My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 68


__ADS_3

"kita berangkat sekarang man" ucap Jason dengan raut memohon pada lelaki yang duduk di depan kemudi.


"Tidak pak, kondisi anda tidak cukup baik untuk bepergian ke luar kota" sergah Herman.


"Tapi man, saya..."


"Saya mengerti pak, tapi dengan kondisi anda yang seperti ini kita tidak bisa ambil resiko untuk bepergian jauh. Lebih baik pulihkan dulu luka bapak, seminggu lagi saja" terang Herman menjelaskan pada bosnya yang keras kepala itu.


"Saya tidak bisa menunggu selama itu man, atau lebih baik saya pergi sendiri" jawab Jason bersikeras.


"Pak!! Jangan bertindak bodoh, ini untuk kebaikan anda sendiri! Tunggu beberapa hari lagi" suara Herman mulai meninggi jengkel dengan sikap kepala batu Jason.


"Sekarang kita pulang!" Katanya lagi sambil mengemudikan mobilnya segera menuju arah rumah keluarga Hartono.


Jason hanya menggeleng frustasi kemudian menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi jok mobil itu, matanya terpejam menahan kerinduan pada sosok yang ingin segera ditemuinya.


Sementara itu Ibram membanting pintu kamarnya, sebelah tangannya mencekal sekaleng soda yang sudah berkurang setengah.


Beberapa kali lelaki itu berdecak kesal, dengan lunglai di daratkan pantatnya di lantai dengan tubuh bersandar pada kaki-kaki ranjang.


Tatapannya tak berarah, terkadang menatap keluar jendela.


Menatap kerlip lampu-lampu kota yang mirip taburan bintang diluar sana.


Biasanya itu akan membuat hatinya tenang, tapi berbeda dengan kali ini.


Diusapnya sekali lagi sudut bibirnya yang terasa pedih dan membengkak.


Matanya terpejam, kepalanya yang terasa berat dan panas disandarkannya pada ujung ranjangnya.


Pikirannya beterbangan, kedatangan Jason hari ini membuat moodnya berantakan.


Ibram bisa melihat dengan jelas api cinta memang menyala kuat di mata lelaki itu untuk Wulan, dan begitu pula sebaliknya.


Untuk sesaat sebelumnya Ibram merasa menang dan lebih unggul dari Jason, setidaknya posisi dan statusnya lebih jelas dibanding Jason Dimata Wulan. Meskipun Wulan belum mau membuka hatinya untuk Ibram, toh dia tidak mau menyerah.


Ibram bukan lelaki beristri, tidak akan ada yang tersakiti oleh cintanya untuk Wulan.

__ADS_1


Tapi ternyata semuanya semakin jauh dari harapan, semakin jauh dari jangkauannya.


Wulan telah salah paham, begitu pula dirinya.


Flashback on


"Pak tolong tenang, tidak perlu membuat keributan" Herman menyela kedua lelaki yang tengah beradu mulut.


"Anda lebih baik juga tenang pak" ucap Herman pada Ibram sambil merentangkan tangannya membuat jarak diantara Ibram dan Jason.


"Lebih baik kita duduk dulu, dan bicarakan baik-baik okay?!" Kata Herman sambil menatap bergantian Jason dan Ibram.


Jason mendengus kesal, meski begitu tidak membantah apa yang Herman ucapkan.


Kedua lelaki itu duduk saling berhadapan, mata Jason menatap tajam menghunus kedua mata Ibram yang sipit.


Wajah murah senyum yang selalu ditampilkan guru itu seolah hilang dan terhapus begitu saja.


"Jadi, lebih baik anda memberitahu kami dimana gadis itu berada sekarang?" Tanya Herman baik-baik pada Ibram.


"Saya tidak akan menyerahkan Wulan begitu saja untuk kembali kerumah anda, tidak akan! Dia wanita baik-baik, tidak akan saya biarkan dia terperdaya oleh rayuan busuk anda" ucap Ibram lagi dengan sinis.


"Hey, jaga bicaramu!! Kamu tidak tahu apa-apa tentangku dan Wulan" jawab Jason dengan mengarahkan telunjuknya ke wajah Ibram.


"Kami berdua saling mencintai dan tidak ada yang salah dengan itu" ucap Jason lagi dengan penuh penekanan.


"Tidak ada yang salah??? Bagaimana tidak ada yang salah sedangkan anda sendiri sudah menikah dan punya anak" bentak Ibram mengeras, kesal bukan main dengan sikap Jason yang sok suci.


"Apa?? Tapi pak Jason belum menikah pak!" Herman turut menyela, dahinya berkerut tidak mengerti.


"Apa?? Apa maksudnya?? Tapi nyonya Andini?? Rayyan itu--?" Ibram kebingungan hingga kehilangan kata-kata.


Jason hanya mendengus, membuang mukanya ke arah lain.


Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya untuk sesaat, kepalanya menggeleng.


Benar, lelaki di hadapannya itu sama bodoh dan lugunya dengan Wulan.

__ADS_1


"Andini bukan istri saya, dia kakak ipar saya!" Terang Jason sambil mengatur duduknya.


Ibram masih tidak mengerti, selama ini dia pikir Jason adalah seorang lelaki yang telah berkeluarga.


Kalau Andini bukan istrinya, lantas Rayyan??


"Rayyan keponakan saya, tapi saya walinya secara sah Dimata hukum" ucap Jason seolah mengerti pa yang Ibram pikirkan.


"Ja...jadi--" Ibram terbata, bahunya tiba-tiba luruh.


Jadi selama ini Wulan telah salah paham, sama seperti dirinya.


Flashback off


Ibram memijit keningnya yang berdenyut, lelaki itu merasa secuil harapan yang masih tersisa kini telah ikut lebur bersama hatinya yang remuk.


Tak ada lagi yang tersisa, kini tidak akan ada yang bisa menghalangi cinta Jason dan Wulan yang baru akan dimulai, tidak juga dirinya.


Diteguknya sekali lagi soda di tangannya hingga habis tak bersisa.


Dengan gusar dilemparnya kaleng tersebut mengenai dinding kamarnya yang temaram.


Sebenarnya bisa saja Ibram tidak mengatakan apapun tentang kemana perginya Wulan pada Jason.


Tapi kecurangan semacam itu hanya akan menjadikannya sebagai seorang pecundang.


"Aku orang baik kan? Melihat Wulan bahagia itu akan membuatku bahagia juga kan?!" ucapnya lirih pada dirinya sendiri.


Menghibur dirinya sendiri meskipun hatinya begitu sakit, membayangkan mungkin di luar sana Jason sedang bergegas menjemput cintanya.


Membayangkan Wulan yang bahagia mengetahui kebenarannya. Sudah tidak akan ada lagi kesempatan untuknya, benar begitu??


Wajahnya tersenyum tapi matanya begitu panas, ada embun bening tergenang di sudut matanya.


"Sialan" gumamnya sambil menekan sudut diantara kedua matanya dengan ibu jarinya.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2