
Hari ini adalah satu hari yang membuat hari-hari Wulan selama sebulan sebelumnya terasa berjalan lambat.
Hari yang membuat jantungnya kian berloncatan bahagia hanya dengan membayangkannya saja.
Hari masih sedikit gelap, bahkan mentari baru saja mengintip di ujung timur, ketika indah tiba-tiba sudah sampai dan mengetuk pintu kamar gadis yang baru saja menanggalkan mukenanya itu.
Subuh sudah berlalu, tapi Wulan masih setia bersimpuh dan berdzikir untuk meminta kelancaran dan kemantapan hatinya untuk sebuah hari paling bersejarah di hidupnya ini.
"Wulan?!" Indah memanggil di balik pintu.
"Iya mbak" jawab gadis itu membuka pintu kamarnya.
Indah datang bersama dengan dua orang MUA profesional yang akan mempercantik Wulan di hari spesialnya ini.
Di tangannya indah membawa kebaya yang masih terbungkus plastik dengan rapi. Sebuah kebaya brukat berwarna putih tulang yang cantik khusus dipesan untuk Wulan.
Meski masih pagi, suasana rumah Wulan sudah begitu riuh.
Tetangga dan kerabat datang membantu mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan.
Halaman rumahnya yang kecil pun tak lupa disulap menjadi indah dan berbeda.
Sebuah tenda berwarna-warni, dengan kursi pelaminan yang dipenuhi ornamen bunga dan hiasan khas Jawa.
Pernikahan yang membuat seluruh kampung membicarakan betapa beruntungnya gadis itu.
Yang mungkin kisah hidupnya mirip seperti dongeng Cinderella.
Membuat gadis gadis lain sebayanya memimpikan hal yang sama.
Wulan yang beruntung! Begitulah yang mereka katakan.
Kedua wanita yang berprofesi sebagai make up artist tersebut mulai memainkan jemari mereka.
Menjadikan wajah Wulan yang cantik alami sebagai kanvas atas maha karya yang akan mereka hasilkan.
Tidaklah sulit mempercantik gadis yang memang sudah terlahir dengan kacantikan natural seperti Wulan.
Wulan tertegun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Wajahnya tersipu, tak pernah terbayangkan hari ini akan benar-benar tiba.
Semua impiannya selama ini sudah terbayang di depan mata.
Jantungnya berdebum tidak karuan, tapi senyuman tanpa sadar tersungging di wajah ayu itu.
Drrrtttt....drrtt....
__ADS_1
Smartphone keluaran lama yang sudah mulai butut dan ketinggalan jaman itu bergetar di meja hadapannya.
Dengan wajah masih tegak mengikuti arahan periasnya, tangan Wulan mulai meraba pada benda pipih berwarna putih pudar itu.
Gadis itu membuka sebuah pesan yang baru saja masuk.
Matanya menatap setiap kata yang terangkai disana.
Wulan tertegun untuk sesaat, senyum di wajahnya menghilang. Mendadak gadis itu muram.
'selamat atas pernikahan kamu dan Jason, semoga kamu bahagia. mungkin aku tidak akan datang. Semua ini terlalu menyakitkan buatku' ~ibram.
Tanpa menghiraukan kedua wanita yang masih berkutat mempercantik dirinya di hari istimewanya itu.
Wulan justru melamun, pikirannya buntu, tidak tahu harus menjawab apa pada pesan di ponsel yang dia genggam erat-erat itu.
Ibram lelaki yang baik, dan wulan tahu itu dengan pasti.
Dia telah menganggap Ibram sahabatnya, satu-satunya orang yang mau mendengarkan dirinya disaat tidak ada siapapun di kota yang jauh dari kampungnya.
Dia tidak berharap lebih selain persahabatan mereka.
Tidak juga rasa yang Ibram rasakan untuk Wulan.
Wulan tidak bisa menerima itu, tapi juga tidak ingin Ibram terluka seperti saat ini.
