My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 88


__ADS_3

Jason bangkit dari tempat tidur, menatap Rayyan yang masih tertidur lelap di sampingnya.


Lelaki itu menarik selimut menutupi tubuh kecil keponakannya itu, kemudian mengecup kepala Rayyan dengan sayang. Sudah tiga malam ini bocah itu tidur bersama dirinya dan sang istri.


Dia harus menahan dan bersabar untuk beberapa hari ini, tapi hatinya bersumpah tidak akan membiarkan siapapun atau apapun mengganggu bulan madunya bersama Wulan setelah resepsi.


Wulan sudah tidak ada disisi ranjang yang lainnya.


Mungkin tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuknya.


Ketukan suara pisau dan talenan beradu, aroma tumisan bumbu yang sedap menguar di seluruh penjuru dapur.


Wulan dan bi Irah menyiapkan makanan pagi ini, berbagai macam hidangan yang cukup banyak.


Wulan begitu bersemangat, hari ini kedua orang tua dan adiknya akan tiba.


Dua hari lagi resepsi pernikahannya dengan Jason akan segera dilaksanakan.


Oleh sebab itu keluarganya dijadwalkan tiba hari ini dari kampung.


Jason tampak turun dari kamarnya, tetesan air tampak mengalir dari rambutnya yang basah.


Lelaki itu sudah mandi dan bersiap,


Langkahnya dipercepat saat aroma sedap menggelitik penciumannya dan membuat perutnya memberontak. Lapar!


"Kamu masak apa sayang? Baunya bikin aku laper." Ucap Jason melingkarkan lengannya di pinggang sang istri yang masih berkutat menghadapi penggorengan.


"Banyak mas," jawab Wulan tersenyum menampilkan barisan giginya.

__ADS_1


"Cepetan aku laper," Jason merapatkan tubuhnya memeluk sang istri dari belakang.


Bi Irah mengulum senyuman, menggeleng perlahan melihat tingkah polah pengantin baru yang tidak tahu tempat dan waktu itu.


(Ah, Bi Irah kaya nggak pernah muda aja!?)


"Sebentar mas, ini sekalian masak banyak untuk makan siang. Hari ini ibu dan bapak kan dateng," ujar Wulan sambil terus memasak meski Jason menempel ketat di punggungnya.


"Oh iya, jam berapa ini? Biar aku telepon Herman untuk jemput mereka di bandara," ucap Jason sambil beralih melangkah keluar dapur dan menggeser layar di smartphone miliknya.


Sebenarnya orang tua wulan ingin berangkat ke kota di mana Wulan tinggal menggunakan kereta api saja, tapi Jason tidak mengizinkan dan menawari mertuanya itu untuk dijemput dengan mobil atau naik pesawat saja.


Wahyuni sang adik ipar yang pecicilan itu tanpa sengaja mendengar obrolan melalui telepon antara bapak dan kakak iparnya.


Gadis itu mendadak bersemangat mendengar kata pesawat.


Seumur-umur belum pernah naik pesawat terbang, dan kapan lagi kesempatan dirinya untuk bisa naik pesawat.


"Kalau bapak nggak mau dijemput supir, bapak ibu sama Wahyuni naik pesawat saja ya." Jawab Jason dari seberang telepon.


"Ndak us---"


"Mau mau kak, mau banget!!! Asyikkk naik pesawat!!" Wahyuni berteriak girang, mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah ponselnya itu.


Pak Slamet menggelengkan kepalanya, tingkah anak bungsunya itu sangat berbanding terbalik dengan sang kakak.


Wahyuni anak yang ceria dan kekanakan, berbeda dengan Wulan sang selalu bisa bersikap dewasa.


----

__ADS_1


'tiinn...tiin...'


Suara klakson dan deru mesin mobil memasuki pelataran rumah, membuat Wulan dan Jason yang tengah asik melihat-lihat destinasi wisata untuk bulan madu mereka dari layar smartphone menghentikan aktifitasnya.


"Mungkin itu mereka mas," senyum Wulan mengembang secerah matahari pagi.


"Siapa bunda?" Tanya si kecil Rayyan yang ikut duduk disamping mereka sambil memainkan mobil-mobilan miliknya.


"Kakek sama nenek, orang tuanya bunda, sama Tante yuni." Jawab Wulan bersemangat.


"Oh, kakek yang rambutnya abu-abu ya?" Tanya Rayyan polos.


Bocah itu ingat betul saat pertama kali melihat pak Slamet, rambut lelaki sepuh itu masih tebal namun sudah dihiasi uban yang cukup banyak.


Membuat warnanya yang putih dan hitam tampak menjadi abu-abu di mata bocah yang masih belajar menghafal warna itu.


"Hahaha, iya yang rambutnya abu-abu, yuk kita lihat ke depan," ajak Wulan sambil menggandeng tangan kecil Rayyan. Sebelah tangannya yang lain setia menggenggam mobil-mobilan berwarna merah.


"Assalamualaikum," ucap pak Slamet tepat ketika Wulan bersiap membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam bapak, buk," jawab Wulan diikuti Jason dan Rayyan.


Wulan memeluk mereka dengan hangat, Yuni berceloteh panjang tentang pengalamannya menaiki pesawat terbang, membuat Rayyan melongo heran sekaligus takjub melihat adik dari bundanya yang terus berbicara nyerocos.


Belum berhenti sampai disitu, Wahyuni di buat takjub dengan rumah kakak iparnya yang besar dan mewah.


Jason menyapa mertuanya, menyalaminya dengan hangat. Keluarga Wulan yang kini juga menjadi keluarganya.


Sebuah keluarga utuh yang hangat yang sangat Jason rindukan.

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2