
"silahkan masuk" ucap Ibram tersenyum sambil membuka pintu unit apartemennya.
"Terimakasih mas" jawab Wulan sambil mengekori Ibram masuk.
Suasananya mengingatkan apartemen Jason yang pernah dia tempati beberapa waktu lalu.
Apatemen yang berada di gedung yang sama. Wulan mendesah lirih mengingat semua itu.
"Kamu mau minum apa?"
"Air putih saja mas" jawab gadis itu sambil duduk di sofa yang nyaman.
Ibram mengangguk kemudian berlalu menuju pantry, menuangkan air jernih kedalam gelas.
"Silahkan" katanya sambil menyodorkan gelas itu kepada Wulan.
Wulan mengangguk kemudian meraih gelas dari tangan Ibram, gadis itu meneguk air putih tanpa sisa.
Mengobati rasa dahaga yang sedari tadi menyiksa kerongkongannya.
"Jadi... Sebenarnya apa yang terjadi Wulan?" Tanya Ibram dengan tatapan lembut, wajah lelaki yang ramah itu mendadak serius.
"Sebenarnya..." Wulan mulai menceritakan semua yang terjadi, menceritakan penyebab keputusannya untuk pergi tanpa pamit dari rumah Jason.
Gadis itu berulang kali mengusap kedua matanya, mengusap airmata yang lolos tanpa permisi meski mati-matian dia tahan.
"Wulan tahu Wulan salah karena mencintai tuan Jason, mas. Tapi Wulan tidak bisa membohongi hati Wulan sendiri" ucap gadis itu disertai Isak tangis.
Mata Ibram membulat, sesuatu di dalam dadanya terasa begitu sakit, sakit sekali.
Lelaki itu terus menyimak semua yang Wulan ucapkan, tentang kenyataan bahwa wulan mencintai Jason dan begitupun sebaliknya.
Hatinya terasa retak, begitu pahit menerima setiap ucapan betapa Wulan mencintai lelaki itu, lelaki beristri itu.
Ibram baru saja hendak mengembangkan sayap cintanya pada Wulan, dan kini sayap itu patah sebelum berkembang.
Perasaannya terhadap gadis itu kian subur seiring berjalannya waktu, tapi nyatanya cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Wulan bisa terima kalau nyonya Andini marah seperti itu mas, kalau Wulan di posisi nyonya mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Itulah sebabnya Wulan pergi dari rumah itu" tukas gadis itu mengakhiri ceritanya.
Tangan Ibram terkepal kuat, membuat guratan di tangannya tercetak jelas.
Lelaki menjijikan macam Jason tidak pantas menerima cinta gadis sebaik Wulan.
__ADS_1
Karena Jason, Wulan harus menerima semua rasa sakit hati bahkan fisiknya.
Ibram benar-benar tidak tahan lagi, apa yang Wulan lakukan adalah hal yang tepat. Maka dia akan mendukung dan membantunya semaksimal mungkin.
Setidaknya itulah yang Ibram pikirkan.
"Mas, mas Ibram kenapa diam? Mas dengar kan cerita Wulan?" Tanya Wulan sambil menggoyangkan bahu Ibram yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Iya, aku dengar semua yang kamu ceritakan. Keputusan kamu benar Wulan, aku mendukung kamu" ucap Ibram dengan mantap.
"Sekarang lebih baik kamu istirah, ini sudah sangat malam" putus Ibram.
"Ayo aku tunjukan kamarnya" Ibram bangkit sambil meraih tangan Wulan.
Wulan hanya mengikutinya, menuju sebuah kamar dengan ranjang berukuran besar didominasi warna biru navy dan putih.
Dari yang terlihat ini adalah kamar Ibram.
"Disini hanya ada satu kamar tidur, kamu bisa tidur disini biar aku tidur di sofa" terang Ibram.
"Ahh, nggak usah mas. Biar Wulan aja yang tidur di sofa" ujar wulan sungkan.
