My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
part. 06


__ADS_3

"Ray seneng nggak hari ini?" Tanya Sarah sambil memperhatikan cucunya itu duduk sambil melahap burger di salah satu restoran waralaba di mall tempat mereka menghabiskan waktu. Rayyan sudah puas bermain-main dengan berbagai permainan di time zone.


"Seneng, Oma," angguknya dengan antusias, mulut kecilnya terus mengunyah menyisakan saos dan mayonais mengotori sudut bibirnya.


Sarah tersenyum, mengelap bibir Rayyan dengan tissue. "Oma juga seneng kalau Ray seneng, kalau Ray mau, Oma akan sering-sering ajak kamu jalan-jalan seperti ini."


"Beneran Oma?" Mata bocah kecil itu berbinar.


"Iya," jawab Sarah dengan anggukan.


"Asyikk, Ray mau Oma." Teriaknya kegirangan.


"Ray tahu nggak? Keluarga kita cuma tinggal kita berdua. Papa kamu sudah meninggal, mama kamu sudah meninggal, bahkan opa kamu juga sudah meninggal bersamaan dengan mama kamu."


"Opa?" Tanya Rayyan membeo.


"Iya, opa kamu, papanya mama kamu, suami Oma," jelas Sarah."


"Oh, opa meninggal kenapa Oma? Sakit juga sama kaya mommy?" Tanya Rayyan polos.


Mendadak mata Sarah begitu panas, ada cairan hangat yang berdesakan ingin tumpah dari sana. Tangannya ingin segera menghapus sebelum air itu meluruh menjejaki pipi keriputnya yang menua, tapi terlambat.


"Oma kenapa nangis?" Rayyan kecil menghentikan makannya, menatap lurus sang nenek dengan bingung.


"Oma sedih, Oma ingat opa sama mama kamu," ucapnya dengan bergetar.


"Kenapa?"


"Karena mereka sudah meninggalkan Oma sendirian sekarang, mereka juga meninggalkan kamu."


"Opa meninggal juga karena sedih dan terkejut mendengar kabar mama kamu meninggal."

__ADS_1


Sarah menghela nafas, rasa sakit di dadanya begitu menyesakkan setiap kali teringat akan kehilangan anak dan suaminya dalm waktu yang bersamaan. Keluarganya habis dalam penderitaan, sementara Jason tengah berbahagia dengan bertambahnya calon keluarga barunya. Itu membuatnya begitu marah.


"Ray, cuma kamu yang Oma punya sekarang, Oma sangat sayang sama kamu, Oma gak akan pernah meninggalkan kamu, gak akan mengacuhkan kamu."


Rayyan terus menatap wanita tua yang berstatus sebagai neneknya itu, nenek yang baru dia miliki setelah sekian tahun tidak pernah dia jumpai. Awalnya Rayyan tidk suka pada Sarah, tapi waktu-waktu belakangan ini rasa simpatinya muncul bersamaan dengan pengacuhan Jason dan Wulan pada dirinya.


Mungkin benar, bahwa hanya Sarah-lah yang akan selalu menyayanginya.


"Rayyan mau kan, selalu dekat sama Oma? Jangan menjauh dari Oma? Karena cuma Oma yang sayang tulus sama kamu."


"Tapi ... Ayah sama bunda gimana, Oma?" Hati kecilnya tetap memikirkan tentang kedua orangtuanya.


"Ayah Jason itu cuma om kamu, sayang. Dan Wulan itu bukan ibu kamu, sampai kapanpun ibu kamu cuma mama Andini. Dan sebentar lagi mereka akan punya anak sendiri. Saat ini saja mereka sudah lupa sama Rayyan, kan? Padahal bayinya belum lahir. Bagaimana besok kalau bayinya sudah lahir?"


Rayyan menunduk, bocah kecil itu mulai terisak, hatinya sakit membayangkan hal yang mungkin akan terjadi kelak seperti yang dikatakan Sarah. Bagaimana kalau setelah dedek bayi itu lahir, ayah dan bundanya benar-benar akan melupakannya.


"Ray jangan nangis, ingat selalu apa kata Oma. Kamu gak sendiri, ada Oma yang akan selalu ada untuk kamu, karena cuma Oma yang akan terus menyayangi kamu sampai kapanpun. Kalau ayah dan bunda Wulan tidak perduli sama kamu, maka kamu juga tidak perlu perduli pada mereka, ngerti?"


