
Wulan memang tampak jauh lebih cantik dibanding biasanya. Tapi berada di dekat Bianca, rasa percaya dirinya benar-benar menghilang.
Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri, penampilan Wulan yang sederhana dan jauh dari perawatan kecantikan terlihat begitu kontras dengan penampilan Bianca yang modis berkelas serta wajah dan kulit yang terawat.
Kedua gadis itu memasuki sebuah bangunan berlantai tiga yang tampak begitu ramai, dipenuhi manusia dengan penampilan high class.
Wulan menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya benar-benar terasa tercekat oleh kegugupan ini.
Bianca melangkah dengan anggun, Wulan menyusul dengan beberapa langkah yang tertinggal.
Seorang wanita paruh baya dengan gaya yang sangat elegan tampak menyambut kedatangan mereka, ya lebih tepatnya kedatangan Bianca.
"Tante, selamat ya atas dbukanya cabang baru keren banget deh" ucap Bianca menyongsong uluran tangan si wanita paruh baya yang tersenyum mengembang.
"Terimakasih ya sayang, mama kamu mana?" Tanya wanita itu sambil matanya menyisir sekitar gadis itu.
"Maaf Tante, mama nggak bisa Dateng. Dan karena kebetulan aku lagi disini ngurusin bisnis papa, makanya aku kesini sekalian mewakili mama" ucap Bianca menjelaskan.
Wanita itu hanya mengangguk, sesaat kemudian matanya menangkap sosok Wulan yang berdiri canggung di belakang Bianca.
Tanpa mengucapkan tanya, wanita itu menaikkan alisnya seolah mencari tahu siapa gadis yang sepertinya datang bersama anak dari temannya itu.
"Oh, Tante kenalin ini Wulan" jelas Bianca.
"Wulan, kenalin ini Tante Monica. Sahabatnya mama aku, Tante Monica ini berasal dari kota yang sama dengan aku, dan beliau pemilik butik ini" Bianca beralih pada Wulan.
"Ha..hallo Tante" ucap Wulan sambil mengulurkan tangannya yang dingin.
"Ah iya, hallo" jawab wanita paruh baya itu dengan senyuman tipis, tapi raut wajahnya seolah menyimpan tanya.
'Bianca berteman dengan gadis udik macam ini' batin Monica.
Tentu saja hal itu sedikit aneh, dia tahu persis bagaimana anak dari direktur Yohan itu.
Bagaimana pergaulannya, bagaimana gaya hidupnya.
__ADS_1
Dan tentu saja dia tidak akan mau berteman dengan orang yang status sosialnya tidak jelas.
Dan dengan sekali pandang, wanita itu tahu persis Wulan bukan berasal dari kalangan atas.
Secantik apapun gadis itu dipoles, dan semewah apapun pakaian yang dikenakannya. Kecanggungan dan sikap rendah diri itu begitu kentara terpancar dari wajah gadis itu.
Monica sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia fashion, bukan hal yang sulit baginya untuk tahu seperti apa orang-orang yang berhadapan dengannya.
"Tante, Wulan ini tunangannya Jason Hartono" ucap Bianca menjelaskan pada monica.
Dan tepat sesuai dengan tebakan Bianca, keterkejutan jelas terpancar dari wajah wanita paruh baya itu.
Rasanya benar-benar mustahil gadis lugu dan sederhana dihadapannya itu adalah calon istri pewaris tunggal Hartono jaya.
"O...oh, benarkah?" Ucap Monica sedikit terbata dengan senyuman kaku dipaksakan disudut bibirnya.
Wulan hanya mengangguk, kepalanya terasa terlalu ringan dan pusing. Bahkan rasanya kakinya tidak menapak pada tanah.
Ruangan itu begitu gemerlap dan riuh dengan ratusan manusia. Tapi seolah waktu berhenti berputar, dan hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian, meski sebenarnya kenyataannya bukan seperti itu.
