
Sekarang umur ku, dalam hitungan hari di jari, akan berumur 1 tahun. Dan Kedua Kakak ku itu telah melewati hari di mana mereka berumur 5 tahun.
Hanya menunggu waktu sebentar lagi maka Aku bisa berjalan dengan benar.
Setelah ku pikir-pikir, apakah para bayi 'biasa' semuanya mengharapkan hal-hal seperti ini? Maksud ku berjalan dengan kaki sendiri.
Umm.. lupakan saja.
Selama Beberapa bulan ini Aku selalu menyerap mana saat sedang bosan. Aku harap ini bisa membantu masa depan ku yang, mung..kin, suram?
Sekali lagi, lupakan saja.
Ah, Aku tidak bisa tidur. Padahal ini sudah sangat malam. Andai Aku bisa berjalan-jalan dengan benar, maka sudah di pastikan, saat ini juga Aku sudah tersesat di antah-berantah.
Mungkin, Aku harus menyerap mana saja.
Tapi, Aku sedang tidak ingin melakukannya.
Ah! Benar juga! Kenapa Aku tidak mencoba merangkak keluar saja.
Bagus, sangat bagus. Kenapa tidak dari tadi saja, baiklah, mari kita coba.
Aku bangkit dari tempat tidur ku, kemudian berdiri sambil memegang pinggiran tempat tidur bayi ku.
"Apa-apaan ini kenapa terlihat tinggi sekali." Suara hati yang terlihat sedang ketakutan berbicara dengan nada tidak suka.
Ah, mana mungkin Aku langsung menyerah langsung terobos saja. Baiklah...
"..."
Kaki ku tidak sampai!!
Usaha ku cuma angin yang numpang lewat~
Eh? Tapi, kapan usaha ku tadi?
Sudah lah, lebih baik menyerap mana saja.
Akhirnya Aku menyerap mana hingga semalaman. Malam berlalu di ganti sang mentari menjadi pagi. Sungguh membuat mata ingin masih mengatakan 'Selamat malam'.
Mungkin ini adalah efek dari telat tidur ku tadi malam, tapi ya sudah lah itu mungkin karena Aku menyerap mana.
Tunggu... kan Aku lagi nyerap mana, kenapa jadi ngantuk karena telat tidur?
Lho? Aku kok bingung sendiri? Kan Aku yang ngomong, hmm.. lupakan saja.
Benar juga hari ini, si Kakak kembarku itu, latihan sihir, Aku ingin melihatnya. Hanna cepat lah datang. Aku ingin melihat mereka latihan.
__ADS_1
Wait a second..
Tidak, lupakan saja. Aku berpikir untuk menyerap mana saja. Aku sedikit sedih, mengingat tidak bisa ikut mencoba.
Cklek
Pintu terbuka menampilkan sesosok wanita dengan dua pelayan di belakangnya. Itu adalah Ibu, serta Hanna dan Abel.
"Annie, selamat pagi. Apakah tidur mu nyenyak?" Sapa Ibu dengan senyum hangat khasnya.
Namun, kau akan menyesal Ibu ketika Aku bisa menjawabnya. Karena tidur ku tidak lah nyenyak.
"Nona, waktunya mandi." Ucap Hanna sambil mengangkat ku.
Setelah beberapa saat berlalu. Aku pun selesai mandi, maksudnya di mandikan. Selesai memakaikanku baju, Ibu segera menggendong ku.
Ibu membawa ku ke sebuah ruangan, di sana terdapat seorang pria dengan rambut hitam kebiru-biruan tua sedang duduk sambil menyeruput minumannya. Yang kemungkinan besar itu adalah teh.
Itu adalah Ayah, dia terlihat sedang membaca sesuatu. Ibu pun duduk di kursi yang bersebrangan dengan ayah namun tidak jauh.
Aku yang masih dalam gendongannya hanya ingin tidur saja. Benar-benar melelahkan saat bertemu dengan pria yang satu ini.
Apalagi saat ia ingin mencium ku, begitu memaksa. Aku tidak menyukainya, jadi ku tahan saja. Namun ia masih memaksa. Dan lebih parah lagi akhir-akhir ini Ibu selalu membawa ku untuk menemuinya. Benar-benar membuat hati kesal membara.
Lihat wajah tsun-tsunnya itu, berbeda dengan anak-anaknya itu, hmm.. itu mengingatkan ku pada Kak Resh. Salah satu dari makhluk tsun-tsun yang ku tahu. Dia akhir-akhir ini jarang datang, karena latihan berpedang dan sihirnya itu. Aku ingat saat mengetahuinya, itu sangat lucu.
