
Annie mengelus-elus kepala anak kecil itu. Setelah melihat anak-anak itu sudah tertidur pulas, berhentilah senyum hangat itu.
Semua orang mengobrol ria yang terkadang mengajak Annie ke dalamnya. Namun deheman singkat dan mengesalkan saja yang terdengar.
"Kemana hilangnya sifat ibu itu?" Vanessa bertanya.
"Gosip gosip, gosip gosip." Bisik iseng Arthur dan Kouji.
"Ini nyata, bukan gosip." Kushida ikut-ikutan berbisik.
"Apakah harus mengganggunya? Dia menjengkelkan." Kali ini Gyndenki.
"Tapi akan lebih baik di usir agar tentram." Furai ikutan, dengan sangat iseng.
"A-anu, bukankah itu terlalu kejam?" Yuri juga ikutan.
"Sebagai gadis baik-baik, itu mungkin iya." Gilda menyahut, berbisik juga.
"Bagiku itu cara paling lembut." Edward membantu keisengan yang lainnya.
Anu semuanya.. kenapa pada bisik-bisik? Ini tulisan bukan ASMR yang bisik-bisik tetangga.
"Apa yang kalian lakukan? Berbicara yang kuat." Yhansen menyela, namun tidak berbisik. Yang ada kuat.
"Berisik." Annie melempar sebuah cangkir dari kayu pada Yhansen.
"Sssssshhh!" Serentak yang lain di saat yang bersamaan.
Saat cangkir itu mengenai kepalanya dengan sangat kuat dan menyakitkan. Gilda yang duduk di dekat Yhansen menutup mulutnya.
Lalu memberi sebuah tatapan mengancam. Seolah mengatakan, 'Jangan berisik'. Tentu saja dengan penekanan, seperti kata-katanya.
"Ini sudah malam lebih baik Kalian semua tidur. Atau setidaknya menggantikan saja sana." Annie menasihati —saran—.
"Selamat malam, meow." Si kucing masuk sambil menguap lebar. Karena Dia kucing, tentu saja men-damage kan keimutan.
"Oh~ Kau tahu pulang juga ya." Edward menatap datar.
Di sisi Annie, Dia mulai menggeser anak yang memeluknya itu untuk berbaring pada kasur kecil di sana.
Dirinya bangkit menuju kursi yang baru saja diduduki si kucing. Mengangkat si kucing untuk duduk di sana. Karena seluruh kursi kosong sudah di duduki oleh anggota lainnya.
Mereka yang awalnya berdiri, kini duduk pada kursi yang mengosong karena anak-anak sebelumnya yang menduduki kursi-kursi itu.
"Hei! Siapa yang bisa membuatkan wiskas untukku jika Aku meninggalkannya! Kau memangnya bisa?!" Dia membalas dengan maksud yang absurd.
Annie mengelus kepala si kucing. Membuat si kucing hanya mendengkur kecil.
"Aku selalu bertanya apa yang kau sebut dengan wiskas itu. Tapi tak pernah di jawab." Ucap Vanessa.
"Diam kau anak manusia! Kau tak akan mengerti perasaan seorang Dewa sepertiku!" Si kucing memulai kesombongannya.
"Sudahlah, tak akan selesai semua ini. Lebih baik Kami tidur saja." Kushida bangkit untuk melakukan apa yang barusan diucapkannya.
Semua orang mengikutinya, beranjak untuk keluar tenda itu. Saat hendak beranjak Annie memanggil beberapa dari mereka.
"Vanessa, Yuri." Keduanya menoleh dan menjawab ya. Seluruh yang baru ingin keluar menoleh juga.
"Mari bercerita sebelum tidur dulu. Yang lain bisa pergi." Annie mengusir halus.
Mereka saling memandang sebelum akhirnya hanya mengendik acuh dan menyapa dengan sapaan malam.
__ADS_1
"Ada apa?" Vanessa langsung memulai tanpa basa-basi. "Ceritakan." Annie bertitah.
Vanessa sedikit mengernyit, berpikir, untuk apa menceritakan hal itu. Itu tidak akan berguna. Namun pada akhirnya Dia mengalah berdebat pada spekulasi, memilih menceritakan.
"Aku merasa sebuah perasaan gugup, takut, bimbang dan negatif darimu tadi, Nona Yuri." Singkatnya yang mengatakan apa yang dimaksud dengan 'cerita' oleh Annie.
