My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps.37


__ADS_3

Wulan meletakkan smartphone di genggamannya, Bianca baru saja menghubunginya.


Mengatakan padanya akan mampir ke rumahnya besok pagi.


Dan yang keluar dari mulutnya hanya iya...iya..dan iya..


Kenapa dirinya tidak bisa sedikit saja bersandiwara, menolak untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Terkadang gadis itu mengutuki dirinya sendiri atas keluguan dan kenaifannya.


Jika saja dulu orangtuanya mampu, dia tentu ingin sekali melanjutkan pendidikannya, menjadi orang terpelajar.


Sebenarnya Wulan juga menyadari, dengan menerima permintaan Jason untuk membantunya dia juga sudah harus siap dengan segala resiko yang pasti terjadi.


Tapi entah mengapa kini ketika dia telah berada di setengah perjalanan, rasa percaya dirinya hilang.


Apa yang akan dia hadapi, apa yang akan terjadi, bagaimana jika dia mengecewakan bosnya, semua menumpuk membuat pikiran gadis itu kalut.


Ditengah rasa kepenatan yang melandanya, lagi-lagi ponselnya berdering.


Dengan rasa malas yang luar biasa, Wulan mencoba melihat siapa yang menelepon nya.


Ahh..ternyata sebuah pesan singkat dari nomor yang lagi-lagi tidak dikenalnya.


Tapi Wulan cukup yakin bahwa itu bukan Bianca, sebelumnya nomor Bianca sudah sempat dia simpan.


(Kamu sudah makan?)


(Siapa ini?)


(J )


(J siapa?)


(Memangnya ada berapa J yang kau kenal disini?)

__ADS_1


"Apa-apaan sih ini? Nggak penting" gumam Wulan sendiri.


Di lemparkannya ponsel itu diatas ranjang, gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar.


Memikirkan nasibnya yang begitu rumit di sini.


Dia hanya ingin bekerja dengan tenang, tapi lihatlah bagaimana akhirnya dia terjebak pada situasi yang dia sendiri tidak bisa menanganinya.


Mencintai majikannya itu sudah bisa dikatakan lancang, terlebih majikannya yang sudah beristri dan memiliki anak itu sudah bisa dikatakan kurang ajar


Sekarang dia ikut bersandiwara membohongi wanita yang sama sekali tidak dia kenal, berpura-pura menjadi kekasih jason dan ikut menutupi status pernikahan majikannya itu.


"Aaaahhhhhhhhh" gadis itu tampak gusar, matanya memerah karena airmata yang tidak terbendung lagi.


Triiiiinnngggg.....


Suara handphone nya berdering lagi disaat Wulan tengah tersedu.


Ada perasaan marah, kecewa dan menyesal bercampur aduk menjadi satu membuat dadanya sesak.


Triiiiinnngggg


Gadis itu bangkit dan mengambil ponsel yang tergeletak, dengan gusar dia menjawab panggilan nomor yang tidak dikenalnya itu, nomor pengganggu.


"Apa!!???" Wulan mengangkat sambil membentak.


" kamu kenapa?"Ucap suara di ujung sana, suara yang sangat dia kenali.


"Ma..maaf tuan" Wulan mengusap air matanya perlahan.


"Ada masalah apa, kenapa sepertinya kamu marah?" Tanya Jason penuh kekhawatiran diujung sana.


"Tidak tuan, maafkan saya" jawab Wulan menyesal.


"Apa kamu marah karena pesan dariku?" Tanya Jason memastikan.

__ADS_1


"Bukan tuan, maaf saya pikir tadi orang iseng tuan, saya tidak tahu kalau itu pesan dari tuan" wulan mencoba menjelaskan, dari suaranya tampak bergetar.


Sejurus kemudian Jason mematikan panggilannya tanpa mengucapkan apapun lagi.


Dan ini membuat Wulan begitu menyesal, karena membuat majikannya marah.


Gadis itu begitu frustasi, semua masalah yang menumpuk belum ada satupun yang terselesaikan dan kini ditambah lagi akibat pikirannya yang kalut membuatnya melakukan hal yang bodoh.


Membentak majikannya.


(Ya salah sendiri juga Jason pake inisial-inisial segala kaya abege 🙄)


Yang bisa Wulan lakukan lagi-lagi hanya menangis.


Dia ingin menumpahkan perasaannya, berbagi perasaanya pada seseorang, tapi disini gadis itu hanya seorang diri. Tanpa teman ataupun saudara.


Menelpon ibunya dikampung itu tidak mungkin, dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


Indah, nama sekertaris itu terlintas di benaknya, tapi sayang Wulan tidak memiliki kontak wanita itu.


Ibram??? Ya, mungkin Ibram bisa membantu. Setidaknya mendengar keluh kesahnya, itu akan sedikit meringankan hati dan pikirannya yang mulai lelah oleh semua masalah ini.


Gadis itu bangkit, menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan bersiap menuju ke apartemen Ibram yang terletak dua lantai di atas miliknya. Saat bersamaan suara bell berbunyi.


Ting...tong...


"Siapa ya?" Gumam gadis itu sambil melangkahkan kakinya lebih cepat untuk tahu siapa tamunya.


***


Hallo, maap lama ya!! insyaallah nanti malem up lagi.


seperti biasa jangan lupa tinggalin jejaknya ya.


thank you!!

__ADS_1


💖💖🙏🙏


__ADS_2