My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 60


__ADS_3

"Tapi---" ucap Wulan menggantung.


"Tapi apa?" Tanya Jason cepat.


"Tapi, saya tidak bisa menerima cinta tuan" lirih gadis itu dengan bibir bergetar.


"Kenapa??!!" Jason tersentak, dahinya mengernyit tidak mengerti.


"Saya tidak mau menjadi orang ketiga tuan, saya---"


"Jas, kamu baik-baik saja?!" Andini dengan kursi rodanya mendadak menerobos masuk ke kamar itu.


"Mau apa kamu kesini??" Ucap Jason sengit menatap Andini di ambang pintu.


"Jas, aku cuma ingin tahu kondisi kamu. Aku khawatir" terang wanita itu dengan mata berkaca.


Wulan mengalihkan pandangannya, tidak sanggup lagi melihat mata Andini yang mulai berair.


Wulan bisa melihat cinta yang begitu besar dimata wanita ringkih itu untuk lelaki yang sama.


"Aku nggak butuh simpati kamu" hardik Jason ketus, rasanya sulit sekali memberikan sedikit kata maaf untuk Andini, penyebab kehancuran di hidupnya.


"Jas, aku--" ucap Andini sambil menggerakkan kursi rodanya mendekat.


"Stop ndin, lebih baik kamu keluar. Aku baik-baik saja" ucap Jason dingin tanpa menatap Andini lagi.


Mata wanita itu memerah, bibirnya bergetar. Sejurus kemudian airmatanya tampak luruh.


Bahunya tersentak naik turun karena tersedu, Andini menangis tanpa suara, tapi Jason bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Wulan terkejut, namun tidak mampu untuk mengucapkan apapun.


Gadis itu tidak menyangka, jasonnya adalah lelaki sekejam itu.


Mendadak rasa bersalah menghimpit dadanya begitu kuat. Setega itukah dirinya untuk berbahagia diatas penderitaan wanita lain, wanita selemah Andini.


Wanita mana yang mau dikhianati? Wanita mana yang mau berbagi cinta? Bahkan jika dia berada pada posisi andini, dirinya pun tidak akan Sudi.


Wulan menunduk, hatinya perih menyadari kekeliruannya.


Seolah Wulan mengambil kesempatan di rumah tangga orang yang hancur.


Masuk diantara celah keretakan hubungan suami istri yang rapuh.


Gadis itu menggeleng, dia bukan orang seperti itu. Dia memang mencintai Jason, bahkan sangat mencintainya. Tapi bukan berarti dia menjadi wanita antagonis perebut suami orang.


Tidak..tidak...ini tidak benar.

__ADS_1


"Ndin, aku bilang keluar. Sebelum kesabaranku habis" ucap Jason dengan rahang yang mengeras.


Melihat andini membuat luka masalalunya kian menganga. Membuat ingatan tentang bang Raymond berkelebat di matanya yang mengembun.


Kehilangan itu, Abang yang sangat dia sayangi.


Ahh semuanya membuat dadanya kian sesak.


Andini menyeka ujung matanya dengan punggung tangan, kemudian tersenyum tipis diantara Isak tangisnya dan kemudian membalik kursi rodanya untuk keluar dari kamar itu.


Hati Wulan berdenyut nyeri melihat pemandangan itu.


"Tuan, kenapa sekejam itu?" Ucap Wulan sambil menatap Andini yang keluar sambil memutar kursi rodanya hingga menghilang dari pandangannya.


"Kamu tidak perlu memikirkan wanita seperti dia" jawab Jason, membuat Wulan ternganga.


"Yang terpenting saat ini adalah hubungan kita Wulan, kenapa kamu tidak bisa menerima cintaku. Sementara jelas sudah kita memiliki perasaan yang sama" ucap Jason melembut sambil meraih kedua tangan Wulan.


Perkataan Jason mendadak membuatnya muak, mudah sekali lelaki itu berkata demikian tanpa memikirkan perasaan istrinya. Keterlaluan!!


Ya, Wulan tidak tahu ada masalah apa hingga membuat hubungan sepasang suami istri itu begitu buruk. Tapi apakah Jason sedikitpun tidak memikirkan soal Rayyan.


