
Kehamilan Wulan memasuki bulan kedua, morning sickness yang dialaminya setiap pagi membuat tubuhnya kian mengurus.
Meski begitu, hal itu justru membuat Jason semakin mencurahkan kasih sayang dan perhatian setiap harinya.
Kehadiran Sarah yang belum bisa diterima sepenuh hati oleh Jason tidak mengurangi fokusnya terhadap kondisi kehamilan sang istri.
Jason tetap memperhatikan setiap gerak gerik wanita paruh baya itu.
Tidak bisa dipungkiri, Jason tidak bisa percaya begitu saja dengan perubahan yang berusaha Sarah tunjukkan.
Hampir satu bulan Sarah tinggal bersama keluarga kecil Jason.
Dengan gigih wanita itu mendekati Rayyan, cucu satu-satunya yang dia miliki.
Bocah kecil berkulit bersih, dengan mata dan hidung mirip Andini.
Setiap kali Sarah menatap wajah polos Rayyan, setiap kali itu pula bayangan Andini berkelebat di benaknya.
Bocah itu membingkai kenangan wajah Andini masa kecil.
Membuat luka akibat kehilangan putri kesayangannya itu kian hari kian parah setiap kali menatap wajah bocah itu.
Menyiksa setiap sudut hatinya yang mulai menghitam akibat dendam, tentu dendam yang dia ciptakan sendiri.
Tapi dia harus bersabar, mungkin belum saatnya.
Saat ini hanya bagaimana caranya untuk bisa mengambil hati Rayyan dan Wulan, dan semakin lama rencananya untuk menghancurkan Jason akan segera terwujud.
Ya, wanita itu harus bersabar.
***
"Huweeekk...huweeekkk..."
Entah sudah berapa kali sepagi ini wulan mondar-mandir ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.
Bukan makanan, melainkan cairan pahit berwarna kuning kehijauan yang menyiksa membuat perutnya bergejolak setiap pagi mulai tiba.
Jason menggeleng setiap kali mengikuti langkah kaki istri tercintanya menghambur ke kamar mandi.
Dengan telaten memijit tengkuk wanita itu, berharap dapat mengurangi sedikit saja mual yang diderita sang istri.
"Sudah enakkan?" Tanyanya ketika Wulan mulai bangkit terengah-engah.
Wanita itu hanya menggeleng lemah, matanya memerah dengan dihiasi sedikit airmata di sudut matanya.
Ingusnya pun hampir meleleh setiap kali rasa mual mendorong hingga kerongkongan.
"Kita ke dokter, minta obat anti mual yang lebih bagus dari kemarin?" Tawar Jason pada sang istri yang kelihatan begitu payah, membuat Jason kini khawatir.
"Gak usah mas," Wulan menggeleng sambil menutup hidung dan mulutnya dengan tangannya.
__ADS_1
Sementara tangannya yang satu lagi mendorong dada sang suami, membuat tubuh yang lebih tinggi dari dirinya itu mundur beberapa langkah.
"Mas, aku gak suka bau parfum kamu yang ini," ucapnya masih tetap menutup hidungnya.
Bau parfum mahal yang baru saja Jason beli itu membuat kepala Wulan pusing dan perutnya kian bergejolak.
Sementara Jason mendesah, bahkan ini sudah parfum keenam bulan ini.
'yah, alamat dibuang lagi' bisiknya dalam hati.
Ya, Wulan selalu terganggu dengan bau parfum yang Jason gunakan.
Membuat lelaki itu membeli parfum dengan aroma lain, berharap sang istri tidak terganggu dengan baunya.
Tapi nihil, semua bau-bauan rasanya selalu salah di Indra penciuman Wulan.
Bahkan sabun dan parfum yang biasa Wulan gunakan pun rasanya baunya mendadak menyengat dan membuatnya pusing.
Hanya sabun bayi yang bisa diterima oleh hidungnya.
Membuat Jason mau tidak mau harus memakai sabun yang sama jika tidak ingin diusir oleh Wulan saat berdekatan.
'sabar...kata dokter hanya sampai bulan ke empat, paling lama bulan kelima' desah Jason dalam hati.
