My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 71


__ADS_3

"Wulan" panggil Jason sambil tersenyum hangat dan semakin mendekat.


Wulan mengerjapkan kedua matanya yang jernih, kegugupan menderanya begitu kuat.


Jason, lelaki itu kini berada di hadapannya. Dengan senyum yang sama, senyum yang selalu membuatnya terjerat dan sulit untuk keluar.


Tangan gadis itu saling bertaut dibalik punggung dengan gelisah.


Seolah jari-jarinya membeku saking dinginnya.


Andai semua melihat, bahkan kedua kakinya gemetaran bukan main.


Situasi ini benar-benar tidak dibayangkan sebelumnya, Jason bahkan mencarinya sejauh ini sampai ke rumahnya di kampung.


"Tuan, kenapa bisa sampai kemari?" Tanyanya sambil menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kamu kenapa tiba-tiba pergi wulan, aku khawatir?" Jawab Jason dengan tatapan yang mendalam.


"Nduk, dia ini siapa?" Bu Siti berbisik di telinga sang anak.


"Oh, kenalin Bu ini tuan Jason, majikan Wulan" ucap gadis itu pada akhirnya.


"Tuan, perkenalkan ini ibu saya" ucapnya pada Jason.


Wanita tua itu sedikit terkejut namun dengan cepat menetralkan keterkejutannya dan kemudian tersenyum hangat sambil mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk.


Jason menyambut uluran tangan itu dengan senang, ada rasa tak nyaman ketika ibu dari gadis yang dicintainya itu membungkukkan badan kepadanya.


"Saya Jason Bu" ucapnya memperkenalkan diri.


"Saya Siti tuan, ibunya Wulan" jawab Bu Siti masih terus terbungkuk-bungkuk.


"Monggo, silahkan tuan" ujar wanita paruh baya itu sambil menjulurkan ujung ibu jarinya mempersilahkan Jason dan Herman untuk masuk kedalam rumah.


Kedua lelaki itu hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki sang pemilik rumah.


Wahyuni yang sedari tadi mengintip dari balik jendela dengan sigap meraih kemoceng dan menepuk kursi kayu sederhana di ruang tamu yang sempit itu untuk sekedar menghilangkan debu yang masih menempel.


"Silahkan duduk tuan, maaf tempatnya cuma begini adanya" ujar Bu Siti sambil mendaratkan pantatnya di kursi tepat di seberang Jason dan Herman memilih untuk duduk.


"Tidak apa-apa Bu" jawab Jason sungkan.


"Nduk, buatkan teh buat tuan-tuan ini" ucap Bu Siti memberi arahan dengan tangan pada putri bungsunya.


"Nggeh Bu" Wahyuni mengangguk kemudian bergegas masuk kedalam cepat.

__ADS_1


Wulan masih kikuk dengan keadaan yang ada kemudian memilih duduk di samping sang ibu.


Gadis itu melirik berkali-kali kearah ibunya, pikirannya bingung.


Ahh, sebentar lagi mungkin semuanya akan terbongkar di hadapan sang ibu.


Membayangkan reaksi ibunya membuat perut Wulan mendadak sakit tanpa sebab.


"Jadi ada perlu apa ya tuan-tuan ini mencari anak saya? Apa dia melakukan kesalahan ya tuan? Pantas saja dia mengundurkan diri" Tanya Bu Siti sambil melirik Wulan yang semakin gelisah.


"Bukan begitu Bu, Wulan tidak melakukan kesalahan apapun. Saya kemari karena ada yang perlu saya sampaikan pada putri ibu" jawab Jason, lelaki itu akhirnya paham akan satu hal, wanita paruh baya itu tidak tahu apa-apa tentang kepulangan Wulan. Wulan tidak menceritakan perihal dirinya yang kabur tanpa berpamitan.


"Silahkan diminum tuan" Yuni tiba-tiba datang dengan sebuah baki berisi empat cangkir teh, yang kemudian dijawab dengan anggukan kedua lelaki itu.


Suasana kembali hening untuk sesaat ketika mereka menyesap teh masing-masing.


Tapi pikiran Wulan tidak setenang yang terlihat, gadis itu berulang kali menggeser posisi duduknya, rasa gugup dan tidak nyaman mendominasi dirinya. Seolah kursi yang didudukinya tertancapkan banyak duri.


"Begini bu, saya ingin bicara empat mata dengan Wulan jika ibu mengizinkan" ucap Jason sopan.


Bu Siti melirik kearah anak sulungnya begitupun sebaliknya.


Tatapan ibu dan anak itupun beradu, ibunya mencari tahu menelisik melewati raut wajah anaknya yang kian memucat.


Ada yang tidak beres!! Ya, dia tahu betul.


