
Wulan berjalan dengan gontai, pikirannya masih belum jernih.
Tangannya menjinjing tas besar yang berat, tapi tak seberat hatinya yang masih tertinggal di rumah itu.
Rumah besar yang membawanya pada cinta pertamanya, cinta pertamanya yang salah.
Wulan berhenti ketika melintasi taman perumahan, dia duduk di salah satu bangku, tempat dimana beberapa kali dirinya menemani si kecil Rayyan bermain.
Kenangan-kenangan indah bersama Rayyan berkelebat dimatanya yang sudah berkabut. Ahh, lagi-lagi airmata.
Entah berapa lama Wulan termenung disana, hanya ditemani nyala lampu-lampu taman yang redup.
Gadis itu merogoh saku jaketnya, menatap jam yang tertera dilayar ponsel jadul miliknya.
Sudah jam 11, hampir satu jam tanpa sadar gadis itu duduk dan melamun disana.
Wulan segera bergegas melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan keluar perumahan yang semakin sepi.
Ini sudah malam, harus pergi kemana selarut ini?
Wulan berniat untuk pulang ke kampung halamannya, tapi tidak mungkin naik kereta semalam ini.
Pikirannya kembali berlarian, membuat buliran bening lagi-lagi luruh dari matanya yang kian membengkak.
Apa sebaiknya dia kembali ke yayasan? Ah, itu tidak mungkin. Jika sampai ketahuan dirinya kabur dari majikannya itu akan membuat dirinya terkena masalah.
Menelepon indah?? Ah tidak mungkin, sekertaris jason itu orang yang sangat loyal pada bosnya.
Itu hanya akan membuatnya dikembalikan lagi ke rumah Jason.
Bagaimana jika Ibram???
Wulan menimbang-nimbang ponsel di tangannya, mungkin itu bukan ide yang buruk.
Selama ini, Ibram sudah banyak membantunya.
Toh lelaki itu pernah bilang bahwa sudah menganggapnya sebagai adik.
Benar, mungkin Ibram adalah bantuan tepat yang dia butuhkan.
Dia bisa membantunya untuk mengantarkan sampai terminal bus bukan?
Toh mungkin masih ada bus malam.
Ya, benar inilah pilihan terbaik saat ini.
Wulan menekan beberapa nomor dalam layar ponselnya.
...
"Hallo, mas Ibram?"
(.............)
__ADS_1
"Maaf, mengganggu malam-malam begini"
(..............)
"Iya, Wulan bisa minta tolong?"
(............)
"Bisa jemput Wulan di jalan masuk perumahan?"
(............)
"Iya, sekarang"
(............)
"Ehhmm soal itu, nanti Wulan ceritakan"
(...........)
"Iya mas, Wulan tunggu. Terimakasih"
(............)
Wulan masih berdiri sambil menunduk, kakinya menendang-nendang kerikil kecil di sekitarnya ketika sebuah mobil Alphard berwarna putih berhenti dengan lampu menyilaukan di hadapannya.
"Wulan, ayo" seorang lelaki berkacamata dengan Hoodie mendekat padanya.
"Oh, iya mas" jawabnya tergagap.
"Trimakasih ya mas, dan maaf karena merepotkan mas Ibram semalam ini" ucap Wulan ketika telah duduk di kursi disamping Ibram.
"Nggak apa-apa, aku senang kamu telepon" jawab lelaki itu sambil mulai melajukan kendaraannya menjauh dari perumahan.
"Ehhm kamu mau kemana?" Tanya Ibram kemudian.
"Aku mau pulang ke kampung mas, mas Ibram bisa Anter aku terminal?" Jawab Wulan dengan wajah sendu.
"APA??!!" Ibram terkejut sampai mengerem mendadak laju mobilnya hingga membuat tubuh mereka terayun keras ke depan.
Ibram sudah curiga sejak awal, apalagi melihat Wulan membawa tas besar di tangannya.
Tapi mendengar gadis itu hendak pergi jauh kembali ke kampungnya membuatnya cukup terkejut.
Bagaimanapun juga, perasaan Ibram terhadap Wulan kian tumbuh seiring waktu.
Lelaki itu hanya perlu sedikit waktu lagi untuk mencari kesempatan menyatakan perasaannya.
"Wulan, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Ibram dengan lembut, matanya menerobos masuk menelisik wajah Wulan yang memang tampak sedih sedari tadi.
Mendadak gadis itu menangis, membuat Ibram kian bingung dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada Wulan.
"Hey, ssshhh, sudah-sudah jangan menangis ya?!" Ibram mencoba menenangkan dengan mengelus bahu Wulan yang tersedu.
__ADS_1
Tapi gadis itu justru kian menangis pilu, membuat Ibram bingung harus bagaimana.
Terlebih dia benar-benar tidak tahu apa yang menimpa gadis itu, gadis yang menyita perasaannya akhir-akhir ini.
Gadis itu menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya, tangisan yang begitu pilu keluar dari mulutnya.
Ibram memberanikan diri, ditariknya tubuh Wulan. Kemudian merengkuhnya dalam pelukannya.
Gadis itu menangis di dada lelaki oriental itu, airmatanya membasahi Hoodie yang dikenakannya.
Ibram menepuk-nepuk punggung Wulan yang bergetar, entah mengapa melihat Wulan seperti ini benar-benar membuat hatinya perih.
Dia benci Wulan sedih, dia benci melihat Wulan menangis.
Siapa yang membuat gadis ini menangis? Ibram benar-benar tidak bisa terima.
Hampir sepuluh menit Ibram membiarkan Wulan menumpahkan kesedihan di pelukannya. Tanpa mengucap apapun.
Ibram terus mengelus punggung gadis itu, setidaknya itu bisa meringankan beban di hati Wulan.
"Ma...maaf mas" ucap Wulan tersedu sambil menarik tubuhnya dari pelukan Ibram.
"Hmm, tidak apa-apa" ibram menggeleng, kemudian tangannya terjulur menghapus airmata di pipi gadis itu.
"Sebenarnya ada apa? Kamu mau cerita?" Tanya Ibram dengan lembut.
Wulan masih terdiam, berpikir sejenak kemudian mengangguk perlahan membuat Ibram tersenyum.
Ibram melirik sebentar arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jam sudah menunjukan hampir tengah malam.
"Begini saja, sebaiknya kita ke apartemenku dulu" kata Ibram, dengan cepat Wulan menggeleng.
"Nggak usah mas"
"Tunggu-tunggu, aku nggak ada maksud apa-apa, tapi ini sudah malam sekali Wulan" jawab ibram menjelaskan.
"Kalau mas Ibram nggak mau antar ke terminal nggak apa-apa kok mas, biar Wulan cari ojek aja mas" ucap Wulan takut merepotkan.
"Ehh, bukan begitu Wulan. Begini, ini sudah malam sekali, kita pulang dulu ke apartemenku laku ceritakan apa yang terjadi. Besok pagi, aku antar kamu ke terminal atau stasiun terserah kamu, okey?!!" Ibram menjelaskan dengan hati-hati.
'wanita benar-benar sensitif saat marah ataupun sedih' batin Ibram.
Wulan berpikir sejenak, kemudian menyetujui ide yang Ibram tawarkan.
Mungkin ada benarnya juga, lebih baik berangkat saat hari terang dan pikiran tenang.
***
Kok sepi yaa???!!! padahal hari ini author udah up sampai 3 bab lho đđâšī¸
ini masih ada 1 bab lagi sebetulnya, tapi buat besok aja lah yaa âī¸đ
__ADS_1
#dukunganmusemangatku