My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps.75


__ADS_3

"nduk...gimana kok diem aja?" Tanya Bu Siti menyadarkan Wulan dari pikirannya.


"Itu...Wulan juga belum bisa jawab sekarang Bu, pak" jawabnya sedikit berpikir.


"Kenapa Wulan?" Tanya Jason dengan tatapan sedikit kecewa.


"Saya minta waktu tuan, eh maksud saya...emmhh..." Wulan mendadak kebingungan harus memanggil Jason dengan sebutan apa.


Selama ini gadis itu terlalu nyaman dan terbiasa memanggil Jason dengan sebutan tuan.


Maka ketika situasinya sudah berubah hal itu terasa aneh juga.


"Mas...panggil mas saja." jawab Jason mengerti kebingungan yang Wulan pikirkan.


"Ehh...ah iya itu, saya minta waktu untuk berpikir dan menjawab soal itu tuan...ehh..anu mas." jawab Wulan mendadak kikuk dan kaku.


Wahyuni tergelak melihat tingkah kakaknya yang polos dan konyol karena gugup itu, dengan kedua tangannya gadis itu berusaha menutup mulutnya sendiri yang tidak bisa diajak kompromi untuk tetap diam.


Mau bagaimana lagi? Hal itu terlalu lucu di matanya.


"Ehhmm, baiklah kamu tidak harus menjawab soal lamaranku itu hari ini. Tapi besok aku minta kamu jawab ya!" Kata Jason dengan senyum manis.


"Apa?? Kenapa besok tuan...ehh mas?" Wulan panik.


Gadis itu jadi sebal sendiri karena tidak bisa menyebut Jason dengan sebutan yang benar.


Meskipun dia mencintai Jason, tapi berada di bawah bayang-bayang status sebagai majikan dan pekerja selama beberapa bulan terakhir ini membuatnya tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu secepat kilat.


"Karena aku mau jawaban itu secepatnya, kalau memang hari ini tidak bisa jadi aku minta besok." terang Jason.


Wulan kebingungan, bagaimanapun pernikahan itu adalah hal yang perlu dipersiapkan matang-matang.


Mempersiapkan mental tidaklah segampang dengan ucapan 'iya' semata.

__ADS_1


Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan, momentum sakral yang hanya sekali seumur hidup, setidaknya itulah yang dicita-citakannya.


Tapi lebih dari itu! Apakah dia siap untuk menghadapi semua perubahan yang mungkin bisa terjadi di hidupnya setelah pernikahan?


Terlebih lagi, meski sudah jelas bahwa Andini hanyalah kakak ipar Jason, tapi Wulan tahu wanita itu sungguh mencintai Jason.


Dengan memutuskan untuk menerima lamaran ini artinya Wulan juga harus sudah siap untuk menghadapi Andini dan kemurkaannya yang mengerikan.


Sejujurnya Wulan juga kasihan terhadap perempuan itu.


Dengan kondisinya yang seperti itu, pastilah dia tertekan.


Terlebih diabaikan oleh seseorang yang sangat dia cintai.


Tapi jika mengingat perlakuannya yang buruk pada dirinya, terlebih pada putranya yang masih kecil itu tidak dipungkiri, Wulan juga sangat kesal.


Aahhh, dia juga melupakan Rayyan.


Bagaimanapun selama ini Rayyan menganggap dan mengenali Jason sebagai ayahnya.


Hemm, Wulan jadi berpikir apa Rayyan bisa menerimanya sebagai ibu??


"Bagaimana, bisa?" Tanya Jason membuat Wulan tersentak dari pikirannya yang berlarian kesana-kemari.


"Maaf, kalau tiga hari bagaimana?" Tawar Wulan.


Sebenarnya ada banyak yang ingin Wulan tanyakan pada Jason.


Tentang Rayyan, tentang Andini dan semuanya.


Tapi dengan kehadiran keluarganya seperti itu dihadapan mereka membuat Wulan mengurungkan niatnya.


Wulan tidak cerita apapun mengenai kejadian di rumah Jason pada orangtuanya.

__ADS_1


Jika mereka sampai tahu tentang semuanya, dan perlakuan kasar yang Wulan terima selama ini dari andini, ahh Wulan tidak bisa membayangkan .


"Iya baiklah, tiga hari lagi aku kesini. Aku mau mendengar langsung jawaban kamu" Jason akhirnya mengalah.


"Pak, Bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu." Pamit Jason kepada kedua orang sepuh itu.


Hari sudah beranjak malam ketika mobil yang Jason dan Herman tumpangi menjauh dari halaman rumah Wulan. Si gadis desa yang tidak tahu mimpi apa telah dilamar oleh lelaki impiannya.


***


Malam ini Wulan tidak bisa memejamkan mata barang sekejap saja.


Perasaannya terombang-ambing oleh banyak hal.


Di satu sisi tentulah dia bahagia, ini adalah impian yang menjadi kenyataan.


Tapi di satu sisi ada orang lain yang pasti akan terluka.


Wulan mendesah perlahan, dia benci menjadi terlalu lemah. Kenapa sekali saja tidak bisakah dirinya bersikap egois, cukup memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dan lupakan tentang orang lain.


Tiga hari waktu yang tidak panjang untuk berpikir.


Membuat gadis itu banyak melamun.


Wulan benci menjadi dirinya yang terlalu over thinking.


"Nduk, jadi apa keputusanmu? Besok pagi nak Jason janji datang untuk minta jawabanmu" Bu Siti menyentuh bahu putrinya yang tengah melamun di depan tungku.


Gadis itu tengah memasak air dengan sebuah tungku. Tangannya memainkan kayu bakar yang ujungnya terbakar membara.


Pikirannya sedari tadi tidak tenang, benar kata ibunya besok Jason akan datang meminta jawaban.


Jawaban Wulan akan menjadi penentuan masa depan hubungan mereka.

__ADS_1


"Sebenarnya Wulan masih bingung Bu, tapi InshaAllah Wulan sudah punya jawaban untuk itu" jawab gadis itu menatap ibunya dengan mantap.


__ADS_2