My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 49


__ADS_3

"mbak ulaaaann...Lay kangeennn!!!" Teriak bocah kecil itu menyongsong kedatangan wulan bersama Jason.


"Mbak ulan juga kangen banget sama den Ray" ucap Wulan sambil memeluk bocah kecil yang tampak senang atas kedatangannya.


Padahal hanya kurang dari tiga hari mereka tidak bertemu, tapi bos kecilnya itu tampak sangat merindukannya.


Sejujurnya Wulan juga sangat merindukan lelaki kecil yang membuat hatinya begitu hangat oleh senyum ceria di wajah gembulnya itu.


"Den Ray nakal nggak di rumah sama bi Irah??" Tanya Wulan berjongkok mencubit sayang pipi yang menggemaskan itu.


"Nggak, lay nggak nakal. Kan lay pintel" ucapnya polos.


"Iya Ray pinter! Nah karena Ray anak pinter sekarang biarin mbak Wulannya istirahat dulu, nanti baru main lagi" kata Jason sambil meraih keponakannya itu kedalam gendongannya.


Rayyan hanya mengangguk angguk, anak itu benar-benar berubah menjadi anak yang sangat baik setelah kedatangan Wulan.


Setidaknya itu yang Jason rasakan. Ada yang berubah di rumah ini. Semua terasa baik-baik saja dan tidak segelap seperti sebelumnya.


Wulan sudah kembali, setidaknya masalah Bianca sudah sedikit teratasi.


Dan untuk sementara waktu gadis itu tidak perlu menemuinya lagi, Jason menutup akses Wulan dari Bianca. Entah semua kejadian di acara grand opening itu murni terjadi karena ketidak sengajaan atau Bianca telah merencanakan konspirasi sebelumnya, baik jason maupun Wulan tidak mengerti.


Tapi yang pasti, semua itu tidak boleh terjadi lagi.


---


malam itu Jason termangu di dalam ruang kerjanya dirumah, beberapa saat kemudian dia menekan bebrapa nomor di layar smartphone miliknya dan menghubungi indah, sekertaris kepercayaannya.


"Hallo ndah, besok saya tidak bisa ke kantor"


(.............)


"Ada sesuatu yang harus saya lakukan dirumah"


(..........….)


"Ya, tolong urus semuanya"


(..............)


"Terimakasih, ndah"

__ADS_1


(.............)


"Hufftt" Jason menyandarkan kepalanya disandarkan kursi di ruang kerjanya.


Tarikan nafasnya terasa berat, meski begitu ada sedikit kelegaan semuanya telah berlalu.


Membayangkan wajah Wulan yang pucat pasi tadi membuat Jason mendesah gusar.


Semuanya menjadi serumit ini.


Kini ditambah lagi, Ibram, guru kesayangan keponakannya itu ternyata bukan orang biasa.


Memperkerjakan Ibram benar-benar suatu hal yang disesali oleh Jason.


Guru itu terlalu banyak masuk dalam urusan Wulan.


Kedekatan mereka di area kerja di rumahnya masih bisa Jason maklumi.


Tapi pertemuan Wulan dan ibram di apartemen dan kemudian di acara tadi siang benar-benar sebuah takdir yang konyol dan menyebalkan bagi Jason.


Terlebih Jason merasa benar-benar tertipu oleh Ibram.


Ya, sebuah map berwarna biru, segera dibukanya lembaran-lembaran tulisan pada kertas putih di dalamnya.


Jason membaca sebuah nama yang tertulis disana, Arya Bramantyo


Jason mengeratkan rahangnya, lelaki itu menulis nama aslinya, tapi tidak menyertakan nama keluarganya. Tapi kenapa???


Sejujurnya apapun alasan lelaki itu, tapi Jason tetap tidak suka akan hal itu.


***


"Sekarang pakai baju terus sarapan, oke?!" Ucap Wulan sambil mengeringkan badan mungil Rayyan dengan handuk, pagi itu.


Bocah kecil itu mengangguk patuh, tangan kecilnya meraih kemudian memainkan action figure superhero manusia laba-laba sembari menunggu Wulan menyiapkan baju yang akan dikenakan bos kecilnya itu.


Setelah semuanya siap, Wulan segera menggandeng tangan mungil Rayyan untuk segera turun dan sarapan di bawah.


Wajah ceria Rayyan membuat Wulan sedikit melupakan semua masalah di hari-hari sebelumnya.


Pagi ini Wulan belum melihat Jason, tidak juga berpapasan ketika lelaki itu hendak berangkat ke kantor seperti biasanya.

__ADS_1


Mereka juga belum berbicara lagi setelah kepulangannya ke rumah itu kemarin.


Bahkan semalaman Wulan berkali-kali menatap smartphone nya, dalam hati kecilnya sedikit berharap Jason aka mengiriminya sebuah pesan seperti malam-malam sebelumnya. Ahh, kini perasaan Wulan semakin serakah.


DEG


Lelaki yang sedari tadi dirindukan oleh hatinya ternyata duduk dengan santai di meja makan, hanya mengenakan setelan kaos dan celana santai.


Semakin hari Wulan semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Jantungnya berdegup setiap kali berhadapan dengan tuannya itu, dan itu kian bertambah seiring waktu.


Jason tersenyum menyambut kedua orang yang memenuhi hatinya itu tengah turun dan berjalan kearah dirinya berada.


Si kecil Rayyan yang menjadi satu-satunya penyemangat hidupnya selama ini, dan seorang lagi gadis lugu yang membuat tidurnya gelisah dan hari-harinya gundah sejak beberapa saat terakhir ini.


"Ayaaahh" teriak Rayyan riang mendapati sang ayah berada di rumah tak seperti biasanya.


"Hei bos, ayo sini sarapan" sambut Jason mengangkat tubuh mungil rayyan kemudian mendudukkannya di kursi yang berada tepat disampingnya.


Wulan menyiapkan piring untuk Rayyan, meletakkan nasi dan beberapa lauk kesukaan bocah kecil itu dan menyiapkan secangkir susu coklat hangat.


"Buat aku???" Tiba-tiba Jason menyodorkan piringnya yang kosong saat Wulan hendak mulai menyuapi tuan kecilnya.


Wulan tersenyum kemudian mengisi piring milik Jason, menyiapkan secangkir teh hangat untuknya.


Jason tersenyum, senyuman yang tidak pernah gagal membuat jantung Wulan berdebar tidak karuan.


Senyuman yang selalu berhasil memunculkan rona merah jambu di pipi gadis itu.


"Enak ya kalau diladeni istri setiap pagi seperti ini?" Goda Jason dengan senyuman dan tatapan penuh arti pada Wulan.


Sementara gadis itu tersentak, senyum tipis dibibirnya mendadak menghilang, rona merah jambu itupun mendadak surut, gadis itu menatap Jason tidak mengerti. Apa dia tidak bisa memahami keadaan istrinya sendiri? Dan itu justru membuat Wulan tidak senang.


'apa maksud ucapannya itu?' batin wulan


💖💖💖💖💖


ini visual Jason menurut perspektif author ya, kalau kurang berkenan silahkan dibayangkan sesuai imajinasi kakak-kakak readers sendiri 😁✌️


DAN STEVENS , (FYI beliau ini pemeran beast di "beauty and the beast" bagi yg belum tau aja ya )


__ADS_1


__ADS_2