My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 99


__ADS_3

Wulan berbaring terlentang di ranjang pemeriksaan. Sementara Jason duduk sambil memperhatikan dengan seksama.


Dokter mulai memeriksa detak jantung, denyut nadi, tekanan darah kemudian menempelkan alat USG diatas perut Wulan.


Benda dingin dan licin itu terus digerakkan di perutnya, dokter tampak tersenyum sambil menunjukan sesuatu yang bergerak-gerak tampak dari layar.


"Selamat ya pak, Bu Wulan benar sedang mengandung. Saat ini usia kandungannya sudah menginjak tiga Minggu, kondisi janinnya sehat," ucap dokter wanita itu dengan tersenyum ramah.


"Jadi istri saya benar hamil dokter?" Jason memastikan apa yang didengarnya.


"Betul pak, dan kondisi Bu Wulan juga bagus, tekanan darah normal, saya cuma berpesan untuk banyak mengkonsumsi makanan bergizi, banyak minum vitamin serta hindari melakukan aktivitas fisik yang berat di trimester awal untuk menjaga janin yang dikandung agar berkembang dengan baik," jelasnya sambil kembali duduk di balik meja dihadapan Jason.


Sementara Wulan bangkit dan mengambil duduk di samping suaminya.


Rona kebahagiaan jelas kentara menghiasi wajah mereka.


"Ini saya resepkan vitamin, kalsium dan penambah darah untuk Bu wulan," jelasnya lagi sambil menulis sesuatu di selembar kertas.


"Baik dokter," jawab Jason sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya dan tanpa ragu mencium kening Wulan meski dihadapan orang lain.


"Disini saya tuliskan untuk kunjungan kontrol pemeriksaan berkala selanjutnya ya Bu," kata dokter itu lagi sambil menatap Wulan.


Wulan hanya mengangguk kepala mengerti.


"Sekali lagi selamat ya pak, Bu, tolong dijaga kandungannya," pungkas dokter sambil menyerahkan sebuah buku khusus pemeriksaan ibu hamil dan selembar resep.


"Terimakasih banyak dokter, kalau begitu kami permisi dulu, terimakasih," ucap Jason tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kemudian berlalu keluar.


"Kita makan dulu setelah itu jemput Rayyan sekalian," ucap Jason saat mereka berdua berada di dalam mobil.


Jason merasa hidupnya benar-benar sempurna saat ini, tuhan begitu baik menggantikan seluruh kesedihan di hidupnya selama ini dengan kebahagiaan bertubi-tubi, kebahagiaan semenjak kedatangan Wulan di kehidupannya.


---


"Kamu nggak balik ke kantor mas?" Tanya Wulan saat mereka telah tiba di rumah dan melihat Jason justru menanggalkan jas yang dikenakannya.


"Nggak, aku mau di rumah nemenin kamu dan calon anak kita," jawabnya setelah berganti pakaian dan duduk mendekati sang istri.


"Anak ayah lagi apa di dalam? Kamu sehat-sehat ya disana," Jason mengelus perlahan perut Wulan yang masih datar.


"Kan masih kecil mas, belum juga kelihatan," Wulan terkekeh melihat suaminya.


"Biarpun masih kecil tapi dia pasti tahu kalau ayahnya akan selalu menjaganya," jawab Jason masih tetap mengelus perut istrinya.


"Bunda..." Suara kecil Rayyan dari ambang pintu membuat kedua orang tersebut menoleh.


"Ya sayang, sini," Wulan melambai meminta bocah itu mendekat.


"Ray, Ray suka nggak kalau punya adik bayi?" Tanya Jason membuat bocah itu sedikit berpikir.


"Adik bayi?" Tanyanya polos.


"Iya, karena sebentar lagi Ray akan jadi Abang, soalnya sekarang ada adik bayi di dalam perut bunda," jelas Jason.


"Nanti di rumah Ray jadi punya temen buat main, asik kan?" Lanjutnya.


"Beneran ayah?? Yeayyy asiikk, aku mau aku mau," tampaknya Rayyan mulai mengerti, bocah itu bersorak senang.


Tingkah bocah berpipi chubby itu membuat Wulan dan Jason bahagia.

