
Triiiiinnngggg..... triiiiinnngggg...
Suara ponsel yang nyaring memekakan telinga, aku benci suara berisik di pagi hari.
Dengan malas kututupi kepalaku dengan bantal.
Sebenarnya ini sudah bukan pagi lagi, sinar matahari menembus masuk melalui sela-sela tirai jendela yang putih. Aku malas bangun, toh tidak ada kuliah pagi ini. Paling-paling aku cuma perlu ketemu dosen pembimbing nanti siang untuk urusan skripsi.
Triiiiinngg....triiiiingg....
Ya Tuhan, siapa sih yang mengacaukan hari bermalas-malasan ku.
Jangan bilang itu telepon para gadis dari fakultas lain yang tempo hari menyatakan cintanya padaku di kantin? Dasar tidak punya malu.
Triiiiinnngggg...
Dengan sejuta rasa malas, aku meraba kemudian meraih ponselku yang tergeletak di meja tepat disamping tempat tidurku.
"Ya hallo?!" Suaraku serak bercampur malas, bahkan mataku saja masih terpejam.
DEG!!!!!!
Seperti ada petir menyambar di atas kepalaku, seketika tubuhku bangkit dan menegang. Mataku yang sebelumnya terasa berat kini melebar.
Aku memperhatikan dengan seksama suara seseorang di seberang sana menyampaikan berita yang membuat jantungku seperti merosot ke lantai.
Abangku dan istrinya kecelakaan?!
Rasanya darahku berhenti mengalir, seluruh tubuhku mendadak sedingin es. Seluruh badan ini rasanya bergetar hebat.
Aku ketakutan dan khawatir setengah mati. Tapi ini bukan saatnya untuk itu.
Aku bangkit berdiri dan berlari secepat yang aku bisa, masih dengan ponsel yang menempel di telingaku.
"Dimana?" Tanyaku.
(.............)
" Iya,iya"
(.............)
Aku menyambar celana jeans panjang dan sebuah kaos dari dalam lemari.
Kemudian bergegas turun menuju dimana mobilku terparkir. Bahkan belum sempat mencuci muka, tapi sungguh aku tidak peduli.
Aku hanya ingin cepat-cepat sampai tempat dimana abangku dan Andin berada.
Aku hanya berharap dan terus berdoa semoga semua baik-baik saja. Ya, pasti baik-baik saja kan.
***
Aku berlari masuk menyusuri koridor rumah sakit, hanya mengenakan sepasang sendal jepit.
Tiba-tiba dua orang berseragam lengkap anggota kepolisian berjalan mendekat ke arahku.
Menunjukan dimana Abang dan kakak ipar ku berada.
Ternyata mereka masih berada di unit gawat darurat.
__ADS_1
Lututku terasa begitu lemas, melihat pemandangan yang tidak pernah aku ingin lihat. bang Ray bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.
Dihidungnya terpasang fentilator, dan selang infus menempel di lengannya.
Beberapa dokter dan tenaga medis lainnya sedang melakukan tindakan, entah apa yang mereka lakukan aku tidak mengerti.
Yang aku tahu hanya berdoa dan terus berharap abangku, keluargaku satu-satunya bisa selamat.
Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kondisi kakakku itu benar-benar jauh dari kata baik.
Kemejanya yang putih berubah memerah karena darah yang terus mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.
Wajahnya pun demikian, darah segar mengucur dari dahi dan pipinya yang sobek menganga lebar.
Dan entah mengapa hidungnya pun mengeluarkan darah.
Keadaan Andini pun terlihat buruk, tidak lebih baik dari bang Ray.
Aku masih bisa melihatnya sekilas meski dari kejauhan sesaat sebelum petugas medis menghalauku untuk menunggu dan menandatangani beberapa prosedur yang akan dilakukan kepada abangku dan Andini.
"Tolong usahakan apapun untuk menyelamatkan kakak saya sus" ucapku dengan airmata yang hampir meleleh.
Wanita berseragam putih itu hanya mengangguk-angguk dan memintaku untuk bersabar.
Aku tahu, dia hanya seorang petugas administrasi yang kebetulan mengurusi dokumen prosedural.
Tapi aku tetap meminta padanya, apa lagi yang aku bisa??