Wulan mengikuti tubuh ibunya yang berangsur masuk ke dalam dengan ekor matanya.


Kini dia tidak akan bisa lari lagi dari Jason, apa sih yang mau dia sampaikan.


Wulan takut tapi juga tidak sabar ingin mendengar apa yang hendak Jason katakan.


Gadis itu memaki hatinya yang labil. Selalu seperti ini!


Tanpa perlu diperintah lelaki berpakaian serba hitam di samping Jason akhirnya berdiri kemudian berjalan keluar menuju teras.


Lelaki itu terlihat memainkan ponsel ditangannya seolah tidak peduli dan tidak ingin tahu urusan bosnya.


Jason merogoh sesuatu dari saku kemejanya, kemudian menggenggam selembar kertas putih yang sudah lecek berantakan sisa remasan.


"Wulan, kamu sudah salah paham! semua yang kamu kira selama ini salah, tidak seperti yang kamu pikir" terang Jason tanpa basa-basi lagi.


Jason tampak mengayun-ayunkan kertas ditangannya tersebut sembari menjelaskan. Kini Wulan menyadari sesuatu, itu adalah surat yang telah wulan tinggalkan waktu itu.


Jason sudah membacanya, tentu saja. Wulan masih terdiam mendengarkan kata-kata yang terasa tidak masuk akal terucap dari bibir lelaki itu.

__ADS_1


"Andini bukan istriku! Dan Rayyan bukan anakku!" Ucap Jason lagi, dari sorot matanya tampak berusaha begitu meyakinkan.


Ahh lelucon macam apa itu? Bahkan sekarang dia terang-terangan tidak mengakui istri dan anaknya dihadapan Wulan.


Ya, mungkin ada sesuatu yang terjadi di antara dirinya dan andini sampai membuat lelaki itu tidak mau mengakui istrinya, itu mungkin masih bisa diterima.


Tapi tidak mengakui anaknya?? itu sudah benar-benar keterlaluan.


Wulan mendadak benar-benar jengah, dia merutuki setiap ucapan yang terlontar dari mulut Jason.


Bahkan di rumah besar setiap hari, setiap saat telinganya masih sangat jelas mendengar Rayyan menyebut lelaki itu sebagai ayahnya.


Dan berulang kali pula Jason memperkenalkan Rayyan sebagai putranya. Bahkan terang-terangan Andini mengklaim Jason adalah suaminya.


Lalu apa-apaan sekarang ini.


Rasa takut, gugup dan khawatir yang sedari tadi menderanya mendadak berubah oleh sesuatu yang menggumpal di dadanya, ada gemuruh antara marah, benci dan kesal pada lelaki di hadapannya itu.


"Kenapa tuan Setega itu? Sampai-sampai tidak mau mengakui anak dan istri tuan sendiri?" Kata Wulan dengan sinis.


"Karena mereka memang bukan anak dan istriku, bahkan aku belum pernah menikah sama sekali" jawab Jason dengan suara yang sedikit meninggi.


"Bercanda tuan sudah keterlaluan sekarang!" Ucap gadis itu sambil memalingkan wajahnya.


Jason yang semula duduk berhadapan dengannya kini beralih mendekat di kursi samping gadis itu.


Kemudian meraih jemari Wulan, tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.


"Wulan, dengarkan aku sekali ini saja, aku akan cerita semuanya. Jadi tolong beri satu kesempatan saja untuk aku meluruskan semuanya" kata Jason bersungguh-sungguh.


Bahkan Jason tidak pernah semeyakinkan dan seserius saat ini.


Wulan hanya menatap sekilas mata lelaki itu dan meski hanya sekilas Wulan bisa melihat kesungguhan dari sorot matanya. Lama gadis itu terdiam, terdengar helaan nafas kasar dengan mata yang sedikit memerah.hingga pada akhirnya gadis itu mengangguk perlahan, membuat Jason tersenyum lega.


AUTHOR NOTES:


Hai kakak-kakak readers semuanya, terimakasih sudah setia menunggu up-nya. ditunggu like and komennya ya.


oh iya, author pernah cerita belum ya kalau ini novel pertama yang author buat.


jadi pasti banyak kekurangan di sana sini, author sadar sekali akan hal itu.


nah, kalau dirasa ada yang mengganjal atau mengganggu dari cara author menyampaikan cerita ini menurut readers sekalian, boleh banget lho memberi masukan, saran dan kritik yang membangun.


author akan sangat senang sekali dengan koreksi yang bisa membuat author lebih maju lagi.

__ADS_1


segitu dulu ya, jangan sungkan untuk berkomentar kritik dan saran, yang penting dengan bahasa yang baik dan saling menghargai.


terima kasih semua 💖💖💖😁


__ADS_2