"Nggak nggak, biar aku yang tidur di sofa, okay. Jangan membantah lagi" tukas Ibram cepat.
'ah setidaknya hanya untuk satu malam saja kan?!' batinnya sendiri.
Ibram mengambil sebuah bantal dan selimut dari dalam lemari sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa.
Lelaki itu mendadak gelisah, sedetikpun matanya tidak mampu terpejam.
Wulan... Gadis itu mencintai lelaki lain. Tapi dengan status jason mungkin mereka tidak akan bisa bersatu bukan??
Apakah itu artinya ada sedikit harapan untuknya?
Tapi besok, gadis itu akan pergi.
Pikiran yang rumit kian berkecamuk dalam benaknya.
***
"Kita cari sarapan sebentar ya sebelum ke stasiun!" Ucap Ibram sambil memainkan kemudi mobilnya pagi itu.
"Iya mas" Wulan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Sebenarnya Ibram hanya ingin sedikit mengulur waktu, sejak tadi malam pikirannya benar-benar tidak tenang.
Jika bisa dia ingin membuat Wulan merubah keputusannya untuk pergi dari kota ini.
Gadis itu tidak harus kembali ke rumah Jason, tapi juga tidak perlu sejauh itu untuk pulang.
Apakah tidak ada cara lain membuat gadis itu tetap tinggal di sisinya?
Ibram membelokan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji, tempat terdekat dari arah yang mereka tuju. Kemudian keduanya masuk dan duduk berhadapan di sebuah meja.
"Wulan, apa tidak sebaiknya kamu batalkan niat kamu untuk pulang ke kampung?" Ibram mengutarakan pendapatnya membuat Wulan mengernyit tidak mengerti.
"Maksudku, kamu bisa cari pekerjaan lain disini, kamu bilang kamu mau membahagiakan orang tua kamu kan? Membiayai kuliah adik kamu kelak?" Terang Ibram berharap Wulan mau mendengarkannya.
Wulan terdiam, kemudian justru menundukkan kepalanya.
Semua yang Ibram katakan memang benar, itulah tujuan utamanya datang ke kota ini dulu.
Untuk merubah nasib keluarganya, agar bisa menyekolahkan adik kesayangannya. Apa kini semua itu harus pupus karena kisah cinta pertamanya?
"Wulan..." Ucap Ibram lirih sambil meraih jemari kedua tangan Wulan.
Wulan tersentak mendapati Ibram mendadak menggenggam tangannya.
Memaksa gadis itu menatap seraut wajah ramah yang biasanya dihiasi senyuman.
Tapi wajah itu tampak begitu serius dengan sorot mata yang lembut, ada sesuatu yang tersirat dari matanya yang teduh menatap iris hitam milik Wulan.
"Bisakah kamu jangan pergi? Demi aku!" Ibram memohon tanpa melepaskan tangan dan pandangannya dari wulan.
"Ma...maksud mas Ibram apa?"
"Wulan, lupakan jason. Disini ada aku, aku yang juga mencintai kamu" ucap Ibram dengan lembut.
Gadis itu terkejut, tidak pernah menyangka bahwa ternyata lelaki baik di hadapannya itu memiliki perasaan lebih terhadapnya.
Bukankah sebelumnya dia menganggapnya sebagai seorang adik, tapi sejak kapan?
Ini sama sekali tidak pernah Wulan harapkan. Ibram lelaki baik, tapi Wulan tidak bisa membalas apapun kecuali persahabatan. Dia tidak memiliki perasaan yang sama.
"Mas, aku--"
"Wulan dengar, aku mencintai kamu dan aku berbeda dari Jason. Aku akan membahagiakan kamu dan menjadikan kamu satu-satunya" Ibram benar-benar serius dengan semua yang dia ucapkan.
__ADS_1
Pilih Ibram aja atau setia sama Jason ya Wulan?? 🤔🤔✌️😁💖💖💖