Wulan termenung, disaat hari membahagiakan seperti ini, mengapa Ibram yang telah dia anggap sebagai kakak justru tidak berbahagia?
Sementara itu,
Ibram membanting handphonenya keatas ranjang.
Tangannya meremas sebuah undangan berwarna keemasan, kemudian melemparnya dengan amarah dan kekecewaan.
Lelaki itu tidak pernah berpikir akan berakhir semenyedihkan ini.
Tidak pernah sekalipun terbayangkan, hatinya akan sesakit dan sehancur ini.
Seharusnya sejak awal dia tahu bahwa hati Wulan tidak pernah ada untuknya.
Seharusnya hari itu dia mengerti. Hari dimana ketika dirinya menyatakan cinta pada wulan di restoran cepat saji ketika hendak mengantarkan Wulan ke stasiun kereta pagi itu.
Harusnya dia sadar saat itu ketika Wulan melepas genggaman tangannya, bahwa kesempatan itu tidak akan pernah ada untuk dirinya.
"Maaf mas, tapi Wulan sudah anggap mas Ibram seperti kakak Wulan sendiri. Wulan menyayangi mas Ibram sebatas itu, maafin Wulan ya mas"
Kata-kata gadis itu masih terngiang jelas di telinganya hingga detik ini.
__ADS_1
Awalnya Ibram masih yakin, akan ada kesempatan untuknya meyakinkan Wulan dan membuktikan semuanya.
Tapi ternyata dia tidak sekuat itu ketika undangan pernikahan Wulan dengan lelaki yang tak lain adalah Jason sampai di tangannya.
Hatinya terkoyak begitu dalam, dia tidak akan sanggup melihat itu semua.
Berulang kali Ibram mengacak-acak frustasi rambutnya sendiri.
Matanya yang sipit menatap nanar dan memerah.
Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana, semangatnya mendadak hilang.
Bahunya yang kokoh terasa begitu lemah kali ini, merosot seperti tanpa tenaga.
Lelaki itu bersandar dalam keputus asaan.
***
"Mbak, sudah siap belum?" Tanya Yuni yang mengintip di balik pintu kamar Wulan yang terbuka sedikit.
"Sudah dek." Jawab Wulan sambil memalingkan wajahnya menghadap ke arah adiknya berada.
"Walaaahh, mbak Wulan cantik banget e" ucap gadis remaja itu dengan mata yang membulat takjub.
"Kamu juga cantik lho pakai kebaya begitu dek" jawab Wulan tersenyum.
Ya, adiknya yang selalu ceria biasanya pecicilan dan tidak bisa diam itu mendadak tampak berbeda.
Dengan mengenakan kebaya berwarna kekuningan dengan rambut yang disanggul sederhana berhiaskan bunga, Wahyuni tampak cantik. Wajahnya juga dirias dengan make up yang flawless sangat cocok untuk gadis seusianya.
"Mbak, kalau begitu ayo cepetan siap-siap keluar. Sebentar lagi calon suami mbak sampai kan?!" Desak Wahyuni sambil menarik sebelah tangan Wulan.
"Iya, iya sebentar. Hati-hati dong Yuni" Wulan terpaksa mengikuti adiknya.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, satu jam lagi seharusnya akad nikah akan segera dilaksanakan.
Wulan menunggu dengan gugup dan tidak sabar calon suaminya yang tak kunjung datang.
Sebenarnya Jason beserta beberapa orang terdekatnya sudah sampai di kota tempat kampung Wulan berada sejak kemarin.
Mereka menginap di hotel terdekat demi keefektifan waktu.
Hati Wulan semakin berdebar tidak karuan, ketika terdengar iring-iringan suara mobil mulai memasuki area parkir yang tersedia di luar tenda.
Tetangga dan orang-orang kampung mulai mengintip seperti apa calon suami Wulan yang katanya orang kaya dan berwajah tampan itu.
Apakah itu dia telah datang?
__ADS_1
💖💖💖