My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 94


__ADS_3

"tuan, kok nggak diangkat sih telepon nya," bisik bi Irah lirih sambil mondar-mandir di lorong rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan jenazah Andini.


Wajah renta itu sudah basah oleh airmata yang mengalir tanpa henti.


Cemas, takut dan sedih yang bercampur menjadi satu di dadanya.


Hanya berdua bersama pak amat, wanita yang telah lama bekerja pada keluarga Jason itu ikut bersama ambulan yang membawa jasad Andini.


Jelas mereka semua tahu, Andini telah meregang nyawa namun semua itu membutuhkan kepastian dari ahlinya bukan.


Semua keluarga Wulan masih berada di rumah, menemani si kecil Rayyan yang tidak menyadari apa yang tengah terjadi di tengah-tengah keluarga itu.


Bocah kecil itu bahkan tidak mengerti bahwa kini dirinya telah menjadi yatim piatu.


"Nenek sama Tante uni kenapa sedih? Ada apa sih?" Bocah itu bertanya sambil menatap lekat-lekat kedua wanita yang kini telah menjadi keluarga barunya.


Bu Siti tampak membuang muka, mengusap airmata yang luruh di pipinya dengan cepat, kemudian mengulas senyum yang dipaksakan sambil mengelus perlahan rambut bocah itu.


"Nggak apa-apa, nenek nggak sedih kok," jawab Bu Siti sekuat hati menahan sedih, kesedihan yang bukan sepenuhnya karena kepergian Andini.


Tapi kesedihan karena melihat bocah kecil di hadapannya yang tidak tahu bahwa kejadian buruk menimpa ibunya.


Rasa sedih karena bocah sekecil Rayyan harus merelakan kepergian kedua orangtuanya di usia yang sangat belia.


Membayangkan bila saatnya tiba untuk memberitahu Rayyan tentang kebenarannya membuat hati Bu Siti kian pedih dan sesak.


Lagi-lagi dia hanya mampu mengusap lembut lelaki kecil yang kini telah menjadi cucunya tersebut.


"Tapi kok nenek nangis?" Tanya Rayyan melihat genangan bening disudut mata Bu Siti.


"Nenek nggak nangis kok, ini tadi kelilipan debu," jawab Bu Siti sambil menyeka matanya dengan ujung baju, kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Rayyan, Tante uni ke kamar mandi dulu ya," tanpa menunggu jawaban Wahyuni segera berlari menuju kamar mandi.


Gadis ceria yang banyak bicara itu seolah terbungkam sejak tadi.


Dadanya ikut merasakan sesak mengetahui apa yang menimpa Rayyan.


Di dalam kamar mandi, dia tumpahkan airmata yang sedari tadi dia tahan sekuat tenaga.


Tidak berapa lama, Wahyuni membasuh wajahnya, tidak ingin membuat Rayyan semakin curiga.


Gadis itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel android butut miliknya.


Mengecek pesan WhatsApp yang dia kirimkan kepada sang kakak sejak tadi.


"Kenapa nggak terkirim sih, mbak Wulan aktifin handphonenya dong," Wahyuni bergumam lirih.


Pesan yang dia kirimkan pada sang kakak, mengabari tentang kejadian buruk yang baru saja terjadi di rumah ini bahkan tidak diterima.


Entah kenapa, handphone Wulan sepertinya tidak aktif. Itu terbukti dari tanda centang satu pada pesan tersebut.


***


"Bi..." Indah berlari disusul sang suami menuju tempat bi Irah berdiri bersama pak amat.


"Bu indah," jawab bi Irah menyongsong kedatangan sekretaris tuannya tersebut.


"Bu indah, tuan kenapa nggak bisa dihubungi ya, bibi bingung ini harus gimana Bu," ucap bi Irah dengan raut wajah kebingungan.


"Pak Jason mungkin sedang dalam pesawat perjalanan ke Bali Bi, mungkin itu sebabnya nomornya tidak aktif, kita tunggu saja ya," jawab indah sedikit membuat bi Irah lega.


Seorang wanita tenaga medis tampak datang membawa berkas-berkas tentang hasil pemeriksaan, dengan jelas wanita berseragam serba putih itu menjelaskan penyebab kematian Andini.

__ADS_1


Akibat overdosis obat penenang dosis tinggi, atau bisa dikatakan bahwa Andini memang dengan sengaja mengakhiri hidupnya.


Kenyataan yang benar-benar membuat semua orang lebih terpukul dibanding sebelumnya.


Pikiran Bi Irah berlari ke Rayyan, bayangan bocah kecil itu membuatnya kian sedih.


"Sekarang bagaimana bu indah?" Tanya bi Irah dengan terbata, wajahnya memerah dan penuh dengan airmata.


"Kita bawa pulang jenazah Bu Andini, dan segera persiapkan pemakamannya," indah memutuskan.


"Tapi tuan dan neng Wulan bagaimana? Apa kita tidak menunggu mereka?" Bi Irah tampak bingung.


Indah membuka layar smartphone miliknya mengecek keberangkatan pesawat yang ditumpangi Jason.


"Seharusnya sebentar lagi mereka landing, jadi mungkin sebentar lagi mereka akan mengaktifkan ponselnya, bibi nggak perlu khawatir. Urusan pak Jason biar saya dan mas Herman yang urus, bi Irah dan pak amat persiapkan semua kebutuhan untuk pemakamannya saja ya," terang indah, Bi Irah dan pak amat hanya mengangguk setuju.


Sementara indah terus mengirim pesan kepada bos dan istrinya tersebut.


"Apa perlu kita minta anak buah untuk menyusul mereka sayang?" Tanya Herman mendekati istrinya.


"Kita tunggu sementara waktu, kalau sampai satu jam kedepan mereka belum bisa dihubungi, terpaksa kita harus mencarinya, sayang," jawab indah sambil berlalu mengurusi semua administrasi yang dibutuhkan.


Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, jenazah Andini segera dibawa kembali pulang, sesegera mungkin mereka semua disibukkan dengan urusan pemakaman Andini.


Meski hingga detik ini ponsel Jason dan Wulan sama sekali tidak bisa dihubungi.


Indah tampak berpikir, apa seharusnya menghubungi hotel tempat Jason menginap?


Tentulah indah tahu, wanita itu yang mengurus semua yang Jason butuhkan.


Wanita itu berdecak, kemudian mendekat ke arah Herman.

__ADS_1


Indah mendekatkan wajahnya pada sang suami dan membisikkan sesuatu, sementara Herman mengangguk mengerti.


💖💖💖


__ADS_2