
"assalamualaikum"
Sontak Wulan berdiri dari tempat duduknya, sambil masih melempar pandangan pada lelaki yang datang dari arah luar.
Lelaki dengan pakaian lusuh, peluh mengalir melewati wajah rentanya yang tampak lelah.
Tangannya menenteng sebuah caping, sementara bahu kanannya yang tidak lagi kokoh menopang cangkul yang kotor oleh tanah.
Tapi senyum hangat dan teduh mengembang menghiasi wajah sepuh itu.
"Wa'alaikumsalam, bapak" jawab Wulan menyambut kedatangan bapaknya. Jason ikut berdiri di belakang Wulan.
"Eh, ada tamu ya?!" Ucap lelaki tua itu mengarah pada Herman yang berada di teras.
Matanya kemudian tertuju pada anak gadis dan seorang lelaki yang lebih tampan dari yang sedang berada di luar.
Meski tersenyum, tapi ada sedikit kebingungan juga melihat penampilan tamu-tamunya yang tidak biasa itu. Terlebih sebuah mobil mewah terparkir di halamannya itu jelas milik mereka.
"Perkenalkan pak, saya Jason" ucap Jason berangsur mendekat sambil mengulurkan tangannya.
"Ahh iya, saya bapaknya Wulan. Maaf nak, tangan bapak masih kotor ini, Monggo silahkan dilanjut, bapak ke belakang sebentar" jawab lelaki sepuh dengan sorot mata teduh itu.
Wulan dan Jason tampak kembali ke tempat dimana mereka duduk sebelumnya, tapi mendadak rasa canggung meliputi keduanya.
Beberapa saat keduanya hanya terdiam salah tingkah.
"Emm Wulan, jadi bagaimana?" Tanya Jason akhirnya.
"Apanya tuan?" Jawab gadis itu pura-pura tidak tahu.
"Yang tadi, kamu belum jawab"
"Yang mana?" Mendadak Wulan ingin mengerjai Jason.
"Ck, yang tadi soal hubungan kita!" Jason berdecak sebal.
"Hubungan kita bagaimana?" Wulan memasang wajah serius seolah-olah tidak mengerti.
"Apa kamu mau menerima cintaku sekarang??" Jawab Jason sebal sambil mencubit pipi Wulan dengan gemas.
Gadis itu mendadak terkikik, menampilkan barisan giginya yang rapi.
Dengan tawa yang menawan, membuat Jason ikut tersenyum melihat pemandangan seindah itu.
Gadis itu benar-benar sudah mencuri seluruh hatinya.
__ADS_1
"Kamu ngerjain aku ya?" Tanya Jason pura-pura merajuk sambil kembali mencubit pipi Wulan yang menggemaskan itu.
"Iya, iya maaf, maaf tuan" jawabnya masih dengan tergelak.
Suasana yang tadinya tegang dan serius, kemudian mendadak canggung kini berubah menjadi cair dan menyenangkan.
Sebab batu besar yang mengganjal di hati mereka kini telah hilang.
"Iya tuan, saya mau" jawab Wulan dengan mantap, pipinya memerah Semerah tomat, senyum simpul menghiasi wajahnya yang cantik alami.
"Benar?" Mata jason melebar dan berbinar.
Wulan kembali mengangguk dengan mantap, dia tidak mau mendustai hatinya lagi.
Ini yang diinginkan oleh hatinya, dia wanita single begitupun Jason. Maka tidak akan ada yang bisa menghalangi cinta mereka lagi bukan?
--
"Bu, tamu di depan itu sopo? Temene Wulan??" Tanya pak Slamet, ayah Wulan saat masuk dan menjumpai istri dan anak bungsunya di dapur.
"Bukan temene pak, tapi majikane" jawab Bu Siti sambil menuangkan air teh dari dalam teko kedalam cangkir untuk suaminya.
Pak Slamet mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mau ngajak mbak Wulan nikah paling pak" Wahyuni menimpali sambil terkikik.
"Huss, sembrono kamu. Kamu itu masih kecil jangan sok tahu" tegur Bu Siti sambil melirik tajam ke arah anak gadis bungsunya yang semakin terkekeh.
"Ibu khawatir Wulan bikin salah, makanya sekarang lagi ditegur. Tuan itu bilang mau ngobrol berdua sama Wulan, barangkali serius pak" Bu Siti beralih pada suaminya.
