My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 87


__ADS_3

"kamu mau tahu?" Tanyanya.


Wulan mengangguk dalam, perempuan itu merapatkan bibirnya. Kesungguhan tergambar jelas di wajahnya.


Jason menghela nafas, seolah mengumpulkan kekuatan untuk memulai.


"Abang aku meninggal karena kecelakaan." Jason memulai ceritanya.


"Tapi bukan kecelakaan biasa, mobilnya disabotase," lanjutnya dengan suara yang berat. Wulan memperhatikan cerita Jason.


"Dan kamu tahu siapa dalang di balik semua itu? Andini dan keluarganya!"


Wulan terpaku, tubuhnya terasa kaku bahkan bibirnya tanpa ia sadari menganga karena tidak percaya.


"Tapi kenapa mas? Kenapa dia melakukan itu pada suaminya sendiri?" Wulan lagi-lagi tidak mengerti.


"Aku sudah pernah bilang, ternyata Andini tidak mencintai bang Ray. Dia bilang masih tetap mencintai aku meskipun sudah menikah dengan abangku sendiri. Dan yang lebih miris lagi, Andini berusaha menggugurkan Rayyan ketika tahu dirinya hamil anak bang Ray waktu itu"


"Awalnya bang Ray tidak menyadari apapun tentang sikap Andini, dia berpikir itu hanya perubahan hormonal. Tapi ternyata Andini hanya memanfaatkan pernikahannya dengan Abang untuk terus mendekati aku, Wulan!"


"Dan dia tidak menginginkan bayi itu, tapi ternyata itu semua belum cukup," Jason menghela nafasnya begitu berat.


"Orangtua Andini ternyata cuma mengincar kekayaan yang bang Ray punya, disaat mereka tahu kalau Abang aku sudah mulai menyadari tentang sikap Andini yang sebenarnya mereka merencanakan semua kejahatan itu."

__ADS_1


"Waktu itu Andini baru melahirkan, Rayyan masih sangat kecil, aku baru tahu beberapa hari setelah kecelakaan itu terjadi, kalau ternyata sebelum Andini melahirkan dia sudah melayangkan gugatan cerai"


Lagi-lagi Jason menatap nanar jalanan yang sepi, sesekali deru kendaraan lain terdengar, Wulan hanya bisa mendengarkan semua yang Jason ceritakan, menatap wajah tampan suaminya yang mendadak dinaungi mendung hitam.


"Dan kamu tahu, papa dan mama Andini jelas tidak setuju soal perceraian itu. Mereka tidak akan rela kehilangan sumber uang mereka. Terlebih hak asuh anak pasti akan jatuh ke tangan bang Ray, mengingat sikap Andini yang berkali-kali berusaha menggugurkan kandungan nya"


"Dan hari naas itu terjadi, mobil yang biasa bang Ray gunakan disabotase oleh orang suruhan papa Andini, kabel remnya dipotong. Seharusnya hanya bang Ray yang celaka, tapi Tuhan berencana lain"


"Kata bi irahTernyata hari itu Abang ku dan Andini bertengkar hebat, di luar rencana ternyata abangku memaksa Andini untuk ikut ke kantor pengacara memakai mobil itu, dan terjadilah kecelakaan yang merenggut nyawa abangku, dan membuat Andini lumpuh seperti saat ini"


"Tapi darimana kamu tahu semua itu mas? Bagaimana kalau mbak Andini tidak terlibat?" Tanya Wulan perlahan.


"Polisi melakukan penyelidikan tentang sebab kecelakaan Wulan, saat tahu kalau ternyata kabel remnya dipotong dengan sengaja, aku meminta Herman dan anak buahnya untuk mencari tahu semuanya. Ini semua konspirasi Andini dan keluarganya!" Jason setengah berteriak dan memukul setir kemudi dengan kedua tangannya.


"Tapi abangku bukan orang bodoh, semua kuasa perusahaan dan aset kami, bahkan perwalian Rayyan resmi di serahkan padaku. Dan aku baru sadar tentang alasan semua itu setelah abangku meninggal, kenapa dia tidak pernah bercerita apapun tentang masalah yang dihadapinya?" Lagi-lagi Jason tampak terpukul, wajahnya memerah disertai airmata menelungkup di atas kemudi.


Wulan bingung harus bagaimana, tangannya terjulur meraih bahu suaminya.


Mengelus perlahan kemudian menarik kepala Jason untuk masuk ke dalam dekapannya.


Tubuh lelaki yang selalu tampak kuat itu mendadak luruh, bahunya yang kokoh bergetar.


Air mata membasahi wajahnya yang terbenam di dekapan sang istri.

__ADS_1


"Bang Ray ternyata banyak bercerita dan berkonsultasi pada pengacaranya, dan dari pengacaranya aku tahu semua itu." Lanjut Jason setelah sedikit tenang.


"Lalu, bagaimana dengan orang tuan mbak Andini, mas?" Rasa ingin tahu wulan kembali muncul.


"Mereka harus mempertanggung jawabkan semuanya di penjara! Bahkan seharusnya Andini juga harus menerima hukuman yang sama!" Ucap Jason berapi-api.


"Lalu mas?"


"Waktu itu Rayyan masih kecil, Wulan. Dia baru saja kehilangan papanya, aku tidak tega kalau sampai bayi sekecil itu juga harus kehilngan mamanya. Oleh karena itu, aku membiarkan Andini untuk tetap tinggal, setidaknya agar Rayyan tidak tumbuh tanpa takut kehilangan kehangatan orangtuanya!" Lanjut jason.


"Tapi aku salah! Andini tidak berubah, dia tidak belajar dari kesalahannya, bahkan aku ragu apa dia menyesali perbuatannya atau tidak?! Tapi sikapnya terhadap Rayyan membuatku semakin membenci dia."


"Andini tidak pantas disebut sebagai seorang ibu, dia wanita paling jahat dan menjijikan di bumi ini!!" Jason terlihat begitu gusar.


"Mas, jangan bicara begitu. Bagaimanapun mbak Andini itu mamanya Rayyan." Wulan berusaha menenangkan Jason.


"Mas, yang terpenting sekarang kita berdua bisa membesarkan Rayyan dengan baik, mencurahkannya dengan kasih sayang yang berlimpah. Jangan mengungkit masa lalu yang membuat hati mas sedih lagi. Biarkan almarhum Abang kamu tenang di alam sana." Bujuk Wulan sambil mengusap perlahan punggung suaminya.


"Kita melangkah ke depan, tinggalkan semua kepahitan itu di belakang kita, tidak perlu menengok lagi. Aku akan selalu berada disampingmu dan mendukungmu mas." Wulan meyakinkan Jason.


Jason menatap wajah Wulan, wanita itu bukan hanya memiliki wajah yang cantik tapi juga hati yang jauh lebih cantik.


Jason tersenyum, merasa begitu beruntung karena tuhan menggariskan takdir hidupnya bersama dengan Wulan.

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2