Seorang bayi.
Lalu Ia menceritakannya. Andai kalian melihat wajahnya, bagai habis melakukan pekerjaan berat hingga lembur. Haha
Baiklah, berhenti bernostalgia.
Saat ini Ibu medudukkan ku di pangkuannya. Aku pun merasa bosan karena tidak ada yang penting dari pembicaraan mereka berdua. Aku menggeliat ingin turun, membuat Ibu sedikit terkejut. Namun Ibu cepat mengerti lalu langsung menurunkan ku.
Aku mulai mengambil langkah. Astaga kenapa Aku menjadi ragu. Padahal hanya selangkah, tapi rasa was-wasnya sungguh tidak terbendung.
Padahal kemarin Aku sudah bisa beberapa langkah.
Mungkin Aku harus mencoba mencari tujuan dulu, baru berjalan. Hmm.. baiklah, kita ke arah Abel. Langkah-langkah kecil yang ku buat menarik perhatian Ayah. Rasanya Aku sangat menyesal mencoba melakukannya sekarang.
Tapi karena Aku sudah mempunyai tujuan lebih baik lanjut saja.
"Oh yah? Sejak kapan dia bisa melakukannya?" Ucap Ayahku.
"Selama hidup mu, kau tidak akan pernah menjadi tujuan belajar berjalan ku."
Aku harap juga, kau mendengarnya sehingga kau bisa berhenti bersikap sok seperti itu.
__ADS_1
Langkah ku terus menuju ke arah tujuan ku. Abel yang melihat akan hal itu, segera berjongkok dan merentangkan tangannya. Langkah ku yang kecil membuat perjalanan yang di lalui menjadi lebih panjang dari yang terlihat di mata.
"Ahaha, Annie semakin besar saja." Ucap Ibu ku dengan suara lembutnya, yang menunjukkan senangnya Ia saat melihat ku seperti ini.
Aku sedikit mengerti bagaimana perasaan orang tua saat melihat perkembangan anaknya. Karena Aku juga senang melihat perkembangan diri ku sendiri.
Setelah beberapa saat, langkah antara kami tinggal setengah. Karena Akunya yang baru belajar, tanpa aba-aba aku pun terjatuh. Mereka yang melihat akan hal itu cukup terkejut, namun berhenti karena Aku mencoba berdiri lagi.
Langkah ku semakin banyak, hingga sampai lah diri ku pada sang tujuan. Setelah sampai pada sang tujuan, Abel langsung menggendong ku.
Cukup bagus juga.
˙˙˙˙˙
APANYA YANG BAGUS!! HANYA SEBELAS LANGKAH LHO!!!
Benar-benar menyedihkan, hanya segitu, sempat-sempatnya Aku bangga.
Oh, lihat siapa yang datang, itu si trio pengganggu hidup ku.
"Yo, Annie, selamat pagi." Ucap Kak Reen yang tak peduli siapa lagi yang seharusnya dia sapa. Kau juga lupa tata krama mu.
"Ayah, Ibu, selamat pagi. Annie juga, selamat pagi." Sapa Kak Raan secara satu-per satu.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Kak Resh secara singkat namun sopan.
"Selamat pagi juga, Raan, Resh." Balas Ibu dengan senyum lembutnya. Dapat terselip di kata-katanya tidak untuk Kak Reen. Sedikit kejam namun tak salah, karena sapaan Kak Reen hanya tertuju pada ku.
"Selamat pagi juga." Sapaan mereka hanya di balas secara datar oleh si tsun-tsun tesebut.
Karena semua orang menjawab sapaan mereka, tidak mungkin hanya Aku yang tidak kan.
"Gii~" Ucapku menjawab sapaan mereka, saat ini Aku masih berada di dalam gendongan Abel.
Melihat akan hal itu mereka semua hanya tertawa ringan, kecuali Ayah tsun-tsun menjengkelkan itu.
"Benar juga, bagaimana kalau Annie melihat latihan kami?" Sebuah saran yang bernada pertanyaan terlontar dari Kak Raan.
"Benar, benar, ayo Annie." Dukung Kak Reen yang terlihat sangat antusias.
Tidak kah kalian juga mencoba memberi saran untuk kami semua yang berada di sini? Makhluk hidup semua lho di sini.
Tapi, pada akhirnya kami semua pergi ke tempat latihan Kak Raan dan Kak Reen.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.