__ADS_1


Betapa indahnya rencana Tuhan bukan? Seolah Jason bisa merengkuh semua kebahagiaan itu sekarang, setelah sekian lama.


'tok..tok..tok..'


"Tu...tuan, di luar ada tamu," Bi Irah berucap dari balik pintu.


Jason segera bangkit, disusul Wulan dan Rayyan di belakangnya.


"Siapa bi?" Tanya Jason.


"Ehhmm, itu a..anu tuan itu..." Bi Irah tampak bingung dan ketakutan.


Membuat Jason ingin segera turun untuk mengobati rasa penasarannya, siapa gerangan tamu yang sampai membuat bi Irah begitu pucat dan takut.


Saat Jason turun tidak dilihatnya siapapun di ruang tamu, bergegas Jason keluar untuk melihat di teras.


Seorang wanita tengah menatap ke arah lain, rambutnya yang beruban diikat dengan asal.


Hanya mengenakan baju sederhana dan sepasang sandal jepit. Di samping dia duduk terdapat sebuah tas besar entah berisi apa.


"Maaf, ibu siapa ya?" Tanya Jason, membuat wanita itu menoleh.


"Jas..." Ucapnya dengan suara tercekat, dengan cepat wanita itu bangkit dari duduknya.


Jason terbelalak, rasanya jantungnya ditabuh hingga bertalu melihat siapa yang berdiri di hadapannya kini.


"Tante? Mau apa Tante kemari?" Ucap Jason dengan suara tertahan, wajahnya berubah memerah.


"Siapa mas?" Wulan yang baru tiba sambil menggandeng Rayyan di sampingnya.


Wanita itu sontak melihat ke arah wulan dan Rayyan bergantian.


"Rayyan, cucu Oma," ucapnya sambil berjongkok hendak menggapai Rayyan.


Jason segera menghalau tangan wanita itu dan berdiri tepat di depan Wulan dan Rayyan.


"Tante Sarah mau apa kemari? Lebih baik Tante pergi, sebelum saya usir," hardik jason membuat Wulan terkejut.


"Maafin Tante jas, sungguh Tante minta maaf atas semua kesalahan yang pernah Tante perbuat ke kamu, setelah bebas dari penjara, Tante nggak tahu harus kemana. Tante nggak punya siapa-siapa, cuma Rayyan satu-satunya keluarga yang Tante punya, tolong jas" wanita itu mulai terisak sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Saya nggak peduli Tante, lebih baik Tante pergi. Jangan ganggu saya dan Rayyan lagi," ucap Jason dengan keras.


"Tolong jas, Tante nggak tahu harus pergi kemana, biarkan Tante menebus semua kesalahan Tante ke kamu, Tante akan ikut menjaga Rayyan, bagaimanapun Rayyan cucu Tante juga," ucapnya dengan suara bergetar dan tersedu.


"Cukup Tante, setelah apa yang Tante lakukan selama ini jangan harap saya akan memaafkan Tante begitu saja," tegasnya sekali lagi.


"Tolonglah jas...,"


Jason memalingkan wajahnya kemudian hendak berlalu, namun Wulan mencekal tangannya.


"Mas kenapa kamu seperti ini? Siapa dia?" Tanya Wulan.


"Wanita ini yang sudah membuat bang Ray meninggal, dia dan suaminya yang jahat itu yang bertanggung jawab atas kematian bangku, dan aku nggak akan pernah mengijinkan dia mendekat ke keluarga kita termasuk Rayyan," tegas Jason sambil mengambil langkah lebar masuk ke dalam.


Wanita tua itu tersedu, dan terduduk di lantai. Wulan benar-benar tidak tega melihat hal itu.


"Ray masuk dulu ya, nanti bunda nyusul," ucapnya pada bocah kecil yang sedari tadi kebingungan itu, dan Rayyan mengangguk kemudian masuk ke dalam.


"Tante, silahkan duduk dulu," ucap Wulan sambil membimbing Sarah untuk duduk di kursi sampingnya.

__ADS_1


"Tolongin Tante nak, Tante cuma mau bersama dengan cucu Tante, anak Tante Andini sudah pergi, begitupun dengan suami Tante," ucapnya tercekat.


" Tante nggak punya siapapun lagi kecuali Rayyan, Tante tahu Tante salah, dan Tante menyesal atas semua yang pernah Tante perbuat di keluarga ini," lanjutnya sambil terisak.