"Wah jangan-jangan bener begitu Bu? Kita keluar saja Yo Bu, kita tanya wulan ada masalah apa sama majikannya. Kalau memang Wulan bikin salah, sebagai orang tua kita juga ikut minta maaf. Mereka itu kan orang kaya, kalau ada apa-apa nanti Wulan dilapor ke polisi bagaimana?" Pak Slamet mendadak ikut khawatir.
"Ndak mungkin lah pak, wong tuan Jason aja cinta sama mbak Wulan kok" Wahyuni lagi-lagi ikut nimbrung.
"Kamu ini kalau ngomong mbok ya dipikir, jangan asal mangap" kali ini Bu Siti benar-benar dibuat jengkel oleh wahuni.
"Ibu kalau dikasih tahu ngeyel, orang yuni denger sendiri kok" sungut Wahyuni tidak mau kalah.
"Wes, daripada tambah nglantur lebih baik kita keluar Bu, kita tanya baik-baik sama tuan itu" kata pak Slamet menengahi.
"Iyo pak, ayo" Bu Siti mengangguk setuju.
"Sebentar, bapak bersih-bersih dan ganti baju dulu" ucap lelaki tua itu sambil melangkah pergi.
---
__ADS_1
"Terimakasih ya Wulan" Jason tersenyum begitu menyejukkan.
"Untuk apa tuan?" Wulan mengernyit, sambil memiringkan wajahnya.
"Terimakasih karena sudah mau menerima cintaku" jawab Jason membuat gadis dihadapannya itu tersipu malu.
"Emmhh, terimakasih juga karena tuan sudah mau mencintai gadis seperti saya" balas Wulan sambil tertunduk, ya tidak bisa dipungkiri ada rasa tidak percaya diri disebagian hatinya.
"Seperti apa maksudnya?" Tanya jason, dia tidak suka melihat Wulan begitu merendah diri.
"Ya seperti saya ini, gadis miskin, gadis kampung" jawab Wulan sambil tersenyum masam.
"Hey, memang apa salahnya dengan gadis kampung? Wulan, aku tidak peduli kamu darimana, latar belakang kamu seperti apa. Kamu baik, dan kita saling mencintai itu sudah cukup. Jangan berpikiran seperti itu lagi" kata Jason sambil memegang kedua bahu Wulan, memaksa gadis itu menatapnya.
"Iya tuan" jawab Wulan lirih.
"Emmhh, satu lagi. Jangan panggil aku tuan, aku ini kekasihmu sekarang" ujar Jason sambil mencubit hidung Wulan dengan gemas.
Gadis itu tersenyum sambil memegangi tangan Jason yang berada di hidungnya, membuat Jason tertawa.
Seolah kini jarak diantara mereka benar-benar sudah hilang sepenuhnya.
Wulan hanya mampu tersenyum, bersyukur jika memang perbedaan status sosial mereka tidak berarti.
Gadis itu mengenyahkan pikiran tentang jarak antara dirinya dan Jason yang kontras bagaikan bumi dan langit.
Cinta mereka sudah lebih dari cukup untuk melawan dunia bukan? Semoga!!
"Nduk..." Suara pak slamet membuat sepasang kekasih yang masih sehangat kue yang baru keluar dari oven itu terkejut. (MashaAllah saya cuma pengen bilang pasangan kekasih yang masih baru jadian kenapa malah bawa kue dari oven, fresh from the oven 😜🤣)
"I..iya pak" jawab Wulan cepat sambil beringsut menjauh memberi jarak antara dirinya dan Jason.
Jason mengangguk sambil tersenyum canggung, entah apakah kedua orangtua Wulan sempat melihat adegan lebay yang baru saja terjadi atau tidak.
"Tuan..." Ucap pak Slamet sambil menunduk kemudian ikut duduk bersama di ruang tamu sempit itu, diikuti istrinya.
Kini mereka berempat duduk saling berhadapan.
Mendadak rasa tidak nyaman menggelayuti perasaan Jason. Bukan apa-apa, tapi wajah-wajah paruh baya di hadapannya mendadak menampilkan raut yang serius.
Apa jangan-jangan mereka melihat kemesraan antara dirinya dengan putri mereka dan kini mereka marah??
'Aduhh' batin Jason menelan ludahnya dengan susah payah.
💖💖💖
__ADS_1