My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 5


__ADS_3

"Cepat! Orang itu koar-koar seperti orang gila! Jika kalian tidak cepat kalian akan di gigit olehnya!"


"Siapa yang Kau sebut gila gadis kecil sialan!!" Ucap pria dengan topeng yang menutup wajahnya dengan kesal.


"Apakah Aku salah? Bagi Ku ucapan Ku benar-benar saja." Balas Annie dengan wajah polosnya. Mereka semua nampak sedikit mengernyit melihat kelakuan temannya yang satu ini.


"Baiklah, karena Aku baik hati ku ganti kalimatnya." Annie mulai pura-pura batuk.


"Semuanya cepat kabur! Ada orang gila lagi koar-koar! Jika kalian merasa sayang nyawa lebih baik cepat kabur! Dia itu Bos kalian lho!" Teriak Annie yang di dengar oleh para bawahan pria itu.


"Apa! Bos! Gawat! Cepat kabur! Jangan sampai nyawa kalian melayang gara-gara Bos koar-koar lagi!"


"Apa! Bos tenang lah kami masih sayang nyawa!"


"Bos Kami rela bertaruh nyawa untuk mu! Tapi tidak sekarang! Istri dan anak ku menunggu ku!"


"Sialan Kau gadis kecil! Ku siksa Kau hingga menjadi mayat jika Ku tangkap nanti!" Ucap pria bertopeng itu dengan nada marah.


"Annie, Aku pernah berharap Kau tidak ada di antara Kami."


"Jangan begitu lah, 01 Aku kan berniat baik kepada para bawahan pria itu yang lemah." Balas Annie membela diri dengan kalimat aneh miliknya.


"Terserah." Balas kembali A-01 dengan nada malas.


Mereka pun terus berlari mengikuti arahan dari Lucifer yang sedang memandu mereka. Entah kemana yang pasti dengan penuh keyakinan mereka mengikutinya hingga kini.


Mereka berlari cukup lama, hingga sampai pada sebuah pintu. Pintu besi yang cukup besar. Dapat terlihat berbagai macam jenis kunci yang di gunakan.


"Ledakan." Ucap Annie pelan.


Buummm!!!


"Bagus." Ucap A-06 dengan bahagianya.


Tentu saja bagi Annie itu tidak sulit. Setiap hari pintu punya orang di buatnya hancur. Jika itu hanya pintu besi dengan berbagai macam kunci, tidak lah sulit untuk melenyapkannya.


Sebenarnya tidak sulit bagi Annie karena dia hanya mengucapkannya, sedangkan Lucifer ialah yang melakukannya.

__ADS_1


Mereka masih terus berlari menuju ke arah jalan keluar, di pandu oleh Lucifer yang tahu jalannya.


Pria yang mengejar mereka tidak terlihat di belakang, hanya angin yang mereka tinggalkan yang terasa di belakang mereka.


"Sepertinya kita berlari terlalu cepat, sehingga tidak ada kejar-kejaran lagi." Ucap A-02 dengan raut wajah dan nada sedih.


"Apa-apaan wajah mu itu?! Kenapa Kau malah sedih?! Ketika Kita akan mati?!" Ucap atau mungkin teriak A-06 dengan nada marah.


"Kau bodoh ya! Tentu saja karena tidak ada esensinya! Jadinya tidak terlalu menengangkan!" Balas A-02 dengan teriakan juga.


"Dasar gila! Kalau mau mati mengenaskan jangan mengajak orang lain!"


"Aku kan cuma nyari sensasi! Bukan ngajak mati!"


"Kalian berdua! Diam!" Ucap A-05 dengan nada dan aura mengancam yang membuat mereka berdua ketakutan.


"Baik." Jawab mereka berdua dengan nada ciut.


"05 memang hebat, hahaha." Ucap A-03 dengan tawa ringannya.


Mereka terus berbicara, kecuali Annie dia sedari tadi sunyi senyap saja, hingga sampai lah mereka pada sepasang pintu yang dapat membuat mereka keluar dari lantai neraka tersebut.


Dapat terlihat di balik pintu tersebut ada sebuah tangga yang lumayan banyak. Segera lah mereka menuruni tangga itu, cukup banyak anak tangga yang mereka turuni.


