
Nama ku Annabella, Annabella Lizabethen. Biasa di panggil Annie oleh orang-orang terdekat ku, juga para pelayan di bawah Lizabethen House.
Umur ku 6 tahun. Jika Kau menghitungnya dengan tubuh ku.
Tapi, ketika Kau mengukur dan menghitung hasil jumlah melalui jiwa ku, dua belas tahun lebih- eh? Salah. Lebih tepatnya tiga belas tahun lebih setelah Kau membuat KTP.
Kalian pasti bingung kenapa Aku membandingkan umur ku melalui raga dan jiwa?
Eh?
Apa?!
Tidak katamu?!
Kenapa bisa?!
Oh.
Kalian sudah tahu ya.
Apa!
Dari awal-awal Kalian sudah mengetahuinya?!
Bahkan tentang di mana Aku saat ini?!
Umm.. a-anu.. lupakan saja.
Ke-kenapa Kita malah membahas umur dan tempat?
Maksud ku, lebih baik Kita ke topik lain saja.
Ehem, ehem.
Di sini tempat yang ku singgahi, perpustakaan keluarga Lizabethen.
Begitu banyak yang rak dengan label untuk bagian tertentu. Buku-buku di sini begitu banyak tapi jarang di buka, meski begitu sering di bersihkan.
Berjalan pelan dan ringan untuk membaca label pada bagian yang ku kitari.
Dan yah! Ketemu!
Buku tentang tanaman-tanaman obat dan pengobatan yang bisa di lakukan atau semacamnya apalah itu.
Di sana pasti bisa di temukan yang namanya tanaman beracun. Lalu.. bagaimana cara ku untuk ke atas sana? Mengambil buku yang sedari tadi ku cari?
Seharusnya ada tangga di sekitar sini. Apakah lebih baik ku tunggu saja Hanna dan Abel? Tidak, mereka pasti kerepotan.
__ADS_1
Perpustakaan tanpa tangga bantunya, apaan tuh? Seperti sikat gigi tanpa sikatnya saja.
Mending pakek tangga rekonstruksi saja kalau memang tidak ingin membeli tangga manis itu.
Iya, manis. Kak kecil dan imut unch unch gimana gitu, soalnya Aku suka sesuatu yang mungil dan kecil. Tangga itu pun kecil, jadi gitu lah.
Oh.
Maaf, Papa.
Aku baru saja memikirkan dan mengatai hal yang tidak-tidak pada mu. Ternyata tangga itu ada di sana. Aku saja yang tidak melihatnya.
Lagian juga kenapa di taruh di situ coba.
Selesai mengambil buku-buku yang di perlukan, Aku berjalan sambil mendorong tempat untuk membawa buku atau apalah itu, dengan buku-buku di atasnya.
Tapi ada yang lebih parah dari itu, bahwasannya, benda yang sedang ku dorong ini, sepantaran dengan ku.
Aku kesulitan melihat ke depan, dengan tangan yang menjulang ke atas. Tapi tak apalah, toh, Aku pintar di teori pengamatan(?). Jadi gak bakal ada yang bisa ku tabrak.
Lalu sampai lah Aku pada meja yang di atasnya terdapat seekor makhluk imut buruk watak, sedang tidur dengan posisi menyamping ala ras itu sendiri.
Ku dorong pada kursi yang berhadapan dengannya. Ku ambil salah satu buku yang paling dekat, lalu membolak-balikkan setiap lembarnya.
Dengan cepat namun teliti ku baca setiap suku katanya.
Jadi, adalah suguhan yang bagus jika Aku di berikan laporan-laporan yang harus di selesaikan.
"Permisi, Nona. Saya membawa teh yang Anda minta, dan Saya juga membawa sedikit camilan. Serta, peralatan yang Anda minta juga." Panggilan tersebut membuat ku menilik ke arah sumbernya.
Itu Hanna, yang berbicara. Dia dengan tangan lincah menaruh teh yang ku minta. Menuangkan teh ke cangkir teh dengan ukiran bunga rose.
Begitu pula Abel, Dia menaruh peralatan yang ku minta juga, lalu menyusunnya.
