My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 84


__ADS_3

"Mbak, sarapan dulu." Ucap Wulan dengan tenang.


"Apa kamu bilang? Mbak? Siapa kamu berani menyebutku begitu? Kamu sudah lupa posisimu disini?? Haahhh??!! Kamu itu cuma pembantu, nggak lebih!!" Suara Andini mulai meninggi.


Dengan bersusah payah wanita itu bangkit dari tidurnya hendak memposisikan dirinya untuk duduk.


Dengan sigap Wulan mendekat dan hendak membantunya.


"Minggir!! Aku nggak butuh bantuan kamu!! Pergi sana!" Hardik Andini menghalau tangan Wulan yang mendekat.


"Mbak Andini nggak usah keras kepala, mbak nggak sadar kondisi mbak seperti apa saat ini?" Ucap Wulan dengan tajam.


Sebenarnya Wulan tidak tega mengucapkan hal seperti itu, tapi mungkin menghadapi Andini tidak bisa lagi dengan kelembutan. Harus ada ketegasan agar dirinya tidak diinjak-injak seenak hati Andini seperti sebelumnya.


"Diam kamu, perempuan kurang ajar!!" Suara Andini kian melengking, tangannya terangkat hendak menampar Wulan.


Namun kalah cepat, Wulan mencekal tangan Andini sebelum mendarat di pipinya.


"Mbak Andini nggak perlu kasar, kemarahan mbak Andini nggak berdasar apapun!" Ucap Wulan masih mencengkeram lengan kurus Andini.


"Nggak berdasar?? Kamu perempuan sialan yang nggak punya otak ya??! Kamu datang ke kehidupan Jason dan mengambil dia dariku, kurang ajar kamu! Aku sudah pernah peringatkan, kenapa kamu nggak mau dengar? Hahh perempuan sialan!!" sumpah serapah Andini.


"Mbak, mas Jason lajang, dia berhak mencintai siapapun, berhak mendapatkan kebahagiaan tanpa bayang-bayang mbak Andini. Dan yang jelas, dia berhak memilih siapapun pendamping hidupnya, mbak nggak bisa memaksakan cinta mbak Andini yang salah, itu hanya akan menyakiti diri mbak Andini sendiri!" Tegas Wulan, namun matanya menatap Andini dengan iba.


"Kamu tahu apa soal cintaku ke Jason, kamu cuma perempuan murahan yang nggak tahu diri masuk diantara kami, kamu nggak pantes untuk jadi istri jason!!" Teriak Andini antara marah dan putus asa.


Kembali tangan kurusnya hendak meraih wajah Wulan, bersiap untuk mencakar-cakar wajah putih perempuan itu.


Lagi-lagi Wulan menghindar dan dengan cepat menghalau tangan Andini.


"Dengar mbak, suka atau tidak tapi sekarang saya adalah istri mas Jason. Kenyataannya kami sudah menikah! Dan saya harap mbak Andini menerima itu dengan lapang dada, supaya kita bisa hidup dengan tenang bersama-sama, kita besarkan Rayyan bersama-sama!" Tukas Wulan.


"Jangan mimpi kamu!!" Teriak Andini gusar.


"Mbak Andin yang seharusnya bangun dari mimpi yang membuat mbak tersiksa selama ini, dimakan sarapannya ya mbak, saya keluar dulu!" Pungkas Wulan sambil melangkah menjauh dan keluar.


Menyisakan Andini yang berkubang dalam rasa amarah dan frustasi yang kian menyiksa.


Wanita itu benar-benar marah, pada semuanya..pada keadaan yang tidak pernah berpihak padanya, pada Jason yang selalu mengabaikannya, pada rasa cintanya yang kian tumbuh tanpa mendapat balasan, dan terutama pada perempuan yang mengambil Jason darinya, mengambil Jason yang sesungguhnya tidak pernah jadi miliknya.


Andini meraung, tangisannya melengking dalam keputus asaan.


Bahkan ucapannya kini tidak lagi bisa menyakiti Wulan, perempuan itu menjadi kuat karena cinta Jason untuknya.


Andini melempar baki beserta segala isinya, dia tidak Sudi memakan apapun yang Wulan bawa untuknya.


Rasanya hidupnya sudah tidak ada artinya, Jason benar-benar semakin menjauh dari dirinya.


Pengorbanannya selama ini, pengorbanannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia, berakhir lebih pahit dibanding apa yang dia bayangkan selama ini. Dan itu semua karena Wulan.