"Kyaaa! Bos kami masih sayang nyawa! Tolong Aku!" Teriak seorang pria yang di belakangnya terdapat banyak orang yang ikut berlari.


"Mereka masih di belakang kita rupanya."


"Benar lebih baik kita memberi mereka jalan." Ucap Lucifer.


Mereka pun menyingkir memberi mereka jalan, mereka hanya terus berlari melewati mereka bersembilan tanpa menoleh, karena melihat Annie yang menyalip ke tengah antara mereka.


Membuat sisanya mengerti dan mengikuti para pelari marathon tersebut, maksudnya bawahan orang tersebut.


Mereka terus-menerus meneriaki keinginan hidup mereka. Hingga pria bertopeng itu berhasil mengejar mereka.


Dapat terlihat saat ini dia sedang menyusul mereka, sedangkan Mereka yang sedang berlari beserta para bawahan orang tersebut sudah sampai pada tangga terakhir.

__ADS_1


"Annie! Gawat! Aku sulit menghentikannya sendirian! Dia berhasil mengejar kalian malah!" Ucap Rafael yang tiba-tiba terbang di samping Annie.


"Kyaaa! Hantu!"


"Hei! Siapa yang kalian panggil Hantu! Hah!" Mereka malah menambah kecepatan lari mereka.


"Aku mengerti. Selama kita turun, tolong jaga kami. Terutama saat kita menyelamatkan anak-anak yang lain selama kita turun." Balas Annie untuk pernyataan Rafael sebelumnya.


"Hah? Oh! Bisa kah Kau berbicara secara lengkap. Jangan hanya sebagiannya. Aku sedikit susah memproses infonya oleh otak ku."


"Bukan kah itu karena Kau bodoh?" Lalu umpatan datang dari Rafael.


"Oh, Rafael. Kenapa Aku baru melihat mu? Dari mana saja Kau?" Tanya A-02.


"Sialan Kau! Jadi untuk apa usaha ku tadi!"


"Hah? Usaha apa?" Kali ini A-04.


"Melambatkan pria itu Bodoh!" Kesal Rafael. Namun mereka hanya ber-'oh' ria. Rafael yang kesal pun mengumpati mereka kuat-kuat.


Mereka terus berlari sambil menuruni setiap lantai. Setiap beberapa lantai yang mereka turuni akan ada anak-anak yang menjadi 'produk uji coba'. Anak-anak itu paling sedikit ada 3. Sedangkan, anak-anak yang paling banyak mereka temui ada 5.


Semakin lama mereka turun semakin lama mereka berlari. Lucifer yang dan beberapa anak yang bisa menggunakan elemen penyerang sudah sedikit kewalahan.


Lucifer dan Rafael yang saat itu terlihat sedikit kesal meminta yang lain untuk turun duluan. Yang sepertinya mereka berdua sedang mengulur waktu.


Annie yang sedang berhenti tadi menoleh ke arah mereka sebentar. Dapat terlihat mereka berdua sedang mendesak pria bertopeng itu untuk terus mundur agar lebih menjauh.


Annie dan anak-anak yang lainnya terus turun. Saat ini Annie yang berada paling depan memimpin anak-anak yang lain.


"Annie. Kami sudah membuat pria itu sedikit menjauh." Rafael yang sekali lagi tiba-tiba berada di samping Annie, namun kali ini bersama Lucifer juga.


Annie nampak hanya mengangguk kecil sebagai respon. Mereka mulai menuruni bagian tangga lagi. Saat sedikit lagi mereka berakhir di tangga yang satu ini, terdengar sebuah teriakkan di saat sedang menuruni tangga untuk ke lantai selanjutnya.


Annie yang paling depan pun memberhentikan mereka dengan isyarat tangan. Yang lain pun berhenti.


"Semuanya kita maju lagi!" Teriak sebuah suara yang cukup asing bagi anak-anak yang lain, namun tidak untuk Annie.

__ADS_1


Annie yang merasa mengenal suara ini pun beranjak turun kembali, namun dengan lari yang lebih cepat. Yang lain nampak terkejut, namun segera mengikutinya.


__ADS_2