My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 64


__ADS_3

Tok..tok..tok..


"Neng, neng Wulan!! Tumben jam segini belum bangun neng?? Kita sarapan dulu yuk??!" Ucap bi Irah dari depan pintu kamar Wulan.


Tidak biasanya gadis itu belum keluar dari kamarnya sementara matahari sudah mulai mengintip di ufuk timur.


Wulan selalu membantu bi Irah sebelum memulai pekerjaannya sendiri, meskipun hanya berupa bantuan kecil menyiapkan bahan dan memotong sayuran.


Tapi pagi itu bi Irah tidak melihat batang hidung Wulan, mungkin gadis itu lelah.


Bu Irah bisa memaklumi jika Wulan kelelahan, terlebih kemarin dia menjaga tuannya di rumah sakit. Mungkin itu menyebabkannya kurang istirahat.


Tapi kenapa saat sarapan gadis itu belum keluar kamar juga? Bi Irah sedikit banyak merasakan kekhawatiran juga.


"Hwaaaa....hwaaa....ayaaaahhh! Mbak ulaaaannn!!" Suara teriakan dan tangisan Rayyan dari lantai atas pada akhirnya membuat bi Irah bergegas naik.


"Neng, den Rayyan udah bangun tuh" teriak bi Irah sambil menggedor pintu kamar Wulan sekali lagi sebelum akhirnya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar tuan kecilnya.


"Hwaaaa..." Tangis Rayyan semakin menjadi ketika melihat Bi Irah yang justru datang menghampiri, bukan ayahnya ataupun Wulan.


"Cup...cup..cup..den Rayyan jangan nangis, den Rayyan tenang dulu ya" kata bi Irah memenangkan sambil meraih tubuh mungil itu dalam gendongannya.


"Mbak ulan mana bi? Lay mau sama mbak ulan" teriaknya merajuk sambil merengek.


"Iya, iya, kita turun dulu kita bangunin mbak Wulan ya! Den Rayyan jangan nangis" terang bi Irah sambil mengusap airmata di kedua pipi gembul Rayyan.


Bocah kecil itu seketika mengangguk sambil mengucek kedua matanya dengan punggung tangan mungilnya.


Dengan segera bi Irah membawa Rayyan turun menuju kamar Wulan yang masih juga tertutup.


Tok...tok..tok...


"Neng, buka pintunya neng! Ini den Rayyan udah nungguin neng Wulan" teriak bi Irah semakin keras, berharap Wulan mendengar suaranya. Tidak biasanya gadis itu mengacuhkan panggilannya.


"Mbak ulaaan" teriak si kecil Rayyan.


Masih bergeming, tidak ada suara apapun dari dalam sana, tidak ada sahutan dari pemilik kamar itu.


Kemana Wulan? Apa yang terjadi?


"Bi, mbak ulan mana??!" Tanya Rayyan pada bi Irah yang sama-sama bingung.


"Neng, neng Wulan nggak kenapa-kenapa kan?? Bibi masuk ya neng?!" Ucap bi Irah sambil membuka Selor pintu.


KOSONG


Kamar itu benar-benar kosong, semua tampak rapi.


Selimut terlipat dengan rapi diatas bantal pun tertata begitu baik.


Sejak kapan Wulan keluar dari kamar itu.


"Mbak ulan mana bi?" Tanya Rayyan bingung dan hampir menangis.

__ADS_1


Kali ini bi Irah jauh lebih bingung dan mendadak begitu khawatir.


Kemana perginya gadis itu sepagi ini tanpa memberitahu siapapun.


Wulan bukan seorang gadis yang suka keluar dari rumah itu tanpa memberitahu siapapun.


Apakah dia kabur? Tapi kenapa?


Bi Irah menurunkan Rayyan, kemudian memeriksa almari kayu dikamar itu.


Tepat sesuai dugaan bi irah, lemari itu kosong tanpa ada selembar pakaianpun didalamnya.


Wulan, gadis itu benar-benar telah kabur.


"Ya Allah, neng Wulan pergi kemana? Kok nggak bilang-bilang?" Lirih bi irah sambil mengelus dadanya.


"Mbak ulan kemana bi? Hwaaa mbak ulaaannn" suara tangisan Rayyan akhirnya pecah mendengar ucapan bi irah barusan.


Bocah itu berteriak-teriak, membuat Jason mau tidak mau berusaha untuk keluar.


Jason yang sedang melatih dirinya sendiri untuk berjalan mengapit sebuah kruk di lengan kirinya berjalan dengan hati-hati menuju sumber suara tangisan keponakannya itu.