"Terima kasih." Singkat ku.
Ku ambil kertas dan kuas, beserta tinta tentunya. Ku hias kertas putih polos tersebut, dengan beberapa nama tanaman, beserta penjelasan tentang ilmunya yang baru saja ku pahami.
Tentunya sambil sesekali membaca ulang apa yang ada di buku tersebut.
Bukan berarti sekali lihat baca paham, langsung hapal, kan?
Cukup banyak yang ku tulis. Bahkan karena merasa kertas tersebut tidak akan cukup, ku buat tulisan itu menjadi bolak-balik.
Salah ku juga karena hanya meminta di bawakan 15 lembar saja.
Dua lembar di antaranya pun ku buat menjadi sebuah daftar. Sehingga tulisan pada lembar sisa lainnya harus ku buat kecil-kecil tapi masih tampak jelas.
__ADS_1
"Nona, waktunya untuk les privat Anda." Aku pun mengangguk mendengar perkataan tersebut.
Ku taruh buku-buku yang sudah ku baca pada kereta kecil untuk membawa buku-buku tadi. Benar juga, kenapa nama benda seperti ini saja Aku lupa.
Tapi, yah.. itu tak penting. Lebih baik Aku menuju ke tempat guru les privat ku. Papa sudah mengeluarkan uang untuk membayar guru itu.
Bagaimana bisa Aku menyia-nyiakannya? Namanya itu mubazir kan? Tampak sekali seperti orang yang suka boros dan foya-foya.
...****************...
Setelah selesai melakukan jadwal-jadwal belajar membosankan ku, pun kembali ke tempat membaca sebelumnya, baru setengah dari buku-buku tersebut yang telah selesai ku baca.
Ku baca dengan teliti namun cepat seperti tadi. Sudah beberapa lusin kertas bolak-balik yang ku tulis.
Sebelum Aku ke sini tadi, sekalian saja ku bawa beberapa lusin kertas. Semua teori ilmu telah ku dapatkan, tinggal praktek lapangannya saja.
"Nona, ini sudah malam, bahkan Anda melewatkan makan malam. Bukan kah adalah hal baik jika Anda memakan sesuatu? Kemudian setelahnya beristirahat." Khawatir Hanna.
Abel pun begitu. Tapi dalam bentuk ekspresi.
Aku menengadahkan kepala dengan raut berpikir.
Memang benar.
Aku melewatkan makan malam ku dengan alasan sedikit lagi, padahal masih agak banyak tadi. Kalau sekarang memang sudah tinggal sedikit lagi. Aku pun menunduk kembali.
"Kali ini benar-benar memang sudah tinggal sedikit lagi."
Mereka pun hanya menghembuskan napas pasrah. Ku tulis semua hal yang termasuk sedikit lagi itu. Tak banyak waktu yang ku habiskan hanya untuk menulisnya. Hanya beberapa menit sudah selesai.
Adalah baik jika Aku makan sesuatu, tapi perut ku tidak menandakan adanya tanda-tanda lapar. Mungkin kah langsung istirahat saja? Ok, sudah di putuskan.
"Ayo kembali, Aku mengantuk."
"Baik." Balas mereka berdua.
Ku susuri jalan yang ku kenal menuju ke arah sebuah ruangan, yakni kamar tidur ku. Sekalian dengan Abel yang ku mintai untuk membawa semua buku-buku tadi ke tempat semula.
Ku baringkan tubuh ku pada kasur yang biasa ku gunakan untuk tidur, bukan begadang sambil gulang-guling gasrak-gusruk sana-sini.
Padahal Aku adalah seorang putri tapi kasur ku malah King-size, rasanya agak menggelitik.
Hanna yang membantu ku pun keluar, yang sepertinya merasa sudah tidak ada yang perlu di lakukan lagi.
Namun sebelum itu Dia mengucapkan salam malam pada ku, tentu ku balas.
Setelahnya alam mimpi atau sebuah bunga tidur masuk ke dalam otak ku. Untuk membuat tidur ku menjadi lebih menyenyakkan.
__ADS_1