
Jason tengah berkutat dengan dokumen proyek dengan jade corp. Mengecek semua data laporan.
Semuanya terbengkalai, Bianca seperti melepaskan tanggung jawab begitu saja, sungguh tidak profesional.
Mendadak perwakilan dari pihak Jade digantikan oleh seorang pria yang baru Jason kenal, entah kemana perginya Bianca yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
'ting' sebuah pesan masuk.
Jason ingin mengabaikannya, namun lelaki itu melirik sebentar, terpampang nama sang istri di layar utama.
Tidak biasanya Wulan mengirimkan pesan di jam-jam kantor seperti ini. Mungkin ada sesuatu yang penting?
Jason membuka pesan dari sang istri, sebuah pesan gambar menampilkan foto dua alat testpack dengan hasil positif.
Untuk sesaat Jason mengernyit tidak mengerti, tapi kemudian matanya membulat sempurna, wajahnya berseri dengan mulut tertawa lebar.
Bahkan Jason tidak tahu harus berkata apa, speechless.
Jason menekan nomor sang istri, bermaksud hendak meneleponnya.
Ah, dia mengurungkannya. Lebih baik segera pulang dan menemui Wulan langsung.
Rasanya tidak sabar untuk segera melihat wajah istrinya itu dan mendengar penjelasan langsung darinya.
"Ndah, saya pulang dulu," ucapnya sambil tergesa berlalu.
"Ada apa pak? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya indah dengan mata yang mengikuti langkah bosnya tersebut.
"Iya, iya sangat penting," Jason menjawab cepat sambil segera menghilang dari pandangan indah.
---
Wulan terus mengelus lembut perutnya yang masih rata, tapi setidaknya dia tahu ada kehidupan didalam sana.
Dia akan pergi ke dokter nanti untuk lebih meyakinkannya.
__ADS_1
Sesekali Wulan melirik ponselnya, pesan yang telah dia kirim pada sang suami sudah terbaca, kenapa tidak ada respon apa-apa.
Tidak ada balasan, apa suaminya tidak senang dengan kabar ini? Atau mungkin saja dia tengah sibuk dan belum bisa diganggu. Wulan berusaha berpikir positif.
Dia mendengar derap langkah kaki setengah berlari dari luar.
Saat Wulan hendak bangkit dari tempat tidurnya Jason sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah berseri.
Suaminya itu segera mendekat,
"Kamu hamil?" Tanyanya tanpa basa-basi, pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya.
"InshaAllah mas," jawab Wulan sambil mengangguk.
Jason menarik masuk tubuh istrinya kedalam pelukannya, menghujani wanita itu dengan ciuman di kepalanya.
"Terimakasih sayang, terimakasih ya Allah," ucap Jason diantara senyum yang kian mengembang.
"Tapi...," Wulan terhenti.
"Tapi apa sayang?" Jason melepas pelukan, menatap lekat mata sang istri.
"Iya, iya, kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit, kita cek, sayang. Dan semoga kamu memang benar-benar hamil," ucap Jason kembali antusias, Wulan mengangguk setuju.
Selama perjalanan Jason menggenggam erat tangan istrinya, mengecup punggung tangan Wulan.
Sementara pak amat tersenyum demi melihat majikannya begitu bahagia.
Jason mendadak menjadi super protektif terhadap Wulan, sesekali mengelus perlahan perut istrinya.
Bahkan memapah Wulan keluar mobil dengan hati-hati.
Wulan bahkan merasa begitu kikuk, ya kalaupun dirinya benar hamil tidak perlu berlebihan seperti itu.
Toh dirinya tidak kenapa-kenapa dan masih kuat.
__ADS_1
Setelah mendaftar, Jason merangkul istrinya dengan hati-hati menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter kandungan.
Wulan tersenyum kaku, hatinya menghangat oleh perhatian Jason tapi rasanya memang benar-benar berlebihan.
Saat keduanya sampai di depan ruangan dokter kandungan, mereka berpapasan dengan seseorang yang rasanya tidak asing.
"Lhoh, Bianca? Sedang apa disini?" Wulan terkejut.
"Nona Bianca?" Jason tak kalah terkejut.
Bianca mendadak pucat mematung, sama tidak menyangkanya dengan kedua orang yang tengah berdiri di hadapannya.
Tuhan seolah menempatkan dirinya diwaktu dan tempat yang salah saat ini.
"Sa..saya..." Gadis itu terlihat begitu gugup.
Wulan mengamati gadis itu, penampilan yang sungguh kontras di banding biasanya.
Begitupula Jason, seolah yang berdiri dihadapannya bukanlah Bianca yang biasa dia kenal.
Gadis itu tampak lebih kurus dibanding sebelumnya, dengan hanya mengenakan celana jeans dan sweater abu-abu.
Rambutnya yang berantakan diikat sembarangan. Bahkan wajahnya tampak pucat tanpa dihiasi riasan sedikitpun seperti biasanya.
Ini bukanlah gambaran Bianca seperti yang mereka kenal selama ini.
Entah mengapa, Wulan merasa bahwa Bianca tampak begitu berantakan.
Mata gadis itu sembab dan menunjukkan suatu kebingungan.
"Ehhmm, maaf saya harus segera pergi, permisi" tanpa menunggu jawaban dari Wulan dan Jason Bianca bergegas melangkahkan kakinya menjauh.
Menyisakan Jason dan Wulan yang dibuat bingung akan sikap Bianca yang berubah seperti itu.
Sebetulnya Jason ingin menanyakan banyak hal, terlebih menyangkut kerjasama perusahaan tapi ini bukan waktu yang tepat.
__ADS_1
Dan tentu ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu mengetahui kepastian kehamilan Wulan.
💖💖💖