"Tuan Jason Hartono memang orang yang misterius dan tertutup soal kehidupan pribadinya, tapi Tante tidak menyangka akhirnya bertemu langsung dengan calon istrinya" ucap Monica sambil terkekeh menutupi rasa terkejut sekaligus penasaran yang siap meledak di pikirannya.
'jadi benar, tuan memang tidak pernah mau mengakui soal kehidupan pribadinya pada semua orang? Bahkan menyembunyikan kebenaran tentang pernikahan dihadapan dunia? Kejam!! Aku jadi kasihan pada nyonya Andini. Tapi aku juga salah, sikapku terakhir kali dengan tuan benar-benar keterlaluan, sekarang aku harus apa?!' batin hati Wulan memikirkan semuanya sekaligus menyesali perbuatannya dengan Jason terakhir kali.
"Jadi nak Wulan ini profesinya apa?" Tanya monica, membuat Wulan terkesiap.
" Saya belum kerja Tante, kebetulan baru lulus kuliah" jawabnya sambil tersenyum, matanya mengarah pada Bianca seolah meminta pembelaan.
Bianca hanya tersenyum, senyuman licik yang bahkan tidak disadari oleh siapapun di tempat itu.
Gadis itu tahu persis, gadis lugu yang tidak pantas menjadi tunangan Jason itu tengah mati-matian mengatasi rasa gugup dan kecemasan.
Suatu hal yang pasti dialami oleh orang yang menutupi kebenaran.
Bianca benar-benar menikmati itu.
__ADS_1
Tujuannya hanya satu, membawa Wulan ketempat itu hanya untuk membuka kedok dan mempermalukan gadis yang jelas-jelas tidak berkelas macam Wulan.
Membuka kebenaran atas sandiwara yang sudah sedikit tercium olehnya sejak awal.
Mengikuti permainan Jason adalah cara terbaik menemukan celah untuk membuka semua omong kosong ini.
Monica mengernyitkan dahinya, dia adalah pengusaha fashion yang cukup terpandang. Dengan banyak kenalan bisnis maupun teman sosialita diseluruh penjuru Indonesia.
Tapi, siapa gadis dihadapannya ini? Anak siapa? Hampir seluruh pengusaha mengenal dan dikenal olehnya.
Apakah gadis ini hanya anak orang biasa?
"Ehhmm, yasudah silahkan dinikmati pestanya, sebentar lagi acara intinya akan dimulai" ucap Monica mempersilahkan Wulan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Wulan merasa cukup lega pada akhirnya, tanya jawab yang beresiko menyudutkan keadaannya itu berakhir dengan cepat.
Gadis itu memilih untuk mengambil beberapa hidangan yang tersedia, rasanya itu jauh lebih aman dibanding dengan acara bincang-bincang ramah tamah yang bisa berakibat fatal untuknya.
"Bi, sebenarnya dia itu siapa?? Tante nggak percaya dia tunangan Jason Hartono. Wajahnya dan gestur tubuhnya nggak bisa bohong bi, dia bukan dari kalangan kita" bisik Monica di telinga Bianca.
"Bener banget Tante, aku juga nggak percaya. Makanya aku bawa dia kesini, tepat ada event sebesar ini. Aku mau buka kedok dia, kalau sampai terbukti, aku pasti bakalan bikin dia malu seumur hidup" jawab Bianca.
"Kenapa harus begitu Bi?" Tanya Monica sedikit terkejut.
" Karena dia nggak pantes berada disamping Jason, papa pernah janji sama aku untuk bisa dapetin Jason Hartono Tan, sampai-sampai aku bela-belain pulang dari luar negri" jawab Bianca masih berbisik.
"Dan tentunya aku butuh bantuan Tante" bisiknya sekali lagi.
" Oh dear, Tante pasti bantuin kamu. Mama kamu itu sahabat Tante, jadi kamu juga sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri" bisiknya sambil tersenyum.
Author notes: maafkeun lama nggak update ya, ada yang harus dikebut di sebelah sana 🤫😝.
semoga masih ada yang setia menanti cerita ini...kalau bisa cek yg disebelah sana juga 🤭🤭
Wulan dalam bahaya, besok dilanjut lagi..
__ADS_1