"Ada apa ini?" Tanyanya ketika telah sampai di kamar Wulan.


Terlihat bi Irah sedang berupaya menenangkan Rayyan yang menangis sambil terus menyebut nama Wulan.


Benar saja, Jason sama sekali tidak melihat keberadaan gadis itu.


Padahal sejak tadi malam, Jason berusaha merangkai banyak kata yang ingin dia bicarakan dengan gadis pujaannya tersebut.


"Pergi kemana Bi?" Mendadak Jason benar-benar khawatir, takut bercampur aduk.


"Bibi juga nggak ngerti tuan, sejak pagi sudah nggak keliatan. Biasanya pagi-pagi bantuin bibi di dapur, eh pagi ini nggak keluar dari kamar, makanya bibi coba masuk ternyata neng Wulan sudah nggak ada, pakaiannya juga nggak ada tuan" jelas bi Irah panjang lebar.


Tubuh Jason mendadak lunglai, kenapa Wulan pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit?


Kenapa Wulannya meninggalkan dirinya tanpa kata?


Apa kesalahannya? Baru saja dia bahagia karena ternyata Wulan juga mencintainya.


Tapi lihatlah sekarang, gadis itu pergi entah kemana.


"Tapi itu hapenya ditinggal tuan!" Ucap bi Irah membut Jason melempar pandangannya mengikuti telunjuk Bi Irah mengarah.


Smartphone pemberiannya di tinggal di atas meja begitu saja, bahkan gadis itu tidak membawa hadiah yang Jason berikan sebagai kenangan.


Tapi tunggu sebentar, apa itu?


Sebuah kertas terlipat dibawah ponsel yang dia tinggalkan.


Jason dengan susah payah mendekat dan meraih secarik kertas putih itu.


Lelaki itu duduk ditepian ranjang, kemudian dengan hati-hati membaca setiap baris kalimat yang tertulis rapi disana.

__ADS_1


Untuk tuan,


Maaf sebelumnya karena saya pergi tanpa pamit kepada tuan dan semua orang.


Saya mungkin tidak akan sanggup jika harus berpamitan langsung dengan tuan.


Terimakasih banyak atas semua kebaikan tuan dan keluarga ini kepada saya.


Dan... Terimakasih karena tuan mau mencintai gadis seperti saya ini.


Sejujurnya saya juga mencintai tuan, bahkan sangat mencintai tuan.


tapi saya tidak mau menjadi perusak rumah tangga tuan dan nyonya Andini.


benar yang nyonya katakan, kehadiran saya hanya menjadi penghalang hubungan tuan dan nyonya.


Bagaimanapun keadaannya nyonya Andini itu adalah istri tuan, jadi jangan mengkhianatinya tuan.


Saya memang harus mengalah dan pergi, demi kebaikan semuanya.


Saya tidak mau menyakiti hati den Rayyan, saya menyayangi den Rayyan dengan tulus.


Semoga tuan, nyonya dan den Rayyan dapat hidup bahagia selamanya.


Terimakasih,


Wulan.


Jason mencerna setiap kalimat yang tertulis disana.


Jadi selama ini Wulan telah salah paham tentang statusnya dengan Andini.


Semua menjadi masuk akal sekarang. Itulah yang menyebabkan sikap gadis itu berubah-ubah.


Jason tidak salah ketika melihat cinta Dimata gadis itu untuknya, ya itu memang sebuah cinta untuknya.


Tapi kenapa semua ini bisa terjadi??


"ANDIN!!" geram Jason dengan wajah memerah penuh amarah.


Tangannya mengepal sambil meremas surat itu dengan kuat.


Dia yakin ini semua ulah Andini, benar-benar sudah keterlaluan.


Dada Jason bergemuruh hebat, panas menjalari seluruh tubuhnya, matanya memerah karena amarah yang meluap hingga ubun-ubun.


Seolah tuhan mendadak memberi kekuatan padanya, Jason bangkit berdiri deng kruk terapit di lengannya Jason sekuat tenaga bergegas untuk menuju kamar wanita iblis itu, dia akan membuat perhitungan.


Rasa sakit ditubuhnya akibat kecelakaan tempo hari bahkan tidak dia rasakan.


Ya, Andini harus diberi pelajaran!!


Happy reading ya guys! gimana part ini seru nggak?

__ADS_1


mau yang lebih seru? tungguin up besok ya!!


😁✌️💖💖💖


__ADS_2