
Wulan sedang meminum susu hamilnya dan juga vitamin. Sementara sang suami sibuk memakai jas di sampingnya.
"Oh iya, aku sampai lupa," ujar Jason sambil mengaduk-aduk isi tas kerjanya.
"Ini," lanjutnya sambil mengulurkan amplop undangan berwarna merah keemasan.
"Apa ini mas?" Wanita itu meletakkan gelas di meja dan mulai membuka kertas yang cantik itu.
Baru saja dia membaca nama-nama yang tertera di sana, Wulan tersedak sampai terbatuk-batuk keras.
"Pelan-pelan, sayang." Jason mengusap-usap punggung sang istri.
"Mas, ini beneran?" Mata Wulan yang membulat lebar meminta kepastian jawaban dari sang suami.
"Akupun sama terkejutnya kemarin, tapi pak Johan sendiri yang kasih itu ke aku, jadi nggak mungkin salah."
"Ta-tapi, mas ibram??" Wulan masih tak habis pikir, dan Jason mengangguk sambil mengangkat alisnya.
"Kok bisa?" Wanita itu masih tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Bianca dan ibram akan menikah?
"Entahlah, aku juga gak ngerti. Kalau kesehatan kamu belum pulih, kita gak perlu datang gak apa-apa, aku gak mau datang sendiri ke sana." Jason tak begitu ambil pusing, dia terkejut tapi tidak seterkejut istrinya seperti saat ini.
"Dua Minggu lagi," gumam Wulan sambil terus menatap nama yang terbubuh dalam lembaran kertas itu. Bukan apa-apa, dia hanya tak menyangka.
**
"Ray, cerita dong sama bunda, sebenarnya telinga Ray kenapa?" Wulan menyisir rambut lurus nan tebal bocah itu.
__ADS_1
Rayyan diam, matanya yang jernih takut-takut menatap pada Wulan dari pantulan kaca di hadapannya.
"Kok diem aja sih sayang? Sebenernya telinga Ray bisa biru begini kenapa? Kamu jatuh?"
Rayyan menggeleng, membuat Wulan semakin bingung lantas apa alasan yang sesungguhnya.
Wulan membalik tubuh bocah itu dengan lembut menghadap padanya.
Wanita itu tersenyum, "Ray, Ray tahu kan, Ray boleh cerita semuanya sama bunda, pasti bunda dengerin. Ray gak perlu takut, bunda gak akan marah, bunda cuma mau tahu aja," lanjutnya sambil menyelipkan rambut kecil Rayyan yang sudah sedikit menutupi telinga itu.
Rayyan mengangguk takut-takut. "Sebenarnya telinga aku....."
"Rayyan, udah siap-siapnya nak? Yuk Oma anter sekolah." Tiba-tiba Sarah muncul dari pintu.
"Sebentar Tante, ada yang Wulan lagi omongin sama Rayyan." Wulan tersenyum halus sambil kembali menatap ke arah Rayyan di hadapannya.
Sementara mata Rayyan terlihat sedikit ketakutan sambil menatap Sarah yang berdiri di dekat pintu sambil tersenyum. Bibirnya tersenyum, tapi matanya menatap tajam pada bocah itu.
Rayyan masih ingat betapa sakit dan pedihnya kemarin saat telinganya itu dijewer dan sedikit dipelintir oleh sang Oma.
"Telinga aku...."
"Oh, itu kemarin kena sudut meja Wulan, dia lari-larian di dalam rumah, udah Tante kasih tahu, tapi masih juga ngeyel." Sarah mendekat kemudian mengelus kepala Rayyan, sampai bocah itu menatapnya.
"Bener begitu sayang?" Wulan memastikan.
"I-iya bunda," jawabnya lirih.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati ya sayang, jangan lari-larian, dengerin apa kata Oma, kalau jatuh atau terantuk meja kaya begini kan sakit."
Rayyan menganggukkan kepala, kemudian menatap Wulan dan Sarah bergantian.
Sarah tersenyum sangat manis pada sang cucu, kemudian meraih bocah itu untuk turun sarapan dan berangkat sekolah.
"Kamu udah sarapan Wulan? Kalau belum, Tante bikinin jus ya," tawarnya.
"Wulan udah minum susu Tante, nanti Wulan ambil sendiri ke bawah."
"Ya udah kalau gitu, Tante mau siapin Rayyan buat sarapan terus ke sekolah dulu."
"Assalamualaikum bunda," ucap Rayyan yang rasanya enggan meninggalkan Wulan dan pergi dengan Sarah.
**
"Jadi apa rencana nyoya bos sekarang?" Seorang lelaki berbadan sedikit berisi, berkulit sawo matang dengan tato kalajengking di pergelangan tangannya itu mengisap rokok dalam-dalam dan mengembuskan asapnya tepat di depan wajah Sarah.
Wanita paruh baya itu tampak tengah berbincang dengan lelaki yang berpenampilan mirip preman. Setelah mengantar Rayyan ke sekolah, disinilah dia sekarang. Tengah menyusun rencana licik dan jahat yang selalu berputar di otaknya yang kotor dan menjijikkan.
"Kalau ada kesempatan, celakai dia, apapun caranya." Sarah menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap tak ada siapapun yang melihat ataupun mengenalnya.
"Tapi kapan kesempatannya nyonya bos? Bukannya perempuan itu gak pernah keluar rumah." Lelaki bertato yang bernama Firman itu menjatuhkan puntung rokok ke tanah lalu menginjaknya hingga bara itu mati.
Sarah tersenyum licik. "Tunggu aba-abaku selanjutnya."
"Oke, yang penting jangan lupa bayarannya." Lelaki itu menjentikkan jari di depan wajah Sarah.
__ADS_1
"Kalau rencana ini berhasil, Jason pasti hancur. Dan menguasai asetnya bukan hal yang sulit, apalagi Rayyan sudah berada di bawah kekuasaanku. Semua milik Raymond akan jatuh ke tangan Rayyan, ke tanganku."
--