My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 97


__ADS_3

Hari berganti hari, sebulan sudah berlalu sejak kematian andini.


Setiap waktu Wulan berusaha sebaik mungkin menjalankan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus ibu di rumah itu.


Setiap saat Wulan selalu menghujani Rayyan dengan kasih sayang dan perhatian yang melimpah.


Sebisa mungkin Wulan akan terus menghapus kesedihan Rayyan.


Membuat bocah itu lupa bahwa kedua orangtuanya telah tiada.


Wulan dan Jason selalu menjalankan peran mereka sebagai orangtua yang sempurna bagi Rayyan.


Membuat bocah itu kembali ceria dan jauh lebih bahagia dibanding dahulu.


Rasanya kehidupan mereka begitu sempurna, Jason tidak pernah membayangkan bahwa Tuhan benar-benar merubah hidupnya yang suram dan mengerikan menjadi begitu indah dan luar biasa.


Hari-hari bahagia yang dahulu terasa hanya akan menjadi mimpi kini benar-benar menjadi nyata.


Kepergian Andini membawa dampak besar bagi kehidupan Jason.


"Bunda, Ray berangkat sekolah dulu ya," bocah yang tidak lagi cadel itu mencium tangan Wulan yang masih asyik membereskan sisa sarapan mereka.


"Iya, hati-hati ya," jawab Wulan pelan sambil mengelus puncak kepala Rayyan.


"Aku berangkat dulu ya," Jason mengulurkan tangannya, Wulan meraihnya kemudian mencium punggung tangan suaminya.


"Sayang, kamu kok pucat, kamu sakit?" Tanya Jason curiga sambil mengamati wajah istrinya.


"Gak kok mas, aku cuma pusing sedikit, mungkin masuk angin," jawab Wulan dengan senyum dipaksakan.


"Apa sebaiknya kita pergi ke dokter sekarang," kata Jason dengan kekhawatiran.


"Nggak usah mas, aku gak papa kok. Udah sekarang lebih baik kalian berangkat, nanti telat lhoh," jawab Wulan cepat.


"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sayang, aku berangkat dulu," Jason akhirnya mengalah. Wulan hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum tipis.


Wanita itu melambaikan tangannya saat mobil yang Jason dan Rayyan tumpangi semakin bergerak menjauh dari halaman.

__ADS_1


Sesungguhnya Wulan merasa tidak enak badan sejak tadi pagi.


Entah mengapa perutnya begitu mual seperti diaduk.


Bahkan sabun mandi favoritnya yang biasa dia gunakan baunya mendadak begitu mengganggu di hidungnya.


Biasanya Wulan akan mengobrol dengan Bi Irah sambil ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah.


Tapi kali ini Wulan memilih duduk di ruang tamu, kepalanya yang terasa berat dia sandarkan di sandaran sofa.


Tangannya memijit pelipis kepalanya yang terasa berat dan berdenyut.


"Lhoh, neng Wulan kenapa? Kok wajahnya pucat begitu? Neng Wulan sakit?" Tanya bi Irah yang tengah mengelap beberapa furniture di dekat Wulan berada.


"Iya nih bi, kayaknya masuk angin. Dari tadi pusing banget, perut juga rasanya gak nyaman, mutah tapi cuma cairan lambung yang keluar, rasanya pahit," terang Wulan masih terus menekan pelipisnya.


"Jangan-jangan..."Bi Irah tersenyum, hatinya menduga-duga.


"Jangan-jangan apa bi?" Tanya Wulan menghentikan tangannya kemudian menatap serius wajah wanita paruh baya itu.


"Jangan-jangan neng Wulan hamil," jawab bi Irah tersenyum.


'apa iya aku hamil?'


Wulan bergegas menaiki tangga dan menuju kamarnya, meninggalkan bi Irah yang masih tersenyum meski tangannya terus sibuk bekerja.


Wulan duduk di tepi ranjang, kemudian mengambil smartphone dan mengetik sesuatu di mesin pencarian dalam aplikasi handphonenya.


Mencari tahu seputar kehamilan dan tanda-tanda kehamilan.


Ah benar juga, bukankah seharusnya dirinya sudah datang bulan. Tapi kenapa bulan ini belum ada tanda-tanda datang bulannya tiba?


Wulan bergegas turun, mengambil kunci motor matic yang tergantung di dekat lemari.


"Bi, saya keluar sebentar ya," pamitnya saat berpapasan dengan Bi Irah.


"Mau kemana neng?" Tanya bi Irah namun tak terdengar oleh Wulan yang tergesa-gesa.

__ADS_1


Wulan mengendarai sekuter maticnya menuju apotek sekitar komplek perumahan.


Kemudian bergegas pulang membawa sebuah kantong keresek berwarna putih dalam genggamannya.


Dadanya berdegup kencang sambil bergegas naik kembali kekamarnya.


Sebuah alat tes kehamilan tergenggam di tangannya.


Dengan hati yang berdebar-debar Wulan menggunakannya sesuai petunjuk yang tertera di kemasannya.


Setelah menunggu beberapa saat batangan pipih kecil itu menunjukan dua garis merah muda. Itu artinya, benar bahwa dirinya saat ini tengah mengandung.


Rasanya Wulan ingin melonjak karena bahagia. Tapi rasanya dirinya ingin mengulang sekali lagi untuk memastikan.


Untung Wulan membeli dua buah alat tes kehamilan, sekali lagi dicobanya dengan cara yang sama..dan hasilnya masih tetap sama. Dua garis biru terlihat jelas disana.


Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata terasa membuncah didadanya.


Wulan melompat saking gembiranya, tapi kemudian dia tersadar, ada janin kecil yang harus dia jaga di dalam perutnya.


Wulan keluar dari kamar mandi, menggenggam erat dua alat testpack dengan hasil positif itu.


Senyum terus saja menghiasi wajahnya.


Wulan mengelus perlahan perutnya yang rata, kemudian berbisik...


"Sehat-sehat ya sayang, bunda akan terus jagain kamu, kita kasih tahu ayah sekarang?"


Wulan terus mengusap perutnya, kemudian mengambil ponselnya, memfoto dua alat testpack itu.


Berpikir untuk mengirimkan pada suaminya melalui pesan WhatsApp.


Tapi kemudian diurungkannya, beberapa kali Wulan berpikir untuk mengirimkannya atau tidak.


Ah, tapi rasa tidak sabar dalam dirinya mendominasi, kemudian mengklik tombol sent kepada nomor suaminya.


Wulan terus menerka-nerka bagaimana reaksi Jason disana setelah menerima pesan darinya?

__ADS_1


Apa akan sebahagia dirinya?


💖💖💖


__ADS_2