
Sejak hari itu Wulan merasa sikap Rayyan yang semakin mengacuhkannya. Dulu, Rayyan selalu manja terhadap dirinya, semua yang dibutuhkan bocah itu selalu dimintanya pada Wulan. Sekarang, Rayyan hanya akan bermanja pada sang Oma.
Wulan senang Rayyan akhirnya bisa menerima kehadiran Sarah, tapi di lubuk hatinya terselip sebuah kesedihan dan rasa iri atas perubahan Rayyan sekarang.
Seminggu berlalu, kondisi Wulan berangsur membaik. Rasanya berlama-lama beraktifitas di atas kursi roda membuatnya jenuh. Sejak dulu Wulan adalah seorang pekerja keras, tapi kehamilannya memaksa dirinya untuk tidak melakukan apapun.
"Sayang, kamu beneran gak papa aku tinggal?"Jason mengelus perut Wulan dengan sayang, tubuhnya berlutut di depan sang istri yang duduk di kursi roda. Sesekali menempelkan telinganya pada perut yang sedikit membuncit itu. Meski setelan jas sudah membungkus rapi tubuh gagah itu.
"Nggak apa-apa, mas. Kan di rumah ada banyak orang."
"Ck, tapi rasanya aku gak mau pergi." Jason mengerucutkan bibirnya, tingkahnya mendadak seperti anak kecil.
"Tapi urusan pekerjaan kamu kan juga penting," Wulan mengelus kepala di pangkuannya itu, rambut yang sudah disisir rapi dengan Pomade mengkilat.
Jason menghela nafas, "ayah pergi sebentar ya, sayang. Lusa udah pulang lagi kok, kamu jangan rewel ya. Jangan bikin bunda kamu repot." Jason mengelus perut Wulan, berdialog dengan janin kecil yang tengah tumbuh di sana.
"Iya ayah, ayah jangan khawatir. Bunda sama dedek banyak yang jagain kok." Wulan menirukan suara anak kecil, membuat Jason tersenyum gemas.
__ADS_1
Ada pemantauan proyek kerja sama dengan Jade corp di kota sebelah. Pengunduran diri Bianca dari proyek berdampak pada terhambatnya beberapa hal. Direktur Johan, ayah Bianca secara langsung mengundang Jason untuk bertemu sekaligus meninjau jalannya proyek.
Maka hari ini Jason harus berangkat, selesai atau tidak tapi Jason bertekad akan segera pulang kerumah lusa. Dia tidak ingin dan mungkin tidak sanggup jauh dari istrinya dalam kondisi seperti saat ini. Andai bisa, rasanya Jason ingin mengirim perwakilan saja, tapi direktur Johan meminta bertemu langsung dengan dirinya.
Dengan berat hati Jason meninggalkan Wulan dan Rayyan sementara.
Keberangkatannya bersama indah dan beberapa staf perusahaan. Sementara pak amat tetap di rumah, keberadaan sopir tua itu sungguh sangat diperlukan untuk mobilitas keluarga Jason. Terlebih karena akhir-akhir ini Rayyan meminta pak amat untuk mengantar dan menjemput nya sekolah. Dan Jason menuruti permintaan keponakannya itu, karena tidak ingin Rayyan lebih lama marah padanya dan Wulan, meskipun rasanya Rayyan mulai menjauh dari mereka.
***
Pagi berikutnya...
"Iya, Oma." Rayyan kecil mengangguk.
Sarah tersenyum, kemudian meraih tas ransel kecil milik Rayyan, memakaikan benda itu ke punggung cucunya. Saat telah siap keduanya berjalan beriringan keluar kamar dan mulai turun ke bawah.
"Wulan belum bangun, bi?" Tanya Sarah sambil menatap sekeliling ruang makan.
__ADS_1
"Sudah nyonya, tapi masij di kamar."
Sarah mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O, "oh, iya bi...saya boleh minta tolong nggak? Badan saya lagi gak enak, mungkin kecapean, bisa beliin jamu di pasar?" Pinta Sarah dengan mata penuh harap.
"Jamu apa nyonya? Mungkin saya bisa buatkan."
"Jamu pegel linu, bi. Tapi saya lebih suka buatan penjual jamu. Jadi tolong ya bi, beliin. Sekalian tolong bibi antar Rayyan ke sekolah sama pak amat." Sarah menggigit bibirnya saat menyelesaikan kalimat itu.
Bi Irah berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk, mungkin tidak ada salahnya. Toh sepertinya keperluan bumbu dapur juga sudah mulai menipis. "Baik, nyonya. Kalau gitu saya siap-siap dulu." Bi Irah mengangsurkan tubuhnya ke belakang. Sementara sebuah senyuman penuh makna tergambar di wajah Sarah yang mulai keriput.
**
"Daa, Oma." Rayyan berteriak dari balik pintu mobil sambil melambaiu tangan kecilnya.
"Daa sayang," jawab sarah yang juga melambaikan tangannya.
Saat mobil yang ditumpangi Rayyan dan bi Irah menghilang di balik pagar, Sarah segera beranjak ke dapur. Menyiapkan semangkuk sup dan jus buah. Tangannya merogoh saku celana panjang yang dikenakannya, mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, serbuk berwarna putih itu mulai dia tuangkan pada gelas berisi jus, sambil matanya menatap sekeliling. Memastikan tidak ada siapapun yang mungkin melihat apa yang tengah dia lakukan.
__ADS_1
Seringai di wajahnya tak pudar saat dirinya mengaduk-aduk jus yang telah tercampur serbuk putih tadi. "Semua harta keluarga Hartono hanya akan menjadi milik cucuku," lirihnya sambil terus menyunggingkan senyum licik.
*****