"Terima kasih." Annie segera mengucapkan sebuah kalimat singkat.
"Kalau begitu Aku kembali dulu. Semua yang diceritakan itu sudah selesai." Vanessa beranjak menuju luar.
Kini tersisa mereka berdua yang masih keadaan bangun. Annie berdiam diri beberapa saat setelah Vanessa keluar.
"Jadi, apa yang Anda sembunyikan, Nona Yuri?" Inti Annie.
Sebagai seorang gadis baik, tentu Yuri jadi gelagapan jika membahas apa yang sedang Dia bohongi. Annie menatap datar, menunggu jawaban.
Yuri menunduk dengan sekali-sekali melirik Annie dengan was-was dan gugup. Dia sedikit nervous akan tatapan tanpa ekspresinya.
"Tak apa, jawab saja. Saya akan merahasiakannya jika Kamu ingin." Annie melembutkan dirinya, dengan senyuman hangatnya yang sebelumnya.
Entah karena faktor apa, Annie menjadi mudah membuat ekspresi terbarunya baru-baru ini. Seolah sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Yuri sedikit tertegun, namun Dia menunduk lagi dengan wajah bersemburat merah sedikit. Matanya bergerak gelisah.
"I-itu.. Aku.. sebenarnya.." Gugupnya.
"Tarik napasmu secara perlahan, lalu hembuskan dengan penuh kelegaan." Annie bersaran.
Si kucing yang masih dipangkuannya menggeliat. Membuat Annie menoleh padanya. Si kucing seperti menggeliat lelah, Annie mengelus perutnya karena si kucing membuat tubuhnya terlentang.
Di diri Yuri, Dia melakukan apa yang Annie sarankan. Menarik napas sampai ujung dan menahannya sebentar, lalu dihembuskannya pelan.
"Sebenarnya Anda kabur, kan?" Yuri terkaku dengan mata terbelalak.
"Anda begitu gugup pada kalimat kedua Saya itu. Jadi, sebenarnya apa yang Anda sembunyikan lebih dari ini?" Annie bertanya.
'Ba-bagaimana ini? Jika sampai saat Aku benar-benar di pulangkan terbuat rumor itu. Akan bisa masalah baik reputasi siapapun.' Yuri berpikir gugup.
"Bukankah Saya sudah bilang, '...jawab saja. Saya akan merahasiakannya jika Kamu ingin'. Jadi tenang saja, Saya orang yang serius dengan perkataannya." Annie menjawab lancar.
"Benar. Saya kabur, karena banyak hal yang tidak menyenangkan dirumah. Aku merasa takut, karena meski berstatus Baron, tetap saja itu rendah."
"Mereka setiap hari melakukan hal yang menyakitkan. Aku takut, jadi karena itu Aku kabur. Bahkan meski marga 'Kim' itu bukan asli."
"Marga itu di berikan pada keluarga Kami secara gratis. Kami sedikit kekurangan meski sudah memanen di kota-kota kecil." Yuri bersuaraa getar. "Aku.. Aku sangat takut. Jadi karena itu melarikan diri."
"..." Annie masih dalam keadaan diam bersenyum hangat, tangannya mengelus kepala hingga punggung si kucing yang mulai telungkup.
"Saya mengerti. Bagaimana jika Anda berada dalam penjagaan Kami terlebih dahulu. Saya kebetulan sedang membuat sebuah mansion ala klan Kainigose. Jadi, Saya berencana membuat Anda dan anak-anak yang lain menjadi pencoba pertama dari hal itu." Annie berjelas dengan senyum hangatnya.
Yuri berbinar mendengar kalimat awal Annie. Untuk pertama kalinya, selain menyelamatkan, orang-orang memberinya kehangatan.
Di 'keluarga'-nya itu. Dia hanyalah dianggap sebagai pecundang dan beban. Lemah baik itu fisik, batin maupun kekuatan.
Setelah mengetahui bahwa dirinya pengguna elemen langka, perbaikan manis terjadi. Untuk kekuasan.
Dia tidak tahan dan memilih kabur. Namun pada akhirnya, Dia melupakan peringatan dari gadis bernama 'Chou' itu. Bahkan melupakan teman-teman 'bangsawannya'.
