
Jason duduk di hadapan dokter dengan wajah cemas dan memutih. Lelaki itu mencermati setiap kalimat yang keluar dari dokter SpOG yang tengah menjelaskan beberapa hal terkait kondisi Wulan.
"Kondisi istri anda sedikit buruk saat datang kemari. Untuk saat ini kami belum bisa memastikan apa penyebabnya, tapi seperti tanda-tanda keracunan makanan. sebab jika dilihat dari kondisinya beliau sangat lemah dan gemetaran, detak jantungnya juga cepat dan tidak beraturan. Hal itu cukup membahayakan kondisi janin yang dikandungnya. Hasil cek darah dan urin tidak menunjukkan apapun yang mencurigakan sebetulnya, tapi kami masih terus akan melakukan observasi."
Jason menahan napas, kata demi kata yang tengah dia dengar itu seperti hantaman di kepalanya. Lelaki itu bingung dan khawatir, sangat-sangat khawatir.
Dokter menjelaskan bahwa Wulan dan anak dalam kandungannya masih terbilang beruntung karena bertahan. Saat ini wanita itu tengah berbaring lemah di ranjang dingin rumah sakit.
Kenapa cobaan datang bertubi-tubi menghantam keluarga kecilnya. Bagaimanapun juga dia selalu ingin melindungi anak dan istrinya. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di sudut hatinya, Jason tak tau apa, tapi kekhawatiran itu membuatnya mencurigai banyak hal.
**
"Kamu yakin kan racun itu tidak akan meninggalkan jejak?" Bisik Sarah sambil menempelkan ponsel di telinganya.
Seseorang menjawab dari seberang sana. Tampak raut wajah tegang dan khawatir dari wajah perempuan paruh baya itu, namun segera berubah setelah mendengar penuturan orang yang menjadi lawan bicaranya.
"Tapi kenapa perempuan itu tidak mati?" Bisiknya dengan penekanan.
"Kalau sampai rencana ini gagal, dan bayi dalam perut perempuan itu masih selamat, kamu harus siap dengan rencana cadangan." Sarah menutup panggilan itu dengan kesal tanpa mau menunggu jawaban dari seberang sana.
"Lagi apa Tante?" Tiba-tiba suara bariton menyambar indera pendengaran Sarah dari arah belakangnya.
Sarah berbalik dan menatap pada sosok tinggi dengan wajah mengeras itu di ambang pintu dapur. Jason melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya di sisi pintu.
"J-jas? K-kamu udah pulang?" Sarah tergagap, wajahnya memucat seputih kapas.
"Kenapa gugup Tante? Saya cuma tanya Tante sedang apa? Dan dimana Rayyan?" Wajah lelaki itu belum berubah, dingin dan rasanya sangat mematikan.
"Ray ada di kamar, i-ini tante mau siapin makan buat dia. Kamu udah pulang? Itu istri kamu d-di ru-rumah sakit."
"Saya tahu," jawab Jason sambil beranjak mendekat, wajah Sarah benar-benar memucat seperti mayat. Hatinya tak tenang, berharap lelaki itu tak mencuri dengar apa yang tadi dia katakan pada seseorang dalam panggilan teleponnya.
__ADS_1
Jason meraih gelas dan mengambil air putih. Lelaki itu meneguknya hingga tandas tak bersisa. Dia pulang untuk mengambil beberapa baju ganti untuknya dan juga sang istri. Serta ingin melihat keadaan Rayyan sebentar, memastikan semuanya baik-baik saja.
Sesaat Jason melangkah pergi, meninggalkan Sarah yang mematung dengan jantung yang rasanya hampir copot. Matanya mengikuti langkah Jason yang menjauh, kemudian yang tersisa adalah hembusan napas panjang dengan lega.
"Sialan, hampir aja. Untung dia gak denger apapun," gumamnya sambil mengelus dadanya yang berdebar ketakutan.
Setelah mandi dan menyiapkan beberapa baju ganti dan kebutuhannya dan sang istri di rumah sakit, Jason melangkah ke kamar Rayyan. Dia ingin melihat keponakannya itu sebelum berangkat. Jason merasa akhir-akhir ini hubungannya dengan Rayyan sedikit renggang, bahkan terakhir kali bocah itu kecewa dan sedikit marah karenanya.
"Ray," panggilnya sambil membuka pintu.
Rayyan kecil sedang bermain game di tabletnya dengan serius. Bocah itu menengok sebentar kemudian kembali menatap benda pipih di tangannya itu. Dia terlihat tak tertarik. Sangat berbeda dengan dulu, bocah itu akan lari ke pelukan Jason setelah melihatnya datang, terlebih jika Jason pulang dari luar kota.