Rayyan mengangguk lemah, pikiran bocah kecil itu dipenuhi bayangan bahwa kelak dirinya akan tersingkir oleh kehadiran anak Jason dan Wulan. Sejujurny Rayyan tidak ingin membenci siapapun, tapi kecemburuan di hatinya membuatnya membenci bayi kecil yang bahkan lahir.


Sarah menggandeng tangan kecil itu menyusuri jalan setapak di tengah pemakaman.


Sepasang cucu dan nenek itu duduk berjongkok di hadapan gundukan makam yang masih belum lama itu. Sarah mengguyur makam itu dengan air bunga, menaburkan bunga mawar dan putih menghiasi gundukan tanah merah tersebut.


"Andin, lihat mama datang tengokin kamu lagi, kali ini mama sama anak kamu." Bisiknya di hadapan nisan itu.


"Kamu jangan khawatirkan apapun lagi, mama akan jaga anak kamu baik-baik, dia pasti akan mendapatkan hak yang semestinya, dia penerus keluarga Hartono yang sah. Putra dari Raymond, anak pertama keluarga Hartono. Jason tidak akan bisa mengambil apa yang menjadi hak Rayyan, mungkin kita harus bersabar, karena Rayyan masih di bawah perwalian Jason. Tapi mama pastikan itu tidak akan lama lagi, Andin sayang." Batinnya dalam hati.


Sarah melirik cucunya yang tengah menaburkan bunga-bunga dari tangannya. Wanita tua itu tersenyum, kini Rayyan sedikit demi sedikit mendengarkan dirinya.


"Ray, sayang sama mama kan?" Tanya Sarah.

__ADS_1


Rayyan mendongak mendapati pertanyaan tersebut, "iya, Oma."


"Ray mau mama dan papa bahagia kan di sana?"


Lagi-lagi bocah itu mengangguk.


"Kalau begitu Rayyan harus patuh dan dengarkan apa kata Oma, karena Oma ini nenek kamu, ibu dari mama kamu. Oma akan melakukan yang terbaik untuk Rayyan."


"Iya, Oma."


"Dengerin Oma, mulai sekarang, kamu jangan terlalu dekat dengan bunda Wulan, karena dia sedang hamil."


Rayyan mengernyit, "memangnya kenapa Oma?"


"Karena orang hamil itu badannya gak enak, Rayyan gak mau kan kalau bunda Wulan sakit?" Bocah itu mengangguk mantap.


"Nah, mulai sekarang Rayyan jangan merepotkan bunda Wulan, kalau ada apa-apa bilang sama Oma, terlebih lagi kalau kamu bikin repot bunda, ayah Jason pasti marah. Kamu mau dimarahi ayah?"


"Nggak mau, Oma," jawabnya sambil menggeleng dengan wajah sedih.


"Kalau gitu, dengerin kata Oma ya? Mulai hari ini, kalau kamu butuh apa-apa, kamu perlu sesuatu dan terjadi sesuatu, orang pertama yang harus kamu cari adalah Oma, bukan yang lain. Ngerti?!"


"Ngerti, Oma."


Sarah tersenyum, kemudian mengelus perlahan rambut Rayyan. Biarlah kali ini dia menggunakan cucunya sendiri untuk sebuah kepentingan yang lebih besar. Menghancurkan Jason dan mengambil apa yang menjadi hak mendiang putrinya dan cucunya. Bukankah sejak awal itu tujuan utama sang suami dan dirinya menerima lamaran Raymond meski Andini tidak mencintainya?


Sarah sudah berkorban terlalu banyak, menghabiskan masa hidupnya di tahanan, hingga kehilangan suai dan anaknya. Maka dia tidak boleh berhenti sekarang, pengorbanannya selama ini tidak boleh menjadi hak yang sia-sia.


💖💖💖


Hai guys...ketemu lagi ya. maaf Hiatus tanpa kabarnya kelamaan. authornya lagi sibuk di platform ungu kuda terbang. ini mumpung yang disana ambil libur, makanya lanjut disini. semoga bisa sampai tamat.

__ADS_1


sepertinya ini gak akan banyak-banyak, sebentar lagi di tamatin kok. jadi jangan buru-buru emosi dan berhenti baca karena konfliknya gak selesai-selesai. karena ini sebentar lagi selesai.


see u next chapter ya? selamat berpuasa untuk yang menjalankan. apa banyak yang lupa ya, like komennya nurun drastis. huhu 🤧


__ADS_2