Atau sesungguhnya dialah yang menciptakan kepahitan hidupnya sendiri.


Andini berteriak, menangkupkan tangan kurusnya menutupi wajahnya yang tirus, dengan tulang pipi yang kian menonjol.


***


Wulan membacakan sebuah buku cerita sambil menemani Rayyan di kamar.


Beberapa kali Wulan melirik jam di dinding kamar Rayyan.


Baru jam tujuh lewat dua puluh menit, dan Jason belum pulang.


Rayyan beberapa kali tampak menguap, namun mata bocah itu masih sejernih berlian.


"Bunda?" Panggil Rayyan.


"Hmmm?" Wulan menghentikan membaca buku cerita ditangannya dan menoleh ke arah bocah itu.


"Malam ini bunda bobok disini ya, temenin lay!" Pinta Rayyan dengan wajah polos nan menggemaskan.


"Emmhh iya, Bunda bobok disini. Sekarang kita bobok aja yuk, udah malem nak." Wulan merapatkan selimut menutupi tubuh kecil itu.


Kemudian mendekap tubuh Rayyan yang berbalut selimut, menepuk-nepuk punggung bocah itu sambil mendendangkan lullaby dengan lirih.

__ADS_1


Sesekali matanya melirik ke arah jam lagi, telinganya mendengarkan dengan awas, di hatinya tengah menunggu suaminya untuk pulang dengan perasaan campur aduk, senang gugup sekaligus takut.


Entah berapa lama, akhirnya Rayyan terlelap. Begitupun Wulan, matanya semakin lama terasa berat.


Kemudian tertidur sambil memeluk bocah kecil itu.


Hingga tidak mendengar saat Jason sudah pulang.


Dengan cepat Jason melangkahkan kakinya masuk, rasanya dia begitu merindukan istrinya tersebut.


Ah, pengantin baru memang norak.


Lelaki itu membuka perlahan pintu kamarnya, kosong.


Dia tidak mendapati Wulan disana, mungkin masih di kamar Rayyan.


Jason memutuskan untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang kotor dan lelah karena bekerja sehatian ini.


Setelah selesai, lelaki itu menuju kamar 'putranya', benar saja Wulan berada disana.


Pemandangan di hadapannya selalu mampu membuat hatinya menghangat dan meleleh.


Wulan tidur mendekap keponakannya itu, rasa sayang yang jelas-jelas Wulan miliki untuk Rayyan tulus, dan begitupun sebaliknya.


Jason bahagia keponakannya itu akhirnya mendapatkan kehangatan kasih sayang seorang ibu, Jason merasa keputusannya menikahi Wulan benar-benar keputusan yang sangat tepat untuk dirinya dan semua orang.


Wulan memberi nyawa baru bagi rumah ini.


Jason membelai lembut pipi istrinya itu, membuat Wulan membuka matanya perlahan.


Wanita itu tersenyum kemudian bangkit dengan hati-hati, takut jika sampai membangunkan rayyan.


"Sudah pulang mas?" Tanya Wulan dengan suara serak.


Jason mengangguk, kemudian menarik tangan istrinya itu keluar dari kamar Rayyan tanpa bersuara.


Menuntun istrinya menuju kamar mereka.


Bukannya menjawab, Jason malah menutup pintu kemudian menarik tubuh istrinya itu mendekat.


"Aku nggak mau makan, aku mau kamu." Ucap Jason dengan senyuman, senyuman yang aneh menurut Wulan.


Jason menarik tubuh istrinya mendekat, mendaratkan sebuah ciuman mendadak di bibir istrinya.


******* bibir ranum itu, Wulan terkejut tapi kemudian berusaha menguasai dirinya.


Mungkin inilah saatnya, Wulan pasrah.


Perempuan itu memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya.


Jason yang merasa mendapatkan balasan, semakin bersemangat.


Hasratnya kian membara, inilah kali pertama bagi mereka.


Hal baru yang sangat mereka inginkan, menginginkan satu sama lain.


Seluruh wajah Wulan tak ada yang luput dari kecupan Jason.


Lelaki itu menyusuri leher jenjang sang istri, mendaratkam sebuah kecupan, menyisakan sebuah kissmark di sana.


Tangannya mulai bergentayangan kemana-mana (setan kali ahh)


Menjamah bagian-bagian tubuh istrinya itu dengan tangan yang gemetar, antara luapan hasrat yang meninggi sekaligus rasa penasaran dan gugup.