"Ray, kamu lagi apa?" Jason mendekat, duduk di sisi bocah itu dan mengelus rambut di kepala bocah kesayangannya.
"Main game," jawab Rayyan, lagi-lagi tanpa menatapnya.
Jason mendesah. "Ray gak kangen sama ayah?"
"Kalo kangen berhenti dulu main gamenya, ngobrol sama ayah." Tapi Rayyan tak bergeming.
"Ray?!" Ucap Jason dengan suara yang sedikit meninggi. Bocah itu masih acuh, memainkan gamenya dengan sibuk.
Jason mengambil tablet di tangan Rayyan dan mematikan benda itu. Kemudian sedikit melemparkannya di atas ranjang yang empuk.
Rayyan terkejut lantas menatap Jason dengan kesal. Matanya yang bulat jernih berkaca-kaca. "Kenapa ayah gitu? Kenapa ayah jahat?"
"Dari tadi ayah ajak kamu ngomong, tapi kamu terus main game. Bisa gak Ray berhenti dulu, dengerin ayah mau ngomong sesuatu. Kalau kamu diajak bicara tapi kamu gak mau perhatikan, itu namanya gak sopan." Jason mengerutkan kedua alisnya dan menatap Rayyan dengan wajah mengeras.
"Ayah jahat, ayah udah gak sayang sama Ray." Bias embun berkaca-kaca di mata bundar bocah itu luruh ke pipi.
"Kenapa kamu pikir ayah jahat? Ayah sayang sama kamu, ayah mau kamu jadi anak yang baik." Jason memegang kedua bahu bocah itu dengan tangannya yang besar.
__ADS_1
"Kalau ayah sayang sama Ray, kenapa ayah selalu marah-marah?" Bocah itu terisak.
"Ayah gak mau marah sama kamu, tapi sikap kamu berubah, tidak seperti Rayyan yang ayah kenal biasanya. Ray tidak mau dengar apa kata ayah, kenapa Ray sekarang seperti ini?"
"Karena ayah udah gak sayang sama Ray, iya kan?" Teriak bocah itu sambil berdiri.
Kening Jason berkerut. "Kenapa Ray pikir seperti itu? Ayah sayang sama Ray, dari dulu sampai seterusnya. Tidak akan pernah berubah."
"Ayah bohong, ayah udah gak sayang sama Ray. Ayah cuma sayang sama adik bayi yang di perut bunda, ayah udah gak sayang sama Ray kan? Makanya ayah marah-marah terus?" Bocah itu menangis dengan marah.
Jason menghela napas, memejamkan mata demi meredam rasa kesalnya menghadapi bocah kecil yang kini berubah itu.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Jason meraih tubuh lelaki kecil itu. Rayyan meronta, tapi kekuatannya tak bisa menghalau rengkuhan Jason padanya.
Jason memeluk tubuh kecil yang menangis dan tengah menumpahkan amarah dan kesedihan di benaknya itu. Rayyan kecil terus memberontak, sampai akhirnya dia kelelahan dan pasrah meski masih terus menangis.
"Kenapa Ray pikir ayah tidak menyayangi Ray lagi? Benar ayah menyayangi adik bayi di perut bunda, tapi rasa sayang ayah kepada Ray tidak pernah berubah. Darimana kamu punya pikiran seperti itu?" Jason berkata dengan lembut, berusaha meredam semuanya.
Rayyan yang masih terisak mengusap-usap matanya yang berair. Dengan tersedu dia mencoba membuka mulutnya.
"Karena ayah pergi sama bunda gak ajak Ray waktu itu. Cuma sama adik bayi di perut bunda kan?"
Jason mengusap pipi Rayyan yang dipenuhi air mata. "Waktu itu ayah dan bunda gak jalan-jalan, tapi bunda dan adik bayi di perut harus dirawat di rumah sakit. Dan sekarang bunda kembali harus dirawat di rumah sakit, ayah gak mungkin ajak kamu kan? Kalo kamu sayang sama bunda, sayang sama ayah dan adik bayi, kamu harus mengerti. Kami gak pernah ninggalin kamu, selalu sayang sama Ray. Selamanya."
Bibir mungil itu bergetar, hatinya yang masih lembut dan putih merasa tersentuh dengan penjelasan sang ayah.
"Apa cuma karena itu kamu jadi marah sama ayah? Cuma karena itu kamu jadi berubah gak mau dengerin ayah?" Jason terus mengusap pipi gembul itu.
"Tapi kata Oma...." Rayyan kecil membuka mulutnya. Wajah Jason mendadak mengeras, rahangnya mengatup dengan rapat.
**
__ADS_1