"Kamu yakin tidak mau ke dokter lagi," tanya Jason.
Wulan hanya menggeleng, masih setia menutupi hidungnya.
Wulan hanya mengangguk, sambil ekor matanya mengikuti langkah kaki sang suami, hingga punggung Jason hilang di balik pintu kamar.
Wulan menarik nafas panjang, seolah ingin mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya.
Rasanya semua bau wewangian berubah begitu memuakkan di hidungnya.
Wanita itu merebahkan tubuhnya, menanti bi Irah yang akan membawakan sarapannya.
'tok...tok...tok...'
Pintu kamar terdengar diketuk saat Wulan mulai hpir terlelap.
Rasa lelah membuatnya mengantuk dan hampir terlelap.
Wulan beringsut, kemudian meletakkan kepalanya di kepal ranjang.
"Masuk Bi Irah," jawab Wulan untuk seseorang di Bali pintu.
Pintu dibuka menampilkan seorang wanita paruh baya dengan baki penuh berisi semangkuk bubur, segelas susu dan potongan buah.
"Permisi nak Wulan, Tante bawakan sarapannya," ucapnya sambil tersenyum semanis mungkin.
Terlihat Sarah masuk membawa baki dan mendekat ke ranjang dimana Wulan tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Terimakasih Tante, seharusnya Tante gak perlu repot-repot, kan ada bi Irah," ucap Wulan terasa begitu sungkan.
"Gak papa nak Wulan, Tante yang mau, lagipula bi Irah lagi sibuk beberes di bawah," terangnya masih dengan senyuman.
Sarah mendekat ke arah Wulan, menyodorkan nampan berisi sarapan itu dihadapannya.
"Terimakasih Tante, Wulan makan ya," ucap Wulan sambil menerimanya.
Wulan menusuk sepotong buah melon dengan garpu dan mulai memasukkan kedalam mulutnya.
Potongan buah yang segar sedikit mengurangi rasa pahit yang timbul di mulutnya.
"Tante sudah sarapan?" Tanya Wulan masih terus mengunyah isi mulutnya.
Sarah mengangguk sambil tersenyum, kemudian duduk di tepi ranjang wulan.
Tangannya yang keriput terjulur maju menepuk dan mengelus perlahan tangan wulan, cukup membuat Wulan terkesiap.
"Terimakasih ya nak Wulan, karena kamu sudah baik pada Tante selama Tante disini. Tante senang sekali akhirnya diijinkan untuk tinggal disini bersama kalian.
Dekat dengan Rayyan cucu Tante satu-satunya," ujar Sarah sambil tersenyum meski dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Tante, Tante berhak untuk bisa dekat dengan cucu Tante," jawab Wulan sambil berganti mengusap punggung tangan keriput itu.
"Terimakasih ya nak, kamu memang wanita berhati mulia, Kamu memang pantas untuk menggantikan peran Andini sebagai ibu di hidup rayyan, Tante senang sekali," ucap Sarah sambil berderai airmata.
"Dan kalau boleh, apa Tante boleh menganggapmu sebagai anak Tante? Dan anggap Tante ini sebagai ibu kamu, kita bisa berteman baik kan?" Ujar Sarah dengan mata berbinar sambil menggenggam kedua tangan Wulan.
Wulan tersenyum hangat, kemudian memeluk wanita paruh baya dihadapannya itu.
Semua sudah berlalu, Wulan tidak akan membiarkan wanita tua yang sudah berubah ini merasa sendirian.
Wulan akan menjaga dan menyayanginya seperti dirinya menyayangi ibunya sendiri.
Sarah membalas pelukan Wulan, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Dengan sorot mata tajam yang sulit untuk diartikan.
💖💖💖
Author notes:
Hallo semua, akhirnya author memutuskan mau gas tipis-tipis nih kelanjutan Wulan - Jason.
semoga masih ada yang mau baca ya!!
ditunggu like, komen, VOTEnya ya...
karena dukungan pembaca setia sangatlah berarti untuk saya.
terimakasih banyak ya!! 💖💖
__ADS_1