(Okay skip, saya nggak bisa nulis yang iya-iya lebih dari ini 🤣)


Entah berapa lama mereka saling menyentuh, memeluk dan mengecap satu sama lain, meski pakaian masih menempel di tubuh masing-masing.


Hanya pakaian Wulan sudah terlepas, menyisakan bra yang sudah amburadul akibat ulah Jason.


Tapi mereka belum sampai pada apa yang mereka inginkan.


Jason lelaki yang sangat normal, rasanya dirinya tidak kuat lagi menahan yang seharusnya dia lakukan.

__ADS_1


Tubuhnya bergeser menjauh dari tubuh istrinya, lelaki itu membuka kancing dan resleting celanya.


Hanya tinggal sedikit lagi dia akan menarik turun celana yang dikenakannya itu saat terdengar suara yang membuat kedua manusia itu terlonjak.


"Ayah... bunda..."


Suara Rayyan memanggil dari balik pintu, dengan secepat kilat Jason menarik kembali resleting celananya. Begitupun Wulan, dengan tergesa-gesa mengenakan pakaian yang berhamburan di lantai.


Mereka berdua seperti maling yang dikejar hansip.


Dengan detak jantung yang hampir copot.


Tepat saat keduanya tengah merapikan diri Rayyan membuka pintu yang tidak terkunci itu.


Selama ini jason memang tidak pernah mengunci pintu, dan untuk pertama kalinya hak itu begitu disesalinya.


"Bunda kok bohong, kenapa pindah kesini, katanya mau bobok sama lay" bocah itu menerobos masuk.


Wulan dan Jason tengah berdiri tegak mirip patung yang jantungan.


Wulan bahkan masih mengeratkan tangannya di kancing kemejanya yang paling atas yang belum terkancing sempurna.


"Ahh, itu tadi ayah pulang. Jadi bunda mau siapin ayah makanan dulu tadi." Bohong Wulan gugup.


"Ray kenapa bangun, bobok di kamar lagi aja ya!" Jason ikut menimpali.


"Nggak mau, maunya bobok sama bunda disini. Sama ayah juga." Jawab bocah itu polos.


Rayyan kemudian naik ke tempat tidur yang masih berantakan, sisa pertempuran yang belum kelar.


Kedua sejoli itu tampak saling melirik satu sama lain.


Mengernyitkan dahi, seolah bertelepati mengatakan harus bagaimana?


Dan akhirnya Jason harus mengalah, Wulan tidak akan tega membiarkan Rayyan pergi dari sana.


Bocah polos itu hanya ingin kasih sayang dari kedua 'orangtuanya' bukan.


"Ya sudah, ini kan udah malem, sekarang kita bobok ya." Wulan merebahkan tubuhnya di samping Rayyan.


Bocah itu tidur di tengah, membatasi suami istri yang masih bersusah payah meredam keinginan mereka sekali lagi.


Rayyan mengangguk, kemudian meringkuk dalam dekapan Wulan yang hangat.


Tangan kecilnya mendekap bundanya itu agar tidak meninggalkannya lagi seperti tadi.


Jason menghela nafas kasar, lelaki itu memandang Wulan dengan tatapan memelas, yang hanya dibalas dengan tarikan kedua alis oleh Wulan.


Apa boleh buat, itulah yang Wulan maksudkan.


Jason menjatuhkan tubuhnya menelungkup ke atas ranjang, di samping Rayyan.


Membenamkan wajahnya ke atas bantal dan memukul perlahan sisi ranjang dengan tangan terkepal.


Lagi-lagi dia harus menahannya, kepalanya berdenyut pening.


Sekali lagi Jason melirik ke arah istrinya, Rayyan benar-benar memeluk Wulan dengan posesif.


Dan kali ini harus dia akui, pertama kalinya dia iri dan cemburu oleh keponakannya yang masih bocah itu.


(kasian ya babang Jason guys 🤣🤣🤣)


Author notes:


Holla, gimana? hari ini udah up 4 bab langsung ya!!


tapi like nya jangan cuma di bab terakhir dong...


like dan komen kalian itu sungguh berarti loh buat author. apalagi VOTEnya, atau yang mau kasih tips juga boleh banget.heheh


Enjoy ya guys...terimakasih.


💖💖🙏😁

__ADS_1


__ADS_2