Wulan mengangguk, kemudian mengelus bahu wanita itu yang bergetar dalam tangisan.


"Tante tunggu sebentar ya, Wulan akan coba jelaskan pada mas Jason, semoga mas Jason bisa mengerti," ucap Wulan sambil mengelus dengan hangat punggung wanita itu sembari melangkah masuk.


Wulan mendekat ke arah Jason yang terduduk dengan nafas naik turun berupaya meredam emosi di dadanya.


"Mas, kamu jangan seperti ini mas, apa kamu nggak kasihan pada Tante itu, dia baru saja keluar dari penjara dan baru saja kehilangan anak dan suaminya," ucap Wulan perlahan.


"Kasihan?? Memangnya dia kasihan pada aku dan Rayyan saat melakukan konspirasi pembunuhan terhadap bang Ray?? Lalu untuk apa aku mengasihani orang macam dia?" Jason terlihat marah.


"Tapi dia sudah membayar itu di dalam penjara kan mas? Lagipula setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua," Wulan tampak menjelaskan.


"Mas, dia sudah menyesali perbuatannya, butuh keberanian yang besar bagi wanita setua beliau untuk datang dan meminta maaf mas, apa kamu tidak bisa membuka hatimu sedikit saja?" Jelas wulan.


"Kamu nggak tahu apa-apa soal dia Wulan, dia itu orang jahat," kilah Jason berapi-api.


"Apa orang yang pernah jahat tidak boleh berubah menjadi baik mas? Kenapa hati kamu begitu keras seperti ini? Setidaknya lihat Rayyan, bagaimanapun mereka punya hubungan darah, jangan putuskan hubungan itu mas," desak Wulan dengan gigih.


"Dia itu licik Wulan, kamu jangan mudah percaya begitu saja," ucap Jason putus asa.


"Ya, bahkan aku juga nggak percaya kalau ternyata hati mas sekeras batu seperti ini, aku kecewa sama kamu mas," Wulan berlari sambil mulai terisak.


Entah mengapa airmata mulai mengalir mengaliri pipinya.


Perasaan Wulan memang lebih sensitif akhir-akhir ini, mudah senang, terharu bahkan marah, mungkin efek perubahan hormonal.


Melihat istrinya yang berubah menjadi sedih, Jason tidak tega.


Tapi bagaimanapun hatinya tidak bisa menerima Sarah di rumah ini begitu saja setelah semua yang dilakukannya dahulu.


Membiarkan wanita itu mendekati Rayyan? Mustahil.


Tapi bagaimana dengan Wulan, belum pernah dirinya melihat Wulan semarah dan sekecewa itu atas sikapnya selama ini.


Berapa lama kemudian Jason kembali keluar, Wulan yang melihatnya ikut membuntuti.


Dia tidak suka melihat seorang lelaki begitu kasar terhadap wanita, apalagi wanita tua.


Terlebih lelaki kasar itu adalah suaminya, dia sungguh benci.


"Baik, Tante boleh tinggal disini, tapi jangan pernah berbuat macam-macam pada semua yang ada disini terutama Rayyan, karena saya tidak segan-segan akan menyeret Tante keluar dari rumah ini dan memasukkan Tante ke dalam penjara lagi," ucap Jason dengan tegas.


"Terimakasih jas, Tante janji nggak akan menyakiti kamu lagi,"ucapnya sambil meraih tangan Jason, tapi lelaki itu dengan cepat menarik tangannya.


"Terimakasih ya nak,"ucapnya kini terhadap Wulan yang berdiri di belakang Jason, Wulan mengangguk kemudian tersenyum tulus.


Sarah menjinjing tas besar di kedua tangannya, dengan mantap wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Jason.


Matanya berkeliling dan menyapu seluruh ruangan, bayangan Andini berkelebat di benaknya, membuat cairan panas lagi-lagi luruh melewati pipi keriputnya.


Dengan cepat tangannya menghapus air mata itu,


'mama akan membalaskan semua penderitaan kamu Andin, mama bersumpah akan membuat keluarga ini hancur,' batin Sarah bergejolak bagai ribuan api yang menyala.


πŸ’–ENDπŸ’–

__ADS_1


__ADS_2