"Setidaknya tuan pikirkan tentang perasaan den Rayyan, saya tidak mau menjadi penyebab kesedihan untuk den Rayyan, permisi" ucap Wulan dengan tegas, sudut matanya sudah tergenangi air mata yang tertahan.


Gadis itu berlari keluar, menyeka buliran bening dari matanya, meninggalkan Jason yang kian bingung dengan ucapan Wulan. apa hubungan semua ini dengan Rayyan.


Wulan keluar dengan cepat, matanya kian berkabut, tubuhnya luruh merosot terduduk dilantai di depan pintu kamar Jason.


Gadis itu tersedu, hatinya kacau. Dari awal dia memang salah, dia salah.


Tangannya terkepal memukul-mukul dadanya sendiri yang bergemuruh, mengumpat dan mengutuki perasaannya sendiri.


Kemudian Wulan berdiri, menghapus semua sisa airmatanya yang bergemuruh.


Gadis itu melangkah, hendak kembali menuju kamar Rayyan di atas.


Seketika langkahnya terhenti ketika melihat Andini di bawah tangga.


Wanita itu tampak memegangi kepalanya, kesedihan, keputus asaan jelas sekali dari raut wajahnya yang memerah dengan airmata yang membuat wajahnya kian menyedihkan.


"Nyonya..." Panggil Wulan dengan lembut.


Andini seketika mendongakkan kepalanya, matanya menatap tajam gadis dihadapannya.


Giginya beradu geram ingin sekali mencabik-cabik Wulan.


"Mau apa? Pergi!!" Bentak andini benar-benar penuh amarah.

__ADS_1


"Nyonya, saya bantu untuk naik keatas?" Ucap Wulan masih dengan lembut.


"Aku tidak butuh bantuan perempuan murahan seperti kamu" hardik Andini dengan kilatan mata penuh kebencian.


"Tapi nyonya--"


"Bi....bi irah!!! Bi Irah!!!" Panggil Andini dengan berteriak-teriak.


"Iya nyonya" sahut Bi Irah sambil tergopoh-gopoh mendekati Andini.


"Saya mau keatas, panggil pak amat dan kalian bantu saya naik keatas!!" Kata Andini dengan suara meninggi.


"Tapi nya, pak Amat lagi pergi. Bu indah tadi telepon untuk ambil berkas yang harus segera ditandatangani oleh tuan di kantor" terang bi Irah hati-hati.


"Biar saya yang bantu nyonya" ucap Wulan menawarkan diri.


"Saya bilang saya tidak butuh kamu!!!" Bentak Andini.


"Bi, saya mau ke atas sekarang!!!" Ucap Andini sambil melotot tajam.


"Iya nyonya, tapi kita tunggu pak amat dulu. Saya nggak bisa bawa nyonya sendiri keatas. Atau kalau nyonya mau biar neng Wulan ikut bantu nya" jawab bi Irah.


Andini menggeram sebentar, jelas wanita itu benci jika harus menerima bantuan Wulan.


Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, menolakpun percuma.


"Cepet" katanya dengan ketus menatap Wulan.


Wulan dan bi Irah meraih tubuh Andini, dengan hati-hati dan perlahan memapah tubuh ringkih yang semakin kurus itu menaiki tangga menuju kamarnya di atas.


Meletakkan tubuh yang kian layu memucat itu di ranjangnya.


Wulan dan bi Irah segera keluar dan turun. Namun Bi Irah segera mengangkat kursi roda milik nyonyanya itu menaiki tangga untuk dibawa menuju kamar Andini.


"Bibi mau apa, ini berat! Biar Wulan saja" ucap Wulan sambil menghentikan langkah Bi Irah.


"Nggak apa-apa neng, biar bibi aja" jawab bi Irah.


"Nggak usah Bi, biar wulan aja yang bawa ini ke kamar nyonya" sergah Wulan sambil mengambil alih kursi roda itu.


"Tapi neng--"


"Udah nggak papa Bi, kasian bibi udah tua. Biar Wulan aja, Wulan masih muda jauh lebih kuat daripada bibi" ucap Wulan sambil tersenyum. Bi Irah hanya mengangguk berterimakasih.


***


💖💖💖 like, komen and vote jangan lupa ya guys💖💖

__ADS_1


__ADS_2