
"kamu baik-baik aja, sayang?" Tanya Jason sambil menggenggam tangan istrinya. Selang infus menempel di lengan perempuan itu. Dan selang oksigen menempel di hidungnya.
"Aku gak apa-apa, mas." Wulan menjawab dengan lirih, napasnya sedikit tersendat.
"Sebenarnya apa yang terjadi sebelum ini Wulan? Kenapa kamu sampai seperti ini?" Lelaki itu menatap sang istri dengan berkecamuk, khawatir sedih dan menyesal.
"Aku sendiri gak tau, mas. Sepertinya aku gak ngapa-ngapain kok, aku gak melakukan hal berat. Aku juga gak makan aneh-aneh." Perempuan itu mengernyitkan dahinya, mengingat semuanya serta menahan rasa pusing dan lemas yang masih mendera.
"Kamu yakin kamu gak makan apapun?" Tanya Jason. Wulan berpikir sesaat kemudian menggeleng.
"Kemarin sejak pagi aku belum sempat sarapan, mas. Aku cuma minum jus, itupun keluar karena aku muntah seperti biasanya.
"Jus apa?" Jason bertanya.
"Jus mangga biasa, mas. Tante Sarah yang bawain ke kamar." Wulan mengelus perlahan perutnya yang telah sedikit mengembang karena janin yang terus tumbuh di dalam sana.
Wajah lelaki itu kembali mengeras. Dia tak menyahuti ucapan sang istri. Pikirannya mendadak tidak berada di tempat itu.
"Yang terpenting semuanya baik-baik aja kan mas? Alhamdulillah anak kita baik-baik aja, iya kan sayang?" Ucap Wulan beralih dari suaminya kemudian pada calon bayi yang bergelung di perutnya itu.
Jason terdiam, tak mendengar apa yang sang istri katakan.
__ADS_1
"Iya kan mas?" Ulangnya
"Aahh, i-iya, yang terpenting semua baik-baik saja sekarang. Ini yang terakhir kali, jangan sampai terulang lagi di kemudian hari." Ucapnya menatap lurus ke depan.
**
"Ray, makan dulu dong." Sarah menyodorkan nasi dengan lauk kesukaan Rayyan di depan bocah itu.
Rayyan menggeleng, sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Mata bocah itu terus menatap tablet yang tengah menampilkan kartun kesukaannya.
"Tapi ini udah siang, sebentar lagi kamu telat masuk sekolah." Sarah mendadak gusar karena bocah itu terus menolak makan.
"Tapi kamu harus makan, kamu jangan bantah Oma dong. Kemarin kamu udah ngelewatin makan malam, pagi ini harus sarapan."
"Gak mau!" Teriak bocah itu kemudian beringsut menjauh.
Sarah mengehela napas menahan kesal. "Ya udah kalau gitu minum susunya aja." Perempuan paruh baya itu menyodorkan segelas susu putih pada sang cucu.
"Emmhh," sahut Rayyan sambil menggeleng dan menutup bibir dengan kedua tangannya.
"Ray, kamu jangan bikin Oma kesel ya. Oma gak suka kalau kamu bantah Oma seperti ini. Makan sekarang, atau minum susunya." Wajah Sarah memerah karena marah. Dia yang selalu memanjakan Rayyan akhir-akhir ini, secara tidak langsung dia sendiri yang menciptakan kepribadian Rayyan yang memberontak seperti sekarang. Tapi kenapa dia sendiri yang kesal.
__ADS_1
"Gak mau, Oma. Gak mau," jerit Rayyan.
Tangan keriput wanita itu terjulur dan kemudian meraih telinga Rayyan dan menjewernya hingga membuat cuping telinganya memerah. Rayyan menangis keras. Beruntung di rumah tak ada siapapun, hanya ada Bi irah yang sibuk di dapur bawah.
Sarah menyeret tubuh Rayyan kecil yang menangis ke kamar mandi. Kemudian memasukkan bocah itu ke sana dan menguncinya.
"Buka Oma, buka." Rayyan menggedor-gedor pintu kamar dengan tangan kecilnya.
"Kalau kamu gak mau dengerin kata Oma, kamu Oma kunciin di sana biar kamu dimakan tikus sama kecoa."
Rayyan menangis keras sambil terus memukul-mukul pintu dengan tangannya sampai memerah. Sarah memijit pelipisnya sambil berdiri di depan pintu kamar mandi. Wanita itu menghela napas berkali-kali, dia benar-benar hampir hilang kesabaran. Tapi dia tak boleh gegabah berbuat sesuatu seperti ini.
'ceklek' pintu kamar mandi itu terbuka, Rayyan menatapnya dengan wajah yang banjir air mata. Sarah kemudian meraih bocah itu dan memeluknya.
"Maaf, maafin Oma, Oma marah karena kamu gak mau dengerin apa kata Oma. Asal Ray gak nakal lagi, Oma gak akan berbuat seperti itu. Ngerti?" Masih saja perempuan itu menyudutkan Rayyan. Sementara bocah kecil itu hanya mengangguk dan masih terus menangis.
"Sekarang kamu diem, udah gak usah nangis lagi," ucapnya sambil mengusap pipi gembul bocah itu yang basah.
"Dan satu lagi, jangan bilang sama siapapun soal ini ya, apalagi sama ayah." Matanya menatap Rayyan tajam meski tangannya mengelus lembut pipi dan wajah bocah itu.
*
__ADS_1