Hasilnya, Dia ditangkap lagi. Sungguh menyedihkan sekali alur takdirnya itu.
"Baik!" Yuri dengan senyum manisnya berantusias, tidak besar juga tidak kecil.
__ADS_1
Annie melebarkan senyum hangatnya. "Kalau begitu bagaimana jika Kita tidur dahulu. Saya sekarang entah bagaimana mengantuk. Maaf sudah menghabiskan waktu Anda." Sopan Annie.
Yuri beranjak dengan senyumnya yang sangat manis. Terlebih ditambah sinar dari gelar 'sang pahlawan wanita' miliknya.
Yuri yang keluar dengan senyum penuh kediabetesan itu membuat semua orang melihatnya. Kebanyakan dari yang berjaga adalah pria membuat semuanya tidak benar-benar terlihat menghadap pada satu arah.
Di sisi Annie, Dia sudah berada dalam bentuk dirinya yang biasa. Annie masih memanjakan 'peliharaan'-nya itu.
Dia mulai beranjak dengan si kucing dalam pelukan. Saat keluar, Dia melihat orang-orang menatap pada Yuri.
"Ehem" Semua bergelagapan saling beralih, hingga menatap Annie sang pelaku berdehem.
"Apakah terjadi demam massal?" Tanyanya, namun tidak sedikitpun berniat mendengar jawaban dari mereka.
Seolah hanya sekadar basa-basi. Dia tidak peduli lagi bagaimana dan apa yang terjadi pada sekelompok anak laki-laki disana.
Berjalan menuju tenda kelompoknya. Di sana terlihat beberapa gadis sedang mengobrol santai sambil melakukan 'girl talk'.
Mereka sama sekali tidak bisa menyadari keberadaan Annie, sehingga tak sadar jika gadis itu sedang berjalan melewati mereka secara terang-terangan.
Jangan salahkan gadis-gadis NPC itu. Salahkan Annie yang memang memiliki aura seperti itu.
Dia berjalan pada kasurnya dan menaruh pelan si kucing. Bagaimanapun juga, kucing tetaplah kucing. Sejutek, judes, pemalas, bod*hnya mereka, kesan ke-kawaii-an itu tak akan pernah hilang.
"Permisi Nona-Nona. Apakah Kalian bisa berbicara sebentar?" Suara maskulin dan elegan terdengar, mengalihkan perhatian gadis-gadis itu.
Itu adalah Rafael. Dia berkata semanis mungkin. Gadis-gadis itu sedikit gelagapan mengetahui siapa yang sedang berbicara.
Mata Rafael melihat lurus ke arah Annie yang sedang duduk di sebuah meja dengan setumpuk kecil kertas, tentu bersama tinta dan kuas juga.
Gadis-gadis yang baru menyadari adanya Annie segera berteriak kaget. Seolah Annie hantu.
"Ma-maafkan Kami, Kami akan segera keluar." Salah satunya memulai memimpin jalannya keluar.
"Jujurkan saja. Apa yang sebenarnya terjadi?" Inti si Rafael.
Rafael juga berada dalam tenda itu juga tadi. Sehingga Dia bisa langsung mengatakan hal itu.
Author malas aja dan gak nyambung plus aneh kalau dijelasin satu-satu siapa aka yang ada di dalam.
"Apanya yang ada 'apa'?" Annie berbasa-basi.
"Kau.. berbohong, kan...?" Dia berkata hati-hati. "Apa yang sebenarnya Kau dan pria itu bicarakan?" Tanyanya langsung padahal berusaha untuk berhati-hati.
"Kalau itu, sebenarnya..."
.......
.......
.......
.......
.......
"Ada apa?! Kenapa tadi Kalian teriak?!" Kouji yang melihat beberapa gadis keluar dari tenda setelah berteriak, langsung bertanya.
Beberapa orang sudah bersiap dengan pedang atau pisau belati mereka. Kesiagaan tersiap di wajah setiap orang.
"Ti-tidak ada. Tenanglah." Salah satunya berbicara.
__ADS_1
"Hanya saja, Nona tadi datang begitu tanpa Kami sadari. Jadi saat melihatnya Kami sangat terkejut, dan memikirkan itu hantu. Hehehe..." Jelas gadis lainnya sambil tersenyum canggung namun juga malu.
"Hah?"