
"selamat sore" seorang lelaki tegap dengan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam bertengger menghiasi wajahnya, rambutnya yang mengkilat disisir halus ke belakang.
"Se..selamat sore, maaf tuan mencari siapa ya?" Tanya Bu Siti, ibu Wulan.
Mata wanita paruh baya itu menatap nyaris tanpa berkedip, meskipun tampan tapi lelaki itu cukup menyeramkan dengan raut yang kaku dan dingin.
"Saya ingin bertemu dengan nona wulandari" ucapnya dengan datar.
Bu Siti reflek menutup mulutnya, dibelakangnya Wulan dan Yuni sedikit mengintip dari balik jendela.
Mata Wulan ikut membeliak, gadis itu sama sekali tidak mengenal lelaki yang tengah berbincang dengan ibunya tersebut, tapi telinganya mendengar dengan jelas bahwa dirinyalah yang dicari.
"Se.. sebentar" wanita itu bergegas masuk kembali kedalam rumah, bahkan tidak terpikirkan untuk mempersilahkan tamunya tersebut untuk sekedar duduk di dipan bambu yang berada di teras.
"Wulan, kamu kenal siapa orang itu?" Tanya Bu Siti dengan raut kekhawatiran menghiasi wajahnya yang mulai dipenuhi garis penuaan.
Wulan menggeleng dengan cepat, jelas dirinya memang tidak mengenal siapa lelaki itu. Ada ketakutan di wajahnya, ketakutan apabila orang tersebut ada kaitannya dengan seseorang yang tengah dia hindari.
Tapi tidak mungkin untuk mengatakan itu semua pada ibu sekarang.
"Apa kamu punya hutang??" Tanya ibunya dengan curiga.
__ADS_1
"Nggak Bu" jawab gadis itu sambil menggoyangkan tangannya cepat.
"Lebih baik mbak Wulan keluar dulu, temui orang itu. Siapa tahu penting" desak sang adik yang sedari tadi sudah kelewat penasaran.
"Iya nduk, tapi... Benar kamu nggak punya hutang to?" Ibunya memastikan.
Dari balik jendela sesekali Bu Siti masih melirik sebentar, lelaki itu memang tidak tampak seperti debt colector. Tapi siapa yang tahu, debt colector jaman sekarang berpakaian perlente dan bertampang setampan itu kan??
"Nggak ada Bu, memangnya tampang Wulan kaya orang banyak hutang apa?" Sungut gadis itu.
Mau tidak mau gadis itu melangkah keluar, sang ibu dan adiknya menyusul dari belakang.
Masing-masing mereka diliputi penasaran.
"A..ada keperluan apa bapak mencari saya" tanyanya dengan suara bergetar.
Lelaki itu membalikkan badan, kemudian membuka kacamata yang bertengger di hidungnya yang runcing.
"Selamat sore nona, saya--"
"Wulaann!!" Suara lelaki yang tidak asing tiba-tiba merasuki pendengaran gadis itu.
__ADS_1
Matanya dengan cepat mencari sumber suara, begitu pula lelaki yang berada di hadapannya.
Bahkan ibu dan adiknya yang berada tepat di belakang Wulan ikut melongok mencari arah suara tersebut.
Mata Wulan membeliak, sosok yang sangat tidak asing, sosok yang tidak ingin ditemuinya sekaligus sangat dirindukan oleh hatinya tengah beranjak turun dari mobil yang sedari tadi terparkir rapi di depan rumah itu.
Wajah gadis itu mendadak memucat, darahnya berdesir membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Mulutnya menganga, tapi suaranya tercekat tidak mampu dia keluarkan.
Ibu dan adiknya hanya menatap dengan kebingungan, sementara lelaki yang sebelumnya berdiri di hadapannya kini melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sosok yang tengah bersusah payah turun dari mobil tersebut.
"Tu...tuan??!" Lirih Wulan pada akhirnya.
Tiba-tiba lutut gadis itu terasa begitu lemas, dan dia merasakan seluruh tubuhnya menegang dan sedingin es.
"Siapa nduk?? Tuan??" Ucap ibunya mendekat tidak mengerti.
💖💖💖
Hari ini meskipun update lambat, author kasih 2 bab ya... meskipun pendek-pendek.
__ADS_1
Thanks yang sudah setia menanti 🙏😁