana.


"Apa Kau ingin ikut juga?" Tanya Furai pada Annie, saat Dia hendak melatih beberapa siswa dan anggota dari yang mengikuti misi dan praktik ini.


Hanya pada Annie, karena si kucing sudah duluan.


Si kucing juga menjadi pelatih, bukan atas tawaran dari Furai atau orang lain. Melainkan menyombongkan —menawarkan— diri, tentang bagaimana pelatihannya.


Annie sedikit bingung, namun dengan segera mengangguk, tak ingin menolak tawaran sang Mama.


Dia beranjak berbaris memasuki barisan yang ada.


Furai tersenyum lembut dengan membuka sebuah kata sambutan(?). Pelajaran yang di berikannya begitu, halus lembut, dan mudah di mengerti.


“Dasar manusia bodoh! Seperti ini saja tak mengerti!” Teriakkan terdengar. “Hanya wush! Sing! Bumm! Masa' tak mengerti?!” Jelasnya.


Itu adalah penjelasan dari si kucing, yang absurd.


Annie sedikit melotot pada si kucing namun di acuhkan olehnya. Penjelasannya yang begitu absurd menarik dan membuat fokus yang lain ke arahnya.

__ADS_1


“Oi.” Panggil Annie. “Apa?!” Balas si kucing.


Siiing—


Bruuggghhh!!!


“Berisik.” Lanjutnya sambil melempar sebuah pisau kecil yang hampir saja mengenainya.


Sedikit saja tak melengserkan perkenaannya, gantian Ia yang di tanya dewa penggantinya. Seperti dewa di tanya dewa. Yah.. dalam artian yang cukup buruk.


“Hah! Aku kan cuma-” Si kucing terhenti. “Cu-cuma...” Ia tergagap.


Matanya yang mengkilap, dan sebuah pisau kecil yang sudah di baluri racun. Kucing itu terdiam karena Ia tahu akan hal itu.


Lalu, pada tangan kiri Annie memegang sebuah kantung yang di ketahui oleh si kucing sebagai wiskas untuknya.


“Cuma apa?” Terkaku. Si kucing melemas, keringat dingin imajiner berguyur.


“Ugh- Kau saja sini yang mengajar!” Tantangnya. Annie pun menjawab dengan berjalan pada posisinya.


Dalam hatinya Ia jujur, sedikit kecewa dan sangat malas menggantikan si kucing, demi sang Mama yang akan mengajarnya lagi setelah sekian lama mengguruinya (dalam arti yang baik).


Ia ingin di ajari sang Mama lagi. Tapi dari pada mementingkan ego sendiri dan membuat semua orang jadi bingung dan tertular kebodohan dari si kucing.


“Lanjutkan.” Annie membalikkan semua orang pada tujuan masing-masing.


“Selama pembelajaran praktik Kalian sebelumnya, sampai manakah?” Tanya Annie.


Awalnya mereka ragu-ragu. Namun, seorang gadis yang —ternyata— juga ikut, mengangkat tangan, dengan wajah lugu —asli no tipu-tipu—.


"Ma-manipulasi mana." Gugupnya.


"Sekarang seharusnya praktik mantra." Salah satu anak yang lain memberi tahu.


"Fireball! Wind Slash!" Si kucing berteriak memberi tahu. Annie melirik sekilas lalu melihat para siswa dan anggota yang berbaris. Mereka mengangguk.


Yang itu artinya awal mula dari teriakkan tanpa arti. Teriakkan absurd dari si kucing. Penjelasan seperti itu bagaimana mungkin bisa di mengerti.


Barisan siswa dan anggota yang berbaris untuk di ajarkan oleh Annie ternyata kebanyakan memiliki elemen api dan angin.


Wajar jika mereka baru mempelajari praktik seperti ini, karena barulah tahun pertama beberapa bulan lalu.


"Fireball, seperti namanya. Sihir api yang berbentuk bola, namun dari api." Annie menjelaskan awal. Mereka mendengarkan.

__ADS_1


"Inti dari cara merapalkannya adalah dengan imajinasi. Pikirkan dalam otak Kalian, sebuah api yang secara perlahan menjadi bola." Mereka sedikit ragu sebelum awalnya mencoba.


"Wind Slash, ini merupakan sihir untuk teknik pengguna pedang atau dual pedang. Apakah ada yang bukan pengguna pedang atau semacamnya?"


Mereka semua menggeleng. Annie sedikit mengangguk.


"Siapkan pedang kalian." Annie berucap membuat mereka tergagap.


Annie sudah siap dengan pisau kecilnya. Lalu menjentikkan jarinya menampilkan beberapa belas sebuah batang kayu untuk sasaran di belakangnya.


Dia secara fleksibel menjelaskan sambil mempraktikkan bagaimana cara merapalkannya, dengan batang kayu itu sebagai sasaran.


Siswa dan anggota baru itu nampak mencoba beberapa kali sebelum akhirnya beberapa dari mereka nampak berbinar setelah bisa.


Sedangkan siswa lain yang menggunakan elemen api nampak sedikit kesal. "Ingat, bayangkan prosesnya bukan hasilnya." Annie mempraktikkan juga.


Mereka mencoba namun menghasilkan lebih banyak waktu. "Bayangkan prosesnya bergerak dengan cepat." Mereka mengangguk.


Perlahan, Annie juga mengajarkan mereka tentang fokus pada mana. Mana yang mereka keluarkan nampak bocor, dapat di rasakan oleh Annie.


Secara perlahan, siswa dan anggota tahun pertama yang di ajarkan Annie membuat pandangan baru. Dari meremehkan dan meragukan, menjadi lawan kata dari dua kosakata tersebut.


Pelajaran praktik tersebut selesai setelah beberapa jam lamanya berlatih. Di lanjutkan dengan latihan baru, yakni di lakukan bersama dengan satu pelatih.


Seperti narasi author sebelumnya. Mereka di latih satu orang dengan gaya kemiliteran.


Cukup lama latihan di lakukan. Tak terasa hari semakin gelap. Semua siswa dan anggota yang melakukan praktik di minta untuk melakukan hal mandiri.


Seperti berburu untuk bahan makanan makam malam mereka. Annie cukup merasa ini 'wow' karena begitu jauh dari istilah kebangsawanan pada umumnya.


Meski beberapa masih menanamkan sikap kebangsawanan mereka.


Secara perlahan matahari tinggal sejengkal untuk menutup diri dari dunia. Menarik sang bulan untuk segera bergilir pentas.


Para siswa dan anggota sudah kembali ke perkemahan. Semua siswa dan anggota yang kembali di hitung adakah yang belum kembali.


Perlahan, setiap siswa dan anggota yang kembali mulai memasak makanan untuk diri sendiri. Seorang prajurit harus selalu bisa bertahan di alam bebas.


Malam berlalu dengan hari yang semakin membuat para siswa dan anggota yang berjaga, secara bergilir bekerja.


Annie juga sudah kembali pada penarikkan mana untuk masuk ke dalam tubuhnya.


Hingga pagi kembali menjelang, dengan aktivitas yang sama dan baru.

__ADS_1


__ADS_2