Perasaanku kalut, cemas, takut bertumpah ruah menjadi satu.
Semua pikiran tentang kemungkinan terburuk benar-benar menekan psikis ku saat ini.
Tuhan, tolong aku kali ini saja..jeritku dalam hati.
Aku takut, sangat takut.
Waktu berlalu begitu lama, apa operasinya berjalan dengan baik??
Aku mondar-mandir di depan ruang operasi dengan batin yang luar biasa cemas.
Aku tak peduli dengan wajahku yang jelas-jelas terlihat kusut.
Lampu penanda ruang operasi mendadak mati, aku mendekat untuk menunggu dokter yang menangani operasi bang Ray.
Seorang lelaki paruh baya dengan masih mengenakan pakaian khusus operasi dan masker bedah diwajahnya tampak keluar.
"Bagaimana keadaan kakak saya dok? Dia baik-baik saja kan dok? Benar begitu kan dok?"
Aku terus memberondong pertanyaan padanya, menanti jawaban iya terucap dari bibirnya.
Tapi lelaki itu hanya menggeleng, sorot matanya tampak iba. Apa maksudnya??
Dia mulai menjelaskan semuanya, menjelaskan hal yang tidak pernah ingin aku dengar.
Mengatakan kalimat-kalimat yang hingga detik ini selalu kusesali.
Mengatakan bahwa abangku tidak sanggup bertahan lebih lama.
Trauma di kepalanya terlalu berat.
__ADS_1
"Bohong!! Dokter pasti bohong kan??? Dokter pasti bercanda kan?!!"
Aku berteriak sejadi-jadinya, aku tidak bisa percaya. Aku tidak mau terima.
Abangku orang yang kuat, tidak mungkin dia selemah itu sampai pergi hanya karena luka kecil di wajahnya. Benar kan??
Aku meraung menangis, abangku tidak mungkin pergi.
Dia baik-baik saja tempo hari kan?? Dia baru saja merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah.
Dokter itu pasti salah, abangku masih hidup.
Beberapa saat kemudian beberapa perawat mendorong sebuah brankar dengan seseorang tertutup kain diatasnya.
Aku terseok menghampirinya, dengan bergetar aku membuka kain yang menutupi wajah itu.
Wajah abangku yang terpejam, aku meratapinya, memeluknya, mengguncang tubuhnya.
Dia hanya tidur, aku tahu itu.
Abangku hanya tidur.
Dia tidak akan mengingkari janjinya untuk selalu menjagaku menggantikan ayah kan?
"Sebentar lagi skripsiku selesai, Abang bilang aku nggak boleh malas kan? Aku janji nggak akan malas bang, tapi Abang harus bangun. Abang bilang aku nggak boleh minum soda pagi-pagi kan, aku janji akan ikuti semua yang Abang bilang. Tapi Abang harus bangun" aku berteriak, tersedu dan menangis dengan pilu disamping tubuh bang Ray yang sudah tidak bergerak.
Ini cuma mimpi kan? Aku yakin cuma mimpi. Abangku pasti sedang rapat di kantor.
"Huuuaaaaaaaa"
Aku menangis dan berteriak, tidak peduli semua orang mendengar.
Aku tidak sekuat itu untuk melepas abangku begitu saja.
"Aaaaaaahhhhhh"
"Aaaaakkkkkhhh, bang Raayyyy !!!!"
"Tuan, tuan sudah sadar??!! Syukurlah!!"
Aku membuka mataku, menatap sumber suara di hadapanku.
Wulan, gadis itu terlihat khawatir namun matanya sedikit berbinar menatap sambil menggenggam tanganku.
"Tuan kenapa berteriak sambil menangis??" Tanyanya lagi.
Aku mengangkat sebelah tanganku yang bebas, dengan perlahan aku mengusap wajahku.
Benar! Ada airmata yang keluar dari kedua mataku.
Hatiku masih terasa sesak oleh mimpi tentang bang Ray barusan.
Itu bukan mimpi, tapi ingatan paling buruk dalam hidupku.
Ingatan yang mati-matian aku kubur, tapi kini datang lagi dan menghantui.
Membawa kembali perasaan sedih yang melubangi hatiku bertahun-tahun.
***
__ADS_1